Rabu, 04 November 2015

Tentang Mufaddhal

 أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله 
Tentang Mufaddhal   
Biografi Ringkas Mufaddhal bin Umar             
Nama: Mufaddhal, 
Nama ayah: Umar 
Julukan: Abu Muhammad atau Abu 'Abdillah,[1] 
Tempat lahir: Akhir kurun pertama atau permulaan kurun kedua Hijriyah di kota Kufah.[2]         
Mufaddhal adalah salah seorang sahabat yang terhormat dan memiliki kedudukan yang mulia di sisi Imam Shadiq As dan Imam Kazhim As[3], ia menduduki kedudukan yang agung dan tinggi serta merupakan salah satu sahabat khusus Imam alaihimussalam.[4]         
Pada masa Imam Shadiq As dan Imam Kazhim As, Mufaddhal mendapat kepercayaan untuk menjadi wakil beliau-beliau di Kufah, demikian juga dia mendapatkan tugas dari Imam Shadiq As untuk memegang harta beliau dan juga mempunyai izin untuk mengambilnya dari tangan rakyat, ia teguh dan istiqomah dalam mengamalkan amar makruf dan nahi munkar, senantiasa mendamaikan dan memperbaiki perbedaan yang terjadi di antara masyarakat.[5] Dalam kitab Ushul Kâfi terdapat sebuah hikayat nyata yang sangat menarik untuk disampaikan, akan tetapi karena keadaan tertentu sehingga membuat kami tidak mempunyai kesempatan untuk menyampaikannya.[6]   
Kedudukan Tinggi Mufaddhal dalam Riwayat         
Riwayat merupakan argumentasi paling mendasar yang dapat digunakan untuk membuktikan keotentikan[7] bagi keagungan sosok Mufaddhal. Dan terdapat begitu banyak riwayat yang langsung berasal dari para Imam alaihimussalam yang mengetengahkan dan menyebutkan tentang ketinggian kedudukan dan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sosok agung Islam ini. 
Karena keterbatasan ruang dan waktu, kami hanya akan menyinggung sebagian dari riwayat-riwayat tersebut, antara lain:   
1.     Syaikh Mufid dengan sanad sahih dari Imam Shadiq As, menukilkan, "Wahai Mufaddhal, aku bersumpah kepada Allah, aku menyukaimu dan menyukai sahabat-sahabatmu. Wahai Mufaddhal, jika seluruh sahabatku mengetahui apa yang engkau ketahui, maka tidak akan pernah terjadi sedikit pun perbedaan di antara dua orang Syiah."[8] 
2.     Muhammad bin Sinan[9] mengatakan, "Ketika aku tengah menghadap Imam Khadim As, aku melihat putra beliau 'Ali bin Musa as berada di dekatnya. Imam Khadim As bersabda kepadaku, "Wahai Muhammad!" Aku menjawab, "Silahkan wahai putra Rasul", beliau melanjutkan, "Wahai Muhammad! Mufaddhal adalah sahabat yang dekat, sedarah dan memberiku ketenangan, demikian juga engkau adalah sedarah dan memberi ketenangan bagi mereka berdua (Imam Ridha As dan Imam Jawad As)."[10] 
3.     Kulainy Ra, dalam kitabnya yang sangat berharganya al-Kafi, dengan beberapa perantara menukilkan dari Ibnu Sinan dan Mufaddhal yang berkata, "Imam Shadiq As bersabda, Jika kalian menemukan pertengkaran di antara dua orang Syiah, maka damaikanlah mereka dengan hartaku."[11] 
4.     Yunus bin Ya'kub berkata, "Imam Shadiq As memerintahku supaya aku pergi ke tempat Mufaddhal dan menyampaikan ungkapan bela sungkawa atas wafatnya Ismail As Pada saat itu Imam As bersabda, "Sampaikan salamku kepada Mufdhadhal dan katakan bahwa kami telah tertimpa musibah dengan wafatnya Ismail As dan kami bersabar, dan engkau sebagaimana kami, bersabarlah dalam musibah ini. Kami menginginkan sesuatu akan tetapi Tuhan menghendaki yang lain, dan kami telah pasrah dengan perintah Tuhan Yang Kuasa."[12] Ayatullah Khui Ra menanggapi  hadis ini dalam kitabnya Mu'jam Rijal al-Hadis dengan mengatakan, "Riwayat ini menunjukkan kecintaan mendalam Imam Shadiq As kepada Mufaddhal bin Umar, dan riwayat ini sahih."[13] 
5.     Faidh bin Mukhtar[14] mengatakan, "Aku mengatakan kepada Imam Shadiq As, aku pertaruhkan nyawaku padamu wahai Putra Rasul, ketika berada di tengah-tengah para cendekiawan Kufah, aku senantiasa merasa ragu dan bimbang karena melihat perbedaan-perbedaan penafsiran tentang akidah dan ketuhanan di antara mereka, akan tetapi ketika berada di dekat Mufaddhal bin Umar, dia senantiasa akan memberi penjelasan kepadaku sehingga aku menjadi tenang karenanya. Imam Shadiq As bersabda, "Benar wahai Faidh. Demikianlah hakikat yang ada,"[15] 
6.     Hisyam bin Ahmad berkata, "Pada suatu hari yang panas menyengat aku mendekati Imam Shadiq as yang tengah berada di kebunnya dengan keringat bercucuran di dada mulianya, aku bertanya tentang Mufaddhal bin Umar kepada beliau, dan bersabda, "Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, Mufaddhal bin Umar adalah laki-laki yang sangat baik dan mulia", Imam Shadiq As mengulang-ulang perkataan ini, hingga aku perkirakan mencapai hitungan tigapuluh sekian kali."[16] Sebenarnya, satu hadis-pun telah cukup untuk menunjukkan keagungan dan kedudukan yang tinggi dan mulia dari sosok Islam yang jarang ditemukan ini.   
Kedudukan Mufaddhal dalam Pandangan para Ulama Islam         
Para ulama ilmu rijal, biografi, fuqaha-fuqaha besar dan para muhadis-muhadis ternama, banyak yang mengisyaratkan bahwa Mufaddhal telah mencapai kedudukan yang sangat agung dan mulia. Dan di sini kami hanya akan mengutarakan sebagian kecil dari pandangan-pandangan mereka tersebut, antara lain:   
1.       Syaikh Saduq Ra Ia menyertakan hadis pada beberapa tempat dalam kitab-kitab magnum opus-nya dimana Mufaddhal berada dalam rangkaian hadis-hadis tersebut. Karena tujuan Syaikh Shaduq  terutama dalam kitab Kitab man la yahdhuru al-Faqih adalah hanya membahas hadis-hadis otentik, pada sisi lain Syaikh Shaduq berkali-kali menggunakan hadis-hadis Mufaddhal, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pandangan Syaikh Saduq, Mufaddhal mempunyai kedudukan dan keotentikan yang tinggi.[17] 
2.       Muhammad bin Ya'kub Kulaini Kulaini, dalam kitab terkenalnya al-Kafi, berkali-kali  pula mencantumkan hadist-hadis dimana Mufaddhal sebagai perawinya, terutama riwayat Yunus bin Ya'kub[18], hal ini menunjukkan kejelasan argumen atas ketinggian mAgham dan kedudukan agung Mufaddhal.
3.       Syaikh Mufid Ra tentang Mufaddhal mengatakan, "Mufaddhal merupakan salah satu sahabat yang menukilkan teks keimamahan Imam Musa Kazhim As dari ayahnya Imam Shadiq As. Ia merupakan salah satu sahabat khusus dan memiliki ketinggian mAgham di sisi Imam Shadiq As dan merupakan salah seorang fukaha shaleh yang sangat dipercaya."[19] 
4.       Syaikh Thusi Ra juga menyepakati bahwa Mufaddhal bin Umar Ja'fy merupakan salah satu sahabat Imam Shadiq As dan Imam Kazhim As.[20] Syaikh Thusi dalam kitab al-Ghaibah-nya menulis, "Dia merupakan salah satu sahabat hakiki para Imam alaihimussalam yang sangat dipercaya dan senantiasa menjadi penyampai pesan-pesan suci mereka."[21] Salah satu ulama besar Islam ketika menjelaskan salah satu hadis Syaikh Thusi Ra yang dinukilkan oleh Mufaddhal, mengatakan, "Perkataan Syaikh Thusi ini merupakan argumentasi yang jelas dan pasti bahwa Syaikh mempunyai kepercayaan pada Mufaddhal dan periwayatan hadis-nya tidak lemah di sisinya"[22] 
5.       Ibnu Syahr Aasyub Ra mengangapnya sebagai salah satu sahabat khusus Imam Shadiq As.[23] 
6.       Sayyid bin Thawus Ra, tentang kitab Mufaddhal mengatakan, "Salah satu dari adab-adab musafir (orang yang melakukan perjalanan-pent) adalah membawa kitab Tauhid Mufaddhal yang dinukilkannya dari Imam Shadiq As dan memuat tentang pengenalan hikmah, makrifat dan rahasia-rahasia terpendam dalam penciptaan alam ini."[24] Kepada anaknya, Sayyid juga mengatakan, "Berfikir dan lakukan kontemplasi tentang Nahjul Balaghah dengan rahasia-rahasia yang ada di dalamnya dan juga kitab Tauhid Mufaddhal bin Umar yang berisi tentang rahasia dan hikmah penciptaan Tuhan yang didiktekan oleh Imam Shadiq As."[25] 
7.       Allamah Majlisi ra dikarenakan kesepakatannya akan kemuliaan dua hadis[26], maka Allamah mengutarakan keduanya secara komplit pada jilid ketiga dari kitab magnum opus-nya Biharul Anwar, yang dilengkapi dengan penjelasan dan penafsiran pada beberapa tempat. Pada awal pencantuman kedua hadis tersebut Allamah berkata, "Jika Tauhid Mufaddhal dan risalah Hilaliyah yang telah diriwayatkan dari Imam Shadiq as dianggap sebagai hadis-hadis yang mursal[27], maka hal ini tidak bermasalah, karena ketersambungan kedua hadis ini kepada Mufaddhal telah masyhur di kalangan ulama yang dipertegas pula oleh Sayyid bin Tawuus dan selainnya. Demikian juga, jika menganggap Mufaddhal bin Umar dan Muhammad bin Sinan sebagai perawi yang lemah, maka hal inipun tidak bermasalah, karena kita tidak menerima kelemahan tersebut, karena dalam banyak riwayat telah dibuktikan tentang ketinggian mAgham dan kedudukan keduanya. Disamping itu adanya dua teks pemberitaan tersebut merupakan saksi atas kebenaran berita tersebut dan juga teks-teks jenis ini tidak membutuhkan kebenaran berita."[28] 
8.       Allamah Sayyid Sadruddin Amili ra[29] mengatakan, "Seseorang yang memperhatikan hadis masyhur Mufaddhal dari Imam Shadiq as dengan cermat akan menemukan bahwa Imam as tidak akan mengutarakan perkataan yang jelas, penuh makna dan kata-kata yang asing[30] ini selain kepada laki-laki yang agung, memiliki kedudukan mulia, cendekia, cerdas dan layak mengemban rahasia yang detil dan menakjubkan seperti ini."[31] 
9.       Ahli hadis agung Islam, Haji Syaikh 'Abas Qummy ra, meskipun dalam kitab terkenal-nya Safinatul Bihar, Syaikh mencantumkan beberapa pendapat yang berbeda namun sepertinya dia tidak mengutarakan pendapatnya sendiri, akan tetapi dalam kitab Muntah Al-Âmal ketika membicarakan tentang sahabat-sahabat Imam Musa Kazhim As, Syaikh Qummy membahas tentang Mufaddhal secara panjang lebar dan ketika memuji lelaki agung ini, mengatakan, "Dari kitab Syaikh bisa diketahui bahwa ia adalah bagian dari pengikut setia para Imam alaihimussalam, orang yang paling dekat dan dipercaya oleh beliau, kitab ini juga menunjukkan atas keagungan dan kepercayaannya, ia adalah wakil Imam Shadiq as dan Imam Kazhim as, dan Kaf'ami[32] menganggapnya sebagai pelindung setia para Imam alaihimussalam.[33] Kemudian Syaikh Qummy ra menyiratkan beberapa hadis[34] yang berisi tentang keutamaan-keutamaan Mufaddhal, dan pada penutup kitab, beliau juga mengetengahkan tentang hadis-hadis yang menolak Mufaddhal juga tentang kelemahan Mufaddhal dalam pandangan beberapa ulama, yang insyaallah akan kami utarakan pada akhir bagian. 
10.  Syaikh Agha Buzurg Tehrani, dalam kitabnya menulis tentang keutamaan Mufaddhal sebagai berikut, "Kitab ini berasal dari Abu Abdillah atau Abu Muhammad, Mufaddhal bin Umar Ja'fi Kufi. Najasi dalam kitab Rijal-nya menamakan kitab Tauhid ini dengan kitab Fakkir (Berfikirlah) dan salah satu ulama menamakannya Kanzul Haqâiq wal Ma'ârif (gudang hakikat dan makrifat-makrifat). Sayyed bin Thawuus dalam kitabnya Aman al-Ikhthâr dan Kashf al-Muhajjah memerintahkan untuk membawa kitab ini dan mempelajarinya … demikian juga, dikarenakan kemuliaan dan ketinggian dua kitab ini[35], almarhum Majlisi menulis keduanya dalam Bihârul Anwâr.[36]"[37] Pemilik kitab Mustadrak termasuk salah satu ulama yang mempertahankan kedudukan tinggi Mufaddhal dan menjawab sebagian keraguan dalam riwayat.[38] 11.  Ayatullah Khui Ra, mufassir, faqih dan salah satu tokoh rijal yang ternama, tentang sosok Mufaddhal mengatakan, "Untuk membuktikan ketinggian dan keagungan kedudukan Mufaddhal cukup dengan mengatakan bahwa Imam Shadiq As telah memberikan perhatian semacam ini dan mendiktekan kitab terkenal Tauhid Mufaddhal[39] kepadanya. Kitab ini adalah apa yang dinamakan oleh Najashi sebagai kitab Fakkir (Berfikirlah). Hal ini dengan sendirinya merupakan argumentasi yang jelas bahwa Mufaddhhal merupakan salah satu sahabat yang mendapatkan perhatian khusus dari Imam Shadiq As. Selain hal ini, Ibnu Quluwiyah dan Syaikh Mufid Ra menegaskan pula tentang sosoknya yang sangat dipercaya, dan Syaikh Mufid menganggapnya sebagai salah satu dari penulis yang terpuji."[40]   

Jawaban untuk Sebuah Keraguan         
Setelah menyajikan pandangan-pandangan di atas maka harus kami jelaskan bahwa jika benar bahwa Mufaddhal adalah salah satu dari sahabat, penjaga, pengikut, pembawa dan penyimpan rahasia para Imam alaihimussalam, dan secara ringkas ia mempunyai kedudukan dan tingkatan yang khusus, mulia dan, tinggi, lantas kenapa masih juga ada riwayat yang menolaknya[41], dan sebagian lagi bahkan menganggapnya sebagai orang yang lemah iman, fasik dan …?         
Jawaban benar dan pasti atas pertanyaan tersebut dapat didapatkan ketika kita mengetahui situasi dan kondisi yang ada pada masa Imam Shadiq as dengan tekanan-tekanan yang dilakukan oleh penguasa zalim Abbasiah.         Dikarenakan tekanan-tekanan keras yang dilakukan oleh pihak kerajaan Bani Abas kepada Imam as dan sahabat-sahabatnya-lah sehingga taqiyyah[42] merupakan salah satu perbuatan yang sangat umum dilakukan oleh semua sahabat Imam pada masa itu. Kadangkala Imam As terpaksa harus menuduh sahabat terdekatnya untuk menyelamatkannya dari kematian dan inilah yang menjadi kunci rahasia hingga muncul hadis-hadis yang mencela sebagian sahabat, sementara keadilan dan kepercayaan kepada mereka tidak diragukan lagi. Mufaddhal-pun termasuk dalam kelompok sahabat ini dimana hadis-hadis yang menolaknya harus dianggap sebagai sebuah taqiyyah.         

Kepada 'Abdullah bin Zurarah bin A'yan, Imam Shadiq As bersabda, "Sampaikan salamku kepada ayahmu dan katakan, jika aku mengatakan sesuatu yang bertentangan denganmu ketahuilah bahwa hal itu aku lakukan untuk melindungimu. Rakyat dan para musuh senantiasa berusaha untuk mengganggu orang-orang yang dekat dan memiliki kedudukan di sisi kami. Mereka akan menyiksa dan membunuh sahabat-sahabat kami ini karena kecintaan dan kedekatan kami kepada mereka. Sebaliknya mereka akan memuji orang-orang yang kami cela dan kami ejek. Katakan kepada ayahmu, jika secara lahiriah aku mencela dan menolaknya, hal ini karena engkau telah mengenal wilayah dan keimamahan kami dan semua mengetahui bahwa engkau senantiasa mengikuti kami, oleh karena itulah sehingga di mata rakyat engkau tercela dan tidak diterima, maka aku mencela dan menolakmu secara lahiriah karena aku ingin engkau dicintai rakyat, dengan demikian hal ini tidak akan membahayakan agamamu dan mereka tidak lagi berbuat kejahatan-kejahatan atasmu."[43]         Tentang hal ini Syaikh Abbas Qumy Ra mengatakan, "Akan tetapi riwayat yang memfitnah Mufaddhal tidak bisa dibandingkan dengan berita-berita yang memujinya. Syaikh kita, pada akhir kitab Mustadrak meluaskan pembahasannya dalam menjelaskan tentang keadaan Mufaddhal dan menjawab riwayat-riwayat yang mencelanya dan seseorang yang merujuk pada kitab Tauhid Mufaddhal yang disabdakan oleh Imam Shadiq As kepadanya, pasti akan mengetahui bahwa Mufaddhal adalah sahabat yang mempunyai kedudukan tinggi dan agung di sisi Imam dan mampu mengemban ilmu dan makrifat beliau."[44]         Setelah melakukan studi-analisa pada hadis-hadis yang mencela dan memfitnah Mufaddhal serta mengevaluasi perkataan-perkataan para ulama rijal, pengarang Mu'jam al-Rijal, pada akhir bahasan menyimpulkan demikian (penukilan isi), "Begitu banyak riwayat yang menyebutkan tentang ketinggian dan keagungan mAgham Mufaddhal dan ilmunya yang mendetail dalam bentuk hadis-hadis tersebut biasanya berasal dari Imam Maksum As. Meskipun terdapat pula beberapa hadis yang mencela dan menolaknya, akan tetapi harus dikatakan bahwa di antara hadis-hadis tersebut hanya terdapat 3 hadis yang mempunyai sanad sempurna dan hadis-hadis yang sedikit ini tidak bisa dibandingkan dengan hadis-hadis otentik yang ada. Demikian juga, hukum yang harus kita keluarkan untuk hadis-hadis ini harus sebagaimana hukum pada hadis-hadis yang tertolak (Zurarah bin A'yan) sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya[45] dan kedudukan sebenarnya tentang hadis-hadis ini kita serahkan saja pada ahlinya."[46]      

Kitab Tauhid Mufaddhal         
Setelah setetes air dari samudera keutamaan Mufaddhal selesai kita bahas, kini kami akan mengetengahkan point-point penting yang terdapat dalam kitabnya.        
Imam Shadiq as mendiktekan hadis panjang ini kepada Mufaddhal dalam 4 hari dan 4 kali pertemuan, dimana tema untuk setiap kali pertemuan dapat diringkas sebagai berikut:   
Pertemuan Pertama, tentang keajaiban-keajaiban penciptaan manusia. Pertemuan kedua, tentang keajaiban-keajaiban penciptaan binatang. 
Pertemuan ketiga, tentang keajaiban-keajaiban penciptaan alam. 
Pertemuan keempat, tentang kemalangan dan perubahan-perubahan. 

  Kemiripan Tauhid Mufaddhal dengan al-Quran         
Metodologi yang digunakan oleh al-Quran adalah mengajak manusia untuk berfikir dan bertadabbur tentang eksistensi-eksistensi dan maujud-maujud termasuk manusia sendiri. Dengan sebuah pandangan global kita akan menemukan bahwa al-Quran berkali-kali mengajak manusia untuk berfikir dan mengamati segala sesuatu yang mempunyai keterkaitan dengan manusia sepanjang hari, setiap jam dan bahkan setiap saat.          
Al-Quran memberikan semangat kepada manusia untuk mengamati binatang, langit, gunung-gunung dan bumi. Apakah manusia tidak memperhatikan semua hal tersebut? Jawabannya adalah Ya, tentu saja mereka melihat! Akan tetapi mereka tidak memahami dan tidak berkontemplasi tentangnya. jika manusia memandang fenomena-fenomena lahiriah ini dengan berfikir, maka mereka akan menemukan keajaiban-keajaiban yang terdapat di seluruh elemen-elemen penciptaan. Imam Shadiq As yang merupakan “al-Quran berjalan dan berbicara”, mengajak manusia untuk lebih memperhatikan dan memahami keberadaan hakikat gunung, sahara, samudera, langit, bumi, hewan, manusia, burung, dan …         
Keteraturan, keseimbangan, hikmah, dan keharmonisan yang terdapat dalam seluruh benda merupakan perkara yang sangat membingungkan akal-pikiran manusia. Di alam keberadaan ini, seluruh elemen mulai dari bintang yang paling jauh hingga benda yang paling senantiasa mempunyai hikmah yang mengagumkan. Akan tetapi, karena manusia mengenal alam keberadaan ini secara bertahap, maka baginya semuanya merupakan suatu hal yang alami dan biasa-biasa saja. Manusia tidak mengenal apapun ketika lahir ke dunia[47], lama-kelamaan dia akan tumbuh berkembang kemudian mulai mengenal dirinya, akan tetapi pengenalan ini sebegitu lamban berproses sehingga tidak terasa sama sekali. Andai saja sejak awal kelahirannya, manusia mempunyai pemahaman yang tinggi dan memasuki alam keberadaan ini secara mendadak, maka keheranan dan ketakjuban akan menjadi penghalang kehidupan normal mereka.         

Para pembaca yang budiman, janganlah menyepelekan dan menganggap ringan perkataan Imam As, karena inilah jalan keselamatan, dengan berfikir dan melakukan kontemplasi dalam keteraturan dan hikmah yang menyelimuti seluruh alam ini, kita akan bisa mencapai makrifat Ilahi dan awal penciptaan. Imam as mengajak Mufaddhal dan seluruh manusia untuk merenung secara vertikal dan horisontal, karena disitulah terdapat tanda dan jejak-jejak kekuasaan Ilahi yang bisa disaksikan. Al-Quran al Karim berfirman: "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?"  (Qs. Fushilat:53)         
Dengan demikian, merenungi perkataan Imam Shadiq As akan membawa manusia ke arah hakikat sehingga manusia akan menemukan wujud Tuhan di seluruh realitas eksistensi. Pada akhir ayat di atas Allah berfirman: "Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Qs. Fushilat:53)         
Manusia harus terbiasa untuk senantiasa bertafakkur dan merenungi segala sesuatu. Jika manusia memiliki pandangan yang tajam, maka sebagaimana perkataan Amirul Mukminin Ali As, segala sesuatu mengandung hikmah dan pelajaran.         
Maka, tidaklah tanpa tujuan jika dalam beberapa riwayat dikatakan bahwa satu jam tafakkur dan berfikir lebih baik dari tujuh puluh tahun ibadah.[48] Karena tafakkur dan berfikir akan membawa manusia ke arah makrifat Tuhan. Kadangkala manusia mengetahui sesuatu, akan tetapi dengan mengetahui saja tidaklah cukup, harus senantiasa ada perenungan dari pengetahuan yang dimiliki. Imam Shadiq As pada kitab ini juga, berkali-kali bersabda kepada Mufaddhal, "Innaka tara…." (sesungguhnya engkau akan melihat …". Sebenarnya, jika Mufaddhal telah "mengetahui" dan lebih tinggi lagi telah "melihat", lalu apa yang dikehendaki Imam As darinya? Imam hanya menginginkan Mufaddhal melakukan perenungan dan mengambil pelajaran, oleh karena itu, beliau senantiasa bersabda, "Wahai Mufaddhal, berfikirlah secara mendalam …, dan belajarlah dari …."         
Kita mengetahui bahwa ketika kayu diceburkan ke air, maka dia akan tetap mengapung di atas air, dalam pandangan kita hal ini merupakan sesuatu yang wajar dan tidak ada yang menakjubkan, akan tetapi Imam Shadiq as bersabda, "Berfikirlah pada masalah ini, kewajaran sebuah persoalan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak berfikir tentangnya, karena dengan berfikir pada masalah-masalah yang secara lahiriah sederhana, akan mampu membawa manusia kepada persoalan yang sangat besar."         
Kita telah berkali-kali menyaksikan jatuhnya buah apel dari pohon, sebuah hal yang wajar, akan tetapi kenapa hanya Newton saja yang mempersoalkan jatuhnya buah apel ke atas bumi dan mengutarakan begitu banyak pertanyaan, sehingga kemudian menemukan sebuah hukum ilmiah yang begitu besar dan sangat terkenal (yaitu daya tarik bumi)?" Hal ini karena persoalan yang sederhana itu tidak menyebabkan berhentinya proses berfikir. Kita harus senantiasa berfikir dan merenungi seluruh elemen yang ada di alam ini.         Kebanyakan manusia akan menggumamkan keagungan Pencipta ketika menyaksikan realitas-realitas menakjubkan semacam gugusan bintang, langit, pesawat, perjalanan manusia ke planet lain, pecahnya atom dan persoalan-persoalan luar biasa lainnya, padahal keagungan dan kepengaturan Tuhan berada dimana saja, dan inilah yang diajarkan oleh Imam Shadiq As kepada Mufaddhal dalam kitab yang sangat berharga ini. "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar." (Qs. Fushilat:53)   

Mukjizat Perkataan Imam Shadiq As         
Mukjizat merupakan sebuah perbuatan yang orang lain tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Biasanya ketika seseorang diminta untuk menyebutkan mukjizat yang dimiliki oleh para Imam alaihimussalam, dengan cepat mereka akan berfikir ke arah menghidupkan orang mati, mengubah arah perjalanan matahari, menjinakkan binatang liar, memberi syafaat pada orang sakit yang tak bisa disembuhkan dan lain-lain. Padahal Nahjul Balâghah dan Sahifah Sajjâdiyah adalah mukjizat, demikian juga kitab Tauhid Mufaddhal pun adalah sebuah mukjizat yang mengandung perkataan-perkataan hikmah, makrifat tertinggi atau prediksi masa depan. Imam Shadiq As mempunyai pengetahuan sempurna dalam filsafat dan rahasia penciptaan, dan beliau menyampaikan pelajaran ini dalam bentuk filsafat Ilahi, Teologi, ilmu Kedokteran, ilmu Kimia, ilmu Anatomi, ilmu Pertanian (Agrikultur), Perkebunan (Hortikultur). Dan dengan satu kalimat dapat dikatakan bahwa Imam as merupakan "Sosok yang mengetahui semua rahasia alam dan memahami seluruh fenomena-fenomena yang terletak di antara langit dan bumi"[49]. Dan inilah mukjizat itu. Sebenarnya, adakah mukjizat yang lebih tinggi dari ini?         Tak bisa dipungkiri, jika aspek kemukjizatan yang terdapat pada seluruh mukjizat lainnya tidak banyak membutuhkan pemikiran dan pemahaman, maka dalam kitab ini yang ada adalah sebaliknya, di antaranya: 
1.          Ketika Imam as membicarakan tentang keajaiban penciptaan ikan, beliau bersabda, "Ikan mengambil air dari mulut dan mengeluarkannya dari kedua telinganya sehingga hewan-hewan lainnya bisa mengambil manfaat darinya." Perkataan ini menjelaskan tentang kebutuhan ikan terhadap oksigen, hal ini baru ditemukan beberapa kurun setelahnya. 
2.          Ketika membicarakan tentang bintang dan gerakannya, Imam As mengungkapkan adanya dua gerakan untuk setiap bintang, yang kemudian hal ini beliau umpamakan dengan dua gerakan yang dilakukan oleh semut di atas batu penghalus tepung, dimana batu bergerak ke arah kiri dan semut bergerak ke arah kanan. Dalam keadaan seperti ini, batu penghalus tepung akan bergerak ke arah kiri dan semut, meskipun dia bergerak bersama batu, diapun akan melakukan gerakannya sendiri yang berlawanan dengan gerakan batu. Dari perkataan dan perumpamaan yang disampaikan oleh Imam As, kita bisa menyimpulkan adanya “gerakan tetap” dan “gerakan perpindahan” serta “tujuan gerakan bintang”. Tentunya pada bagian ini Imam as banyak membahas bagian-bagian lain secara mendetail dan jika saja para cendekiawan dari setiap disiplin keilmuan berkumpul untuk melakukan pembahasan bersama, tanpa ragu lagi mereka akan menemukan puluhan bahkan ratusan hukum-hukum alam yang selama ini belum ditemukan. Akan tetapi dengan menyepelekan perkataan para Imam Maksum alaihimussalam manusia telah menganiaya diri mereka sendiri. 
3.          Dalam pembahasan mengenai udara, Imam as menyebutkan bahwa udara merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya gelombang suara. Pada era kita telah terbukti bahwa pada tempat yang hampa udara sama sekali tidak akan terjadi gerakan gelombang suara, demikian juga adanya  komposisi dan kematerian udara,  bisa difahami dari perkataan Imam as, padahal pada masa itu masyarakat sama sekali belum mengenal dan mengetahui tentang komposisi udara serta kemateriannya. 
4.          Gerakan dan bentuk bulat-nya bumi bisa difahami dari salah satu ibarat yang dikemukakan oleh Imam As, beliau bersabda, matahari telah diciptakan sedemikian sehingga terbit dari arah timur dan teranglah segala sesuatu yang berhadap-hadapan dengannya dari arah barat.           
Dasar pembahasan kita terutama pada kalimat “teranglah segala sesuatu yang berhadap-hadapan dengannya dari arah barat”, tentang kenapa Imam As tidak bersabda “matahari menerangi segala sesuatu”, hal ini dikarenakan beliau ingin menunjukkan bahwa cahaya matahari sampai ke seluruh permukaan bumi karena adanya perputaran bumi. Pada tempat lain, ketika mengutarakan tentang terbenamnya matahari, diantaranya bersabda, "Dan terbenam sehingga menyinari pada tempat dimana pada awal subuh tidak tersinari". Sebuah ibarat yang sangat menakjubkan. Dengan memperhatian secara lebih seksama, Anda akan menemukan bahwa dalam kalimat ini terkandung adanya pemahaman tentang kebulatan bumi dan gerakannya.         
Pada tempat yang lain bersabda, "Dan matahari menyinari bumi sehingga setiap bagian bumi mengambil bagian dari cahayanya."  Kalimat ini pun menjelaskan tentang kebulatan bumi dan gerakannya, karena dalam ungkapan Imam As kata "qesth" (pembayaran) yang kami terjemahkan dengan "nasîb" (bagian), dan "qesth" menjelaskan tentang keharmonian nisbi yang hanya benar ketika bentuk bumi adalah bulat. Walhasil, keseluruhan kitab dipenuhi oleh keajaiban-keajaiban dan rahasia-rahasia segala sesuatu; dan yang harus kita lakukan hanyalah berfikir dan bertafakkur tentangnya untuk meyakini adanya Pencipta Yang Maha Agung dan Tinggi.   

Menghapus Sebuah Keraguan         
Bisa jadi seseorang menyangka bahwa salah satu ungkapan  yang barus saja selesai ia baca, adalah tidak sesuai lagi dengan perkembangan ilmu dan inovasi saat ini. Mereka yang memiliki pendapat seperti ini harus memperhatikan beberapa point berikut:   
1.    Pengetahuan manusia sangatlah sedikit dan terbatas, Allah berfirman: "… Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Qs. al-Israa: 85) Oleh karena itu, manusia tidak seharusnya menyepelekan cahaya dan pengetahuan Ilahi dari setiap perkataan Imam Maksum as, karena pengetahuan kita hanyalah sedikit dan kita belum mampu mencapai posisi yang sangat agung, dengan ibarat lain tolok ukur ilmu sebenarnya adalah ilmu yang dimiliki oleh Imam As, bukannya ilmu yang kita miliki. jika kita tidak menyetujui point ini maka harus diketahui bahwa kita belum sampai pada rahasia dan hakikat pengetahuan Imam As. 
2.    Pada masa-masa sebelumnya, banyak sekali perkataan-perkataan Imam Shadiq As yang kelihatan aneh dan asing, akan tetapi dengan adanya penemuan-penemuan baru, hakikat-hakikat yang sebelumnya diutarakan oleh Imam As saat ini telah menjadi jelas. Bisa jadi pula, saat ini hakikat tersebut belum mampu terungkap secara menyeluruh, akan tetapi generasi mendatang dengan adanya inovasi dan pengetahuan yang semakin berkembang, akan mampu menggali lebih dalam hakikat-hakikat yang semula tersembunyi menjadi nampak dengan jelas. 
3.    jika muncul keraguan terhadap ungkapan-ungkapan Imam As maka solusinya adalah bertanya kepada para ulama dan cendekiawan Islam, karena kadangkala kata yang terdapat dalam ungkapan Imam As harus diinterpretasikan terlebih dahulu untuk menemukan rahasia yang tersimpan di dalamnya. Bisa jadi pada tahapan awal kata tersebut tidak memiliki makna khas, akan tetapi ketika maknanya diintepretasikan dan dikaitkan dengan kondisi zaman pada saat itu, mungkin saja kita akan menemukan pengetahuan yang luar biasa. Pada tempat lain Imam As mengungkapkan tentang keajaiban dinginnya temperatur bumi. Bisa jadi ketika memandang ibarat ini seseorang langsung menyepelekan perkataan Imam As ini dan mengatakan bahwa isi bumi begitu panas dan membakar, lantas bagaimana bisa dikatakan temperaturnya dingin? Orang ini lengah dan tidak memperhatikan perkataan Imam As secara mendalam, Imam As  menggunakan konteks-konteks untuk mengatakan bahwa kulit bumi-lah yang mempunyai temperatur dingin. Apakah bukan suatu hal yang menakjubkan jika dikatakan bahwa bumi yang pada bagian luar dan dalamnya dipenuhi dengan api membakar, akan tetapi manusia mampu mengambil manfaat dari permukaannya yang dingin? Pada bagian yang lain lagi, Imam As bersabda, "Raihlah hikmah, jika bumi tidak tenang dan tidak konstan, apa yang akan terjadi ….?" Perlu diketahui bahwa kata konstan mempunyai dua makna, pertama adalah ketetapan ketika berhadapan dengan getaran dan gerakan-gerakan tak beraturan lainnya, dan kedua bertolak belakang dengan gerak secara mutlak. Imam As dalam bagian ini menjelaskan bahwa jika bumi senantiasa bergetar dan tidak konstan maka …, jadi konstan dan ketenangan tidak kontradiktif dengan getaran dan gerakan bagian dalam bumi. Dimana saja kita tidak mampu memahami ibarat yang dikatakan oleh Imam As, kita harus melakukan hal semacam itu dalam memahami konteks dan makna kalimat supaya memahami hakikatnya, dan jikapun kita tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya, maka seharusnya kita menyadari bahwa pengetahuan yang kita miliki yang sangalah sedikit dan terbatas, bukan menisbahkan kekurangan itu kepada para Imam Maksum alaihissalam sebagai pemilik ilmu mutlak.   

Tafsir dan Terjemahan Tauhid Mufaddhal         
Pada beberapa abad yang lalu para ulama dan cendekiawan Islam belum ada yang terjun langsung untuk melakukan penerjemahan sekaligus pentafsiran terhadap kitab yang sangat berharga ini. Akan tetapi, pada masa kini beberapa dari mereka telah berhasil menerjemahkannya atau menafsirkannya dan beberapa lainnya hanya memberikan catatan kaki. 
Di bawah ini kami akan menyebutkan beberapa tafsir dan terjemahan yang ada:
1.        Tafsir Maula Baqir bin Maula Ismail Kajuri Tehrani, dalam kitabnya yang berjudul Zabdah al-Mâtsar, Muhammad saudara lelaki Maula Baqir mengatakan, "Penafsiran yang sangat berharga ini telah dikemas dalam 30 pertemuan yang bertema Wahai Mufaddhal! Dan memiliki lebih dari 20 ribu bait.[50]   
2.        Tafsir Persia oleh Maula Fadhil Fajruddin Ma wara an-Nahra.[51] 
3.        Ketika menulis riwayat panjang ini pada buku Biharul Anwar-nya, almarhum Majlisi ra menafsirkan sebagian besar dari kalimat-kalimat yang ada.[52] 
4.        Ogho Kazhim Mudaffar-pun berusaha untuk meneliti kitab ini dan terbilang sukses dengan adanya penambahan berupa mukadimah dan catatan kaki yang sangat berharga.[53] 
5.        Ismail bin Husain Tabrizi, dengan nama samaran Taib dan terkenal dengan "Penyampai Masalah". Menyusun seluruh Kitab Tauhid Mufaddhal dalam bentuk 2 ribu bait syair.[54] 
6.        Terjemahan Allamah Muhammad Baqir Majlisi, pemilik Bihârul Anwâr. Terjemahan ini selain penuh manfaat, diterjemahkan oleh penerjemah tersohor, pada berbagai bagian juga mengetengahkan point-point berharga dalam tema "Penerjemah mengatakan,…", bahkan pada tempat-tempat lain, Allamah juga menambahkan pembahasan yang bersumber dari beliau sendiri yang digabung dengan perkataan Imam As, dengan ibarat lain, terjemahan Allamah Majlisi bisa dikatakan sebagai tafsiran ringkas yang berbaur dengan teks aslinya dimana untuk mengenal kembali antara tafsiran dan teksnya, hanya mungkin dilakukan dengan membandingkan dengan aslinya.[55] 
7.        Terjemahan Maula Muhammad Shaleh bin Muhammad Baqir Gazwini Rughni.[56] 
8.        Terjemahan Syaikh Fahruddin Turkestani Ma Wara Al Nahra.[57] 
9.        Terjemahan Ogho Zainal 'Abidin Kazhimi Khalkhali. Terjemahan ini bergabung dengan terjemahan dari penerjemah lainnya (Akhlak di sisi Imam Shadiq As) yang dicetak dalam satu jilid.[58] Ketika kami mencoba membandingkan halaman-halaman pertama, pertengahan dan akhir kitab terjemahan ini dengan terjemahan Allamah Majlisi ra konklusi yang kami dapatkan tidak terlalu menggembirakan, karena pada keduanya hampir tidak ada perbedaan yang mencolok, dengan ibarat lain, terjemahan ini identik dengan terjemahan milik Marhum Majlisi dengan perbedaan yang sangat sedikit.
10.   Terjemahan Ogho 'Ali Asghar Faqihi, kitab kecil ini bukan merupakan terjemahan lengkap dari kitab Tauhid Mufaddhal, melainkan penerjemah berusaha menghilangkan beberapa tema dari kitab Tauhid dan menambahkan beberapa pandangan dan kalimat-kalimat yang sederhana dan ringan sehingga menjadi sebuah buku yang sesuai untuk para pelajar.   

Refleksi pemikiran yang Hadir di Hadapan Anda         
"Keajaiban-keajaiban Penciptaan, dari lisan mulia Imam Shadiq as", merupakan judul yang kami pilih sebagai terjemahan dari Tauhid Mufaddhal. Pada kesempatan kali ini, ada baiknya jika kami mengetengahkan beberapa point berikut:   
1.     Kami berusaha untuk tidak menyisipkan keinginan pribadi ke dalam teks dan juga tidak meletakkan kalimat atau penjelasan pribadi ke dalamnya. 
2.     Selain tetap berusaha menjaga keaslian dan keteraturan teks hadis, dan dalam penggunaan bahasa kami juga berusaha untuk tidak menyalahi aturan-aturan penulisan dan semaksimal mungkin tetap menjaga kesederhanaan dan keringanan bahasa. 
3.     Karena kitab ini merupakan sebuah hadis yang sangat panjang dan untuk tidak menemukan kesulitan dalam memahami kedalaman maknanya maka kami berusaha memilih tama untuk setiap pokok bahasan dengan bahasa yang sesuai dan mudah dimengerti oleh para pembaca. 
4.     Mufaddhal bin Umar Ja'fi merupakan perawi hadis yang panjang ini tidak begitu dikenal di masyarakat, dan hal ini dikarenakan adanya ikhtilaf di kalangan para ulama mengenai sosoknya, misalnya para ilmuwan besar seperti Najashi dan Ibnu Ghadhairi menganggapnya sebagai perawi yang lemah, berdasarkan hal inilah kami menganggap penting untuk mengetengahkan beragam pandangan yang ada, pada mukadimah kitab, supaya ketinggian dan keagungan maqam sahabat Imam Shadiq dan Imam Kazhim alaihimussalam ini menjadi jelas bagi semuanya dan tidak ada keraguan lagi tentangnya. 5.     Pada tahapan persiapan penerjemahan, kami banyak memanfaatkan teks Arab Biharul Anwar dan terjemahan almarhum Majlisi berkaitan dengan isinya, demikian juga pada penyusunan daftar isi serta bab, kami banyak belajar dari Ohgo Mudhaffar.   

Epilog         
Tak diragukan lagi bahwa manusia tidak jarang melakukan kesalahan ketika melakukan suatu pekerjaan, terutama dalam pekerjaan yang kita tidak mempunyai pengalaman atasnya, berdasarkan hal ini maka pertama: jika penerjemah dan penulis melakukan kesalahan dalam alih bahasa dan menafsirkannya, maka dengan segenap kerendahan hati memohon maaf kepada yang mulia Imam Shadiq As. Kedua: kami mengharap kritik dan saran dari para pembaca yang budiman supaya kami mengetahui kesalahan yang ada dan kemudian bisa diperbaiki pada kesempatan lain, demikian juga hal ini akan dapat menambah mutu dan kualitas pada kesempatan mendatang.     
[1].  Al-Dharii'atu ilaa Tasaanifu Al-Syiah, jilid. 4, hal. 482. 
[2].  Tauhid Mufadhdhal dengan mukadimah dan tafsir dari Kazhim Mudaffar, hal. 4. 
[3].  Rijal, Syaikh Tusy dalam Sahabat-sahabat Imam Shadiq As, hal. 314 dan Sahabat-sahabat Imam Kazhim As, hal 360. 
[4].   Al-Irsyad fi Makrifat Hujajullah 'ala al-'Ibad, hal. 208. 
[5]. Ushul Kafi, jilid. 2, hal. 209. 
[6]. Ushul Kafi, jilid. 2, kitab al-iman wa al-kufr, bab Ishlah, hal. 209. 
[7]. Kami tidak mengikuti keotentikan kitab  sebagaimana keotentikan Syaikh, karena menurut Almarhum Majlisi yang akan kami singgung pada pembahasan sesi selanjutnya, matan kitab menunjukkan dengan baik bahwa perkataan tersebut merupakan perkataan Imam dan bahkan kelemahan perawi dan …. tidak akan membahayakan keberadaan riwayat, terutama karena hadis ini tidak ada kaitannya dengan ahkam, dan akal lebih banyak memiliki peran di dalamnya. 
[8]. Al-Ihtishahs, hal. 216, hadis Mufadhdhal dan penciptaan arwah para Syiah dari para Imam As. 
[9]. Muhammad bin Sinan terdapat dalam sanad riwayat Mufadhdhal dan riwayat ini merupakan argumentasi keotentikan dan kedudukannya di sisi Imam Kazhim As. 
[10]. 'Uyun Al-Ahbar Al-Ridha as, jilid. 1, bab 4, hadis 29.   
[11]. Ushul Kafi, jilid. 2, hal. 209. 
[12]. Ushul Kafi, jilid. 2, Kitab al-iman wa al-kufr, bab ash-Shabr, hadis 16. [13]. Mu'jam Rijal Al-Hadis, jilid. 18, hal 302. 
[14]. Merupakan salah satu dari sahabat yang dipercaya dan mempunyai manzilat yang tinggi di sisi Imam Shadiq as. Lihat Muntaha Al-Amaal, jilid. 2, Sahabat-sahabat Imam Shadiq as, hal. 320. 
[15]. Mu'jam Rijal Al-Hadis, jilid. 18, hal. 404 dengan nukilan dari Rijal Al-Kasyi. [16]. Rijal Al-Kasyi, biografi Mufadhal bin Umar Ja'fi. 
[17]. Kitab man La Yahdharuh Al-Faqiih, jilid. 1, hal. 3. 
[18]. Ushul Kafi, jilid. 2, Kitab al-iman wa al-kufr, bab ash-Shabr, hadis 16. [19]. Al Irsyad fi Al-Ma'rifat Hujajullah 'ala Al-'Ibaad, hal. 208. 
[20]. Rijal Syaikh Thusy, Sahabat-sahabat Imam Shadiq as dan Imam Kazhim as, dengan urutan halaman: 314 dan 360. 
[21]. Al Ghaibah, hal. 210 
[22]. Mu'jam Rijal Al-Hadis, jilid. 18, hal 294. 
[23]. Al-Manaqib, jilid. 4, bab Keimamahan Imam Shadiq as. 
[24]. Al-Iman min Akhtar Al-asfar wa Al-azman, hal 87, demikian juga lihat: Safinatul Bihar, jilid. 2, hal 372. 
[25]. Kashf Al-Muhajjah li Tsamarati Al-hujjah, hal. 50. 
[26]. Maksudnya adalah Hadis Tauhid Mufadhdhal dan Ahli Hadis Ahlijiyah (Hilaliyah). 
[27].   Hadist Mursal adalah hadist yang tidak bersambung, berlawanan dengan hadist memiliki sanad dimana muhadis menisbatkan sebuah hadist kepada Imam Maksum as dengan menyebutkan seluruh sanadnya. Untuk penjelasan lebih luas, rujuk: Subhani, Ja'far, Ushul al-Hadis wa Ahkamuh, hal. 95.  
[28]. Biharul Anwar, jilid. 3, hal. 55, 56. Argumentasi akhir dari Marhum Majisi adalah: Hadis harus memiliki sanad sahih yang merupakan penjelas bagi hukum ibadah ataukah non-ibadah, akan tetapi hadis jelas semacam ini dimana akal mempertegas keterjaminannya,tidak ada urgensinya memerlukan sanad sahih. [29]. Untuk mengenal ulama besar ini lebih jauh lagi, rujuklah: Muntaha al-âmal, jilid. 2, hal 410. 
[30]. Tauhid Mufadhdhal terbagi dalam dua bagian: satu bagian  adalah apa yang berada di alam materi ini yang tersusun dalam empat kali pertemuan, dan yang di kalangan ulama masyhur dengan nama Tauhid Mufadhdhal, sedangkan satu bagian lagi adalah apa yang disebut dengan Makrifat-makrifat Malakuti dan Alam Metafisik yang dijanjikan oleh Sadhiqul Wa'd as kepada Mufadhal. Bagian ini menduduki posisi yang lebih penting dan lebih menakjubkan dari Tauhid Mufadhdhal. Almarhum Syaikh Ogho Buzurg Tehrani mengatakan, seseorang bernama Sayyid Mirza Abul Qasim Dhahabi, telah berhasil menemukan keduanya lalu mengumpulkan keseluruhannya dalam kitab bernama Tabashir al-Hikmah. Rujuk: Al Dhariyah ila Tashanifi Al-Syiah, jilid. 4, hal 488. 
[31].  A'yan Al-Syiah, jilid. 10, hal. 132-133 dan Safinatul Bihar, jilid. 2, hal. 372. 
[32]. Marhum Kaf'ami mengatakan: Sepertinya maksud dari bab Imam adalah bab rahasia dan pengetahuan-pengetahuannya", rujuk: Al-Misbah, hal. 277, demikian juga almarhum Nuri dalam Mustadrak Al Wasail, jilid. 3, hal. 570 dan Abu 'Ali dalam Rijal bab Sahabat pada hal. 319, A'yan al-Syiah, jilid. 4, hal. 544, keseluruhannya menukilkan perkataan tersebut. 
[33]. Muntaha al-Âmal, jilid. 2, bab kesembilan, pasal ketujuh, hal. 442-443. [34]. Hadis-hadis ini telah kami utarakan dalam bagian Mufadhdhal dalam pandangan riwayat. 
[35]. Tauhid Mufadhdhal dan Tauhid Hilaliyah. 
[36]. Biharul Anwar, jilid. 3, hal. 57 dan 152. 
[37]. Al Dhari'atu ilaa Tashanifu Al-Syiah, jilid. 4, hal. 482 dan 483. 
[38].  Perkataan almarhum Haji Syaikh Abasi Qumi akan kami ketengahkan pada halaman berikutnya. 
[39]. Harus diketahui bahwa perhatian Imam Shadiq As kepada Mufadhdhal lebih tinggi dari hal ini, karena pada akhir pertemuan keempat dari kitab ini, Imam as kepada Mufadhdhal menjanjikan bahwa pada pertemuan berikutnya beliau akan mengutarakan tentang makrifat-makrifat dan hakikat malakuti. Tanpa ragu lagi Imam adalah Sadiqul-Wa'd dan harus ada kelanjutan dari kitab tersebut. Tentu saja perkataan almarhum Aqa Buzurg Tehrani tentang telah ditemukannya kitab tersebut pun telah kami utarakan. Wal hasil janji dan amalan ini dengan sendirinya merupakan penjelas kedudukan Mufadhdhal di sisi Imam Shadiq As. 
[40]. Lihat: Mu'jam Rijal al-Hadis, jilid. 18, hal. 303 dan 304. 
[41]. Ibid, hal. 303 dan 304. 
[42] . Taqiyah adalah salah perbuatan yang dilakukan untuk menyembunyikan sebuah keyakinan dan akidah tertentu, hal ini biasa dilakukan untuk menyelamatkan jiwa sendiri atau menyelamatkan jiwa orang lain dan melindungi harta benda. 
[43]. Wasail al-Syiah, jilid. 3, hal. 584 dan Rijal al-Kasyi, hal. 91. 
[44]. Muntaha al-Amal, jilid. 2, hal. 443 dan 444. 
[45]. Lihat juga Mu'jam Rijal al-Hadis, jilid. 7. hal. 245. 
[46]. Mu'jam Rijal al-Hadis, jilid 18, hal. 303. 
[47].  Imam Shadiq As dalam perkataannya mengutarakan begitu banyak hikmah berkaitan dengan persoalan ini. 
[48]. Tentang Tafakkur dan pengaturan, merujuklah al-Muhajjat al-Baidha, jilid. 8, Kitab al-tafakkur, hal. 192 dan selanjutnya. 
[49]. Muhammad Husaini Al-Mudhaffar, Hayat al-Imam Shadiq As, hal. 248. [50]. Al-Dhariatu ilaa Tashanifis asy-Syiah, jilid. 4, hal. 482. 
[51]. Ibid, J. 4, hal. 382. 
[52]. Biharul Anwar, jilid. 3, hal. 57 dan 152. 
[53]. Tauhid al-Mufadhdhal, Maktabah Al Dawary, jilid. 3, dengan mukadimah dan catatan kaki Ogho Kazhim Mudaffar. 
[54]. Al-Dhari'at ilaa Tsanif asy-Syiah, jilid. 4, hal. 288. 
[55]. Penulis tidak memiliki tulisan asli dari teks ini dan kesimpulan yang diambil adalah berdasarkan beberapa teks cetakan yang penuh dengan kesalahan. Bisa jadi Allamah Majlisi dalam tulisan aslinya telah memisahkan antara perkataan dan penjelasan beliau dari matan aslinya. 
[56]. Al-Dhari'ah ilaa Tasanif asy-Syiah, jilid. 4, bagian terjemahan-terjemahan. [57]. Ibid. 
[58]. Kitab ini telah dicetak oleh Penerbit Hujr pada tahun 1361 H.Syamsi.   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar