Abu Yasar bin Abdurrahim bererita, “Abdus Shamad bin Hamman seorang yg kaya raya merupakan seorang yg sangat membenci Syaikh Abdul Qodir dan menolak mentah2 semua karamah yg diceritakan kepadanya. Namun kemudian dia menjadi orang yg membaktikan dirinya kepada sang Syaikh. Setelah sang Syaikh meninggal, aku bertanya kepadanya faktor yg menyebabkan perubahan tersebut. Beliau bercerita, “Pada suatu hari aku melewati madrasah sang Syaikh dan waktu shalat telah tiba sehingga aku terpaksa shalat di madrasah beliau. Karena ketidaksenanganku, aku pun masuk dg niat segera keluar setelah shalat. Aku mendapati sebuah tempat lowong tepat disebelah mimbar tempat sang Syaikh memberikan pengajaran. Aku tidak menyadari bahwa hari itu adalah hari jumat dan orang2 mulai semakin banyak berdatangan untuk menghadiri pengajiannya dan membuatku tidak dapat bergerak dari tempatku sedangkan aku dalam kondisi ingin sekali ke kamar kecil. Kemudian sang Syaikh naik ke atas mimbar dan aku sudah hampir tidak dapat menahannya. Saat itu kebencianku kepada beliau berlipat ganda. Aku membayangkan diriku buang hajad didalam pakaian, orang2 menghinaku dan dari diriku tercium bau busuk. Aku lebih memilih mati daripada berada dalam kondisi tersebut. Saat aku sedang memikirkan nasibku, sang Syaikh turun beberapa tangga dan menyelimuti kepalaku dg serbannya. Saat aku melihat diriku berada di sebuah taman di gurun dg air yg mengalir. Aku pun melepaskan hajatku, berwudhu dan shalat dua rakaat di tempat tsb. Kemudian sang Syaikh mengangkat serbannya dari kepalaku dan aku mendapati diriku berada di sebuah mimbar, tempatku semula, dalam kondisi yg lapang. Aku sangat takjub pada saat itu dan aku juga mendapati anggota tubuhku dalam keadaan basah, bekas berwudhu. Saat itu, aku merasa bingung dg apa yg aku alami.
Di perjalanan pulang seusai majelis tsb, aku mendapati sapu tangan dan kunci brankasku hilang. Aku kembali ke tempatku tadi dan mencari-cari kedua benda tersebut dan tidak dapat menemukannya. Aku pulang ke rumah dan memanggil tukang kunci karena pada saat itu aku sedang tergesa-gesauntuk melakukan perjalanan keluar iraq untuk suatu urusan. Keesokan harinya aku bertolak dari baghdad.
Pada hari ketiga perjalanan tsb aku melewati suatu daerah oase dg air yg mengalir. Salah seorang teman seperjalananku berkata, “Apakah tidak sebaiknya kita berhenti sebentar disini, beristirahat, shalat dan makan karena setelah ini kita tidak akan mendapatkan oase”. Aku pun turun dari tungganganku dan mendapati bahwa tempat inilah yg aku lihat dimajelis sang Syaikh. Aku pun berwudhu dan menuju tempat dimana aku melaksanakan sholat. Di tempat tsb aku mendapatkan sapu tangan dan kunci brankasku. Aku pun memutuskan untuk membatalkan perjalananku dan kembali ke baghdad karena yg ada di dalam pikiranku adalah selalu berdekatan dg sang Syaikh. Aku tidak pernah menceritakan hal ini karena aku kira orang yg mendengarnya tidak akan percaya”.
Aku berkata kepadanya, “Orang yg menceritakan hal seperti ini tidak pernah dicela” kataku kepadanya. Dia berkata, “Aku tidak perlu menceritakan hal tsb kepada orang2, aku telah menceritakannya kepada orang yg tidak aku ragukan kejujuran dan keadilannya. Lalu pantaskah aku tidak mempercayai orang seperti ini”. “ALLAHmenghendaki kebaikan atas dirimu” kataku kepadanya. Dia berkata, “Aku bersyukur kepada ALLAH karena tidak meninggal dalam keadaan sebelum ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar