Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Senin, 07 Oktober 2013
MENGENAL ALLAH
Tak kenal maka tak sayang, demikian bunyi
pepatah. Banyak orang mengaku mengenal Allah,
tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya,
mereka banyak melanggar perintah dan larangan
Allah. Sebabnya, ternyata mereka tidak mengenal
Allah dengan sebenarnya.
Sekilas, membahas persoalan bagaimana
mengenal Allah bukan sesuatu yang asing. Bahkan
mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang
demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah
mengetahui dan mengenal pencipta kita?
Bukankah kita telah mengakui itu semua?
Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis
dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya
ketika tersandung batu, ketika mendengar
kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan
mendapatkan kesenangan, barangkali akan
terlontar pertanyaan demikian.
Yang dimaksud dalam pembahasan ini yaitu
mengenal Allah yang akan membuahkan rasa takut
kepada-Nya, tawakal, berharap, menggantungkan
diri, dan ketundukan hanya kepada-Nya. Sehingga
kita bisa mewujudkan segala bentuk ketaatan dan
menjauhi segala apa yang dilarang oleh-Nya. Yang
akan menenteramkan hati ketika orang-orang
mengalami gundah-gulana dalam hidup,
mendapatkan rasa aman ketika orang-orang
dirundung rasa takut dan akan berani menghadapi
segala macam problema hidup.
Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah
tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang
dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah
kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita
mengenal Allah sementara kita melanggar perintah
dan larangan-Nya?
Maka dari itu mari kita menyimak pembahasan
tentang masalah ini, agar kita mengerti hakikat
mengenal Allah dan bisa memetik buahnya dalam
wujud amal.
Mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal
wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal
Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan
Sifat-sifat Allah.
Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam
Al Qur’an dan di dalam As Sunnah baik global
maupun terperinci.
Ibnul Qoyyim dalam kitab Al Fawaid hal 29,
mengatakan: “Allah mengajak hamba-Nya untuk
mengenal diri-Nya di dalam Al Qur’an dengan dua
cara yaitu pertama, melihat segala perbuatan Allah
dan yang kedua, melihat dan merenungi serta
menggali tanda-tanda kebesaran Allah seperti
dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang
dan malam terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah)
bagi orang-orang yang memiliki akal.” (QS. Ali
Imran: 190)
Juga dalam firman-Nya yang lain: “Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian
malam dan siang, serta bahtera yang berjalan di
lautan yang bermanfaat bagi manusia.” (QS. Al
Baqarah: 164)
Mengenal Wujud Allah.
Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya
Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera
manusia, dan ditetapkan pula oleh syari’at.
Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah
yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan
sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya
semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan
tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca
indera kita mengakui adanya Allah di mana kita
melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah
dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya.
Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan
oleh Allah di dalam Al Qur’an: “Dan ingatlah ketika
Tuhanmu menurunkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman ):
‘Bukankah Aku ini Tuhanmu’ Mereka menjawab:
‘(Betul Engkau Tuhan kami) kami
mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian
itu) agar kalian pada hari kiamat tidak
mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam
adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan:
‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah
mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan
kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang
setelah mereka.’.” (QS. Al A’raf: 172-173)
Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa
fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga
menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya
mengenal Rabbnya. Adapun bukti syari’at, kita
menyakini bahwa syari’at Allah yang dibawa para
Rasul yang mengandung maslahat bagi seluruh
makhluk, menunjukkan bahwa syari’at itu datang
dari sisi Dzat yang Maha Bijaksana. (Lihat Syarah
Aqidah Al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin
Shalih Al ‘Utsaimin hal 41-45)
Mengenal Rububiyah Allah
Rububiyah Allah adalah mengesakan Allah dalam
tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya,
dan pengaturan-Nya. (Lihat Syarah Aqidah Al
Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al
‘Utsaimin hal 14)
Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat
yang menciptakan, menghidupkan, mematikan,
memberi rizki, mendatangkan segala mamfaat dan
menolak segala mudharat. Dzat yang mengawasi,
mengatur, penguasa, pemilik hukum dan selainnya
dari segala sesuatu yang menunjukkan kekuasaan
tunggal bagi Allah.
Dari sini, seorang mukmin harus meyakini bahwa
tidak ada seorangpun yang menandingi Allah
dalam hal ini. Allah mengatakan: “’Katakanlah!’
Dialah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan
yang bergantung kepada-Nya sgala sesuatu. Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak
ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al
Ikhlash: 1-4)
Maka ketika seseorang meyakini bahwa selain
Allah ada yang memiliki kemampuan untuk
melakukan seperti di atas, berarti orang tersebut
telah mendzalimi Allah dan menyekutukan-Nya
dengan selain-Nya.
Dalam masalah rububiyah Allah sebagian orang
kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan
mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan
demikian hanyalah Allah semata. Mereka tidak
menyakini bahwa apa yang selama ini mereka
sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang
demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah
Tuhan yang banyak itu? Apakah mereka tidak
mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak
bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka
inginkan dari sesembahan itu?
Allah telah menceritakan di dalam Al Qur’an
bahwa mereka memiliki dua tujuan. Pertama,
mendekatkan diri mereka kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya sebagaimana firman Allah:
“Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah
sebagai penolong (mereka mengatakan): ‘Kami
tidak menyembah mereka melainkan agar mereka
mendekatkan kami di sisi Allah dengan sedekat-
dekatnya’.” (Az Zumar: 3 )
Kedua, agar mereka memberikan syafa’at
(pembelaan ) di sisi Allah. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah selain Allah dari apa-
apa yang tidak bisa memberikan mudharat dan
manfaat bagi mereka dan mereka berkata: ‘Mereka
(sesembahan itu) adalah yang memberi syafa’at
kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18, Lihat kitab
Kasyfusy Syubuhat karya Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab)
Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid
rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam
beberapa firman-Nya:
“Kalau kamu bertanya kepada mereka siapakah
yang menciptakan mereka? Mereka akan
menjawab Allah.” (QS. Az Zukhruf: 87)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka
siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan
yang menundukkan matahari dan bulan? Mereka
akan mengatakan Allah.” (QS. Al Ankabut: 61)
“Dan kalau kamu bertanya kepada mereka
siapakah yang menurunkan air dari langit lalu
menghidupkan bumi setelah matinya? Mereka
akan menjawab Allah.” (QS. Al Ankabut: 63)
Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan
mereka terhadap tauhid Rububiyah Allah.
Keyakinan mereka yang demikian itu tidak
menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan
menyebabkan halalnya darah dan harta mereka
sehingga Rasulullah mengumumkan peperangan
melawan mereka.
Makanya, jika kita melihat kenyataan yang terjadi
di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari
betapa besar kerusakan akidah yang melanda
saudara-saudara kita. Banyak yang masih
menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu
menolak mudharat dan mendatangkan mamfa’at,
meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan
dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit.
Sehingga, mereka harus berbondong-bondong
meminta-minta di kuburan orang-orang shalih,
atau kuburan para wali, atau di tempat-tempat
keramat.
Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang
ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah
sekarang paranormal. Semua perbuatan dan
keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak
dan bentuk kesyirikan kepada Allah.
Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki,
menyembuhkan segala macam penyakit, menolak
segala macam marabahaya, memberikan segala
macam manfaat, membahagiakan,
menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin
dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan,
yang meluluskan seseorang dari segala macam
ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat
dan jabatan seseorang, kecuali Allah. Semuanya
ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah
semata dan tidak kepada selain-Nya.
Mengenal Uluhiyah Allah
Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk
peribadatan bagi Allah, seperti berdo’a, meminta,
tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar,
cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang
telah diajarkan Allah dan Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam.
Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain
Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di
sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik
kepada Allah.
Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Hanya kepada-Mu ya Allah kami menyembah dan
hanya kepada-Mu ya Allah kami meminta.” (QS. Al
Fatihah: 5)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah
membimbing Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dengan
sabda beliau:
“Dan apabila kamu minta maka mintalah kepada
Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta
tolonglah kepada Allah.” (HR. Tirmidzi)
Allah berfirman:
“Dan sembahlah Allah dan jangan kalian
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun” (QS.
An Nisa: 36)
Allah berfirman:
“Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian
yang telah menciptakan kalian dan orang-orang
sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang
yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 21)
Dengan ayat-ayat dan hadits di atas, Allah dan
Rasul-Nya telah jelas mengingatkan tentang tidak
bolehnya seseorang untuk memberikan
peribadatan sedikitpun kepada selain Allah karena
semuanya itu hanyalah milik Allah semata.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah berfirman kepada ahli neraka yang paling
ringan adzabnya. ‘Kalau seandainya kamu memiliki
dunia dan apa yang ada di dalamnya dan
sepertinya lagi, apakah kamu akan menebus
dirimu? Dia menjawab ya. Allah berfirman:
‘Sungguh Aku telah menginginkan darimu lebih
rendah dari ini dan ketika kamu berada di tulang
rusuknya Adam tetapi kamu enggan kecuali terus
menyekutukan-Ku.” ( HR. Muslim dari Anas bin
Malik Radhiallahu ‘Anhu )
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Allah berfirman dalam hadits qudsi: “Saya tidak
butuh kepada sekutu-sekutu, maka barang siapa
yang melakukan satu amalan dan dia
menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku
akan membiarkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim
dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu )
Contoh konkrit penyimpangan uluhiyah Allah di
antaranya ketika seseorang mengalami musibah di
mana ia berharap bisa terlepas dari musibah
tersebut. Lalu orang tersebut datang ke makam
seorang wali, atau kepada seorang dukun, atau ke
tempat keramat atau ke tempat lainnya. Ia
meminta di tempat itu agar penghuni tempat
tersebut atau sang dukun, bisa melepaskannya
dari musibah yang menimpanya. Ia begitu
berharap dan takut jika tidak terpenuhi
keinginannya. Ia pun mempersembahkan
sesembelihan bahkan bernadzar, berjanji akan
beri’tikaf di tempat tersebut jika terlepas dari
musibah seperti keluar dari lilitan hutang.
Ibnul Qoyyim mengatakan: “Kesyirikan adalah
penghancur tauhid rububiyah dan pelecehan
terhadap tauhid uluhiyyah, dan berburuk sangka
terhadap Allah.”
Pemuda Tauhid Belajar Ma'rifatullah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar