Jumat, 04 Oktober 2013

Wushul ke hadiratNya



Sufi mi’raj sampai (wushul) ke hadiratNya
dengan dzikrullah
Sufi adalah mereka yang telah diperjalankan
oleh Allah Azza wa Jalla hingga sampai (wushul)
kehadiratNya
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa
orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata
sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu
berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau
kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh
terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat
bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras
masjid Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
yang didiami para ahli shuffah. Menurutnya
kedua definisi ini tidak tepat.
Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan
kepada perbuatan Allah pada manusia.
Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah Azza wa
Jalla menyucikannya sehingga ia menjadi
seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.
Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a.
mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi) terbentuk
dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya),
shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuc
iannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya),
wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya),
faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefana
annya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.
Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri
seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat
Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka
pada Allah. Mereka mempersembahkan diri
mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau
membela diri karena malu terhadap rububiyah-
Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-
Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu
yang lebih daripada apa yang mereka berikan
untuk diri mereka sendiri.
Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya
kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-
Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu
yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar)
selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan
siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
Firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka
dengan (menganugerahkan kepada mereka)
akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan
(manusia) kepada negeri akhirat“
“Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami
benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang
paling baik“
(QS Shaad [38]:46-47)
Begitupula Allah Azza wa Jalla mensucikan
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebelum
Beliau mi’raj
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam didatangi
Jibril shallallahu ‘alaihi wasallam, saat beliau
sedang bermain bersama anak-anak. Malaikat
itu kemudian mengambil lalu merebahkan beliau,
lalu membelah hatinya, mengeluarkan hati dan
mengeluarkan segumpal darah darinya seraya
berkata, ‘Ini bagian setan darimu kemudian
mencucinya dalam bejana dari emas dengan air
Zamzam’, kemudian malaikat menjahitnya dan
kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
(HR Muslim)
Sufi telah diperjalankan (mi’raj) oleh Allah Azza
wa Jalla dengan dzikrullah
Rasulullah bekata bahwa “Ash-shalatul Mi’rajul
Mu’minin“, “sholat itu adalah mi’rajnya orang-
orang mukmin“
Atas izin Allah Azza wa Jalla mereka dapat
berjumpa dengan Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam. Mereka dapat berjumpa dengan
orang-orang sholeh yang telah mendahului kita.
Mereka dapat berjumpa dengan Nabi-Nabi
terdahulu, dengan para Syuhada, dengan para
Shiddiqin termasuk berjumpa dengan Nabi
Khidir as.
Orang-orang yang mulia di sisi Allah Azza wa
Jalla yakni para Nabi, para Shiddiqin , para
Syuhada dan orang sholeh-sholeh walaupun
mereka secara dzhahir telah wafat namun
mereka hidup dan ditempatkan oleh Allah Azza
wa Jalla ditempat/kedudukan (maqom) yang
dikehendakiNya
Anas bin Malik berkata, “Lalu dia menyebutkan
bahwa dia mendapati pada langit-langit tersebut
Adam, Idris, Isa, Musa, dan Ibrahim -semoga
keselamatan terlimpahkan kepada mereka
semuanya- dan dia tidak menyebutkan secara
pasti bagaimana kedudukan mereka, hanya saja
dia menyebutkan bahwa beliau menjumpai
Adam di langit dunia, dan Ibrahim di langit
keenam.” (HR Muslim)
“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara
kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal“. ( QS Al
Hujurat [49]:13 )
Tentulah tempat/kedudukan (maqom) yang
paling mulia, paling dekat, di sisi Allah Azza wa
Jalla adalah manusia yang paling mulia,
sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi
wasallam.
Para Sahabat menyampaikan bahwa
“sesungguhnya jika kita mengucapkan
“Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish
shoolihiin”, maka hal itu sudah mencakup
seluruh hamba-hamba yang shalih baik di langit
maupun di bumi“.
Hamba-hamba shalih yang di langit adalah
hamba-hamba shalih yang secara dzahir sudah
wafat namun mereka hidup di sisi Allah Azza wa
Jalla sebagaimana para Syuhada, sebagaimana
yang difirmankan Allah Azza wa Jalla yang
artinya.
”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap
orang-orang yang gugur di jalan Allah (syuhada),
(bahwa mereka itu ) mati; bahkan(sebenarnya)
mereka itu hidup, tetapi kamu tidak
menyadarinya.” (QS Al Baqarah [2]: 154 )
”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang
yang gugur di jalan Allah (syuhada) itu mati;
bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan
mendapat rezki.” (QS Ali Imran [3]: 169)
Atas izin Allah Azza wa Jalla, merekapun dapat
sampai ke telaga Arasy atau melihat Arasy.
Malaikat Muqorobin penjaga telaga Arasy akan
menyambut manusia yang sholeh (sufi) yang
telah disampaikan (diperjalankan) oleh Allah
Azza wa Jalla ke telaga Arasy. Mereka yang
telah sampai (diperjalankan) pastilah tidak akan
bertanya lagi “di mana Allah” atau “bagaimana
Allah”
Imam al Qusyairi menyampaikan, ” Dia Tinggi
Yang Maha Tinggi, Luhur Yang Maha Luhur dari
ucapan “bagaimana Dia?” atau “dimana Dia?”.
Tidak ada upaya, jerih payah, dan kreasi-kreasi
yang mampu menggambari-Nya, atau menolak
dengan perbuatan-Nya atau kekurangan dan aib.
Karena, tak ada sesuatu yang menyerupai-Nya.
Dia Maha Mendengar dan Melihat. Kehidupan
apa pun tidak ada yang mengalahkan-Nya. Dia
Dzat Yang Maha Tahu dan Kuasa“.
Mereka (sufi) dapat menceritakan segala
detailnya kepada kita dan cerita detailnya
diantara mereka di seluruh dunia adalah sama
karena mereka mengalami dan menyaksikan hal
yang sama.
“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa
yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” ( QS
An Nuur [24]:35 )
Imam Qusyairi mengatakan
“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang
hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang
membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga
seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa
melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia
tidak tampak. Setiap apa yang membuat
ingatannya menguasai hati seseorang maka dia
adalah seorang syahid (penyaksi)”.
Sufi adalah mereka yang telah berjumpa atau
kembali kepada Allah Azza wa Jalla ketika
mereka hidup (sebelum mereka mati). Inilah
yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, “Muutu qabla an tamuutu” (matilah
sebelum mati). Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar