Selasa, 26 November 2013

Perasaan Malu Seorang Perempuan danKecerdasan Sang Imam (Abu Hanifah)


Suatu ketika, tatkala al-Imam Abu Hanifah an-
Nu’man radliyallahu’anh sedang duduk-duduk
untuk memberikan pelajaran dan nashehat kepada
para murid-muridnya, tiba-tiba datanglah seorang
perempuan yang kemudian duduk lalu dengan
penuh tatakrama, bergerak mendekati tempat sang
Imam.
Setelah cukup dekat, tiba-tiba perempuan
tersebut mengeluarkan dari kantong bajunya
sebuah apel yang dikedua sisi buah apel tersebut
sebagian berwana merah dan sebagian lagi
berwarna kuning lalu meletakkan apel tersebut di
depan sang Imam tanpa mengeluarkan sepatah
kata pun.
Kemudian dengan tenang sang Imam mengambil
buah apel tersebut lalu membelahnya menjadi
dua.
Setelah sang Imam melakukan hal tersebut, tiba-
tiba perempuan itu bangun lalu beranjak pergi
meninggalkan majelis sang Imam.
Murid-murid sang Imam yang menyaksikan
kejadian itu tak habis pikir, apa gerangan yang
dikehendaki oleh perempuan tersebut sehingga
berperilaku demikian di hadapan mereka dan sang
Imam.
Tak tahan dengan tanda besar yang menghinggapi
kepala para murid-murid tersebut, salah seorang
diantara mereka memberanikan diri untuk ambil
suara menanyakan apa gerangan yang
dikehendaki oleh si perempuan sehingga berbuat
demikian.
Kemudian dengan bijak dan penuh wibawa sang
Imam menjelaskan;
“Sesungguhnya perempuan yang kalian saksikan
tadi sedang mengalami haidl yang kadang-kadang
darah haidlnya berwarna merah seperti sebagian
sisi dari apel ini dan terkadang berwarna kuning
seperti sebagian sisi yang lain.”
“dia ingin menanyakan padaku, mana diantara
kedua warna darah tersebut yang masuk kategori
haidl dan mana yang masuk kategori suci?!”.
“tetapi karena sifat malunya yang besar, dan
didorong oleh kesadarannya bahwa menuntut ilmu
tidak boleh dikalahkan oleh sekedar rasa malu…
maka dia gunakanlah apel tersebut sebagai sarana
bertanya padaku.”
“kemudian aku membelah apel yang dibawanya
untuk aku perlihatkan kepadanya bagian dalam
dari apel tersbut.”
“hal itu aku lakukan, karena aku bermaksud
mengajarkan kepadanya, bahwasanya kamu belum
suci dari haidl sebelum kamu melihat cairan yang
berwarna putih sebagaimna warna dari bagian
dalam apel tersebut.”
“setelah aku lakukan itu, dia langsung
memahaminya, kemudian perempuan tersebut
beranjak pergi.”
**Cerita ini diterjemahkan secara sangat bebas
dari cerita berbahasa arab yang berjudul Hayya’
Imra’ah yang di dapat dari http://alharary.com/ ,
semoga bermanfaat dan menjadi I’tibar bagi kita
semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar