Selasa, 08 Oktober 2013

Sang Qhutubul Ghouts

Syaikh Abdul Qodir al-Jailani berkata, “Ibadah haji pertamaku, aku lakukan pada saat aku masih muda sedang melaksanakan tajrid (pelepasan). Saat aku tiba di daerah Um Al-Qurun, aku bertemu dg Syaikh Uday bin Musafir yg juga masih muda. “Mau kemanakah engkau?” tanyanya kepadaku.
“Makkah Al-Musyarrafah”
“Apakah engkau bersama seseorang?”
“Aku sedang melakukan tajrid” jawabku.
“Begitu pula diriku” ujarnya. Kemudian kami berdua melanjutkan perjalanan bersama.

Di tengah perjalanan kami berjumpa dg seorang wanita kurus dari habsyi. Dia berhenti di mukaku dan memandangi wajahku lalu kemudian berkata, “Anak muda, darimanakah engkau?”
“Orang ajam yg tinggal di baghdad” jawabku
“Engkau telah membuatku lelah hari ini”
“Kenapa?”
“Sejam yg lalu aku berada di habsyi (Ethiopia), kemudian ALLAH menunjukkan hatimu kepadaku sekaligus anugerah-NYA kepadamu yg belum pernah aku saksikan diberikan-NYA kepadamu selain dirimu. Hal tsb menyebabkanku ingin mengenal dirimu”
“Hari ini aku ingin berjalan bersama kalian dan melewatkan malam bersama kalian” katanya kepada kami
“Itu merupakan kehormatan untuk kami” jawabku

Setelah itu, dia mengikuti kami berjalan disisi lain wadi tsb. Katika tiba waktu magrib dan saat makam malam tiba, sebuah nampan turun dari langit berisi 6 potong roti bersama lauk-pauknya. “Puji dan syukur kepada ALLAH yg telah memuliakan aku dan tamuku” kata perempuan tsb, “Karena biasanya setiap malam aku hanya diberikan dua potong roti. Maka enam potong yg diturunkan pada malam ini tentulah sebagai bentuk penghormatan kepada tamuku”. Malam itu, setiap orang dari kami memakan dua potong roti.

Selesai makan, datanglah tempat air dan kami meminum air yg kesegarannya dan rasanya tidak ada di dunia ini. Setelah itu, perempuan itu pun menghilang meninggalkan kami.

Di Makkah, saat melakukan Thawaf, ALLAH berkenan menurunkan nur-NYA kepada Syaikh Uday. Sang Syaikh pingsan seketika sampai orang2 mengatakannya mati. Saat itu aku melihat perempuan yg pernah bertemu dg kami di wadi. Dia membalikkan kepala Syaikh Uday dan berkata, “Engkau akan di hidupkan oleh Yang Mematikanmu. Maha Suci Dia yg menjadikan segala sesuatu yg menampakkan cahaya keagungan-NYA sebagai bukti keberadaan-NYA. Maha Suci Dia Yang menjadikan manifestasi sifat-sifat-NYA diseluruh alam semesta sebagai pengokoh eksistensi-NYA. Dia sembunyikan kemahasucian-NYA dari pandangan mata namun menjadikan dada orang2 terpilih dapat mencerap ke-Maha-Indahan-NYA. ALLAHlah –Yang Maha Tinggi dan kepada-NYA segala puji- yang menurunkan sinarnya kepada orang ini”

Kemudian, di dalam diriku sebuah suara jg berkata, “Wahai Abdul Qodir, tinggalkan tajrid (pelepasan) lahiriah dan beralihlah kepada tafrid (pemisahan), maka engkau akan melihat berbagai keajaiban dari ayat-ayat (kauniyah) Kami. Jangan pernah membandingkan kehendak Kami dghasratmu. Kokohkan kakimu dihadapan Kami dan jangan pernah beranggapan kemusyrikan akan melanggengkan penyaksian. Duduklah agar orang2 dapat mengambil manfaat. Ditanganmulah hamba2 Kami baik yg khusus maupun awam akan mencapai kedekatan bersama Kami”

Perempuan tsb kemudian berkata kepadaku, “Hai anak muda, aku tidak mengetahui apa yg terjadi pada dirimu hari ini. Hari ini, aku melihat kami dilingkupi oleh kemah dari cahaya dan engkau dikelilingi oleh para malaikat alaihimus salam hingga batas horizon langit. Mata para wali memandangimu dari tempat mereka masing2 dan juga memandang anugerah yg diberikan kepadamu”. Setelah itu dia kembali menghilang dan aku tidak pernah lagi berjumpa dengannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar