Minggu, 27 April 2014

Kemulyaan masjidil Aqsha'

Hal-hal yang Harus Diketahui Setiap Muslim
tentang Masjidil Aqsha"
oleh Syaikh Abu Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-
Maqdisi
Membicarakan tanah Palestina, tentu tidak bisa
dilepaskan dengan keberadaan Masjidil Aqsha
yang penuh berkah ini. Terdapat banyak nash
yang secara jelas menunjukkan keutamaan masjid
ini.
MASJID MANAKAH YANG DIBANGUN PERTAMA
KALI DI MUKA BUMI?
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata
“Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Masjid
manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau
menjawab, ‘Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi :
Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab,
“Kemudian Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi :
“Berapa jarak antara keduanya?” Beliau
menjawab, “Empat puluh tahun. Kemudian
dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka
shalatlah, karena keutamaan ada padanya”. Dan
dalam riwayat lainnya : “Dimanapun shalat
menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah
masjid” [HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Dzar]
KEUTAMAAN SHALAT DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda.
“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Daud
membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara. (Yaitu),
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
(diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang
menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan
kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ;
serta memohon kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala bila selesai membangun masjid, agar tidak
ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu,
kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya,
seperti hari kelahirannya.” (Dalam riwayat lain
berbunyi : Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata : “Adapun yang dua, maka telah
diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun
dikabulkan).” [Hadits ini diriwayatkan An-Nasa’i,
dan ini lafadz beliau, Ahmad dalam Musnad-nya
dengan lebih panjang lagi. Ibnu Majah, Ibnu
Hibban, Al-Haakim dalam kitab Mustadrak dan
Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, serta
selain mereka]
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang
lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi
kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba
masanya, seseorang memiliki tanah seukuran
kekang kudanya (dalam riwayat lain : seperti
busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis
lebih baik baginya dari dunia seisinya.” [HR
Ibrahim bin Thahman dalam kitab Masyikhah Ibnu
Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab Mu’jamul
Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak,
Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih
sanadnya, dan Al-Bukhari dan Muslim tidak
mengeluarkannya. Adz-Dzahabi dan Al-Albani
sepakat dengan beliau.]
Hadits ini adalah hadits yang paling shahih
tentang pahala shalat di Masjidil Aqsha. Hadits ini
menunjukkan, shalat di Masjid Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam seperti empat shalat di Masjid
Aqsha. Pahala shalat di Masjidil Aqsha setara
dengan 250 kali (di masjid lainnya).
Syaikh kami (Al-Albani) dalam kitab Silsilah
Shahihah (2902) mengatakan : “Hadits yang
paling shahih tentang keutamaan shalat di sana
(Masjidil Aqsha) adalah hadits Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Kami saling
bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama,
masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik….”
Hadits ini termasuk bukti kenabian Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Yaitu berita bahwa seseorang
berangan-angan memiliki tanah meskipun
sedemikian sempit, asalkan dapat melihat dari
dekat Baitul Maqdis dari tanahnya tersebut.
JANGAN BERSUSAH PAYAH BEPERGIAN,
KECUALI MENUJU TIGA MASJID
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata:
“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah
bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil
Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan
Muslim]
I’TIKAF DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abu Wa’il Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata kepada
Abdullah bin Mas’ud ; “I’tikaf antara rumahmu
dan rumah Abu Musa tidak masalah [3], padahal
aku mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak ada
i’tikaf kecuali di tiga masjid’, Abdullah bin Mas’ud
menjawab, “Mungkin engkau lupa sementara
mereka hafal. Engkau salah dan mereka
benar” [HR Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-
Kubra dan Ath-Thahawi dalam kitab Al-Musykil,
serta Al-Ismail dalam kitab Al-Mu’jam. Hadits ini
terdapat di dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah no.
2786 dan beliau berkata, ‘Shahih atas syarat
Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim)].
Syaikh kami (Al-Albani) berkata : Pernyataan Ibnu
Mas’ud bukanlah untuk menyalahkan Hudzaifah
dalam periwayatan lafadz hadits ini. Namun
tampaknya beliau menyalahkan Hudzaifah dalam
pengambilan hukum (istidlal) i’tikaf yang diingkari
Hudzaifah, karena ada kemungkinan pengertian
hadits menurut Ibnu Mas’ud adalah tidak ada
i’tikaf yang sempurna, seperti sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits6
“Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang
tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama yang
sempurna bagi orang yang tidak menepati
janjinya”
KEMAKMURAN BAITUL MAQDIS
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
Hadits7
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Pembangunan menyeluruh [4] Baitul
Maqdis adalah waktu kerusakan [5] Madinah, dan
kerusakan Madinah adalah waktu keluarnya
Malhamah (perang), dan keluarnya Malhamah
adalah waktu penaklukan Konstantinopel, dan
penaklukan Konstantinopel adalah waktu (dekat)
keluarnya Dajjal”, kemudian beliau memukul paha
atau bahu orang yang diajak bicara dengan
tangannya, seraya bersabda, “Ini sungguh sebuah
kebenaran sebagaimana benarnya kamu disini,
atau sebagaimana kamu duduk, yaitu Muadz bin
Jabal.” [HR Ahmad, Abu Dawud, Ali bin Al-Ja’d,
Abu Bakar bin Abu Syaibah dan lainnya]
MASJIDIL AQSHA TIDAK DIMASUKI DAJJAL
Dari Mujahid, beliau berkata :
Hadits8
“Kami dipimpin Junadah bin Abi Umayyah selama
6 tahun; beliau bangkit dan berkhutbah, lalu
berkata:
Kami pernah mendatangi seorang sahabat
Rasulullah dari Anshar. Kami menemuinya dan
berkata: “Sampaikanlah kepada kami apa yang
pernah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan jangan sampaikan apa yang
engkau dengar dari orang-orang,” lalu kami
memaksanya untuk itu. (Dalam riwayat lainnya:
dan jangan sampaikan kepada kami dari selain
beliau, walaupun benar)
Maka ia pun berkata: “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata :’Aku
peringatkan kalian dari Al-Masih (Dalam riwayat
lain: “Aku peringatkan kalian dari Dajjal”,
sebanyak tiga kali), karena tidak ada seorang
nabipun sebelumku, kecuali memperingatkan
umatnya dari Dajjal, dan Dajjal itu muncul pada
kalian, wahai umatku. Dia itu berambut keriting,
matanya buta sebelah (Dalam riwayat lain: buta
sebelah kirinya).
Ia berkata : ‘Saya yakin beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata sebelah kiri. Berjalan
bersamanya bukit roti dan sungai air (Dalam
riwayat lain: Bersamanya syurga dan neraka.
Neraka dia adalah syurga, dan syurga dia adalah
neraka. Ia dapat menurunkan hujan dan tidak bisa
menumbuhkan pohon. Dia diberi kekuasaan atas
satu jiwa, lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya).
Tanda-tandanya : Dia tinggal di bumi ini selama
40 hari, kekuasaannya mencapai semua tempat,
namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid,
Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Masjid Al-Aqsha dan Masjid
Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah,
sesungguhnya Allah tidak buta sebelah’.
Ibnu ‘Aun berkata : Saya yakin beliau telah
berkata : “Dan ia (Dajjal) diberi kekuasaan atas
satu jiwa lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya’.” [HR Ahmad dalam Musnad-nya,
5/364 dan sanadnya shahih atas syarat Syaikhan
(al Bukhari dan Muslim)]
Pelajaran Hadits:
Hadits ini tidak kontradiktif, dan tidak ada
masalah dengan hadits yang shahih dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan Dajjal telah menginjakkan kakinya di
seluruh muka bumi dan menguasainya, kecuali
Makkah dan Madinah. Tidaklah ia memasukinya
dari salah satu pintunya, kecuali bertemu dengan
para malaikat yang menghunus pedang-
pedangnya… (Al-Hadits).
Dalam hadits ini terdapat tambahan keterangan,
pengkhususan masjid-masjid yang tidak dimasuki
Dajjal. Dajjal –semoga Allah melindungi kita dari
fitnahnya- walaupun memasuki daerah bukit
Thursina dan Baitul Maqdis, namun ia tidak bisa
memasuki kedua masjidnya. Dajjal juga tidak bisa
masuk ke Makkah dan Madinah, maka lebih lagi
masjidnya. Wallahu a’lam.
YA’JUJ WA MA’JUJ DAN BUKIT BAITUL MAQDIS
Dari Nawas bin Sam’an, beliau berkata :
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan tentang Dajjal. Beliau
menganggap remeh dan (juga) menganggap
perkara besar, sehingga kami merasa yakin ia
(Dajjal) berada di sisi sekumpulan pohon kurma.
Ketika kami pergi kesana, maka beliau tahu ada
sesuatu pada kami. Beliau bertanya, “Ada apa
kalian?”
Kami menjawab, “Wahai, Rasulullah. Tadi pagi
engkau telah menjelaskan tentang. Engkau telah
menganggap remeh dan menganggap besar
perkaranya, hingga kami merasa yakin ia (Dajjal)
berada di sisi sekumpulan pohon kurma.”
Maka beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang
membuatku takut atas kalian. Apabila ia keluar
(muncul) dan aku ada bersama kalian, maka
akulah yang akan membantahnya tanpa bantuan
kalian. Dan bila ia keluar, sedangkan aku tidak
ada bersama kalian, maka setiap orang
membantah (melawan) sendiri-sendiri; sedangkan
Allah menjadi pelindung setiap Muslim. Sungguh
Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting
dan buta sebelah. Seakan-akan aku
menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin
Qathan. Barangsiapa di antara kalian
mendapatkannya, maka bacakan kepadanya
awal-awal surat Al-Kahfi. Dia keluar di jalan
antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di
sekitarnya. Wahai hamba Allah, istiqamahlah!”
Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa
lama tinggalnya di muka bumi ini?”
Beliau menjawab,”Empatpuluh hari. Satu hari
seperti satu tahun. Satu hari seperti satu bulan.
Satu hari seperti satu pekan, dan sisa harinya,
seperti hari-hari kalian ini.”
Kami bertanya lagi: “Wahai, Rasulullah. Hari yang
seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami
shalat sehari?”
Beliau menjawab: “Tidak! Perkirakan ukurannya!”
Kami bertanya lagi: “Berapa kecepatannya di
bumi ini?”
Beliau menjawab: “Seperti hujan ditiup angin, lalu
(ia) mendatangi satu kaum dan mengajak mereka,
lalu mereka mempercayainya dan menerima
ajakannya. Kemudian Dajjal menyuruh langit, dan
langitpun menurunkan hujan. Dan menyuruh bumi,
lalu bumi menumbuhkan tanaman. Lalu hewan
gembalaan mereka berangkat di sepanjang
puncak gunung, sangat banyak susunya dan
makan sangat kenyang. Kemudian (ia) mendatangi
kaum lainnya, lalu mendakwahi mereka, namun
mereka membantah perkataannya, lalu ia (pun)
pergi meninggalkan mereka. Lalu pagi harinya,
mereka tertimpa kelaparan dan kekeringan.
Mereka tidak memiliki harta sedikitpun. Dajjal
melewati tempat yang rusak tersebut dan berkata
kepadanya,’Keluarkan simpananmu!’ Lalu
keluarlah harta simpanan (tanah tersebut) seperti
ratu-ratu lebah. Kemudian Dajjal memanggil
seorang yang gemuk dan masih muda, lalu ia
sembelih dengan pedang dan memotongnya
menjadi dua seukuran tombak, kemudian ia
memanggilnya, lalu pemuda itu datang dan
wajahnya bersinar-sinar.
Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah
mengutus Al-Masih Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa), lalu
turun di dekat menara putih (Manarul Baidha’) di
sebelah timur Damaskus, mengenakan sepasang
baju yang dicelup dengan za’faran dan
meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-
sayap dua malaikat. Apabila ia menggoyangkan
kepalanya, maka meneteskan air; dan bila
mengangkat kepalanya, maka keluarlah dari air itu
seperti batu permata. Sehingga, tidaklah seorang
kafir mencium wangi napasnya, kecuali mati; dan
napasnya itu sepanjang pandangannya. Lalu
beliau mengejar Dajjal sampai mendapatinya di
daerah Bab Ludd [6], kemudian membunuhnya.
Kemudian datang kepada Isa Ibnu Maryam suatu
kaum yang Allah selamatkan dari Dajjal, lalu
beliau mengusap wajah-wajah mereka, dan beliau
sampaikan derajat mereka di surga. Ketika hal itu
terjadi, tiba-tiba Allah mewahyukan kepada Isa
yang berisi: ‘Aku telah mengeluarkan hambaKu,
yang tidak ada seorangpun mampu memerangi
mereka. Maka, bawalah hamba-hambaKu
berlindung ke bukit Thur’. Allah mengutus Ya’juj
dan Ma’juj, dan mereka bergerak cepat (datang)
dari segala arah, sehingga rombongan pertama
mereka melewati Danau Thabariyah lantas
meminum isinya. Kemudian rombongan terakhir
mereka mengatakan : ‘Sungguh dulu di tempat ini
ada airnya’.
(Dalam riwayat lain : dan ada tambahan setelah
perkataan : ‘Sungguh dulu di tempat ini ada
airnya. Kemudian mereka berjalan sampai
mencapai bukit al Khamar, yaitu bukit Baitul
Maqdis. Lalu mereka berkata : ‘Sungguh kita telah
membunuh orang yang ada di muka bumi ini. Ayo
kita bunuh yang di atas langit,’ lalu mereka
melemparkan anak-anak panahnya ke langit,
lantas Allah kembalikan kepada mereka anak-
anak panah tersebut dalam keadaan berlumuran
darah – dalam riwayat IbnuHujur- Sungguh Aku
telah menurunkan hamba-hambaKu, yang tidak
ada seorangpun mampu memeranginya). Dan
mengepung Nabi ‘Isa dan sahabat-sahabatnya,
hingga kepala sapi banteng bagi salah seorang
dari mereka lebih baik dari seratus dinar bagi
salah seorang di antara kalian sekarang.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim kepada mereka
(Ya’juj dan Ma’juj) ulat di leher-leher mereka,
sehingga mereka semuanya terbunuh seperti
kematian satu jiwa. Kemudian Nabi ‘Isa dan para
sahabatnya turun ke dataran bumi dan tidak
mendapatkan sejengkal tanahpun, kecuali
dipenuhi oleh bau busuk dan bangkai mereka.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim burung seperti onta
berleher panjang, lalu mengangkut mereka dan
melemparkan mereka di tempat yang Allah
kehendaki.
Kemudian Allah menurunkan hujan, yang tidak
ada satupun rumah dari kulit domba dapat
menahannya, dan tidak juga rumah batu yang
kokoh, hingga mencuci bumi sampai
meninggalkannya seperti cermin.
Kemudian dikatakan kepada bumi : “Tumbuhkan
buah-buahan dan kembalikan barakahmu.”
Pada hari tersebut, sejumlah orang memakan
buah delima dan bernaung di bawah kulit-
kulitnya, dan diberi barakah pada susu, hingga
seekor onta yang baru melahirkan mencukupi
sejumlah orang, sapi yang baru melahirkan
(susunya) mencukupi satu kabilah, dan seekor
kambing yang baru melahirkan mencukupi
sekeluarga besar.
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba
Allah mengirim angin yang harum, lantas angin
tersebut menarik mereka dari bawah-bawah
ketiak mereka, lalu setiap Mu’min dan Muslim
wafat, dan tersisa orang-orang yang jelek, yang
berzina terang-terangan (di khalayak ramai)
seperti kelakuan keledai. Maka pada merekalah
terjadi kiamat.” [HR Muslim]
Mudah-mudahan bermanfaat.*
* Judul ini diubah dari judul asli “Kemuliaan
Masjidil Aqsha” yang dipetik dari
www.Almanhaj.or.id yang menyalin dari Majalah
As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun
X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi
Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp.
0271-5891016]. Majalah As-Sunnah juga memetik
dari artikel yang ditulis oleh Syaikh Abu
Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-Maqdisi, yang
termuat dalam Majalah Al-Ashalah, Edisi 30/
Tahun ke 5/15 Syawwal 1421H.
________
Footnotes
Nomor [1] dan [2] sengaja dihapus karena tulisan
utamanya sudah diedit.
[3]. Maksudnya sama saja, tidak sah.
[4]. Disebabkan banyaknya orang, bangunan dan
harta.
[5]. Berkaitan dengan penyebab kerusakan kota
Madinah, Al-Qari berkata: “Sesungguhnya yang
dimaksud adalah pembangunan yang sempurna
dalam bangunan yaitu pembangunan baitul
maqdis sempurna melampaui batas adalah waktu
kerusakan kota madinah karena baitul Maqdis
tidak rusak.
[6]. Daerah yang sangat dikenal, dekat dengan
Baitul Maqdis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar