Selasa, 08 Oktober 2013

Sang Quthubul Ghouts

Syaikh Al-Arif Abul Qasim Muhammad bin Ahmad bin Jahni berkata, “Aku biasanya duduk dibawah kursi tempat sang Syaikh Abdul Qodir Jailani mengajar. Di kaki-kaki kursinya duduk dua nuqaba’ dan hanya orang2 yg telah mencapai kondisi spiritual (haal) yg duduk di kaki kursi paling depan. Di bawah kursinya duduklah beberapa orang pria yg memiliki kegagahannya bak singa.

Pada suatu ketika, sang Syaikh sedang tenggelam dalam kondisi spiritual sampai tidak menyadari bahwa lilitan serbannya lepas dan terjatuh. Seketika itu pula orang2 melemparkan lilitan serban dan serban mereka. Setelah majelis selesai, beliau memerintahkan kepadaku untuk mengembalikan lilitan serban dan serban yg dilemparkan tadi kepada empunya. Aku pun melakukannya sampai hanya tersisa satu ikatan yg tidak kuketahui pemiliknya dan pada saat itu tidak ada seorang yg masih tersisa disana. Syaikh Abdul Qodir berkata kepadaku, “Berikan benda itu kepadaku”. Aku pun menyerahkannya kepada sang Syaikh dan meletakkannya di bahu kanannya dan tiba2 menghilang. Ketika beliau turun dari kursinya, beliau memagang bahuku dan berkata, “Abu Qasim, ketika orang2 melemparkan serban dan lilitannya kepadaku, saudara perempuanku yg ada di asfahan juga melakukan hal yg sama. Saat kau mengembalikan semua yg dilemparkan kepada pemiliknya masing2 dan meletakkan serban tsb dipundakku, dia mengulurkan tangannya dan mengambilnya dari pundakku

Syaikh Abu Suud al-Hariimi meriwayatkan pada suatu hari di tahun 521 H. Abu Mudzaffar al-Hasan bin Naim, si pedagang, datang menghadap Syaikh Hamad ad-Dabbas dan berkata, “Aku telah menyiapkan sebuah khafilah yg membawa barang dagangan senilai 700 dinar untuk berangkat ke Syam”. “Jika engkau berangkat pada tahun ini, engkau akan terbunuh dan semua hartamu akan dirampas” ujar sang Syaikh.

Si pedagang tsb pun pulang dg sedih. Di tengah perjalanan, dia bertemu dg Syaikh Abdul Qodir (Jailani) –yang masih muda ketika itu- dan menceritakan apa yg dikatakan Syaikh Hammad kepadanya. Syaikh Abdul Qodir berkata kepadanya, “Jika engkau berangkat pd tahun ini engkau akan pergi dan pulang dg selamt dan mendapatka keuntungan. Akulah yg menjadi jaminannya”

Pedagang tsb pun pergi ke syam. Disana, barangnya laku seharga 1000 dinar. Saat pergi ke kamar kecil untuk membuang hajad, ia meletakkan uangnya di atas kamar kecil dan lupa untuk membawanya. Sesampainya di rumah, dia diserang oleh rasa kantuk dan tertidur. Dalam tidurnya itu, dia melihat seolah2 dirinya sedang berada dlm khafilah. Tiba2 datanglah para perampok menyerang khafilah tsb dan membunuh semua yg ada di dalamnya. Dia melihat dirinya di tebas pedang di padang pasir. Saat itulah dia terbangun dg nafas terengah2 dan mendapatkan bekas darah dan rasa sakit akibat tebasan pedang di lehernya. Dia kemudian teringat dg uangnya dan mendapatkannya tetap berada di atap kamar kecil.

Setelah mengambil uang tsb, dia kembali ke baghdad. Setibanya di baghdad , ia berkata dalam hati, “Mana yg pertama kali harus aku temui, Syaikh Hamad yg lebih tua atau Syaikh Abdul Qodir yg perkataannya benar”. Dia memutuskan untuk memenuhi Syaikh Hamad terlebih dahulu. Ketika ia menjumpainya di pasar sultan, Syaikh Hamad berkata kepadanya, “Temuilah Syaikh Abdul Qodir terlebih dahulu. Dia adalah orang yg dicintai ALLAH. Tujuh belas kali dia memonkan dirimu kepada ALLAH sampai akhirnya ALLAH menjadikan terbunuhnya engkau yg ditakdirkan-NYA atas dirimu terjadi di alam nyata, menjadi terjadi di alam mimpi. Dan hilangnya harta dan kefakiranmu yg disebabkan oleh kesilapanmu juga hanya terjadi dalam mimpimu”.

Kemudian dia mendatangi Syaikh Abdul Qodir. Beliau berkata, “Syaikh Hamad berkata kepadamu bahwa aku memonkan engkau kepada ALLAH sebanyak tujuh belas kali. Demi keagungan ALLAH , sesungguhnya aku memohonkan engkau kepada ALLAh tujuh belas kali, kemudian tujuh belas kali, kemudian tujuh belas kali sampai semuanya berjumlah tujuh puluh kali hingga ALLAH menjadikan semua yg ditakdirkannya terjadi atas dirimu di alam nyata –terbunuh dan kehilangan harta benda- hanya terjadi di dalam tidur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar