Jumat, 04 Oktober 2013

Dari 4 imam mujtahid

Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika
tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena
dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-
Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang
membuat saya lebih mengetahui jalan yang
benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa
Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi,
dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli,
dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari
Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan
batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung
jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal:
lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena
dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua
tahun bersama Ja’far as-Sadiq.
Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)
Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah
faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam
yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa
tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa
mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka
dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh
tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang
mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran)
.” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam
Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195
Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)
Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul,
“Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan
hanya satu yang akan menjadi kelompok yang
selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa
itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia
menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-
Wasiya p. 27-32.
Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)
Imam Shafi’i : “Saya bersama orang sufi dan aku
menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan
orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni,
vol. 1, p. 341.]
Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :
“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah
satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)
Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-
jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu
‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal
khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat
(Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-
orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu
dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati
mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka
memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir
al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam
Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang
yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol.
1, p. 120)
Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat
golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan
Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-
hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia
memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya
dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang
menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana
kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala
hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat
mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan
(kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka
Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat
mereka untuk melihat kehendak-Nya
mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka
bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan
mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-
Risalat al-Qushayriyya, p. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)
Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf :
“Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah
para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka
melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah
jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci.
Mereka membersihkan hati mereka dari selain
Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai
jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi
[al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)
Dalam suratnya al-Maqasid : “Ciri jalan sufi ada
5 : menjaga kehadiran Allah dalam hati pada
waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul
dengan perbuatan dan kata menghindari
ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada
pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk
masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p.
20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606
H./1149-1209 CE)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi : “Jalan para sufi
adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri
mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri
mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati
mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh
tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-
Musliman, p. 72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)
Ibn Khaldun : “Jalan sufi adalah jalan salaf, itulah
ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and
Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah
kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan
kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p.
328]
Tajuddin as-Subki
Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf:
“Semoga Allah memuji mereka dan memberi
salam kepada mereka dan menjadikan kita
bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang
telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak
orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang
tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang
benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia
dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata:
“Mereka dalah manusia-manusia yang dekat
dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima
Allah, dan melalui mereka Allah membantu
manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar