Syaikh Badi’uddinKhalf bin Ayyash Asy-Syari Asy-Syafi’i bercerita, “Oleh Syaikh mazhab Syafi’i waktu itu, Syaikh Abu Umar dan Syaikh Utsman as-Sa’adi, aku diperintahkan untuk pergi ke baghdad dan membawa pulang sebuah salinan kitab musnad Ahmad bin Hambal. Sesampainya di baghdad, aku menemukan penduduk baghdad selalu menyebut2 Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani. Aku berkata dalam hati, “Jika memang orang ini seperti yg diceritakan orang2 dia akan mengetahui apa yg aku khayalkan dalam diriku”. Kemudian aku mulai mengkhayalkan peristiwa yg tidak biasanya terjadi. Aku berkata dalam hati, “Aku ingin ketika beliau masuk dan aku mengucapkan salam kepadanya beliau tidak menjawab salamku dan membuang muka. Kemudian beliau akan berkata kepada pelayannya, “Bawa kemari kurma sebanyak 2 daaniq (1 daaniq = 1/6 dirham). Untuk orang ini, tidak lebih dan tidak kurang” dan ketika kurma tersebut berada ditangannya dia akan memakaikan thaqiah (semaam topi) sebelum aku memintanya untuk melakukan hal tersebut, kemudian menjawab salamku”.
Setelah itu, aku berangkat mendatangi madrasahnya dan mendapati beliau sedang duduk di mihrab. Saat beliau memandangku, terbetik dalam hatiku bahwa beliau mengetahui semua yg ada dalam diriku. Aku pun menguapkan salam dan beliau tidak membalasnya malah memalingkan wajahnya dariku dan berkata kepada pelayannya, “Bawakan kepadaku kurma sebanyak satu qir’ah dan sayur mayur sebanyak dua daaniq untuk orang ini, tidak kurang dan tidak lebih”. Ketika pelayannya datang membawakan apa yg beliau minta, beliau mengambil thaqiahku dan mengisinya dg kurma dan sayur-mayur kemudian mengenakannya di kepalaku lalu menjawab salamku. Setelah itu beliau berkata, “Inikah semua yg engkau inginkan?” sejak saat itu aku menimba ilmu dari beliau dan mengambil hadits dari beliau”.
Syaikh Badiuddin ini merupakan salah seorang alim, shaleh dan ahli dalam ilmu hadits. Tinggal di mesir dan dialah orang yg menyebarkan aliran Qadiriyah kepada penduduk mesir
Al-Hafidz bin najjar meriwayatkan bahwa Syaikh Abu Futuh Ahmad berkata, “Aku meminta izin kepada kakekku (menteri pd waktu itu) untuk pergi menghadiri majelis Syaikh Abdul Qodir (Jailani). Beliau mengizinkanku dan membekaliku dg emas seraya berpesan agar aku memberikan emas tersebut kepada sang Syaikh dan menyampaikan salam darinya kepada sang Syaikh. Usai majelis tsb aku aku mengucapkan salam kepadanya namun aku tidak merasa nyaman untuk memberikan emas tsb kepadanya dihadapan orang banyak. “Jika Syaikh masuk ke ruangannya, aku akan masuk dan memberikan emas ini kepadanya” pikirku. Namun beliau berkata kepadaku, “Berikan apa yg ada bersamamu dan jangan pedulikan orang2 ini serta sampaikan salamku kepada sang menteri”. Aku pun pulang dg perasaan takjub”
Dalam riwayat lain disebutkan bahwasang Syaikh berkata kepadanya, “Pegang emas yg ada pd dirimu dan jangan pedulikan orang2, tidak perlu engkau berniat berziarah kepadaku. Kemudian sampaikan salam kepada kakekmu sang menteri dan katakan kepadanya, “Abdul Qodir tidak membutuhkan apa yg engkau kirimkan, kembalikan saja kepada yg berhak menerimanya” dan aku pun pulang dg perasaan takjub
Tidak ada komentar:
Posting Komentar