Rabu, 04 November 2015

SERI TAUHID MUFADDHAL [2]

       
Imam As berkata, "Di saat dinihari, datanglah padaku! Saya akan menjelaskan pada kalian hikmah Allah Swt dalam menciptakan dunia, binatang liar, binatang mamalia, burung-burung, serangga, dan makhluk hidup yang lain; seperti halnya hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan yang berbuah dan tidak berbuah, tanaman yang dapat dimakan dan yang tidak dapat dimakan, yang mana orang-orang layak mengambil ibrah dari penjelasan ini. Orang-orang mukmin dengan mengetahui hal ini akan menjadi tenang. Orang-orang ateis dan orang yang ingkar akan terbuka pikirannya." Mufaddhal berkata, "Dengan gembira saya keluar dari tempat Imam as. Dan pada malam itu saya tidak bisa tidur karena menunggu janji Imam as." Di saat dinihari, saya segera menuju ke rumah Imam As, saya diizinkan untuk masuk. Untuk menghormatinya saya berdiri di hadapannya. Imam as berkata, "Duduklah!" Setelah itu, Imam beranjak menuju ke sebuah kamar. Sayapun bangkit dari tempat duduk dengan permintaannya. Imam berkatam, "Ikutilah saya!" Sayapun mengikutinya. Dia masuk ke sebuah kamar dan sayapun mengikutinya. Imam duduk dan sayapun duduk di hadapannya. Imam berkata, "Ya Mufaddhal ! Saya tahu kamu tidak bisa tidur karena menunggu apa yang telah saya janjikan padamu." Saya berkata, "Benar, tuanku." Imam berkata, "Ya Mufaddhal! Tuhan selalu ada, tanpa ada pendahulu-Nya dan akan selalu ada, tanpa ada akhir-Nya. Pujilah Dia karena telah memberikan ilham pada kita, dan bersyukurlah pada-Nya karena memberikan kepada kita ilmu yang terbaik dan tertinggi. Dengan ilmu tersebut, kitalah yang terpilih di antara seluruh ciptaannya dan dengan hikmah-Nya kita menjadi saksi bagi mereka."   Keraguan akan Sebab-Sebab  Penciptaan Ya Mufaddhal! Orang–orang yang memiliki dua hati (skeptis) tidak dapat memahami sebab–sebab dan makna–makna penciptaan, dan ketika pemikiran mereka tidak dapat mengetahui hikmah Tuhan, dengan kedangkalan ilmunya, mereka mengingkari semuanya. Kelemahan pandangan yang mereka miliki, menjadi tempat berlindung kebohongan dan kedengkiannya. Mereka mengingkari penciptaan sesuatu, dan mengatakan bahwa tidak ada sama sekali yang namanya pencipta, pemelihara dan penentu dalam penciptaan sesuatu, begitu juga tidak terdapat hikmah dalam penciptaan sesuatu. Tidak diragukan bahwa Allah Swt lebih mulia dari apa yang mereka sangkakan. Allah melaknat mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?[1] Mereka itu berada dalam kesesatan, sengsara dan berada dalam kebingungan, mereka itu buta untuk masuk ke dalam sebuah istana yang begitu kokoh dan indah yang di dalamnya terbentang permadani-permadani yang terbaik dan termahal, segala jenis makanan, minuman, pakaian dan segala kebutuhan lain yang telah disiapkan untuknya. Di sana segala sesuatunya berada pada tempatnya masing-masing berdasarkan hikmah dan takdir. Akan tetapi orang-orang tanpa bashirah ini, pergi dari arah ini ke arah sana, bahkan telah mengelilingi setiap sudut rumah, namun tidak ada sesuatupun yang mereka lihat. Dia tidak melihat istana tersebut dan juga tidak melihat sesuatu yang telah tersedia di dalamnya. Bahkan boleh jadi, terkadang -dikarenakan kebutaannya– menyebabkan kaki salah seorang dari mereka tergelincir, dan mereka hancurkan sesuatu, dimana sesuatu tersebut mereka butuhkan, yang telah diletakkan pada tempatnya dan mereka lalai dari hikmahnya, bahkan mereka juga datang dengan marah dan memarahi istana dan pemilik istana tersebut.       Beginilah kondisi mereka saat ini, yang mengingkari hikmah dan kebikjasanaan dalam penciptaan. Selama pemikiran-pemikiran mereka tidak mampu dalam mempersepsi sebab-sebab dan faktor-faktor penciptaan sesuatu, sangat bingungnya mereka dalam dunia ini, sehingga mereka tidak memahami bahwa kekokohan, keindahan kebijakan, model dan aspek-aspek indahnya penciptaan berada di tangan seorang hakim dan pencipta. Alangkah banyaknya dari mereka, dikarenakan ketiadaan pengetahuan pada sebab dan hikmah penciptaan terhadap sesuatu, mereka kemudian sibuk dengan mengeritik, mengingkari dan berbuat dosa. Seperti perbuatan orang-orang yang sesat, sahabat sekafir mereka, orang-orang ateis yang fasik dan mereka yang keluar dari agama. Mereka adalah orang-orang yang mengasyikkan dirinya dengan perkataan-perkataan yang bohong dan mustahil (dan mereka menolak ketaatan pada Tuhannya). Oleh karena itu, mereka yang telah diberikan oleh Allah Swt akan nikmat pengetahuan, hidayah serta pandangan, dan berhasil berfikir secara mendalam mengenai penciptaan, dan memahami dengan argumen yang jelas mengenai pencipta keberadaan, perencana yang jitu dan memiliki ahsan al-kalam, maka ia patut bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang begitu besar yang telah diberikan kepadanya, dan kemudian memohon kepada-Nya agar senantiasa tetap dalam jalan tersebut, serta memohon agar senantiasa nikmat-Nya ditambahkan. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."[2]   Alam dan Kondisi Pembentukannya         Wahai Mufaddhal! Pelajaran yang pertama kali dan dalil atas eksistensi Sang Pencipta adalah pembentukan dan pengumpulan bagian-bagian dan keteraturan penciptaan di alam ini. Oleh karena itu, jika Anda berfikir dengan baik dan benar mengenai alam ini, Anda akan dapatkan segala sesuatunya seperti Anda mendapatkan rumah dan istana yang didalamnya telah tersedia seluruh kebutuhan-kebutuhan hamba Tuhan. Langit seperti atap, yang diletakkan dengan tingginya, bumi seperti permadani yang telah dihamparkan, bintang-bintang seperti lampu-lampu yang telah disiapkan, mutiara-mutiara seperti cadangan yang tertimbun didalamnya, dan segala sesuatunya terletak dalam tempatnya sendiri secara sempurna. Kita  juga seperti orang yang diberikan rumah ini, dan segalanya diserahkan dalam ikhtiyar kita. Segala jenis tumbuhan dan hewan disiapkan untuk kita untuk memenuhi kebutuhan dan kemaslahatan. Segala hal diatas adalah dalil bahwa alam keberadaan ini telah diciptakan dengan ukuran yang sangat jitu, penuh hikmah, teratur, sesuai dan harmonis. Pencipta sesuatu itu adalah satu, Dialah yang Maha Pengatur, Pencipta keteraturan dan mengharmonisasikan bagian-bagian ciptaan-Nya. Sesungguhnya Dialah yang dalam kesuciannya Maha Mulia, dan dalam perbuatan-Nya Maha Agung, dan wajah-Nya Maha Suci. Tidak ada Tuhan selain-Nya, dan Dia Maha Suci dari sangkakan yang orang-orang mungkir pada-Nya, dan Dia Maha Mulia dan Maha Agung dari persangkakan yang orang-orang ateis pada-Nya.   Penciptaan Manusia dan Pemeliharaan Janin dalam Rahim   Wahai Mufaddhal! Kita akan memulai pembicaraan ini dengan menjelaskan penciptaan manusia. Berusahalah Anda agar bisa memetik hikmah dari hal ini.   Pertama-tama pemeliharaan diatur sedemikian rupa dimana janin dalam rahim berada dalam tiga fase: perut, rahim dan kandungan. Sebuah tempat dimana tidak terdapat kemampuan dalam mengambil makanan dan tidak memiliki kemampuan dalam menghindari ketidakpantasan. Ia tidak mengetahui kemaslahatan dirinya, maupun bahaya bagi dirinya.   Darah haid adalah makanan untuknya, seperti air bagi tumbuhan. Seperti inilah keberlangsungan makanannya. Proses Kelahiran dan Pertumbuhan Anak Hingga Baligh   Ketika penciptaan anak sudah sempurna, tubuhnya akan menjadi kuat, kulitnya bisa menyesuaikan diri dengan udara dan matanya bisa melihat cahaya.   Ibu akan merasakan sakit yang amat sangat untuk melahirkan, sehingga tekanan yang dilakukannya membuat bayi terdorong keluar. Bayi telah keluar dan lahir dari alam rahim yang sempit ke alam dunia yang luas. Darah yang merupakan makanan sebelumnya, sekarang darah itu juga yang menjadi makanannya, akan tetapi dalam bentuk yang lain, dengan warna dan bau yang keluar dari susu ibunya. Makanan ini merupakan yang terbaik untuk bayi. Ketika lahir, ia berbicara melalui gerakan mulut yang menunjukkan bahwa ia lapar. Pada masa perkembangan bayi, payudara ibu seperti dua kantung air yang tergantung di dada, ia terus minum susu selama bayi masih lemah dan anggota badannya masih lembut.   Ketika ia mulai bergerak dan membutuhkan makanan yang keras sehingga tubuhnya kuat, maka gigi depan tumbuh sehingga bisa mengunyah makanan dengan lembut dan menelannya dengan mudah. Keadaan ini terus berlanjut, hingga tiba pada masa baligh. Pada masa ini, jika ia laki-laki, maka rambut akan tumbuh di wajahnya, sebagai tanda kelelakian dan kehormatannya, dan membedakannya dari perempuan dan anak-anak. Jika ia wanita, maka tidak tumbuh rambut di wajahnya, sehingga kesegaran dan kecantikannya membuat hati pria menjadi terpikat, dan generasi manusia tetap terjaga dan tetap berlangsung.   Wahai Mufaddhal! Pada tahapan ini, berfikirlah dengan baik. Apakah mungkin segala keteraturan ini tidak ada Sang Maha Bijaksana yang mengaturnya? Apakah anda mengetahui bahwa jika di dalam rahim darah tidak sampai padanya, sama seperti tumbuhan yang tidak sampai air padanya, tumbuhan itu akan kering dan layu? Apakah anda mengetahui setelah ia besar, jika ibunya tidak merasakan sakit ketika akan melahirkan, anak tersebut akan terkubur hidup-hidup dalam rahim ibunya, dan jika setelah lahir tidak terdapat susu untuknya, niscaya ia akan mati kelaparan, atau ia akan diberikan makanan yang merugikan untuknya? Dan jika dalam waktu tertentu gigi-giginya tidak tumbuh, ia tidak akan mampu mengunyah dan menelan makanan, sehingga dia harus selamanya minum susu, dan akhirnya badannya tidak punya kekuatan untuk bekerja, dan disebabkan hal ini ibunya tidak dapat mengurus lagi anak-anaknya yang lain. Rahasia Tumbuhnya Rambut di Wajah  Apakah anda tahu jika diwajah tidak tumbuh rambut, maka ia akan berwajah perempuan dan anak-anak dan akhirnya tidak memiliki martabat dan kepercayaan? Mufaddhal berkata, "Tuanku, ijinkan saya menyampaikan sesuatu, saya menyaksikan orang besar dan berumur tua, namun saya tidak melihat ada rambut yang tumbuh di wajahnya.   Imam as kemudian menjawab, "Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tangannya sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya."[3]   Hanya Tuhanlah yang bebas dari ketiadaan, dan senantiasa memberikan keberadaan. Siapakah yang senantiasa memikirkan segala kebutuhan dan kemudian memenuhi dan menyiapkannya sendiri?   Jika tidak terdapat keteraturan dan hikmah dan segala perkara di serahkan kepada diri sendiri maka pasti akan mengakibatkan ketidakharmonisan dan kekacauan. Anggapan bahwa tidak ada keteraturan dan keharmonisan di alam ini menunjukkan ketidaktahuan dan rendahnya pengetahuan, adalah mustahil terjadi ketakteraturan dan ketakharmonisan yang memunculkan kebaikan dan kebenaran, begitu pula kontradiksi tidak akan melahirkan keteraturan dan keharmonisan. Maha Suci dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka katakan dengan kesucian yang sebesar-besarnya.[4] Jika Manusia Lahir dalam Keadaan Pintar dan Berfikir Jika bayi lahir dalam keadaan berfikir dan berakal, maka sewaktu dia lahir akan mengingkari alam keberadaan, dan ketika berhadapan dengan hewan-hewan, burung-burung dan keberadaan asing lainnya, ia akan menghindarinya. Setiap saat dan setiap hari, ia akan menyaksikan bentuk-bentuk yang beragam dan keajaiban alam yang sebelumnya belum pernah ia saksikan sama sekali, setiap tanda akan membingungkan dan menyesatkan akal dan pikirannya. Ketahuilah, jika anak yang berakal ditawan dan dipindahkan dari satu alam kealam yang lain, dengan menyaksikan keajaiban-keajaiban yang aneh, ia akan senantiasa merasa heran dan kebingungan. Berbeda dengan seorang anak tak berakal yang ditawan sejak kanak-kanak dalam lingkungan bahasa dan budaya yang berbeda (dialam barunya) maka ia tidak cepat tangkap dan tidak kebingungan. Begitu juga, jika bayi lahir didunia memiliki pengetahuan dan pintar, dikarenakan begitu lemahnya sehingga berjalanpun ia tak mampu, terpaksa ia harus digendong, harus diminumkan susu, berpakaian, dan ditidurkan dalam ayunannya. Oleh karena itu, ia juga akan merasa rendah dan hina, namun dari sisi lain dikarenakan kelemahan dan kelambanan badannya, ia senantiasa butuh pada hal-hal tersebut. Akhirnya mungkin saja ia akan jatuh dalam kehancuran, atau akan mempengaruhi perkembangan ruh dan badannya. Begitu juga, dalam kondisi seperti ini, keindahan, kepolosan dan kecintaan orang kepadanya akan hilang. Inilah sebabnya mereka lahir didunia dalam keadaan tidak mengetahui dan lalai akan dunia dan kesibukannya. Mereka menghadapi segala sesuatunya dengan subjektifitas yang lemah, dengan pengetahuan yang sangat sedikit dan tidak sempurna, namun secara perlahan-lahan dan dalam kondisi yang berbeda-beda pengetahuannya akan semakin bertambah. Seorang anak akan melewati proses pencerapan pengetahuan seperti ini, kemudian akan sampai pada tahapan pendalaman ilmu, dan dengan bantuan akal dan pemikiran ia akan melangkah melewati lembah kesibukan dunia, pengaturan, mencari alternatif hidup dan lain-lain. Ia akan mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman, mentaatinya atau ia akan jatuh kembali dalam kesalahan, lupa, kelalaian dan dosa. Masih banyak hikmah-hikmah lain yang tersimpan dalam fase ini, misalnya jika anak lahir dalam keadaan memiliki akal sempurna, mandiri dan bebas, maka keindahan memiliki anak akan hilang. Ayah dan Ibu tidak mendapatkan maslahat yang tersimpan dalam mendidik anak, dan akhirnya ketika ayah dan ibunya sudah tua, anaknya tidak terampil dalam mengasuh, melayani dan mengasihi kedua orang tuanya, dikarenakan ayah dan ibunya tidak bersusah payah dalam mengasuh anaknya karena anaknya sejak awal telah bebas dan mandiri dari ayah dan ibunya. Begitu juga, dengan asumsi seperti ini, antara anak-anak dan orang tua tidak ada lagi ikatan dan keakraban yang mendominasi, dikarenakan anak-anak tidak lagi membutuhkan asuhan dan kasih saying orang tuanya, dan sejak lahir ia telah berpisah dari orang tuanya. Setelah baligh anak tidak akan mengenal kedua orang tuanya dan saudara-saudaranya, dan ketidaktahuan ini akan mengakibatkan perkawinan sesama saudara sesusuan bahkan ayah dan ibu. Kerusakan yang paling minimal – bahkan yang paling mengerikan – ketika anak pintar ini, disaat dia lahir dan memandang "sesuatu" dia akan menginginkan perbuatan tersebut yang tidak layak baginya. Apakah anda tidak melihat bagaimana segala penciptaan begitu kokoh dan teratur, dan sedikitpun dibagian terkecil dan terbesar di alam eksistensi tidak dijumpai kekacauan dan ketakteraturan. Manfaat Tangisan Anak         Wahai Mufaddhal! ketahuilah manfaat-manfaat tangisan anak. Ketahuilah dalam otak anak terdapat cairan dan jika tetap berada disitu, maka akan mendatangkan penyakit-penyakit dan hal-hal yang mengerikan baginya, seperti buta dan lain-lain. Tangisan ini menghilangkan dan mengeluarkan cairan tersebut serta akan memberikan kesehatan pada badan dan penglihatannya. Ayah dan ibu mereka tidak menyadari akan rahasia ini. Mereka tidak mengetahui bahwa tangisan bermanfaat bagi anak. Orang tua senantiasa berusaha agar anaknya berhenti menangis, dan memberikan keinginan-keiginannya agar anak tidak menangis, akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa tangisan bermanfaat baginya dan membuahkan kebaikan baginya.         Dengan segala penjelasan ini, alangkah banyaknya faedah-faedah yang tersimpan dalam sesuatu, bagi orang-orang yang meyakini ketidakteraturan alam dan meyakini bahwa alam ini tidak memiliki pencipta, pasti lalai dari hal ini. Jika mereka mengetahuinya, mereka tidak akan pernah mengatakan bahwa sesuatu ini tidak ada faedahnya, karena mereka tidak mengetahui faktor-faktor dan sebab-sebabnya. Sesungguhnya apa saja yang mereka ingkari, mereka tidak mengetahui bahwa para Arif menyaksikannya. Alangkah banyaknya ciptaan-Nya yang tidak kita ketahui dikarenakan ilmu yang sedikit. Namun Dialah yang Maha Pencipta, dengan ilmu-Nya yang tak terhingga mengetahui segala ciptaan-Nya. Maha Suci dan Maha Agung Dia dan Kalam-Nya Maha Tinggi.         Adapun air yang terkumpul dalam mulut anak, kemudian keluar dari mulutnya dalam bentuk cairan, dimana jika tetap berada dalam badannya, akan memberikan efek yang serius. Cairan yang berada di badan dan mengandung unsur lain tersebut menjadikan anak idiot, gila, kurus, lumpuh.         Allah Swt mengatur sedemikian rupa sehingga cairan ini keluar dari mulutnya sejak masa kanak-kanak, sehingga sewaktu besar nanti badannya menjadi sehat. Kemurahan Allah Swt tetap bagi mereka yang tidak mengetahui rahasia penciptaan. Jika mereka menyadari nikmat Tuhan yang tak terhingga dan memiliki pengetahuan terhadap penciptaan, mereka tidak akan berbuat maksiat dan ragu akan perintah-Nya. Allah Swt Maha Suci dan Maha Pemurah, alangkah besarnya nikmat-nikmat yang diberikan kepada mereka dan ciptaan-ciptaan-Nya yang  lain! Allah Swt Maha Suci dari apa yang mereka gambarkan terhadap-Nya.   Penciptaan Alat Kelamin dan Bentuknya           Sekarang Wahai Mufaddhal ! Renungkanlah bagaimana alat kelamin pria dan perempuan diciptakan. Semuanya sesuai dengan bentuknya. Bagi pria diberikan alat kelamin yang panjang dan elastis, sehingga bisa sampai pada kedalaman rahim dan dapat meletakkan nuthfah dalam rahim tersebut. Bagi wanita diciptakan alat kelamin  seperti wadah yang dalam sehingga ia dapat menampung air mani pria tersebut. Rahim perempuan memberikan ruang untuk anak dan dapat menampung sesuai dengan perkembangan anak tersebut, sehingga anak tersebut menjadi stabil. Apakah semua hal ini bukan dari pencipta yang Maha Bijaksana dan Maha Pemurah? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).[5]   Anggota Badan dan Faedahnya Masing-Masing         Wahai Mufaddhal! Renungkanlah seluruh angota tubuh manusia dan keteraturan yang tersembunyi didalamnya. Tangan untuk bekerja, kaki untuk bepergian, mata untuk melihat, mulut untuk makan,  perut untuk pencernaan, hati untuk infiltrasi, saluran pengeluaran untuk membuang kotoran badan, alat kelamin diciptakan untuk memelihara generasi. Jika anda memikirkan secara mendalam seluruh proses kerja anggota badan, anda akan mendapatkan bahwa segala sesuatunya diciptakan berdasarkan hikmah dan keteraturan.   Prasangka Ilmuwan Alam dan Jawaban Terhadapnya           Mufaddhal berkata, "Tuanku! Sebagian dari mereka beranggapan bahwa segalanya karena sesuatu yang alami". Imam as menjawab, tanyalah pada mereka, apakah "sesuatu yang alami" yang mereka maksudkan itu memiliki ilmu dan kodrat atas perbuatan-perbuatannyanya?         Jika mereka dapat membuktikan ilmu dan kodrat bagi "sesuatu yang alami", lalu mengapa mereka tidak meneruskan untuk membuktikan keberadaan Tuhan? bukankah "sesuatu yang alami" ini juga adalah ciptaan dan hikmah-Nya. Dan jika mereka mengatakan bahwa "sesuatu yang alami" tidak memiliki ilmu dan kodrat, meskipun perbuatan-perbuatan yang lahir darinya memiliki keteraturan. Dari hal ini, jelaslah bahwa perbuatan-perbuatan ini bukan muncul dari "sesuatu yang alami" tapi dari Pencipta Yang Maha Bijaksana, dan apa yang mereka maksudkan dengan "sesuatu yang alami" adalah sunnah Ilahi dalam penciptaan segala sesuatu yang berjalan sesuai dengan perintah dan hikmah Ilahi.   Pencernaan Makanan, Pembuatan Darah dan Pengalirannya Ke Seluruh Badan           Wahai Mufaddhal! Berfikirlah dengan baik mengenai makanan bagi badan dan keteraturan yang tersembunyi di dalamnya. Pertama makanan diolah dan dicerna di dalam perut, kemudian sarinya masuk ke hati melalui saluran yang sangat kecil dan halus. Saluran yang sangat kecil dan halus ini berfungsi untuk menjaga jangan sampai ada serat padat yang masuk ke hati, karena hati sangat halus dan lembut, dan tidak bisa menerima goncangan dan tekanan. Melalui hikmah dan keteraturan, sari tersebut diubah menjadi darah dan akan mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Begitu juga bahan-bahan makanan yang lebih dan membusuk tersimpan dalam wadahnya yang telah disiapkan. Bahan-bahan makanan yang tak bermanfaat disalurkan ke empedu. Air empedu yang hitam di bawa ke limpa, dan yang lembab dan basah menuju kista. Renungkanlah sejenak hikmah Ilahi mengenai susunan badan, bagaimana bagian-bagiannya terletak ditempatnya masing-masing, dan wadah-wadah ini diset sedemikian rupa sehingga bahan-bahan yang berlebih dan membusuk diletakkan ditempat khusus, agar supaya tidak menyebar keseluruh badan, dan tidak membuat tubuh kita menjadi sakit. Betapa tinggi martabat mereka yang mengetahui takdir dan mengokohkan keteraturan serta perencanaan. Segala puji bagi Allah.   Perkembangan Tubuh dan Pembentukannya dalam Rahim           Mufaddhal berkata, "Tuanku, mohon jelaskan perkembangan evolusi badan hingga sampai pada tahapan sempurna.         Imam as menjawab, "Pertama, janin dalam rahim[6] diberikan bentuk dan wajah. Perencanaan ini berlaku sedemikian rupa sehingga mengeluarkan sebuah manusia sempurna dan kokoh dengan seluruh kebutuhan-kebutuhannya. Badan manusia ini sempurna dan stabil, dan segala hal yang tersembunyi didalamnya, dari rongga perut, organ-organ dan variabel-variabel badan lainnya, tulang-tulang, daging, lemak, otak, saraf, urat-urat dan tulang rawan. Sewaktu pertama kali anak tersebut menginjakkan kakinya ke bumi, sebagaimana yang anda saksikan, seluruh bagian-bagian tubuhnya tumbuh bersamaan secara harmonis, yang mengukuhkan bentuk dan anggota-anggota tubuhnya, tidak ada anggota tubuhnya yang bertambah dan juga tidak ada yang berkurang. Proses ini berlangsung sedemikian rupa, hingga sampai pada masa baligh dan sampai pada kesempurnaannya. Apakah semua hikmah dan keteraturan ini tidak berasal dari Sang Maha Pemurah dan Maha Bijaksana?   Berdiri dan Duduk Bagi Manusia         Wahai Mufaddhal! renungkanlah bagaimana Allah Swt begitu memuliakan dan membesarkan manusia. Dalam penciptaan manusia diberikan kekhususan tertentu yang melebihi binatang berkaki empat.         Manusia diciptakan sedemikian rupa berdiri dengan tegak, dan duduk dengan lurus, sehingga tangan dan badannya berhadap-hadapan dengan sesuatu, dan ia dapat bekerja dengan menggunakan tangannya. Sebaliknya, jika binatang berkaki empat berdiri tegak, maka binatang tersebut tidak bisa berbuat sesuatu.   Panca Indra Khusus Pada Manusia dan Kemuliaan Baginya         Wahai Mufaddhal! renungkanlah mengenai proses penciptaan indra manusia yang menunjukkan keunggulan dan kemuliaannya diantara makhluk-makhluk lain. Pikirkanlah bagaimana penghlihatan, seperti lampu-lampu yang diletakkan di puncak menara, sehingga ia dapat melihat segala sesuatunya dengan baik dan sempurna, dan mata tersebut tidak diletakkan di tangan dan di kaki agar mata tersebut terjaga dari kerusakan, dan juga tidak bersentuhan langsung dengan pekerjaan dan alat-alat kerja. Juga mata ini tidak diletakkan dibagian perut, punggung dan ditengah badan, sehingga mata ini tidak kesulitan dalam melihat sesuatu dan merekam gambarnya.   Rahasia Panca Indra         Ketika tidak terdapat tempat yang paling cocok untuk mata, tak diragukan lagi, tempat yang paling sesuai adalah dikepala, ibarat sebuah rumah dan serambi untuknya.         Panca indra diciptakan untuk manusia, sehingga ia dapat mempersepsi lima indra, agar supaya manusia tidak terhalang dari mempersepsi sesuatu yang sifatnya di indrai. Mata diciptakan agar manusia bisa melihat warna-warna dan bentuk-bentuk (wajah-wajah). Jika terdapat warna-warna dan bentuk-bentuk, namun mata tidak bisa melihatnya, lalu apa gunanya ? Telinga diciptakan agar manusia bisa mendengar suara-suara. Jika suara ada namun telinga tidak ada, maka kita tidak butuh terhadapnya. Begitu pula dengan indra-indra lainnya.         Begitupun sebaliknya, jika ada mata namun tidak ada warna dan bentuk, apa juga maknanya? Atau jika ada telinga namun tidak ada suara apalah gunanya telinga?         Pikirkanlah bagaimana ditakdirkan bahwa masing-masing indra mempersepsi sesuatu. Untuk setiap indra memiliki sesuatu yang diindrai, dan setiap yang diindrai memiliki indra tertentu, yang mempersepsi hal tersebut. Dengan semua hal ini, terdapat sesuatu yang terletak diantara indra dan yang diindrai, yang hanya melaluinya dapat mempersepsi bentuk, seperti  cahaya dan udara.       [1] . Qs.  At-Taubah: 30 [2] . Qs. Ibrahim: 7 [3] . Qs. Al-Anfaal: 51 [4] . Qs. Al-Isra’ : 43 [5] . Qs. An-naml: 63. [6] . Sebuah tempat dimana mata tidak dapat melihatnya dan tangan tak sampai padanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar