Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Jumat, 04 Oktober 2013
Aulia Illah
" INGATLAH, sesungguhnya para wali Allah tiada
ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka
berduka cita ". (QS. Yunus : 62).
Tulisan ini ditujukan kepada orang-orang yang
ingin mencari dan bertemu dengan Kekasih Allah
yang stiap zaman diturunkan oleh Allah SWT ke
dunia untuk membimbing manusia agar tetap di
jalan yang diridhai-Nya. Tulisan ini mudah-
mudahan bisa membuka hijab orang-orang yang
selama ini mengingkari adanya Wali Allah.
Siapakah Wali Allah itu ? Dan bagaimana kita bisa
mengetahui kalau seseorang mempunyai derajat
Wali? Berikut pendapat para Syekh tentang Wali
Allah.- Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para
wali Allah merupakan pengantin-pengantin di
bumi-Nya dan takkan dapat melihat para
pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu
terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding
penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat
kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun
diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia
mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga:
yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi
untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan
kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain
menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah
memandang diri dengan kerendahan dan merasa
takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia
berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan
sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya,
tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia
memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan
tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah
berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya
seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu
DZIKIR. Apabila ia telah merasa lezat dengan
dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu
pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya
kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia
didudukkan di atas kursi keimanan untuk
disingkapkan (dibukakan) dari padanya hijab (tabir
penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang
ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis
ke-Maha Agungan Allah.
Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha
Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan
tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana
(lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan
(penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala
pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi
seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya
dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum
atas diri wali di dalam perjalanannya dari
kebatalan menuju pada ketetapan adalah
kesungguhannya menunaikan hak-hak Allah Swt
berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam
segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil
memohon kepada Allah, segala kebaikan diberikan
untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi
al Husain, Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar
Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm.
179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan
dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful
Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari,
“Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat,
sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan
oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan
nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti
identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami,
bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih
ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan
kebaikan kepada semua makhluk, sementara
isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-
jiwa makhluk itu.
”Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas,
“Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima
ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui
musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
“Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka
Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3).
“Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az
Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa
sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al
Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan
Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu
menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat :
53)
”Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan
meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang
yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu
ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat,
yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir,
kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi,
mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari
ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati
dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang
berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’,
Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang
indah yang dipersembahkan kepada mereka.
Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’
dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu
mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan
agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari
kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan
mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya,
yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak
bini, cerita-cerita yang indah yang pernah
disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin
Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan
lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab
“Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang
menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali
itu.
Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi,
bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau
khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-
putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini.
Mereka meningkat kepada kedudukannya yang
mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at,
sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan,
sesudah tidak makan melainkan apa yang
diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah
tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi
hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan
perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang
pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan
para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits
Rasulullah Saw : Sesungguhnya ada di antara
hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah
para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka
dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari
kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi
Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa
gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga
kita dapat mencintai mereka. Nabi Saw menjawab
dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum
yang saling berkasih sayang dengan anugerah
Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan
dan bukan karena harta benda, wajah-wajah
mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri
di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka
merasa takut seperti manusia merasakannya dan
tiada mereka berduka cita apabila para manusia
berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban
dalam kitab shahihnya)
Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada
ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka
berduka cita (QS. Yunus : 62). Pernah Rasulullah
Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu?
Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi
yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt
disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas
(terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan
terhindar dari malapetaka.
Nabi bersabda : ﺍِﻥَّ ِﻟﻠﻪِ ﺿَﻨَﺎﺋِﻦَ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ﻳُﻌْﺬِﻳْﻬِﻢْ ﻓِﻰ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ
ﻭَﻳُﺤْﻴِﻴْﻬِﻢْ ﻓِﻰ ﻋَﺎﻓِﻴَﺘِﻪِ ﺍِﺫَﺍ ﺗَﻮَﺍﻓَّﺎﻫُﻢْ ﺗَﻮَﺍﻓﺎَّﻫُﻢْ ﺍِﻟَﻰ ﺟَﻨَّﺘِﻪِ ﺍُﻭﻟَﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺗَﻤُﺮُّ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ
ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻛَﻘَﻄْﻊِ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ﺍﻟْﻤُﻈْﻠِﻢِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻓِﻰ ﻋَﺎﻓِﻴَﺔٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang
baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara
para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih
sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang
sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya
dimasukkan ke dalam surganya. Mereka terkena
fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan
di sebagian malam yang gelap, sedang mereka
selamat daripadanya.
Jadi, seorang Wali akan mengalami hinaan dan
makian sebagaimana yang dialami oleh Para Nabi
dan itu tidak akan menyurutkan langkah mereka
untuk berdakwah membesarkan Nama Tuhan.
Saya jadi ingat ucapan Guru dari Guru saya
kepada Beliau ketika Beliau masih berguru. “Nanti
suatu saat nanti sejuta orang mengatakan kau
masuk neraka tidak usah kau takut, kecuali yang
SATU itu” “Cintailah yang di bumi maka yang di
langit akan mencintaimu” Semoga Allah SWT
berkenan mempertemukan kita dengan Kekasih-
Nya di muka bumi agar kita bisa mencintai
kekasih-Nya dengan demikian maka Allah SWT
pasti mencintai kita. Amin Ya Rabbal alamin,,,,,
Batal Suka·Komentari·Berhenti mengikuti
Anda, Ronnie Winata dan 7 lainnya menyukai ini.
Lihat komentar sebelumnya
Ronnie Winata
10. Jika mereka berkeinginan, maka Allah
memenuhinya.
Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw
bersabda:“Berapa banyak manusia lemah dan
dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia
berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al
Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara
mereka.”
Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para
sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya
Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata
Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana
itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa,
sehingga kami diberi kemenangan.
Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya
Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum
Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.”
Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan
Barra’ gugur sebagai syahid.
11. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan
gunung.
Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan: “Pada
suatu waktu ia pernah membaca firman Allah:
“Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”,
pada telinga seorang yang pengsan, maka dengan
izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga
Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang
engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah:
“Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum
annamaa khalaqnakum‘abathan” sampai akhir
surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata
seseorang yakin kemujarabannya dan ia
membacakannya kepada suatu gunung, pasti
gunung itu akan hancur.” ( Hadis riwayat Abu
Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar