Selasa, 21 Juli 2015

Ada Ibu Yang Kuat di Balik Kesuksesan Musa(Hafidz cilik indonesia)

Indonesia dikejutkan dengan mukjizat Allah, yaitu hadirnya seorang anak kecil bernama Musa, yang dalam usia 5,5 tahun sudah menghafal 29 Juz Al quran.
Pasti pada penasaran, bagaimana orang tuanya mendidik Musa sehingga dalam usia sedini itu sudah bisa banyak hafalannya. Berikut pengakuan Ayahnya semoga bisa menginspirasi. Sebuah tim yang hebat di keluarga Musa!
  • Jam 02.30 pagi sudah bangun kemudian wudhu dan langsung muroja’ah di depan Abinya sampai jam 04.00 pagi,
  • Kemudian menambah hafalan barunya dan menyetorkannya sampai Adzan Subuh berkumandang. Kemudian di stop untuk sholat.
  • Selesai sholat langsung tambah hafalan dan stok sampai jam 07.30 pagi, kemudian istirahat (sarapan, minum dan main) sampai jam 8.30.
  • Kemudian muroja’ah sampai jam 10.00 atau 10.30 memperhatikan maju mundurnya waktu sholat.
  • Jam 10.00 atau 10.30 wajib tidur sampai Adzan Dzuhur berkumandang, kemudian ke masjid.
  • Setelah sholat, tambah hafalan baru dan stok sampai jam 13.30 siang, kemudian istirahat dan makan siang sampai jam 14.00 siang. Kemudian muroja’ah sampai Ashar.
  • Setelah Ashar, tambah hafalan baru dan muroja’ah sampai jam 17.00 sore.
  • Kemudian main sebentar dan umumnya menyiapkan untuk pergi ke mesjid sholat Maghrib
  • Setelah Maghrib muroja’ah sampai Isya’ dan makan malamnya setelah sholat Isya’, terkadang muroja’ah sampai mendekati waktu Isya dan langsung makan malam, (baru sholat Isya’ -red).
  • Setelah sholat Isya’ harus tidur.
  • Tiap 4 atau 5 hari dia libur. Pada hari libur tersebut, Musa full bermain.
  • Dan yang tak kalah penting untuk diketahui, masih menurut Abu Musa, bahwa di belakang Musa ada seorang Ummi Musa yang kuat, yang hampir tidak pernah tidur siang, sampai malam. Sangat luar biasa mengatur pekerjaannya dan mengajar anaknya. Kalau sekedar sakit gigi, tidak akan berhenti dengan kegiatannya, demam tinggilah yang akhirnya mengharuskan istirahat total.

Jumat, 10 Juli 2015

Shalat Qada di jumat terakhir bulan ramadhan

SHOLAT QODHO' DI JUM'AT TERAKHIR BULAN RAMADHAN

Ingat, Mereka yang pernah meninggalkan sholat atau mempunyai hutang sholat, tidak gugur tanggungannya dengan melaksanakan sholat qodho' di jum'at terakhir bulan Ramadhan.

Sesuai dengan apa yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih, mereka harus mengqadla sholat yang ditinggalkan sesuai jumlahnya. Kalau tidak ingat jumlahnya, maka ia wajib meng-qadla sholat yang ditinggalkan sampai taraf mendekati yakin jumlahnya.

Akan tetapi para salaf kita terdahulu terutama dari kalangan salaf Bani 'Alawi berdasarkan ijtihadnya menganjurkan kita untuk melakukan sholat qodho' lima waktu di jum'at terakhir bulan Ramadhan.

Para Salafus Shaleh berkata:

“ Lakukanlah qodho’ sholat fardhu lima waktu pada hari jum’at terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al Imam Al Quthub Syeikh Abu Bakar bin Salim ra (wafat di kota ‘Inat, Hadramaut, Yaman)”.

Adapun cara melaksanakannya adalah: dimulai dengan sholat Dhuhur, kemudian ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya’ dan terakhir shalat shubuh, dianjurkan dilaksanakan secara berjama’ah dan boleh juga dilaksanakan secara munfarid (sendirian)

Maksud dari sholat qodho’ ini adalah untuk mengqodho’ shalat masa lalu yang mungkin pernah kita tinggalkan atau tidak sah karena kurangnya syarat dan rukun shalat.

Adapun hikmah dilaksanakannya pada hari Jum’at  terakhir dalam bulan Ramadhan adalah dikarenakan Ramadhan  merupakan bulan yang paling mulia sedangkan hari jum’at merupakan hari yang paling mulia.

Ketahuilah, Syeikh Abu Bakar bin Salim ra berkata:
“ Tidak diperbolehkan dan termasuk dosa besar jika seseorang sengaja meninggalkan sholat fardhu selama setahun dengan niatan hanya ingin mengqodho’nya pada hari jum’at terakhir dalam bulan Ramadhan”
Dan perlu diketahui pula, disamping sholat ini telah dilakukan oleh salafus sholeh yang mempunyai ilmu yang sangat luas, dan ketakwaan yang sangat tinggi, serta rasa takut kepada Allah swt yang sangat dalam..
والله ﺃﻋﻠﻢ

Selasa, 07 Juli 2015

TELADAN HIKMAH SYAIKH ABDULLAH BIN BAYYAH


~ Semakin Tahu, Semakin Malu
“Sepanjang perjalanan ilmiah Anda, saya belum pernah sekalipun mendapati Anda membantah seseorang. Apa rahasianya wahai Syaikh?” tanya seorang murid kepada Syaikh Abdullah bin Bayyah.
“Saya lebih butuh memperbaiki diri saya sendiri terlebih dahulu. Saya bukan orang sempurna yang lantas bisa seenaknya membincang aib orang lain,” jawabnya.
~ Mauritania, Suku yang Disegani Masyayikh Saudi
“Anda tahu tidak kalau ada satu suku yang sangat disegani oleh masyayikh (para guru) Saudi, namun berasal dari luar Saudi?”
“Suku apa itu, Ustadz?”
“Pernah dengar Mauritaniyyah?”
“Belum, kenapa mereka disegani Ustadz?”
“Karena kebiasaan mereka dalam menuntut ilmu yang sangat luar biasa. Jika ada seorang anak kecil di sana berumur 7 tahun belum hafal al-Quran, itu akan sangat memalukan kedua orangtuanya. Bahkan 7 dari 13 doktor di MEDIU berasal dari Mauritaniyyah.”
“Masya Allah, bagaimana sistem pengajaran mereka?"
“Pertanyaan Anda bagus. Memang kita bukan hanya harus takjub tapi kita harus meniru sistem yang mereka gunakan. Jadi begini, mereka itu mendapatkan pendidikan al-Quran bukan hanya sejak kecil, tapi sejak bayi. Ketika ada seorang ibu hamil, dia tidak akan menghabiskan waktu hanya tidur di kasur. Sang ibu tersebut akan menyibukkan diri untuk nderes (mengulang) hafalannya hingga terasa letih karenanya.
Setelah bayi itu lahir, keluarga yang akan muraja’ah (nderes). Misalkan seorang anak akan muraja’ah kepada bapak atau ibunya, maka ia diwajibkan bermuraja’ah di depan adiknya yang masih bayi pula. Jadi ketika ibunya sedang menggendong bayi tersebut, kakaknya bermuraja’ah kepada ibunya. Kalaupun suara tangis bayi mengganggu kakaknya, ya itulah tantangan untuk anak tersebut.”
“Masya Allah, lalu sistem ketika menginjak remaja bagaimana Ustadz?”
“Ketika berusia 7 tahun ke atas, mereka akan pergi kepada masyaikh untuk belajar agama. Mereka tidak belajar di dalam kelas, melainkan dibuatkan tenda di tengah gurun. Di dalam tenda itulah proses belajar mengajar dilakukan. Mungkin itu menyakitkan karena panasnya, namun itulah kenikmatan bagi mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Bagi mereka ilmu adalah kenikmatan yang tiada tara, jauh melampaui nikmatnya harta sebanyak apapun."
“Masya Allah, Ustadz…”
“Ketika sang guru mereka berkata, “Istami'”, dengarkanlah! maka semuanya menatap sang guru dan menyimak dengan seksama. Tidak ada yang berani menulis bahkan bermain pulpen sekalipun, karena akan dimarahi. Setelah guru menerangkan panjang lebar barulah mereka menulis. Dalam menulispun bukan di selembaran kertas, melainkan di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya yang mereka bawa dari rumah. Kenapa tidak pakai kertas? karena memang itu dilarang, dan mereka hanya membawa selembar saja. Setelah menulis maka tulisan mereka yang berasal dari ingatan itu ditunjukkan kepada sang guru. Jika ada kesalahan maka akan dikembalikan untuk dibetulkan, hingga semua santrinya menuliskan semua yang diucapkan guru. Ketika semua santrinya telah menuliskan dengan benar maka sang guru memerintahkan untuk dihapus.”
“Dihapus Ustadz? Lalu mereka tidak punya catatan pelajaran hari itu dong?”
“Betul. Ketika semuanya sudah benar, hal itu menunjukkan pelajaran yang disampaikan oleh guru sudah dihafal di luar kepala. Jadi catatannya ya ingatan mereka itu. Setelah semuanya benar dan telah dihapus, maka sang guru melanjutkan pelajarannya. Begitu seterusnya sampai pelajaran di hari itu habis. Setelah pulang ke rumah, barulah apa yang diingat mereka tulis ulang dalam buku. Di usia 17 tahun, mereka sudah bisa (berhak) mengeluarkan fatwa, yang berarti mereka sudah menjadi Mufti.”
“Masya Allah, merinding Ustadz.”
“Dulu ketika saya di LIPIA, ada cerita menarik. Dosen saya ketika ingin mencari atau mengingat-ingat sebuah hadits maka beliau bertanya kepada temannya yang masih berstatus mahasiswa S2. Karena apa? Karena temannya itu sudah hafal Kutubus Sittah, Bulughul Maram, Shahihain, dan sekarang sedang menghafal Musnad Imam Ahmad dan sudah hafal 2/3-nya. Anda tahu kan kitab-kitab tersebut tebalnya seperti apa? Itu baru tebalnya, belum isi atau jumlah hadits dari kitab tersebut. Dan yang lebih menakjubkan adalah, mereka bukan hanya hafal matan haditsnya, namun juga sampai ke Rijalul Hadits, Perawi baik tahun lahir sampai wafatnya, mengambil hadits dari siapa saja, dinyatakan tsiqah atau tidak oleh ulama, hingga dia bisa menentukan sendiri sanad hadits tersebut shahih atau tidak."
“Masya Allah, merasa tidak punya apa-apa Ustadz ketika menyadari di belahan bumi lain ada yang mempelajari agama hingga seperti itu…”
Itulah sekilas percakapan tentang kebiasaan hidup orang Mauritania yang diceritakan oleh Ustadz Abdullah Zaidi. Dan Syaikh Abdullah bin Bayyah adalah satu diantaranya. Seorang ulama Ahlussunnah wal Jama'ah yang berasal dari Mauritania, pengajar di Universitas King Abdul Aziz University Saudi Arabia yang bermadzhab Imam Maliki.
~Sekilas Tentang Syaikh Abdullah Bin Bayyah
Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Mahfudz bin Bayyah, dilahirkan pada tahun 1935 di Mauritania. Ia mengajar di Universitas Raja Abdul Aziz di Arab Saudi. Ia seorang yang ahli fikih 4 madzhab, terutama madzhab Maliki.
Masa mudanya dihabiskan untuk mempelajari dan mendalami ilmu agama, khususnya bidang syariah, di Tunisia. Sekembalinya ke Mauritania, ia diamanati sebagai menteri pendidikan lalu menteri kehakiman. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden dari presiden pertama negeri Mauritania.
Syaikh Bin Bayyah terlibat di sejumlah dewan pakar, termasuk Dewan Fiqih Islam, suatu institut yang berpusat di Arab Saudi. Ia juga pernah menjabat sebagai wakil presiden dari Persatuan Ulama Internasional, dimana ia lalu mengundurkan diri di pertengahan 2013. Ia juga merupakan anggota dari Dewan Penelitian dan Fatwa Eropa yang berpusat di Dublin, dewan ulama yang fokus mengarahkan pada upaya menjelaskan hukum-hukum Islam yang sensitif terhadap kehidupan Muslim Eropa. Dan ia termasuk diantara 500 orang Muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2009-2013.
Syaikh Abdullah bin Bayyah adalah satu diantara sejumlah ulama yang menandatangani Deklarasi Amman, yang memberikan landasan luas dalam mendefinisikan keimanan seorang Muslim. Beliau seorang ulama yang produktif dalam hal tulis menulis, meski kesibukannya sangat padat. Diantara murid (anak-didik) beliau yang ternama adalah al-Habib Ali al-Jufri dan Syaikh Hamzah Yusuf. Selengkapnya bisa Anda kunjungi website resmi beliau; www.binbayyah.net
Diantara mutiara nasehat beliau adalah: "Siapapun yang mengatakan (bersyahadat), 'Tiada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Saw. adalah utusan Allah', maka dia merupakan orang Islam. Sementara itu, mencari tahu apa yang ada di hati orang tersebut merupakan sebuah perkara bid'ah." (Sya'roni As-Samfuriy

Senin, 06 Juli 2015

SHALAT QADA 5 WAKTU DI JUM'AT TERAKHIR BULAN RAMADHAM

MUHAMMAD SHULFI ALAYDRUS
SHOLAT QODHO 5 WAKTU DI JUMAT TERAKHIR BULAN ROMADHON
MENGENAI SHOLAT KAFARAT (MENGQODHO SHOLAT LIMA WAKTU) ADALAH KEBIASAAN YANG DILAKUKAN OLEH BEBERAPA SAHABAT, DIANTARANYA OLEH ALI BIN ABI THALIB KWJ, DAN TERDAPAT SANAD YANG MUTTASHIL DAN TSIQAH KEPADA ALI BIN ABI THALIB KW BAHWA BELIAU MELAKUKANNYA DI KUFAH. DAN YANG MEMPROKLAMIRKAN KEMBALI HAL INI ADALAH AL IMAM ALHAFIDH AL MUSNID ABUBAKAR BIN SALIM RAHIMAHULLOH, YAITU DILAKUKAN PADA SETELAH SHOLAT JUMAT, PADA HARI JUMAT TERAKHIR DI BULAN ROMADHON, MENGQODHO SHOLAT LIMA WAKTU, TUJUANNYA ADALAH BARANGKALI ADA DALAM HARI HARI KITA SHOLAT YANG TERTINGGAL, DAN BELUM DI QODHO,ATAU ADA HAL HAL YANG MEMBUAT BATALNYA SHOLAT KITA DAN KITA LUPA AKANNYA MAKA DILAKUKAN SHOLAT TERSEBUT. MEREKA MELAKUKAN HAL ITU MENILIK KEBERKAHAN DAN KEMULIAAN WAKTU HARI JUMAT DAN BULAN ROMADHON. ADAPUN TATACARANYA ADALAH SHOLAT DENGAN NIAT QODHO`. PERTAMA SHOLAT DHUHUR, KEMUDIAN SETELAH SALAM LANGSUNG BANGUN SHOLAT ASHAR QODHO` DAN BEGITU SETERUSNYA SAMPAI SHOLAT SUBUH. NABI MUHAMMAD SAW. BERSABDA :"BARANGSIAPA SELAMA HIDUPNYA PERNAH MENINGGALKAN SHOLAT TETAPI TAK DAPAT MENGHITUNG JUMLAHNYA,MAKA SHOLATLAH DI HARI JUMAT TERAKHIR BULAN RAMADHAN SEBANYAK 4 RAKAAT DENGAN 1X TASYAHUD (TASYAHUD AKHIR SAJA), TIAP RAKAAT MEMBACA 1 KALI FATIHAH KEMUDIAN SURAT AL-QADAR 15X DAN SURAT AL-KAUTSAR 15X . NIATNYA: NAWAITU USHOLLI ARBAA RAKAATIN KAFAROTAN LIMAA FAATANII MINASH-SHOLAATI LILLAAHI TAALAA. SAYYIDINA ABU BAKAR RA. BERKATA "SAYA MENDENGAR RASULULLAH SAW BERSABDA, "SHOLAT TERSEBUT SEBAGAI KAFAROH (PENGGANTI) SHOLAT 400 TAHUN DAN MENURUT SAYIDINA ALI RA. SHOLAT TERSEBUT SEBAGAI KAFAROH 1000 TAHUN. MAKA BERTANYALAH SAHABAT : UMUR MANUSIA ITU HANYA 60 TAHUN ATAU 100 TAHUN, LALU UNTUK SIAPA KELEBIHANNYA ?". RASULULLAH SAW MENJAWAB, " UNTUK KEDUA ORANGTUANYA, UNTUK ISTRINYA, UNTUK ANAKNYA DAN UNTUK SANAK FAMILINYA SERTA ORANG-ORANG YANG DIDEKATNYA/ LINGKUNGANNYA. "MENGQODHO SHOLAT TENTUNYA WAJIB HUKUMNYA BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SHOLAT, NAMUN TIDAK ADA LARANGANNYA MELAKUKAN SHOLAT FARDHU KEMBALI KARENA HUKUM SHOLAT IADAH ADALAH HAL YANG DIPERBOLEHKAN. DAN SELAMA HAL INI PERNAH DILAKUKAN OLEH PARA SAHABAT MAKA PASTILAH RASUL SAW. YANG MENGAJARKANNYA, MENGENAI TAK TERIWAYATKANNYA PADA HADITS SHOHIH MAKA HAL ITU TAK BISA MENAFIKAN HAL INI SELAMA TERDAPAT SANAD YANG TSIQAH DAN MUTTASHIL PADA SAHABAT ATAU TABIIN.SEBAB HADITS YANG ADA KINI TAK SAMPAI 1% DARI HADITS HADITS RASUL SAW. YANG ADA DIZAMAN SAHABAT, ANDA BISA BAYANGKAN JIKA IMAM AHMAD BIN HANBAL TELAH HAFAL 1 JUTA HADITS DENGAN SANAD DAN HUKUM MATANNYA, NAMUN IA HANYA MAMPU MENULIS SEKITAR 20 RIBU HADITS PADA MUSNADNYA, SISANYA TAK TERTULIS,LALU KEMANA 980 RIBU HADITS LAINNYA?, SIRNA DAN TAK TERTULISKAN,DEMIKIAN PULA IMAM BUKHARI YANG HAFAL LEBIH DARI 600 RIBU HADITS DENGAN SANAD DAN HUKUM MATANNYA NAMUN BELIAU HANYA MAMPU MENULISKAN SEKITAR 7000 HADITS PADA SHAHIHNYA DAN BEBERAPA HADITS LAGI PADA BUKU-BUKU BELIAU LAINNYA, LALU KEMANA 593 RIBU HADITS LAINNYA? SIRNA DAN TAK SEMPAT TERTULISKAN, NAMUN ADA TULISAN TULISAN DAN RIWAYAT SANAD YANG DIHAFAL OLEH MURID-MURID MEREKA, DISAMPAIKAN PULA PADA MURID MURID BERIKUTNYA, NAH DEMIKIANLAH SANAD YANG SAMPAI SAAT INI TANPA TERIWAYATKAN DALAM HADITS SHOHIH. TENTUNYA JALUR MEREKA YANG TAK SEMPAT TERDATA SECARA UMUM,NAMUN MASIH TERSIMPAN JALURNYA DENGAN RIWAYAT TSIQAH DAN MUTTASHIL KEPADA PARA SAHABAT. HAL INI MERUPAKAN IKHTILAF, BOLEH MENGAMALKANNYA DAN BOLEH MENINGGALKANNYA. SETELAH SHOLAT SEHABIS SALAM MEMBACA SHOLAWAT NABI SEBANYAK 100 KALI DENGAN SHOLAWAT APA SAJA,MEMBACA BASMALAH, HAMDALAH,ISTIGHFAR, SYAHADAT DAN DOA INI TIGA KALI :
اَللّٰهُمَّ يَامَنْ لَا تَنْفَعُكَ طَاعَتِيْ وَلَا تَضُرُّكَ مَعْصِيَتِيْ تَقَبَّلْ مِنِّيْ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَاغْفِرْلِيْ مَا لَا يَضُرُّكَ يَا مَنْ اِذَا وَعَدَ وَفِيْ وَاِذَا تَوَعَّدَ تَجَاوَزَ وَعَفَا اِغْفِرْ لِعَبْدٍ ظَالَمَ نَفْسَهُ وَأَسْئَلُكَ اَللّٰهُمَّ اِنِّيْ اَعُوْذُبِكَ مِنْ بَطْرِ الْغِنَى وَجَهْدِ الْفَقْرِ اِلٰهِ خَلَقْتَنِيْ وَلَمْ ا