Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Jumat, 04 Oktober 2013
MENGENAL TUHAN NING SOR-BAUJAN
Tiba-tiba di bawah Pohon Trembesi (Sor Baujan)
ditemukan kotak hitam berbentuk kubus seperti
Ka’bah. Tak hanya Salik dan Matin yang dibuat
kaget, tapi hampir seluruh warga kampung dibuat
gempar dan heboh. Mereka berduyun-duyun
melihat dari jarak jauh. Mereka heran dan
berteriak-teriak mengumandangkan adzan, takbir,
tahmid dan tahlil. Tak ada yang berani mendekat,
kecuali Salik dan Matin.
Salik (S): Benda apa ini? Siapa yang
meletakkannya?
Matin (M): Astagfirullah..Astagfirullah..
S: Bentuknya seperti Ka’bah. Aneh.Terbuat dari
apa ya?
M: Astagfirullah..Astagfirullah...
S:Seperti batu, tapi bukan. Seperti besi, juga
bukan. Ada bagian yang keras, lembek, ada yang
terasa panas dan ada pula yang sangat dingin.
Benda apa ini?
M: Astagfirullah..Astagfirullah...
Warga yang menonton semakin membludak.
Orang-orang dari kampung sebelah mulai
berdatangan. Mereka tak berani mendekat. Tapi
kini membuat pagar betis, mengitari pohon
trembesi, di pinggir tanah milik keluarga Salik.
Ada yang membakar kemenyan, ada yang potong
ayam hitam cemani, ada yang membawa sesaji-
sesaji. Ada pula yang mulai thawaf dari jarak jauh.
S: Matin, kalau ini dibiarkan berbahaya. Orang-
orang bisa menyembah kotak hitam ini. Kau jangan
diam saja! Bantu aku!
M: Laa ilaaha illa Allah...
S: Aku akan hancurkan benda ini. Aku yang paling
berhak. Sebab, benda ini berada di tanah warisan
kakekku, Eyang Midi. Masyarakat bisa sesat.
M: Laa ilaaha illa Allah...[Matin terus
berdzikir,sambil memegang kotak hitam. Semakin
khusyuk. Semakin dalam dan dalam. Sementara
Salik, membawa kampak besar untuk
menghancurkan kotak aneh itu]
S: Bismillahirrahmanirrahim. Dengan nama-Mu
Aku berlindung. Ampuni semua dosaku ya Allah.
Laa ilaaha illa Allah.. [Sambil mengayunkan
kampak besar dan diarahkan pada lapisan kotak
itu]
Pada Ayunan pertama, ketika kampak besar dan
tajam itu menyentuh kotak hitam, tiba-tiba
terdengar suara rintihan lembut. “Hu...Hu...Huu..”
S: Suara apa itu? [Salik menghentikan ayunan
kampaknya)
M: Laa ilaaha illa Allah..Laa ilaaha illa Allah.
S: Bismillahirrahmanirrahim. [Salik kembali
mengayunkan kampaknya. Dan, kembali suara
“Hu...Hu...Huu..” Kini ada cairan seperti darah
keluar dari kotak itu, melalui bekas hujaman
kampak. Kotak hitam itu seperti kesakitan, seperti
hidup. Salik semakin penasaran.]
M: Laa ilaaha illa Allah..Laa ilaaha illa Allah.
S: Heh, Matin...Bantu aku! Kuat sekali benda ini.
Kita harus bongkar dan baru buang serpihan-
serpihannya. Disini tak ada forklift untuk
mengangkut benda sebesar dan seberat ini.
Bahaya jika suara rintihan ini didengar oleh orang-
orang, mereka bisa menyembahnya.
M: Laa ilaaha illa Allah..Laa ilaaha illa Allah. [Salik
berdiri, sambil menuding ke arah kotak hitam.
Lalu, menggosok-gosok lapisan debu dan kotoran
yang menempel di kotak hitam] Heh...Siapa kamu?
Kotak Hitam: Namaku Jasad.
Matin: Mengapa kamu disini? Siapa yang
mengirimimu?!
Kotak Hitam: Aku adalah aku. Aku adalah jasad.
Sama sepertimu, Matin. Sama seperti Salik. Sama
seperti Baujan, tanah, udara, langit dan bumi.
M: Laa ilaaha illa Allah..Laa ilaaha illa Allah.
[Matin terus berdzikir, sedangkan Salik kian
bersemangat menghujamkan kampaknya pada
kotak hitam. Suara “Hu...Hu...Huu..” semakin
keras terdengar]
M: Salik,coba kau tarik dari arah sini. Agar mudah
terbongkar, apa isi kotak ini!
Salik pun menuruti ucapan Matin. Dan, ternyata
benar. Dengan bantuan Matin, hanya dengan
sentuhan tangan halus, kotak hitam itu bisa
terbongkar.
S: Hahh...Mengapa di dalam kotak ada kotak lagi?
Kemana suara tadi? Benda apa ini?
[Di dalam kotak ada kotak lagi. Kotak lapisan
kedua ini lebih aneh, tampak lebih canggih dari
kotak pertama. Salik terus mengamati, dengan
perasaan was-was dan bingung. Tapi, Matin tetap
berdzikir “ Laa ilaaha illa Allah.” Suara
“Hu...Hu...Huu..” semakin keras terdengar dari
dalam kotak kedua. Kotak ini terasa lebih dingin,
tampak lembut tapi jika dipegang keras. Lalu,
Matin kembali menggosok-gosok lapisan debu dan
kotoran yang menempel di kotak hitam kedua ini.
Dan, dengan suara yang tak terdengar oleh Salik,
Matin berbicara pada benda ajaib itu.
M: Siapakah engkau?
Kotak Hitam: Namaku Qalb.
Matin semakin mengencangkan bacaan tahlilnya
sambil mengusap-usap benda itu. Sedangkan
Salik, tubuhnya mulai lemas, tenaganya terkuras,
duduk tertunduk di sebelah Matin. Meskipun
beberapa kali sudah mencari bagian mana pada
kotak hitam itu yang dianggap rapuh, tapi berkali-
kali pula Salik tak mampu mengujamkan
kampaknya. Lalu, setelah Laa ilaaha illa Allah
semakin lama dan semakin dahsyat terdengar,
dengan sekali sentuhan tiba-tiba Matin bisa
membongkor isi kotak itu. JEGGGERRRR
Dan, alangkah kagetnya Salik dan Matin, ketika
kotak itu terbuka menyemburkan air hingga
membuat keduanya terpental.
Kini, Salik mengikuti dzikir Laa ilaaha illa Allah
bersama Matin. Sebab suara “Hu..Hu..Hu...”
semakin terdengar oleh keduanya, bahkan sampai
terasa pada getar jiwanya yang paling halus. Dan,
mereka melihat, kini ada kotak hitam ketiga,
setelah lapisan air terbongkar. Tak terasa, malam
mulai menyapa dengan cepat. Suasana begitu
gelap. Tapi, kotak ketiga tampak dengan jelas.
Terasa hangat. Matin dan Salik terus berdzikir Laa
ilaaha illa Allah. Semakin dalam dan penghayatan
rasa yang tinggi. Orang-orang hanya melihat dari
kejauhan dengan tanda tanya besar.
Suara “Hu..Hu..Hu...” dari balik kotak ketiga
semakin terdengar oleh keduanya.
M: Heh...Siapa kamu? Mengapa kamu ada di
dalam kotak? Siapa yang mengurungmu? Makhluk
apakah engkau.
Kotak Hitam: Aku adalah kamu. Kamu adalah aku.
Kita sama. Kita satu.
M: Tapi, siapakah namamu?
Kotak Hitam: Namaku Fuad.
Matin dan Salik terus berdzikir Laa ilaaha illa
Allah. Semakin dalam dan penghayatan rasa yang
tinggi. Kedunya semakin bertanya-tanya dan
semakin bingung sebab tak tahu dengan siapa dia
berhadapan. Matin terus berdialog dengan kotak
aneh itu, sedangkan Salik sudah terkulai lemas.
Tak mampu mendengar apa yang diucapkan Matin
dan kotak itu.
M: Apakah kamu masih ada di kotak ini? Lalu,
kalau aku bongkar lagi, apakah masih ada dirimu?
Kotak Hitam: Ya...Aku disini.
M: Siapa sebenarnya kamu?
Kotak Hitam: Bukankah sudah kukatakan, Aku
adalah Fuad. Aku hanya mampu dipahami oleh
Aku. Kau harus mengenal siapa dirimu sebelum
mengenal siapa sebenarnya Aku. Dan, Aku
sebenarnya kamu juga. Kita sama. Dari sumber
yang sama. Dari sifat dan dzat yang sama.
M: Apakah setelah kubongkar kotak berikut, Fuad
masih ada?
Kotak Hitam: Ya...Tapi, orang menyebutku di kotak
keempat itu bermana Sirr. Kamu akan masuk pada
alam yang susah dijelaskan oleh kata, bahkan oleh
makhluk apa pun.
M: Kamu, keturunan bangsawan Inggris, koq
namanya Sirr?
Kotak Hitam: Ah...Bercanda kamu! Kalau mau
mengetahui siapa Aku, buka saja kotak keempat
ini. Karena, hanya dengan membuka kotak terakhir
ini, kamu bisa mengetahui siapa Aku sebenarnya.
Malam semakin gelap. Udara semakin dingin.
Salik terbujur kaku. Tak bergerak. Sementara
Matin seperti mati suri. Namun sebenarnya masih
ada dialog antara Matin dan Kotak Hitam yang tak
bisa didengar oleh siapa pun juga selain
keduanya.
M: Boleh kubongkar?
Kotak Hitam: Kau akan mati penasaran jika tak
membukanya. Dirimu adalah aku juga. Hanya
dengan melalui kotak ini, kau dapat mengenal
siapa sesungguhnya Aku. Kau tak perlu menunggu
mati untuk bertemu dengan Aku.
Lalu, Matin memeluk kotak itu. Dengan kekuatan
dzikir yang susah dijelaskan oleh kata. Tanpa
suara. Tanpa rasa. JEGGGER...Kotak hitam itu
meledak dan mengeluarkan cahaya. Kotak Hitam
keempat itu terbongkar.
Dan, terdengar suara “Kuntu Kanzan Makhfiyyan,
fa ahbabtu an’urafa, fa khalaqtul-khalqa likay ‘an
‘urafa” (Aku adalah Perbendaharaan yang
tersembunyi. Aku ingin dikenal. Maka Aku ciptakan
makhluk agar bisa dikenali).
Matin terbelalak. Bengong. Diam. Suasana hening.
Sepi. Senyap. Susah dilukiskan tentang apa yang
dilihatnya...
--Bagi kawan-kawan yang ingin mempelajari
tentang makrifat, saya sarankan untuk mencari
guru/mursyid. Bacalah buku Sirrul-Asrar karya
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani untuk memahami
lebih jauh tentang makrifat dan hakikat.f
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar