Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Jumat, 04 Oktober 2013
TENTANG RASA/ROSO/PERASAAN BATIN
Banyak orang yang bertanya, mengapa dalam
mempelajari Agama mesti harus mengenal Rasa ?
Memang kalau hanya sampai pada tingkat Syariat,
bab rasa tidak pernah dibicarakan atau
disinggung. Tetapi pada tingkat Tarekat keatas bab
rasa ini mulai disinggung. Karena bila belajar ilmu
Agama itu berarti Banyak mulai mengenal siapa
Sang Percipta itu. Karena ALLAH maha GHOIB
maka dalam mengenal hal GHOIB kita wajib
mengaji rasa. Jadi jelas berbeda dengan tingkat
syariat yang memang mengaji telinga dan mulut
saja.Dan mereka hanya yakin akan hasil kerja
panca inderanya.Bukan Batin! Bab rasa dapat
dibagi dalam beberapa golongan .Yaitu : RASA
TUNGGAL, SEJATINYA RASA, RASA SEJATI,
RASA TUNGGAL JATI. Mengaji Rasa sangat
diperlukan dalam mengenal GHOIB.Karena hanya
dengan mengaji rasa yang dimiliki oleh batin itulah
maka kita akan mengenal dalam arti yang
sebenarnya,apa itu GHOIB. 1. RASA TUNGGAL
Yang empunya Rasa Tunggal ini ialah jasad/
jasmani. Yaitu rasa lelah, lemah dan capai. Kalau
Rasa lapar dan haus itu bukan milik jasmani
melainkan milik nafsu. Mengapa jasmani memiliki
rasa Tunggal ini. Karena sesungguhnya dalam
jasmani/jasad ada penguasanya/penunggunya.
Orang tentu mengenal nama QODHAM atau ALIF
LAM ALIF. Itulah sebabnya maka didalam AL
QUR’AN, ALLAH memerintahkan agar kita mau
merawat jasad/jasmani. Kalau perlu, kita harus
menanyakan kepada orang yang ahli/mengerti.
Selain merawatnya agar tidak terkena penyakit
jasmani, kita pun harus merawatnya agar tidak
menjadi korban karena ulah hawa nafsu maka
jasad kedinginan, kepanasan ataupun masuk
angin. Bila soal-soal ini kita perhatikan dengan
sungguh-sungguh, niscaya jasad kita juga tahu
terima kasih. Kalau dia kita perlakukan dengan
baik, maka kebaikan kita pun akan dibalas dengan
kebaikan pula. Karena sesungguhnya jasad itu
pakaian sementara untuk hidup sementara dialam
fana ini. Kalau selama hidup jasad kita rawat
dengan sungguh-sungguh (kita bersihkan 2 x
sehari/mandi, sebelum puasa keramas, sebelum
sholat berwudhu dulu, dan tidak menjadi korban
hawa nafsu, serta kita lindungi dari pengaruh
alam), maka dikala hendak mati jasad yang sudah
suci itu pasti akan mau diajak bersama-sama
kembali keasal, untuk kembali ke sang pencipta.
Seperti halnya kita bersama-sama pada waktu
dating/lahir kealam fana ini. Mati yang demikian
dinamakan mati Tilem (tidur) atau mati sempurna.
Pandangan yang kita lakukan malah sebaliknya.
Mati dengan meninggalkan jasad. Kalau jasad
sampai dikubur, maka QODHAM atau ALIF LAM
ALIF, akan mengalami siksa kubur. Dan kelak
dihari kiamat akan dibangkitkan. Dalam mencari
nafkah baik lahir maupun batin, jangan
mengabaikan jasad. Jangan melupakan waktu
istirahat. Sebab itu ALLAH ciptakan waktu 24 jam
(8 jam untuk mencari nafkah, 8 jam untuk
beribadah, dan 8 jam untuk beristirahat). Juga
dalam hal berpuasa, jangan sampai mengabaikan
jasad. Sebab itu ALLAH tidak suka yang berlebih-
lebihan. Karena yang suka berlebih-lebihan itu
adalah Dzad (angan-angan). Karena dzad
mempunyai sifat selalu tidak merasa puas. 2.
SEJATINYA RASA Apapun yang datangnya dari
luar tubuh dan menimbulkan adanya rasa, maka
rasa itu dinamakan sejatinya rasa. Jadi sejatinya
rasa adalah milik panca indera: 1. MATA : Senang
karena mata dapat melihat sesuatu yang indah
atau tidak senang bila mata melihat hal-hal yang
tidak pada tenpatnya. 2. TELINGA : Senang karena
mendengar suara yang merdu atau tidak senang
mendengar isu atau fitnahan orang. 3. HIDUNG :
Senang mencium bebauan wangi/harum atau tidak
senang mencium bebauan yang busuk. 4. KULIT :
Senang kalau bersinggungan dengan orang yang
disayang atau tidak senang bersunggungan dengan
orang yang nerpenyakitan. 5. LIDAH : Senang
makan atau minum yang enak-enak atau tidak
senang memakan makanan yang busuk. 3. RASA
SEJATI Rasa sejati akan timbul bila terdapat
rangsangan dari luar, dan dari tubuh kita akan
mengeluarkan sesuatu. Pada waktu keluarnya
sesuatu dari tubuh kita itu, maka timbul Rasa
Sejati. Untuk jelasnya lagi Rasa Sejati timbul pada
waktu klimaks/pada waktu melakukan hubungan
seksual. 4. RASA TUNGGAL JATI Rasa Tunggal
Jati sering diperoleh oleh mereka yang sudah
dapat melakukan Meraga Sukma (keluar dari
jasad) dan Solat Dha’im. Beda antara Meraga
Sukma dan Sholat Dha’im ialah : 1. Kalau Meraga
Sukma jasad masih ada.batin keluar dan dapat
pergi kemana saja. 2. Kalau Sholat Dha’im jasad
dan batin kembali keujud Nur dan lalu dapat pergi
kemana saja yang dikehendaki. Juga dapat
kembali /bepergian ke ALAM LAUHUL MAKHFUZ.
Bila kita Meraga Sukma maupun sholat Dha’im,
mula pertama dari ujung kaki akan terasa seperti
ada “aliran“ yang menuju ke atas / kekepala.
Pada Meraga sukma, bila “aliran“ itu setibanya
didada akan menimbulkan rasa ragu-ragu/khawatir
atau was-was. Bila kita ikhlas, maka kejadian
selanjutnya kita dapat keluar dari jasad, dan yang
keluar itu ternyata masih memiliki jasad. Memang
sesungguhnyalah, bahwa setiap manusia itu
memiliki 3 buah wadah lagi, selain jasad/jasmani
yang tampak oleh mata lahir ini. Pada bagian lain
bab ini akan kita kupas.Kalau sholat Dha’im
bertepatan dengan adanya “Aliran“ dari arah ujung
kaki, maka dengan cepat bagian tubuh kita akan
“Menghilang“ dan kita akan berubah menjadi
seberkas Nur sebesar biji ketumbar dibelah 7
bagian. Bercahaya bagai sebutir berlian yang
berkilauan. Nah, rasa keluar dari jasad atau rasa
berubah menjadi setitik Nur. Nur inilah yang
disebut sebagai Rasa Tunggal Jati. Selain itu, baik
dalam Meraga Sukma maupun Sholat Dha’im. Bila
hendak bepergian kemana-mana kita tinggal
meniatkan saja maka sudah sampai. Rasa ini juga
dapat disebut Rasa Tunggal Jati. Sebab dalam
bepergian itu kita sudah tidak merasakan haus,
lapar, kehausan, kedinginan dan lain sebagainya.
Bagi mereka yang berkeinginan untuk dapat
melakukan Meraga Sukma dianjurkan untuk sering
Tirakat/Kannat puasa. Jadikanlah puasa itu
sebagai suatu kegemaran. Dan yang penting juga
jangan dilupakan melakukan Dzikir gabungan NAFI-
ISBAT dan QOLBU. Dalam sehari-hari sudah pada
tahapan lillahi ta’ala. Hal ini berlaku baik mereka
yang menghendaki untuk dapat melakukan
SHOLAT DHA’IM. Kalau Meraga Sukma
mempergunakan Nur ALLAH, tapi bila SHOLAT
DHA’IM sudah mempergunakan Nur ILLAHI.
Karena ada Rasa Sejati, maka Rasa merupakan
asal usul segala sesuatu yang ada. Oleh sebab itu
bila hendak mendalami ilmu MA’RIFAT Islam
dianjurkan untuk selalu bertindak berdasarkan
rasa. Artinya jangan membenci, jangan menaruh
dendam, jangan iri, jangan sirik, jangan bertindak
sembrono, jangan bertindak kasar terhadap
sesame manusia, dll. Sebab dihadapan Tuhan
Yang Maha Kuasa, kita ini semua sama , karena
masing-masing memiliki rasa. Rasa merupakan
lingkaran penghubung antara etika pergaulan antar
manusia, juga sebagai lingkaran penghubung
pergaulan umat dengan Penciptanya. Rasa
Tunggal jati ini mempunyai arti dan makna yang
luas. Karena bagai hidup itu sendiri. Apapun yang
hidup mempunyai arti. Dan apapun yang
mempunyai arti itu hidup. Sama halnya apapun
yang hidup mempunyai Rasa. Dan apapun yang
mempunyai Rasa itu Hidup. Dengan penjelasan
ini, maka dapat diambil kesimpilan bahwa yang
mendiami Rasa itu adalah Hidup. Dan Hidup itu
sendiri ialah Sang Pencipta/ALLAH. Padahal kita
semua ini umat yang hidup. Jadi sama ada
Penciptanya. Oleh sebab itu, umat manusia harus
saling menghormati, tidak saling merugikan,
bahkan harus saling tolong menolang dll.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar