Sabtu, 05 Oktober 2013

Hakikat Qalbu

Bila hakikat manusia adalah Qalbu, lalu apakah
hakikat Qalbu itu? Hakikat Qalbu adalah nuansa
batinnya qalbu. Qalbu ini menjadi wilayah dari
batinnya sendiri, yang disebut sebagai Ruh. Dalam
anatomi fisik, ruh biasa disebut dengan nyawa
yang bertempat dalam titik hitam di tengah
jantung. Tetapi secara hakiki, Ruh adalah
Kelembutan Rabbaniyah yang menggerakkan
Qalbu Ruhani. Maka di dalam Ruh itu ada Amar
yang mengatur gerak-gerik Ruh dari Allah Ta’ala.
Karena itu dalam Al-Qur’an disebutkan,
“Katakanlah bahwa Ruh itu adalah Amar
Tuhanku.” (Al-Isra’: 85), dan pada ayat lain
dijelaskan, “Ruh dipertemukan dari AmarNya pada
orang yang dikehendaki dari para hambaNya pada
hari pertemuan.” (Ghaafir: 15), atau ayat, “Mereka
yang telah dicatat di hati mereka, keimanan, dan
dikokohkan dengan ruh dari Allah.” (Al-Mujaadilah:
22)
Mereka yang berada dalam wilayah Ruhiyah
adalah para Muqarrabun, karena penguasaan Ruh
Ilahiyah yang melimpah begitu kuat dalam dirinya.
Para Muqarrabun yang jumlahnya sedikit di dunia
ini, adalah mereka yang disebut dalam Al-Qur’an,
“Dan tidak Kami beritahu tentang (ruh) kecuali
sedikit.” Para Auliya Allah, ruh mereka senantiasa
terfokus pada musyahadah (penyaksian)
Kemahaagungan Allah dimana-mana, dan kapan
saja. Ruh mereka berada dalam alam Malakut-
Nya, yang terus menerus menyucikan Allah. Itulah
nuansa kaum Muqarrabun.
Jika Ruh posisinya di atas Qalbu, maka Nafsu
berada di bawah Qalbu. Pada dasarnya, Nafsu
merupakan refleksi dari seluruh keadaan dunia
dalam kita, termasuk di sana Qalbu dan ruh, akal
dan fikiran. Tetapi, yang demikian itu bermakna
Nafsu sebagai Nafs yang berarti jiwa. Namun
secara khusus, Nafsu memiliki bilik-bilik
transformatif di dalam jiwa itu sendiri, yang kelak
terbagi-bagi dalam kamar-kamar jiwa kita.
Paling rendah adalah Nafsu Ammarah, yaitu Nafsu
yang senantiasa memerintahkan kita untuk berbuat
jahat, yang kelak melahirkan sifat-sifat tercela (al-
Madzmumat) disebabkan oleh dorongan sifat nafsu
ini yang mengarah pada syahwat dan marah serta
sifat-sifat tercela lainnya. Jika nafsu ini
mendapatkan Rahmat Allah, ia akan selamat. Dari
nafsu Ammarah naik ke Nafsu Lawwamah, yaitu
nafsu yang pasif, antara kebaikan dan keburukan,
dan terombang ambing di sana. Seseorang
terkadang menuruti syahwat dan keburukan
lainnya, kadang ia terdorong untuk bertobat dan
kebaikan.
Lalu naik ke tahap Nafsu Muthmainnah, yaitu
Nafsu yang tenteram. Nafsul Muthmainnah adalah
kondisi dimana seseorang berada dalam
ketenangan bersama Allah, dari dan kepada Allah.
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang “kembali
kepada Allah” (an-Nafs al-Murji’ah). Dan yang bisa
kembali kepada Allah hanyalah orang-orang
senantiasa berdzikir kepada Allah.
Jiwa atau Nafs yang bisa kembali kepada Allah-lah
yang bisa tenteram, dan ketentraman jiwa inilah
yang menghantar pada kerinduan hamba untuk
meraih Ridha Allah. Maka di gerbang Nafsu
berikutnya adalah Nafsu Raadhiyyah . Nafsu
Raadhiyah adalah kondisi Nafsu yang melampaui
Muthmainnah. Karena itu, pada situasi
Raadhiyyah, seseorang sudah tidak memikirkan
lagi syurga dan neraka. Yang ada hanyalah
kerinduan pada Ridha Allah Ta’ala.
Akhir dari Radhiyah adalah Nafsu Mardhiyyah.
Seorang hamba telah menjadi Ridha itu sendiri
dalam kontemplasi ruhaniyahnya. Karena ia tidak
lagi berupaya meraih RidhaNya, sebab Ridha telah
menjadi nama, sifat dan perilakunya.
Dari Mardhiyyah naik menjadi Nafs Mulhimah,
yaitu Nafsu yang dilimpahi Ilham Allah, yang kelak
berada dalam Nafsu Kaasyifah. Nafsu yang berada
dalam ketercerahan Rahasia-rahasia Batin (Al-
Asraar), yang menjadi gerbang dari Nafs ‘Arifah
(yang terus menerus ma’rifat kepada Allah. Dan
puncaknya adalah Nafs Kamilah, nafsu yang
peripurna dalam tranformasi ruhani seorang hamba
yang mendapat predikat Insan Kaamil.
Jika Nafsu (syahwat dan ghadab), Ammarah, itu
melahirkan sifat-sifat Madzmumat (tercela), seperti
Kufur, Syirik, Iri, Dengki, Takabbur, Riya’,
Mencintai Dunia, Ta’jub pada diri (keakuan),
Merasa paling bisa dan hebat, Menuruti Syahwat,
Ghibah (menggunjing), Ambisius, Serakah, Dzalim,
Nifaq, Fasiq, dan seluruh sifat tercela yang bisa
menghancurkan diri sendiri, justru sebaliknya jika
Allah melimpahkan rahmat pada Nafs, maka akan
mengalami transformasi menuju kesempurnaan
nafsu itu sendiri, dengan sejumlah predikat Akhlak
al-Mahmudah (terpuji), seperti kehambaan,
ketaubatan, kezuhudan, kewara’an’ kesyukuran,
keridhaan, ketawakkalan, qanaah, dan sampai
tahap-tahab Mahabbah dan Ma’rifah.
Nafsu yang bisa terasah dalam kecermelangan,
pada mulanya bisa berada dalam ketenteramannya
dan seterusnya. Tetapi ketika didominasi oleh
Ammarah dan Lawwamah, akan semakin
terjerembab oleh lumpurnya sendiri.
Namun perlu diingat dalam Nafsu manusia ada
empat dimensi buruk: 1) Sifat-sifat keganasan atau
kebuasan yang melhirkan emosi marah. 2) Sifat-
sifat hewaniyah yang berperilaku bak binatang.
Kedua sifat diatas akan melahirkan rasa senang
terhadap kejahatan, kemenangan, pemaksaan,
rekayasa buruk dan pengkhianatan. Dari sinilah
melahirkan sifat yang ke 3) Sifat-sifat Syaithaniyah.
Dan ke 4) Sifat-sifat Rabbaniyah, yaitu sifat yang
berambisi ingin menyamai Tuhan, ingin dipuja,
ingin disembah, ingin dicatat nama kebesarannya.
Dimensi batin lain yang tak kalah pentingnya
adalah Akal. Dalam hadits Nabi disebutkan, “Awal
mula yang diciptakan oleh Allah adalah Akal. “
Hadits lain menyebutkan, “Qalam”, dan hadits lain
lagi menyebutkan “An-Nuur”. Ketiganya, Akal,
Qalam dan Nur, sesungguhnya satu wilayah
dengan istilah berbeda. Fungsi akal adalah melihat
yang benar dan yang salah, yang kelak akan
diputuskan oleh Qalbu apakah yang benar itu
diterima dan yang salah itu ditolak, adalah
tergantung keputusan Qalbu.
Kedudukan Akal di sisi Qalbu, ibarat kedudukan
raja dengan perdana menterinya. Sedangkan
badan kasar kita adalah wilayah kekuasaannya.
Akal manusia hanya bisa melahirkan
kebijaksanaan-kebijaksanaan, tetapi akal tidak
bisa memutuskan suatu keyakinan. Karena
keyakinan itu wilayahnya Qalbu. Oleh sebab itu
sehebat apa pun akal manusia, maka akal
manusia tidak bisa menyerap dimensi spiritual
yang hakiki. Ia sebatas berada dalam paradigma
filsafatan saja. Maka bila akal ditanya, “Wahai
akal, apakah sesungguhnya induk dari
pengetahuan anda ini?” Ia akan menjawab, “Induk
Ilmu pengetahuan adalah filsafat.” Lalu ditanya
apakah induk filsafat itu? Akal tak mampu
menjawabnya. Qalbu lah yang mampu
menjawabnya. “Induk filsafat adalah Ahli Dzikir.”
Dalam organisme Batin kita kelak akan
berhubungan dengan pengetahuan-pengetahuan
ruhaniyah dalam pantulan dengan Cahaya Allah
(An-Nuur). Maka lembaga batin inilah yang bisa
memandang hubungan-hubungan organisma antara
kekayaan batinnya dengan Iradah dan Qudrat
Allah Ta’ala, termasuk dalam merespon Akhlaq-
Akhlaq Allah dalam kefanaan hambaNya, dan
kebaqaan-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar