Syaikh sufi Syaikh Syihabuddin Umar as-Sahrawardi dalam kitab Awarif wa Ma’arif, bab 21 meriwayatkan, “Diantara para ulama ada yg bertanya kepada Syaikh Abdul Qodir (Jailani), “Mengapa engkau menikah?” Beliau menjawab, “Aku tidak memiliki niat untuk menikah sampai Rosulullah berkata kepadaku, “Menikahlah engkau”.
Dinukil dari Syaikh Abdul Qodir, bahwa beliau pernah berkata, “Aku pernah menginginkan seorang istri pada suatu waktu hanya saja aku tidak ingin menikah karena khawatir akan menghabiskan waktuku. Akhirnya aku bersabar dan ketika tiba masanya ALLAH menganugerahkan 4 istri kepadaku yg sesuai dg keinginanku””
Ibnu Najjar dalam kitab Tariknya meriwayatkan bahwa dia pernah mendengar Syaikh Abdul Qodir berkata, “Anakku ada 49 orang, 27 orang diantaranya adalah pria dan sisanya wanita”
Al-Jaba’i meriwayatkan Syaikh Abdul Qodir berkata, “Jika seorang anakku lahir, aku mengulurkan tangan menggendongnya seraya berkata, “Ini adalah mayit”. Kemudian aku mengeluarkannya dari hatiku. Sehingga apabila dia meninggal maka hal tsb tidak mempengaruhi diriku”.
Al-Jaba’i juga meriwayatkan bahwa anaknya, baik pria maupun wanita, ada yg meninggal pada saat beliau sedang mengajar dan beliau tidak menghentikan (jadwal) pengajaran tsb. Beliau tetap naik ke atas kursinya dan mengajar sementara tukang memandikan mayat memandikan anaknya. Setelah selesai, mayat anak tsb dibawa kemajelisnya dan beliau turun kemudian menshalatkannya...
Syaikh Ali al-Khabbaz meriwayatkan bahwa dia pernah mendengar dari Syaikh Aba Haffash al-Kaimani, “Pada suatu malam saat aku berada di tempat khalwat-ku (kontemplasi) tiba2 dindingnya koyak dan masuklah seseorang dg tampang menakutkan. “Siapakah engkau?” tanyaku kepadanya. Dia menjawab, “Aku Iblis, datang untuk menasehatimu”. “Apa nasehatmu” tanyaku. “Aku ingin mengajarimu duduk muraqabah” katanya sambil melakukan tahiyat pertama (qarfasha) dg kepala menunduk melihat bumi. Pagi harinya aku langsung pergi menemui Syaikh Muhiyuddin Abdul Qodir Jailani untuk menceritakan peristiwa tersebut kepada beliau. Ketika aku berjabat tangan dengannya, beliau menggenggam tanganku dan berkata, “Engkau benar dan dia pembohong. Jangan pernah engkau menerima apapun darinya (iblis)”. Padahal aku belum menceritakan hal tersebut kepadanya”. Syaikh Abu Ali yg kita sebutkan sebelum ini berkata bahwa demikianlah sang syaikh duduk selama 40 tahun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar