Jumat, 21 November 2014

Adat Pernikahan Tarim

copas from : Arya suseno
TARIM,TELADAN PERNIKAHAN ISLAMI :
ALHABIB AHMAD BIN NOVEL BIN SALIM BIN JINDAN
MENCERITAKAN:
acara kawinan yang jauh dari perkara yang haram
Renungan dan pelajar penting lainnya yang dapat saya petik
dari perjalanan kami ke Kota Tarim Syawal 1435 H
Banyak kaum solihin di kota tarim. Sulit untuk mengunjungi
mereka di rumah mereka satu persatu karena banyaknya.
Beberapa dari
mereka karena usia tua sudah lama sekali tidak keluar dari
rumahnya. Namun apabila saya ingin berjumpa dengan
mereka semua atau
sebagian besar mereka dalam satu waktu yang sama, maka
saya akan dapati mereka semua berkumpul dalam suatu
acara perkawinan.
Hampir lengkap semua tokoh ulama, solihin, orang tua,
bahkan yang sudah lama sekali tidak keluar dari rumah juga
ikut hadir dalam
acara perkawinan, mengapa?
1- karena menghadiri walimah pernikahan hukumnya wajib.
2- tidak ada perkara haram dan kemaksiatan dalam acara
perkawinan di kota Tarim.
3- hubungan silaturahmi yang sulit tersambung kerena
kesibukan dan kesehatan dapat dengan mudah tersambung
dalam perkumpulan
acara pernikahan.
4- susunan acara sudah rapi diatur oleh para salaf solihin,
dari segi waktu, aturan dsb.
5- mengharap doa yang diijabah Allah saat acara pernikahan.
6- dsb.
Acara pernikahan di kota Tarim sudah di atur rapi dari sejak
ratusan tahun lalu oleh para salaf dan para awliya dan ulama.
Prosesnya kurang lebih sebagai berikut:
Pertama-tama adalah keluarga mempelai lelaki datang untuk
meminta dan apabila sudah ada persetujuan maka diadakan
pertemuan resmi
untuk melamar dengan membawa bawaan dan kemudian
pembicaraan tentang waktu upacara pernikahan.
Setelah ditentukan waktu pernikahan maka ketika telah dekat
waktu pernikahan kedua belah pihak menyerahkan nama-
nama yang akan
diundang saat upacara pernikahan yang terdiri dari beberapa
acara. Kemudian setelah disepakati semua maka undangan
akan disebar
kurang lebih satu minggu sebelum waktu pernikahan.
Proses acara pernikahan dimulai dari Asar, rombongan
tetamu yang diundang berdatangan sebagamana kelompok
kesenian datang ke
rumah mempelai lelaki rombongan demi rombongan yang di
sambut oleh keluarga mempelai lelaki. Setiap kelompok
kesenian menampilkan
hiburan masing-masing secara bergantian hingga dekat
waktu maghrib. Perlu diketahui bahwa semua kesenian
tersebut berisi dengan
syair-syair yang penuh dengan doa, tawasul kepada para
Awliya dan doa kepada Allah. Pukulan-pukulan rebana dan
marawis serta tarian
zafin yang sangat menghibur. Dan acara tersebut hanya di
hadiri oleh kaum laki-laki saja. Sebagaimana acara yang
sama diadakan
khusus hanya untuk kaum wanita saja. Sehingga tidak ada
campur aduk antara laki-laki dan perempuan. Dan dalam
acara tersebut
disajikan air, kopi, dan diputarkan dupa dan gahru. Ketika
menjelang maghrib acara tersebut ditutup dengan mentartib
Al Fatihah oleh
seorang yang dituakan di situ. Acara ini dinamakan al ‘iraadh.
Acara sesi berikutnya dinamakan dengan Marjah dan
waktunya lepas solat isya. Kurang lebih 1 jam selepas azan
isya acara dimulai di
rumah pengantin lelaki dengan berdatangannya para tetamu.
Dalam acara ini para undangan selain keluarga dan sahabat
adalah para
ulama dan awliya serta tokoh masyarakat. Dan hampir
sebagian besar undangan akan menghadiri, sehingga
siapapun yang ingin melihat
pembesar-pembesar kota Tarim berkumpul bersama dalam
satu waktu maka akan melihat mereka dalam acara Marjah
semacam ini.
Mereka memandang bahwa dalam acara pernikahan terdapat
saat-saat diijabah doa oleh Allah dan khususnya ketika acara
pernikahan itu
adalah pernikahan anak cucu Rasulullah SAW. Dilantunkan
qosidah-qosidah kaum solihin yang penuh dengan doa dan
nasehat dengan
suara merdu dan dengan pukulan marawis yang lembut dan
santai serta suling yang ditiupkan dengan merdu sementara
para tamu
berdatangan. Kemudian setelah para tamu atau sebagian
besarnya telah datang maka para pelayan masuk dengan
cucian tangan mencuci
tangan masing-masing tamu undangan. Setelah itu para
pelayan masuk kembali dengan membawa jamuan makan
malam di nampan. Dan
para tamu dipersilahkan untuk menikmati makan malam.
Usai makan malam para pelayan mengangkat nampan dan
kemudian pelayan-
pelayan lainnya masuk dengan membawa cucian tangan dan
sabun untuk mencuci tangan para tamu. Sebagian tamu lebih
memilih
mencuci tangan di wastafel yang disediakan sebagaimana
sebagian lainnya dilayani oleh para pelayan. Setelah itu
semua kembali duduk di
tempat masing-masing untuk melanjutkan acara.
Sebagaimana sebelumnya qosidah kaum solihin dilantunkan
dengan pukulan marawis
yang lembut dan tiupan suling yang merdu sementara para
pelayan menyuguhkan teh kepada para tetamu. Setelah 2-3
qosidah
dilantunkan, saat itu pengantin lelaki dipersilahkan masuk
untuk mencium tangan para ulama, awliya, orang tua dan
memohon perhatian
dan doa dari mereka kemudian di dudukkan di tempat yang
sudah disiapkan. Solawat kepada Rasulullah setiap beberapa
menit dihimbau
dan dikumandangkan. Sebagaimana saat pengantin masuk
para pelayan juga ikut masuk dengan membawa biji kopi
yang harum untuk
dibagikan kepada para tetamu. Setelah itu qosidah
dilantunkan kembali sebagaimana semula. Lalu datang para
pelayan dengan membawa
selimut dan bantal serta beberapa peralatan. Selimut digelar,
bantal diletakkan di atas selimut, pengantin lelaki di
perintahkan untuk duduk
menghadap kibalat di atas selimut yang telah di bentangkan
dan bersandar kepada bantal dengan kaki agak melonjor.
Para pelantun
qosidah berdiri dan berjalan mengelilingi pengantin dengan
melantunkan syair-syair merdu dan indah yang berisi doa-doa
dan tawasul
kepada para awliya serta dzikir dan sholawat sebagaimana
marawis dengan lembut dipukul dan suling ditiup. Di saat
yang sama para
pelayan memakaikan di telapak kaki pengantin lelaki hinnah
atau pacar. Proses ini memakan waktu kurang lebih 5-10
menit.
Setelah
selesai para pelayan dan pengantin berdiri dan masuk ke
dalam kamar pengangin. Sementara para pelayan lainnya
segera menyuguhkan
kopi kepada seluruh tetamu dengan cepat dan dupa serta
gahru diputarkan kepada mereka. Dan setelah itu di bacakan
doa dan Fatihah
oleh seorang yang dituakan dan ditokohkan dari para habaib
sebagai penutup acara. Dan kemudian para tetamu kembali
ke rumah
masing-masing.
Setelah itu masih ada lagi sesi berikutnya. Yaitu acara para
pemuda sahabat-sahabat sang pengantin lelaki. Di depan
rumah telah
disiapkan panggung hiburan. Anak-anak, remaja, dan orang
tua telah duduk manis menghadap panggung. Tempat untuk
pengantin telah
disiapkan. Hiburan dimulai. Hiburan ini berisi marawis, zafin,
dan mungkin beberapa lawak. Namun perlu diketahui bahwa
seluruh hiburan
tersebut jauh dari hal yang diharamkan oleh Allah. Marawis
mereka dilantunkan syair kaum solihin yang berisi doa dan
nasehat serta
dzikir. Tarian zafin mereka penuh dengan adab dan etika.
Lawak mereka penuh dengan nasehat dan bimbingan.
Nasehat yang disajikan
dalam bentuk lawak dan drama komedi. Acara ini
berlangsung hingga hampir tengah malam, dan kemudian
ditutup dengan doa dan
Fatihah oleh tokoh ulama yang ada.
Acara selanjutanya diadakan pada hari berikutnya. Lepas
adzan dzuhur apabila di siang hari, dan lepas adzan asar
apabila di sore hari.
Keluarga pengantin lelaki dan para undangan telah berkumpul
di rumah mereka dari sebelum adzan mendengarkan qosidah
yang
dilantunkan oleh beberapa orang dari kelompok Hadroh As
Seggaf. Qosidah yang penuh dengan doa, nasehat dan
tawssul kepada para
awliya serta dzikir dan sholawat. Hingga masuk waktu dan
dikumandangkan adzan. Selepas adzan tanpa menunda
waktu langsung
dilaksanakan solat berjamaah di rumah. Selepas solat
pengantin lelaki dan keluarganya sertaara tamu undangan
keluar dari rumah dan
berjalan kaki menuju ke rumah pengantin wanita. Rombongan
pengantin laki-laki bersama keluarganya dan para undangan
yang
merupakan para ulama dan awliya berjalan kaki dengan
diarak oleh rebana dan qosidah kaum solihin hingga sampai
ke rumah pengantin
wanita.
Sebagaimana dari sejak asar para tetamu dan keluarga
pengantin wanita sudah berkumpul menanti kedatangan
rombongan pengantin
lelaki dengan lantunan Qosidah kaum solihin dan dzikir serta
sholawat kepada Rasulullah SAW. Dan ketika rombongan
datang dan sampai
di depan pintu rumah pengantin wanita, ayah, paman,
keluarga besar pengantin wanita berbaris dan menyambut
kedatangan rombongan
dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Setelah semua duduk di tempat masing-masing maka
diputarkan dupa/gahru kepada seluruh hadirin sementara
salah seorang masyaikh
membacakan satu qosidah kaum solihin. Setelah itu dupa/
gahru diletakkan di hadapan pengantin lelaki, dan salah
seorang tokoh habaib
membacakan doa dan Fatihah. Kemudian mulailah dibacakan
Khutbah Nikah oleh penghulu lalu proses akad nikah. Setelah
selesai akad
sementara pengantin mencium tangan ayah mertuanya dan
para ulama dan orang tua yang hadir, salah seorang
masyaikh membacakan
qoshidah kaum solihin. Setelah itu apabila ada jamuan makan
siang maka akan langsung di sajikan dengan cara
sebagaimana saya
sebutkan dalam sesi marjah, dan kalau memang tidak ada
jamuan makan maka akan dibagikan kepada para tamu
bungkusan kecil berisi
wijen sebagai jamuan sederhana. Kemudian diputarkan dupa/
gahru dan setelah itu dibacakan doa dan Fatihah sebagai
penutup acara.
Sesi berikutnya di hari selanjutnya yaitu acara yang
dinamakan Ghoda Subhah. Acara ini dilakukan dipagi hari
sekitar jam 7 pagi atau 7.30
pagi dan dibeberapa tempat dilakukan pada waktu awal
dzuhur. Prosesnya adalah dirumah pengantin lelaki. Dimulai
dengan pembacaan
doa dan Fatehah kemudian lantunan Qosidah-qosidah oleh
masyaikh Hadrah Seggaf dan masyaikh Baharmy dan Ba
ghorib Sementara
tetamu berdatangan. Disaat yang sama, keluarga pengantin
wanita pun di rumah mereka berkumpul melantunkan doa dan
qoshidah. Ketika
sebagian besar tetamu telah datang di rumah pengantin lelaki,
maka diutuslah seseorang agar memberikan kabar kepada
keluarga
pengantin perempuan yang sedang berkumpul di rumah
mereka untuk datang ke rumah pengantin lelaki. Maka saat
itu juga acara di rumah
pengantin wanita di tutup dengan pembacaan doa dan Fatihah
kemudian mereka langsung bergegas menuju ke rumah
pengantin lelaki.
Keluarga pengantin lelaki menyambut kedatangan keluarga
pengantin wanita dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
Setelah duduk,
dibacakan satu qosidah kaum solihin kemudian jamuan
makan dihidangkan. Lepas makan, dilantunkan satu qosidah
sementara dupa/
gahru diputarkan, kemudian ditutup dengan doa dan Fatihah.
Dan selesailah proses upacara perkawinan dengan seluruh
sesi sesinya.
Namun perlu saya tegaskan berulang kali. Bahwa di setiap
sesi tersebut hanyalah dihadiri oleh laki-laki. Tidak ada
perempuan sama
sekali. Tidak ada campur aduk antara laki1laki dan
perempuan. Bahkan yang berjumpa dengan pengantin hanya
mahramnya saja dan
selain mahram tidak diperbolehkan untuk berjumpa dengan
pengantin.
Dan apa yang saya ceritakan diatas hanyalah acara untuk
kaum laki-laki. Adapun untuk acara kaum wanita insya Allah
akan saya
ceritakan dalam tulisan saya mendatang.
Kemudian sahabat-sahabatku para pembaca dapat melihat
betapa panjangnya acara pernikahan di kota Tarim, betapa
meriahnya, betapa
indahnya, betapa penuhnya dengan hiburan dan kebahagiaan
yang sangat jauh dari perkara yang haram. Penuh dengan
kesopanan, penuh
dengan adab dan etika, penuh dengan nasehat dan
bimbingan, dan tanpa diragukan penuh dengan keberkahan
dan anugrah Allah.
Teringat ketika saya mendengar dari guru saya Al Habib
Umar bin Muhammad bin salim bin Hafidz berkata “Bahwa
para salaf kami kaum
Alawiyyin mencari dan mengejar saat-saat diijabah doa oleh
Allah dalam acara pernikahan”. “Mereka meyakini bahwa
dalam acara
tersebut terdapat saat ijabah dari Allah”. Acara yang
bagaimana? Acara yang semacam ini yang jauh dari perkara
yang haram. Yang penuh
dengan hikmah.
Dalam perjalanan saya ke hadramaut bulan syawal 1435 H
ini, salah satu tujuan utama saya adalah untuk menghadiri
acara pernikahan
As Sayyid Muhammad bin Al Habib Salim bin Abdullah bin
Umar Asy Syatiri. Putra sulthonul Ulama. Sehari sebelum
acara, saya berjumpa
dengan seorang kaum solihin di kota Seywun, dan beliau
mengatakan kepada saya, bahwa malam ini dalam acara
Marjah pernikahan
putra Al Habib Salim akan di hadiri oleh para Awliya yang
nampak maupun yang tidak nampak, dan akan menjadi
penyebab turunnya
rahmat bagi kaum muslimin diberbagai penjuru.
Sahabatku..! Bagaimana tidak? Semacam yang saya
gambarkanlah acara pernikahan di sana. Dan apa yang saya
gambarkan hanyalah
sedikit dari yang saya ketahui dan fahami.
Alangkah sedih ketika membandingkan dengan acara
pernikahan di negeri kita. Perkara yang haram di dalamnya.
Laki perempuan campur
aduk menjadi satu. Hiburan dengan alat musik yang dilarang
oleh agama, berbagai perkara haram ada di dalamnya.
Ya Rabb perbaikilah keadaan kami menjadi lebih baik, dan
jadikan panutan kami dalam segala hal adalah kaum solihin
yang engkau
ridhoi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar