Selasa, 15 Oktober 2013

MABUK KARENA CINTA


Sesungguhnya, banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, serta ucapan-ucapan Awliya‘ Allah yang menyebutkan tentang ‘melihat’ Allah melalui ketenangan hati dan meninggalkan keduniaan melalui Dzawq.

Dzawq dalam bahasa Indonesia berarti ‘perasa’. tetapi, dzawq dapat diartikan juga sebagai pengenalan terhadap sesuatu yang sulit, sehingga mampu merasakan sesuatu yang luar biasa, padahal orang lain tidak. Dzawq dalam istilah tasawuf artinya mengenal Allah Azza wa Jalla melalui hati dan pikiran, tegasnya melalui bashirah, yakni mata hati. Dzawq dapat ditemukan pada diri orang-orang yang bersih hatinya, terbuka jendela hatinya ke majelis Hadhrah Rabb al-Izzah, Tuhan Yang Mahakuasa.

Dzawq adalah rahasia batin antara makhluk dengan Khaliq-nya, yang tidak dapat dibocorkan atau diterjemahkan dalam kata-kata, atau sifat, wallahu a’lam, sebagaimana firman Allah dalam QS [39]:22-23.

Dzawq tidak dapat dirasakan, kecuali dengan kelapangan dada. Dan dada tidak akan lapang jika tidak diterangi cahaya Allah Azza wa Jalla, sedang cahaya itu adalah suatu karunia halus yang khusus diberikan kepada orang yang khusus pula, yaitu orang yang telah memenuhi jiwanya dengan berbagai ketaatan kepada Tuhan, dan memalingkan dirinya dari segala keindahan hidup duniawi. Ketika itulah Nur atau cahaya bersinar di dalam hati seorang pecinta, dan dengan cahaya itulah dzawq akan muncul. Saat itu pulalah perasaan yang luar biasa muncul bukan dari mempelajari ilmu yang lahir, tetapi munculnya dari perasaan dzawq tersebut.

Artinya, Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dengan keinginan yang berbeda-beda. Ada yang menginginkan sesuatu yang baik, yang di dalamnya terdapat cahaya Ketuhanan, dan kemudian jiwa itu condong kepada rahasia-rahasia Ketuhanan, sangat gemar kepada yang bertalian dengan segala sumber keruhanian. Dan yang lain ialah keinginan buruk yang berselaput kotoran, yang selalu condong kepada keburukan atau perbuatan-perbuatan tercela, tunduk di bawah kehendak anggota badan yang dipengaruhi oleh hawa nafsu yang ammarah bi as-su. Kedua keinginan ini memang ada pada jasad manusia. Manusialah yang akan memilih di antara keduanya.

Jika jiwa tidak mau mengenal kekudusan dan kesucian, tidak mau berkenalan dengan segala hal tentang keruhanian dalam perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla, tetapi jiwa hanya cenderung untuk memuaskan kehendak tubuh badan semata, tidak suka memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Ketuhanan, maka jiwa itu akan diselimuti kegelapan, dan kemudian mengeras dan kotor, sehingga tidak dapat menerima bukti yang mesti dikenalinya sebagai hamba Allah Azza wa Jalla. Mana mungkin orang-orang yang semacam ini dapat merasakan dzawq?

Orang yang tidak dapat merasakan dzawq di dalam dirinya, tidak akan mengenal hakikat Ketuhanan (Uluhiyyah), dan lalai dari hakikat kehambaan (‘ubudiyyah), hatinya mati. Kedua konsep ini mestilah bertemu di dalam hati manusia, sehingga dia dapat membedakan yang satu dengan yang lain. Kalau begitu apa gunanya hati yang mati berada dalam tubuh yang hidup? Padahal dengan hanya satu ilham yang dilimpahkan oleh Tuhan pada hati seorang hamba tentang rahasia-rahasia sifat Ketuhanannya akan menjadikan manusia itu berubah pikiran. Kemudian dia akan membuang jauh-jauh semua perbendaharaan dunia yang berhubungan dengan dirinya karena apa yang ditemuinya itu adalah suatu harta terpendam yang sudah lama dicari-carinya, dan baru kali ini dia menemukannya, dan dia akan menjaganya agar tidak terlepas dari dirinya.

Itulah hakikat dzawq yang bila berlekatan dengan hakikat tawhid akan menimbulkan semacam perasaan yang tidak dapat disifatkan nilainya. Wallahu a’lam.

Syekh Junayd pernah berkata,”Apabila dzawq bertemu dengan penzahiran Ketuhanan dalam diri seseorang, maka orang itu akan mengalami kenikmatan yang sangat besar ataupun penderitaan sangat menyedihkan.”

Ada 2 jenis dzawq (ekstase). Pertama, ialah dzawq fisikal (kejasmanian), dan kedua ialah dzawq secara ruhani.

Dzawq jasmani terbit dari ego. Dzawq ini tidak memberikan kepuasan kepada segi keruhanian. Ia hanya berada di bawah pengaruh panca indera. Galinya dzawq semacam ini, pasti bersifat munafik atau hipokrit dan terjadi agar orang melihat atau mendengarnya. Dzawq jenis ini tidak bernilai apa-apa, karena dzawq ini datang atas kehendak seseorang. Orang yang mengalami dzawq jenis ini masih sadar dan bisa berbuat apa saja dan bisa memilih. Dzawq jenis ini tidak perlu diambil sebagai contoh karena mungkin dzawq ini sengaja dibuat-buat oleh seseorang, atau muncul dalam angan-angan seseorang, padahal ia belum suci, dosanya masih bertumpuk-tumpuk dan belum dibersihkan oleh taubat dan penyesalan diri, karena setan memang senang bermain-main di dalam hati orang seperti ini. Setan akan menggempurnya dengan bisikan-bisikan dan dibelenggunya, sehingga ia terjerumus ke dalam kesesatan. Ingatlah, bahwa ilham Ketuhanan bukanlah barang murah yang dapat dibeli oleh semua orang, malah harganya sangat mahal, yang mesti dibayar dengan mujahadah kepada Allah Azza wa Jalla dalam waktu yang panjang.

Dzawq ruhani berbeda jauh dengan dzawq jasmai. Dzawq ini muncul dari limpahan tenaga ruhani. Lazimnya dzawq seperti ini, muncul karena pengaruh luar, seperti mendengar kasidah yang melagukan puji-pijian Zat Tuhan Yang Maha Esa dan Berkuas yang dibaca hingga menawan hati, bacaan Al-Qur’an dengan suara lemah lembut dan merdu atau suatu perasaan yang timbul dalam sebuah upacara dzikir yang dibacakan oleh orang-orang Sufi. Ini terjadi karena pada masa itu pertahanan jasmaniah seseorang telah hilang binasa (fana’). Iradat aatu kehendak dan upaya pikiran untuk memilih dan membuat keputusan telah hilang musnah (tidak bertenaga). Apabila badan dan pikiran tidak mampu lagi memainkan peranan, tidak ada kuasa bertindak oleh pengaruh perasaan dan keadaan yang menyelubunginya, maka keadaan dzawq itu adalah semata-mata bersifat keruhanian. Dzawq atau pengalaman ruhaniah ini sangat berguna bagi seorang salik yang meningkat ke derajat tashawwuf untuk menampakkan dirinya sebagai sosok yang benar-benar teguh dalam perjalanannya itu.

Dalam keadaan dzawq ruhaniah, pengaruh setan dan pengaruh ego tidak tampak. Setan beroperasi atau bergerak dalam ego yang gelap dan tidak berperan dalam juntaian rahmat dan kasih sayang Allah Azza wa Jalla yang di dalamnya penuh dengan cahaya. Dalam bingkai rahmat dan kasih sayang Allah, setan melebur sebagaimana larutnya garam dalam air, dan pengaruhnya akan hangus lebur apabila seseorang membaca keagungan Allah dengan penuh iman : Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Dzawq yang sebenarnya adalah pertemuan cahaya dengan cahaya, tatkala ruh insan bertemu dengan Nur Ketuhanan. Jika dzawq terjadi melalui penagruh ego dan setan, maka tidak ada Nur atau cahaya di sana, Dzawq itu berada dalam kegelapan. Di dalamnya yang ada hanya kekufuran, kesangsian, kesesatan, dan kekacauan. Warna yang kelam menimbulkan kegelapan. Itulah peranan ego. Ruh tidak akan berperan di situ. Karena itu, hal ini sangat penting untuk dikenal dengan baik agar manusia tidak tersesat di jalan, karena hal ini termasuk hal-hal yang sulit dibedakan bagi orang biasa.

Dzawq yang sah dan benar ialah perubahan yang kentara dalam keadaan jasmani seseorang yang bukan disengaja dan disebabkan oleh keadaan kedalaman seseorang itu. Penzahiran dzawq yang bukan disengajakan ini adalah akibat tenaga ruhaniah yan tidak mampu dikawal oleh seseorang yang mengalami dzawq tersebut. Ruh yang dalam dzawq mengatasi dan menguasai kesadaran panca indera. Begitu juga apabila tenaga keruhanian yang kuat menguasai daya pikiran dan badan, maka dzawq itu adalah benar, ikhlas dan berciri keruhanian. Keadaan dzawq yang demikian itulah yang kerap menguasai Ahlullah (orang-orang Allah) dalam getaran diri mereka, dalam amalan mereka yang menjadi alat untuk membangkitkan semangat dalam jiwa mereka. Inilah makanan orang yang cinta Allah Azza wa Jalla. Dzawq itu memberi mereka tenaga dalam perjalanan mereka menuju Hakikat itu. Dan kadang-kadang sampai mereka tidak sadarkan diri untuk beberapa waktu, atau beberapa hari. Masing-masing mengikuti kuat dan lemahnya tekanan perasaan itu di dalam dirinya.

Dzawq penting bagi Insan Kamil, sedangkan bagi para pecinta Allah, dzawq hanyalah tambahan amal, dan bagi orang-orang yang jahil adalah sesuatu yang bid’ah, karena mereka masih jahil, tidak mengerti.

Pernah dikatakan bahwa orang yang tidak mengalami dzawq adalah orang yang tidak dapat merasakan manisnya Islam.

Dzawq terbagi menjadi 10 macam; ada yang tampak oleh mata telanjang, ada yang gaib dan tersembunyi dari pandangan orang, seperti kesadaran batin, dzikrullah, atau membaca Al-Qur’an dalam hati, meneteskan air mata, perasaan sesal yang mendalam, perasaan takut dengan azab Allah, perasaan rindu dan hiba, perasaan malu terhadap kelalaian diri dan dosa, muka yang pucat akibat keadaan ruhani yang mendalam atau keadaan yang membuat kita pusing, atau sesuatu yang menyemarakkan perasaan cinta kepada Allah Azza wa Jalla, maka semua itu muncul dari keadaan yang luar biasa, yang lahir dari jasmani dan ruhani karena diserbu oleh perasaan yang kita sebut sebagai dzawq.

Perasaan dzawq seperti orang yang membaca Al-Qur’an dengan tajwid dan tartil yang teratur, ditambah dengan suara yang sungguh memikat hati, sehingga hati itu merasa ciut sekaligus terharu dengan maksud-maksud yang meresap ke hati itu, sehingga melelehlah buliran air mata pilu ke pipi karena merasa amat terpikat dengan bacaan itu, padahal mungkin ayat-ayat itu sudah pernah dibacanya berulang kali, namun sedikit pun hatinya tidak terkesan ketika dulu membacanya.

Begitulah gambaran dzawq yang melanda seorang kekasih Allah. Dzawq akan menyelubungi hati dan pikiran kita ketika kita berdzikir dengan penuh perasaan dan ingatannya tertumpu kepada Tuhan, yang diucapkan lewat lidah akan ke-Maha Suci-an-Nya, kebesaran-Nya, keagungan-Nya dan segala pujian yang tertuju kepada-Nya. Ketika itu ia tidak akan merasakan sesuatu yang berbeda dengan yang sebelumnya. Itulah yang dikatakan dzawq.

Ataupun dengan tiba-tiba muncul kesadaran dalam hati untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atas dirinya pada masa-masa lalu, timbul perasaan kecewa dalam diri yang menanyakan mengapa aku sampai berbuat begitu, perasaan malu terus membangkitkan perasaan kesal, perasaan kesal lalu menimbulkan perasaan takut dan bimbang, perasaan takut dan bimbang membawa hati pilu dan sedih, dia menyumpah-nyumpah dirinya sendiri, dan terus bertaubat serta menyesali dirinya. Dan perasaan-perasaan yang menekan dirinya itu juga bisa dinamakan Dzawq.

Pendek kata, Dzawq sangat bermacam-macam jenisnya, dan yang demikian itu terjadi pada keadaan ruhani seseorang yang sedang menuju kesucian dan kejernihan tabiat yang baru menerpa batinnya. Atau suatu proses untuk merasakan hal-hal yang unik dalam dirinya, yang menunjukkan tingkat makrifatnya yang semakin dekat kepada Allah Azza wa Jalla.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar