Selasa, 26 November 2013

Jangan Kau Putus Istiqomahmu dengan Dosamu


Syeikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandary
“Manakala anda terjerumus dalam dosa, janganlah
kenyataan itu membuatmu putus asa dalam meraih
Istiqomahmu dengan Tuhanmu. Kadang-kadang, –
siapa tahu – itulah akhir dosa yang ditakdirkan
oleh Allah padamu.”
Jadikan keterjerumusan itu sebagai pintu taubat
dan inabah demi beharap kepada Allah Ta’ala,
sekaligus sebagai pintu khauf (rasa takut)
kepadaNya. Sebab putus asa terhadap rahmat
Allah itu bentuk tipudaya yang gelap, bahkan
syetan harus berputus asa karena tidak mampu
memperdayai anda dibalik tindakan dosa itu.
Imam Al-Ghazaly ra, menegaskan, “Sebagaimana
dosa merebut anda, dan kembali kepada dosa
sebagai aktivitas anda, maka jadikanlah taubat
dan kembali kepadaNya sebagai aktivitas. Karena
orang yang beristighfar tidak akan mengulang-
ulang dosanya, walau ia mengulang tujuhpuluh kali
setiap harinya.”
Kita bisa mengambil pelajaran dari Fir’aun, yang
dosanya benar-benar memuncak dan paling besar,
toh Allah Ta’ala masih memerintahkan kepada
Nabi Musa as dan Nabi Harun as, “Katakan
padanya dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu
ia bisa tersadarkan atau ia memiliki rasa gentar
dan takut (Kepada Allah Swt).” (Thaha 44)
Betapa banyak orang yang kembali bertobat dan
menjadi Istiqomah gara-gara perbuatan dosanya,
dan sebaliknya betapa banyak orang yang akhirnya
malah maksiat gara-gara ibadahnya, dimana ia
bangga dengan prestasi amal ibadah, lalu takjub
pada diri sendiri, kemudian riya’ dan takabur.
Optimisme pada rahmat dan anugerah Allah Ta’ala
harus menjadi titik utama ke depan. Karena bila
manusia bertaubat dengan taubatan Nasuha,
malah seluruh dosanya diampuni.
Tetapi jangan sampai manusia meremehkan
perbuatan dosa dengan beralibi, “Allah Maha
Ampun, atau ampunan Allah lebih besar dibanding
dosanya, atau apa artinya dosaku kalau dibanding
rahmat Allah….” dst. Yang menggiring seseorang
terbelit dosa terus menerus.
Pandangan Ibnu Athaillah untuk mengingatkan kita
agar kita tidak putus asa pada RahmatNya, bahkan
dalam kondisi terpuruk oleh dosa sekali pun.
Allah Swt, justru menghampiri kepada para
pendosa agar kembali kepadaNya, karena dibalik
“kembali” itu ada “cinta” yang begitu agung
dariNya. Cinta itu sangat luhur dan besar nilainya
disbanding apa pun. “Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang taubat.” Begitu
ditegaskan dalam Al-Qur’an.
Bahkan di awal kitab Al-Hikam ini disebutkan,
“Tanda-tanda manusia bergantung dan
mengandalkan amalnya, adalah kehilangan
harapan (terhadap rahmat Allah) ketika berbuat
dosa.”
Rasa kehilangan akan harapan ampunan dan
rahmat adalah bentuk pesimisme yang berbahaya,
karena pada saat yang sama seseorang tidak
menggantungkan diri pada Sang Pencipta Amal,
malah menggantungkan pada amal itu sendiri yang
diklaim sebagai perbuatannya.
Padahal amal baik tidak menjamin seseorang
masuk syurga, dan amal buruk tidak otomatis
seseorang pasti masuk neraka. Masuk neraka itu
semata karena keadilan Allah, dan masuk syurga
karena rahmat dan ridhoNya.
Bila anda meraih rahmat dan ridhoNya, maka taat
dan kepatuhan anda sebagai tanda memang anda
ditakdirkan masuk syurga. Sedangkan bagi mereka
yang mendapat keadilan Allah Swt, (na’udzubillahi
min dzaalik) seseorang ditandai dengan berbuat
maksiat dan menuruti nafsunya belaka di dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar