Selasa, 26 November 2013

Keutamaan Allahu Akbar

Ibnu Athaillah As Sakandary
Keutamaan Dzikir "Allahu akbar", yang di
dalamnya ada lima perspektif :
Pertama: Dalam "Allahu Akbar" ada penyebutan
Allah Ta'ala pada diriNya Sendiri, pentauhidan,
pengagungan dan penghormatan atas
keagunganNya, yang lebih agung dan lebih besar
dibanding penyebutan makhlukNya yang lemah,
sangat butuh, dan pentauhidan makhluk
kepadaNya. Karena Allah swt-lah Yang Maha
Mencukupi dan Maha Terpuji.
Kedua: Dzikir dengan Nama tersebut lebih agung
dibanding dzikir dengan Asma'-asma'Nya yang
lain.
Ketiga: Bahwa Dzikirnya Allah Ta'ala pada
hambaNya di zaman Azali sebelum hambaNya
ada, adalah Dzikir teragung dan terbesar, yang
menyebabkan dzikirnya hamba saat ini.
Dzikirnya Allah Ta'ala tersebut lebih dahulu, lebih
sempurna, lebih luhur, lebih tinggi, lebih mulia dan
lebih terhormat. Dan Allah Ta'ala berfirman :
"Niscaya Dzikirnya Allah itu lebih besar."
Keempat: Sebenarnya mengingat Allah swt, di
dalam sholat lebih utama dan lebih besar
dibanding mengingatNya di luar sholat.
Menyaksikan (musyahadah) pada Allah Ta'ala
(Yang Diingat) di dalam sholat lebih agung dan
lebih sempurna serta lebih besar ketimbang
sholatnya.
Kelima: Bahwa mengingat Allah atas berbagai
nikmat yang agung dan anugerah mulia, serta
doronganNya kepadamu melalui ajakanNya
kepadamu agar taat kepadaNya, adalah nikmat
paling besar dibanding dzikir anda kepadaNya,
dengan mengingat nikmat-nikmat itu, karena anda
semua tidak akan pernah mampu mensyukuri
nikmatNya.
Karena itu Nabi Muhammad saw, bersabda: "Aku
tidak mampu memuji padaMu, Engkau,
sebagaimana Engkau memujiMu atas DiriMu."
Artinya, "aku tidak mampu," padahal beliau
adalah makhluk paling tahu, paling mulia, dan
paling tinggi derajatnya dan paling utama. Justru
Nabi saw, menampakkan kelemahannya, padahal
beliau adalah paling tahu dan paling ma'rifat -
semoga sholawat dan salam Allah melimpah
padanya dan keluarganya -.
Setelah kita mentauhidkan Allah swt, yang dinilai
lebih agung ketimbang sholat, sehingga sholat
menjadi rukun islam yang kedua. Dalam sabda
Rasulullah saw:
"Islam ditegakkan atas lima: Hendaknya
menunggalkan Allah dan menegakkan sholat…
dst". Takbiratul Ihram dijadikan sebagai
pembukanya, Allahu Akbar.
Allah tidak menjadikan salah satu Asma-asma'Nya
yang lain, untuk Takbirotul Ihrom, kecuali hanya
Allahu Akbar. Karena Nabi saw, melarangnya ,
demikian juga untuk Lafadz Adzan, tetap
menggunakan Takbir tersebut, begitu pun setiap
takbir dalam gerakan sholat. Jadi Nama agung
tersebut lebih utama dibanding Nama-nama
lainnya, lebih dekat bagi munajat-munajat, bukan
hanya dalam sholat atau lainnya.
Dalam hadits disebutkan:
"Aku berada pada dugaan hambaKu apabila
hamba berdzikir padaKu. Maka apabila ia berdzikir
kepadaKu dalam jiwanya, Aku mengingatnya
dalam JiwaKu. Dan jika ia berdzikir padaKu
dengan kesendirianNya, maka Aku pun mengingat
dengan KemahasendirianKu. Dan jika ia berdzikir
di tengah padang (keramaian) maka Aku pun
mengingatnya di keramaian lebih baik darinya."
Allah swt. Berfirman:"Dzikirlah kepadaKu maka
Aku berdzikir kepadamu."
Hal yang menunjukkan keutamaan dzikir dibanding
sholat dari esensi ayat tersebut, yaitu firman Allah
swt:
"Sesungguhnya sholat itu mencegah keburukan
dan kemungkaran."
Yang walau demikian merupakan dzikir teragung,
namun Dzikir "Allah" itu lebih besar daripada
sholat dan dibanding setiap ibadah Abu Darda'
meriwayatkan dari Nabi saw, beliau bersabda :
"Ingatlah, maukah aku beri kabar kalian tentang
amal terbaikmu dan lebih luhur dalam derajatmu,
lebih bersih di hadapan Sang Rajamu, dan lebih
baik bagimu ketimbang memberikan emas dan
perak, dan lebih baik ketimbang kalian bertemu
musuhmu lalu bertempur di mana kalian memukul
leher mereka dan mereka pun membalas memukul
lehermu?" Mereka menjawab, "Ya, kami mau.."
Rasulullah saw, bersabda, "Dzikrullah."
Juga dalam hadits yang diriwayatkan Mu'adz bin
Jabal :
"Tak ada amal manusia mana pun yang lebih
menyelamatkan baginya dari azdab Allah,
disbanding dzikrullah."
Makna Dzikrullah bagi hambaNya adalah bahwa
yang berdzikir kepadaNya itu disertai Tauhid,
maka Allah mengingatnya dengan syurga dan
pahala. Lalu Allah swt berfirman :
"Maka Allah memberikan balasan kepada mereka
atas apa yang mereka katakana, yaitu syurga yang
mengalir sungai-sungai di bawahnya."
Dengan dzikir melalui Ismul Mufrad, yaitu "Allah",
dan berdoa dengan ikhlas kepadaNya, Allah swt
berfirman :
"Dan apabila hambaKu bertanya kepadaKu tentang
Aku, maka sesungguhnya Aku Maha Dekat…"
Siapa yang berdzikir dengan rasa syukurnya, Allah
memberikan tambahan ni'mat berlimpah :
"Bila kalian bersyukur maka Aku bakal menambah
(ni'matKu) kepadamu…"
Tak satu pun hamba Allah yang berdzikir
melainkan Allah mengingat mereka sebagai
imbalan padanya. Bila sang hamba adalah seorang
'arif (orang yang ma'rifat) berdzikir dengan
kema'rifatannya, maka Allah swt, mengingatnya
melalui penyingkapan hijab untuk musyahadahnya
sang 'arif.
Bila yang berdzikir adalah mukmin dengan
imannya, Allah swt, mengingatnya dengan rahmat
dan ridloNya.
Bila yang berdzikir adalah orang yang taubat
dengan pertaubatannya, Allah swt, mengingatnya
dengan penerimaan dan ampunanNya.
Bila yang berdzikir adalah ahli maksiat yang
mengakui kesalahannya, maka Allah swt,
mengingatnya dengan tutup dan
pengampunanNya.
Jika yang berdzikir adalah sang penyimpang
dengan penyimpangan dan kealpaannya, maka
Allah swt mengingatnya dengan adzab dan
laknatNya.
Bila yang berdzikir adalah si kafir dengan
kekufurannya, maka Allah swt, mengingatnya
dengan azab dan siksaNya.
Siapa yang bertahlil padaNya, Allah swt,
menyegerakan DiriNya padanya
Siapa yang bertasbih, Allah swt, membagusinya
Siapa yang memujiNya Allah swt,
mengukuhkannya.
Siapa yang mohon ampun padaNya, Allah swt
mengampuninya.
Siapa yang kembali kepadaNya, Allah swt,
menerimanya.
Kondisi sang hamba itu berputar pada empat hal :
Pertama: Ketika dalam keadaan taat, maka Allah
swt, mengingatkannya dengan menampakkan
anugerah dalam taufiqNya di dalam taat itu.
Kedua: Ketika si hamba maksiat, Allah swt
mengingatkannya melalui tutup dan taubat.
Ketiga: Ketika dalam keadaan meraih nikmat, Allah
swt mengingatkannya melalui syukur kepadaNya.
Keempat: Ketika dalam cobaan, Allah
mengingatkannya melalui sabar.
Karena itu dalam Dzikrullah ada lima anugerah :
1. Adanya Ridlo Allah swt.
2. Adanya kelembutan qalbu.
3. Bertambahnya kebaikan.
4. Terjaga datri godaan syetan.
5. Terhalang dari tindak maksiat.
Siapa pun yang berdzikir, Allah pasti mengingat
mereka.
Tak ada kema'rifatan bagi kaum a'rifin, melainkan
karena pengenalan Allah swt kepada mereka.
Dan tak seorang pun dari kalangan Muwahhidun
(hamba yang manunggal) melainkan karena
ilmunya Allah kepada mereka.
Tak seorang pun orang yang taat kepadaNya,
kecuali karena taufiqNya kepada mereka.
Tak ada rasa cinta sang pecinta kepadaNya,
kecuali karena anugerah khusus CintaNya kepada
mereka.
Tak seorang pun yang kontra kepada Allah swt,
kecuali karena kehinaan yang ditimpakan Allah
swt, kepada mereka.
Setiap nikmat dariNya adalah pemberian. Dan
setiap cobaan dariNya adalah ketentuan.
Sedangkan setiap rahasia tersembunyi yang
mendahului, akan muncul secara nyata di
kemudian hari.
Perlu diketahui bahwa kalimat tauhid merupakan
sesuatu antara penafiaan dan penetapan. Awalnya
adalah "Laa Ilaaha", yang merupakan penafian,
pembebasan, pengingkaran, penentangan, dan
akhinya adalah "Illallah", sebagai kebangkitan,
pengukuhan, iman, tahid, ma'rifat, Islam, syahadat
dan cahaya-cahaya.
"Laa" adalah menafikan semua sifat Uluhiyah dari
segala hal yang tak berhak menyandangnya dan
tidak wajib padanya. Sedangkan "Illallah"
merupakan pengukuhan Sifat Uluhiyah bagi yang
berhak dan wajib secara hakikat.
Secara maknawi terpadu dalam firman Allah swt :
"Siapa yang kufur pada Thaghut dan beriman
kepada Allah, maka benar-bvenar telah memegang
teguh tali yang kuat."
"Laa Ilaaha Illallah", untuk umum berarti demi
penyucian terhapad pemahaman mereka,.dari
kejumbuhan khayalan imajiner mereka, untuk suatu
penetapan atas Kemaha-Esaan, sekalgus
menafikan dualitsme.
Sedangkan bagi kalangan khusus sebagai penguat
agama mereka, menambah cahaya harapan
melalui penetapan Dzat dan Sifat, menyucikan dari
perubahan sifat-sifat baru dan membuang
ancaman bahayanya.
Untuk kalangan lebih khusus, justru sebagai sikap
tanzih (penyucian) terhadap perasaan mampu
berdzikir, mampu memandang anugerah serta
fadhal dan mampu bersyukur, atas upaya
syukurnya.
Sumber : Sufinews

Tidak ada komentar:

Posting Komentar