Diriwayatkan oleh Sahal bin Abdullah at-Tastari, pada suatu ketika penduduk baghdad kehilangan Syaikh Abdul Qodir. Sebuah suara kemudian memerintahkan mereka untuk menarinya di sungai Dajlah. Sesampainya di sungai tersebut, mereka melihat sang Syaikh sedang berjalan diatas air menuju ke arah mereka dan semua makhluk disungai tersebut maju menciumi tangan beliau. Saat itu waktu dhuhur telah tiba. Sekonyong-konyong muncullah sebuah sajadah hijau berhias emas dan perak bertuliskan (pada baris pertama) “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali ALLAH itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Yunus : 62) dan (pada baris ke dua)
“Salamualaikum ahlalbaiti innahu hamidummajid”, membentang antara langit dan bumi. Kemudian datanglah serombongan orang hitam yg dipimpin oleh seorang dg kharisma dan kewibawaan luar biasa, mereka menangis namun diam tidak bergerak bak diikat dengan rantai qudrah. Saat tiba waktunya menunaikan sholat sang Syaikh menaiki sajadah tersebut dan orang-orang tadi dan penduduk baghdad shalat dibelakang beliau.
Saat beliau bertakbir, para pemikul Arsy juga ikut bertakbir. Saat beliau bertasbih, para malaikat di tujuh langit juga ikut bertasbih. Saat beliau mengucapkan hamdalah, dari mulutnya keluar sinar hijau yg memenuhi ufuk. Selesai sholat beliau mengangkat kedua tangannya dan kami mendengar beliau berdoa, “Ya ALLAH demi kakekku Muhammad kekasih dan makhluk pilihan-MU serta kedua orang tua ku, aku memohon kepada-MU agar semua muridku baik pria maupun wanita meninggal dalam keadaan tobat”
Saat itu kami mendengar kepakan para malaikat mengamini beliau. Maka kami segera mengamini beliau. Setelah itu, sebuah suara dari atas berkata, “Bergembiralah, Aku telah kabulkan permintaanmu”
Para penghulu para Syaikh al-Hafidz Abdul Ghani dan Syaikh Muwafaquddin bin Qadamah serta Syaikh Abdul Muluk bin Diyal meriwayatkan bahwa Syaikh Abdul Qodir menyatakan bahwa orang yg mencintainya akan mendapatkan kebahagiaan yg tidak terukur.
Syaikh Abu Hasan al-Jusaqi meriwayatkan pada suatu ketika Syaikh Ali al-Hiti dan Syaikh Baqa bin Bathu sedang berada bersama Syaikh Abdul Qodir, beliau berkata, “Aku memiliki kekuatan yg tidak tertandingi, kuda tercepat disetiap tempat, sultan disetiap tentara yg tidak dapat dibantah, khalifah yg tdk akan turun dari jabatannya”. Syaikh Ali al-Hiti berkata, “Aku dan para pengikutku adalah pelayanmu”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar