Syaikh Abu Umar dan Utsman ash-Sharfaini serta Syaikh Abu Muhammad Abdul Haq al-Hairami meriwayatkan, “Kami sedang berada di hadapan sang Syaikh pada hari minggu 3 safar 555 H, tiba2 beliau bangkit, berwudhu dari qabqab (sepatu berujung melengkung) lalu shalat dua rokaat. Setelah salam, tiba2 beliau berteriak sangan keras dan melemparkan salah satu qabqab tsb di udara dan menghilang dari pandangan kami. Lalu beliau kembali berteriak keras dan melemparkan pasangan qabqab tsb ke udara dan juga menghilang dari pandangan kami. Tidak ada seorang pun di antara kami yg berani bertanya kepada beliau tentang hal tsb.
Dua puluh tiga hari kemudian, datanglah serombongan kafilah. Mereka berkata, “Kami memiliki barang yg dinadzarkan kepada sang Syaikh dan memohon izin untuk bertemu dg beliau. Sang Syaikh memberikan izin dan memerintahkan untuk mengambil barang tsb. Mereka memberikan kain sutera, emas dan ... sebuah qabqab sang Syaikh yg dilontarkan beliau ke udara.”Bagaimana engkau mendapatkan qabqab ini?” tanya kami kepada mereka. Mereka berkisah, “Di tengah perjalanan pada tanggal 3 safar, kami dihadang oleh sekawanan perampok yg diketuai oleh dua orang. Sebagian rombongan kami dibunuh, seluruh harta kami di rampas lalu mereka berkumpul di wadi membagi-bagikan hasil rampokannya. Kami berkata, “Bagaimana jika kita berikan dari harta kita kepada Syaikh Abdul Qodir jika kita selamat saat ini”. Baru saja ucapan tsb selesai, kami mendengarkan dua teriakan keras yg mengguncang wadi. Dan kami juga melihat kawanan perampok tsb kocar-kacir. Saat itu kami mengira bahwa seseorang telah datang dan mengobrak-abrik mereka.
Diantara mereka ada yg mendatangi kami dan berkata, “Kemarilah kalian, ambil kembali harta kalian, tapi tolong perhatikan apa yg menimpa kami”. Kami pun mengikutinya dan mendapati kedua orang pimpinan mereka telah tewas dengan sebuah qabqab penuh dg air dimasing2 mayat. Mereka mengambalikan semua harta kami dan berkata, “ini adalah pertanda buruk
Syaikh Muhammad bin al-Qaid al-Awani berkata, “Seekor burung elang yg lewat di atas majelis Syaikh Abdul Qodir Jailani mengeluarkan suara yg mengganggu orang2 yg menghadiri majelis sang Syaikh. Syaikh Abdul Qodir berkata, “Hai angin, ambilkan kepala burung elang ini”dan seketika itu pula sang elang jatuh dengan kepala terpisah.
Syaikh Abdul Qodir turun dari kursinya dan mengambil kepala serta mengusap bagian tubuh elang tsb dg tangannya yg lain seraya mengucapkan, “Bismillahirrahmanirrahim”. Disaksikan orang2 yg hadir, dengan izin ALLAH, burung tsb hidup kembali dan terbang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar