Kamis, 17 April 2014

ADAB DALAM MAJELIS


(Kalam Al Habib Abdul Bari bin Syeikh
Alaydrus)
Dalam suatu rauhah yang dihadiri oleh Al-
Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus,
seorang munsyid membacakan sebuah
qosidah Al-Habib Abdulloh bin Alwi
Alhaddad. Setelah qosidah itu selesai
dilantunkan, berkata Al-Habib Abdul Bari’ bin
Syeikh Alaydrus: Jika ada seseorang yang
asyik berbicara pada saat dilantunkan suatu
qosidah yang digubah oleh Salaf, maka hal
itu akan berarti dia merasa yakin bahwa dia
punya omongan lebih baik dari kalam Salaf.
Atau bisa berarti dia menolak kalam tersebut.
Begitu juga jika seseorang asyik berbicara
pada saat yang lain lagi membacakan Fatihah
atau berdoa, maka hal itu menunjukkan
sesungguhnya dia tidak mau mendapatkan
pahala dari Fatihah atau doa yang dibacakan
itu.
Didalam hadits dikatakan : Jika ada
seseorang asyik berbicara ketika yang lainnya
sedang membaca Al-Qur’an, maka Alloh
menyuruh seorang Malaikat dan Malaikat
tersebut akan berkata kepada yang lagi asyik
berbicara, “Diamlah wahai musuh Alloh”,
sampai ia tidak bicara lagi. Jika ia masih tetap
berbicara, Malaikat tadi akan berkata
kepadanya, “Diamlah wahai orang yang
sungguh dibenci oleh Alloh”, sampai ia
berhenti berbicara. Jika ia masih juga tetap
berbicara, Malaikat itu akan berkata
kepadanya, “Diamlah wahai orang yang
sungguh dilaknat oleh Alloh”. Kalam
Rasululloh SAW bersesuaian dengan Al-
Qur’an. Begitu juga dengan kalam Salaf
bersesuaian mengikuti kalam Rasululloh SAW.
Karena mereka tidaklah berbicara kecuali
dengan ijin robbani. Begitulah ilmu tidak akan
bisa didapatkan kecuali dengan adab maka
beradablah kalian…beradablah…
[diambil dari kitab Bahjatun Nufus fi kalam Al-
Habib Abdul Bari' bin Syeikh Alaydrus,
disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Saggaf
bin Zain Al-Hadi, hal. 84-85]

Adab Berjima'

Assalamu’alaikum wr wb
Ustad, insyaAllah sebentar lagi saya
menikah. Ada dua hal yang ingin saya
tanyakan berkenaan dengan malam
pertama (maaf jika pertanyaannya terlalu
vulgar)
Apakah doa “Allahumma jannibnas
syaithoona, dan seterusnya” itu dibaca
menjelang jima’ atau sebelum menyentuh
(mencium) istri?
Jika pada saat ijab qabul istri sedang
haid, bagaimana dengan sholat sunnah
berjama’ahnya? Apakah harus dilakukan
setelah istri suci? atau langsung
mendoakannya dengan memegang
ubun-ubun istri?
Terimakasih sebelumnya.
Waalaikumussalam Wr Wb
Doa Ingin Berjima’
Dari Ibnu Abbas berkata.”Rasulullah saw
bersabda,’Seandainya seorang dari
kalian ingin mendatangi keluarganya
(hendaklah dia ) berdoa : Allahumma
Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy
Syaithon Maa Rozaqtanaa (Wahai Allah
jauhilah kami dari setan dan jauhilah
setan dari kami terhadap rezeki yang
Engkau berikan kepada kami).
Sesungguhnya jika dikehendaki diantara
mereka berdua seorang anak saat itu
maka setan tidaklah dapat
mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq
Alaihi)
Ash Shan’aniy mengatakan bahwa ini
merupakan lafazh dari Imam Muslim.
Hadits ini merupakan dalil agar berdoa
sebelum berhubungan dengan istri ketika
muncul keinginan untuk itu. Riwayat ini
menafsirkan riwayat ,”Seandainya
seorang dari kalian berdoa saat
mendatangi istrinya—dikeluarkan oleh
Bukhori—bahwasanya maksud dari saat
adalah ingin. Kata ganti dari jannibna
adalah untuk laki-laki (suami) dan
perempuan (istri). (Subul as Salam juz III
hal 273)
Jadi doa tersebut dibaca seseorang
ketika hendak menggauli istrinya
sebelum berbagai muqoddimah
(permainan) jima’ dilakukan.
Mendoakan Istri dan Shalat Dua Rakaat
Setelah Ijab Kabul
DIanjurkan bagi seorang suami setelah
melangsungkan akad nikahnya untuk
meletakkan tangannya di kening istrinya
sambil berdoa,” Allahumma Innii Asaluka
Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha
Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa
Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah
sesungguhnya aku memohon kepada-
Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa
yang Engkau berikan kepadanya serta
Aku berlindung kepada-Mu daripada
keburukannya dan keburukan yang
Engkau berikan kepadanya..”
Selain itu dianjurkan bagi mereka berdua
untuk melaksanakan shalat dua rakaat
dan berdoa kepada Allah agar diberikan
kebaikan dan dihindarkan dari
keburukan. Diriwayatkan Ibnu Syaibah
dari Ibnu Masud, dia mengatakan
kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia
untuk shalat dua rakaat dibelakang
(suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik
Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii.
Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi
Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta
bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku
didalam keluargaku dan berkahilah
mereka didalam diriku. Wahai Allah
satukanlah kami dengan kebaikan dan
pisahkanlah kami jika Engkau
menghendaki (kami) berpisah dengan
kebaikan pula.”
Dari Syaqiq berkata,”Datang seorang
laki-laki yang dipanggil dengan Abu
Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu
Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi
seorang budak perempuan perawan.
Sesungguhnya aku takut dia akan
membenciku.’ Lalu Abdullah (bin
Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya
rasa cinta berasal dari Allah dan
kebencian dari setan yang ingin
menjadikan kebencian kepada kalian
terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah.
maka jika dia mendatangimu maka
shalatlah dua rakaat
dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu
Abi Syaibah)
Jika seorang wanita yang baru
melangsungkan akad nikah sedang
dalam keadaan haidh maka cukuplah
dirinya dan suaminya berdoa kepada
Allah swt meminta kebaikan dari-Nya
bagi mereka berdua dan keluarganya.
Wallahu A’lam

Keajaiban shalawat

TAUBATNYA PENJAHAT Berkah Bacaan
Shalawat
Seorang yang sangat zuhud bernama Syeikh
Abdul Wahid bin Zaid berkisah sebagai berikut :
Seorang tetangga
kami, bekerja sebagai pegawai negeri dan
sangat jahat ketika hidupnya di dunia, dan
melakukan maksiat dan suka menakut-nakuti
orang.
Pada suatu malam, saya melihat di dalam tidur
bahwa tangan tetangga saya tersebut
memegang tangan Rosululloh SAW. Saya
bertanya kpd Rosululloh SAW :
“Wahai Rosululloh, seseungguhnya org ini
sangat terkenal sebagai penjahat di muka Bumi,
bagaimana ceritanya engkau sangat menaruh
tanganmu memegang tangannya ? “ Rosululloh
SAW bersabda :
“ Saya mengetahui apa yang engkau katakan
tersebut. Oleh karena itu, saya datang untuk
memberikan SYAFAATku kepadanya. ”
Kemudian saya bertanya kepada Rosululloh
SAW :
“ Wahai Rosul, apakah kelebihan tetangga kami
itu, sehingga engkau memberikan syafaatnya ? ”
Rosululloh SAW menjawab :
“ Tetanggamu itu banyak membaca SHOLAWAT
kepadaku. Pada tiap malam ketika dia hendak
tidur, dia selalu membaca sholawat 1000 kali
( seribu kali ), sehingga aku mohon kepada Alloh
SWT mudah-mudahan syafaatku ini diterima
disisi-Nya, agar tetanggamu ini bertaubat kpd-
Nya.”
Berkata Syeikh Abdul Wahid ( shohibul hikayat )
:
“ Di pagi hari saya mengajar di Masjid
sebagaimana biasanya, tiba-tiba datang
tetangga itu, disaat saya sedang menceritakan
apa yang saya lihat di dalam tidur ( mimpi ), dia
masuk dan mengucapkan salam sambil
menangis, lalu dia berkata :
“ Wahai Syeikh Abdul wahid, izinkanlah aku
menjabat tanganmu, karena Rosululloh SAW
mengutusku kepadamu, agar aku bertaubat di
hadapanmu, dan disaksikan oleh murid-
muridmu di Masjid ini. ”
Syekh Abdul
Wahid telah berjabat tangan dengan
tetangganya yang telah menyesali segala
perbuatannya selama hidupnya tersebut. Ia
berjanji tidak akan mengulanginya kembali
perbuatan jahatnya tersebut.”
Subhanalloh…… Setelah itu, Syeikh Abdul
Wahid bertanya kpd tetangganya tsb : “ Apakah
yang menyebabkan engkau bertaubat, wahai
saudaraku…?” Tetangganya
menjawab :
“ Rosululloh SAW telah
datang kepadaku di dalam tidurku, dan beliau
meneceritakan kepadaku tentang Tanya jawab
yang antara engkau dengan beliau, kemudian
Rosululloh memegang tanganku dan bersabda:
“ Aku datang kepadamu untuk memberikan
syafaat Alloh atas segala dosamu, adalah
semata-mata karena engkau banyak membaca
Sholawat atasku. ” “ Setelah itu beliau bertitah
kepadaku, agar di pagi hari aku datang
kepadamu, Wahai Syaikh….Untuk
mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa
aku telah bertaubat yang sebenar-benarnya…..”
Demikianlah keberkahan membaca Sholawat
atas Rosululloh SAW, ternyata tdk sia-sia bagi
setiap lisan yang selalu di basahi dengan
sholawat.
Kisah diatas sebagai bukti nyata Syafaat
Rosululloh SAW, bahwa pembacaan sholawat
dapat mengugurkan dosa-dosa yang pernah
terlanjur dikerjakan oleh seseorang.
Sebagaimana diterangkan dalam Hadits :
“ Diriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq :
belaiu berkata, bahwa sholawat kepada Nabi
SAW lebih cepat menghapus dosa dari pada air
dingin memdamkan api dan lebih utama dari
pada memerdekakan hamba sahaya ”
( dari Kitab Bustanul Wa Idzin )
SHOLAWAT YANG DITERIMA
Di kisahkan bahwa Amir Madinah bershalawat
Kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam
sebanyak 4000 kali tiap hari tanpa
sepengetahuan siapapun, kecuali Allah.
Suatu malam ada seorang wanita miskin
melahirkan anak. Ia begitu miskin hingga tak
mampu membeli lampu maupun minyak bayi.
Hal ini membuat suaminya sangat sedih. Dalam
kesedihannya itu, ia tertidur dan bermimpi
bertemu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
“Pergi dan temuilah Amir Madinah. Katakan
bahwa Nabi memerintahkannya untuk
menanggung biaya sebesar 100 dinar. Tanda
kebenaran berita ini adalah bacaan shalawatnya
di depan jendela kuburku sebanyak 4000 kali
tiap hari,” perintah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dalam mimpi.
Lelaki itu lalu menemui seorang Syeikh dan
menceritakan mimpinya. Mereka lalu sepakat
untuk pergi ke rumah Sang Amir Madinah.
Setelah keduanya duduk di hadapan Amir
Madinah, Sang Syeikh berkata, “Lelaki ini
bermimpi tentangmu, dengarkanlah ceritanya.”
“Ceritakanlah mimpimu,” kata Amir Madinah.
Lelaki miskin itu kemudian menceritakan
mimpinya.
“Mimpi mu benar. Aku bersedia menanggung
biaya yang di tetapkan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam,” kata Amir Madinah.
Ia lalu bangkit mengambil 100 dinar, “Ini biaya
yang harus ku tanggung.”
Ia kemudian memberikan 100 dinar lagi, “Ini
Hadiah untuk kabar gembira yang kau bawa,
yaitu di terimanya shalawatku oleh Nabi
Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”
Ia menyerahkan 100 dinar lagi. “Ambillah ini,
belanjakanlah untuk keperluan keluargamu dan
bayi yang baru lahir,” kata sang Amir.
Perhatikanlah keikhlasan Amir Madinah dalam
beribadah. Ia bershalawat kepada Nabi Shallahu
‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam merasa senang dan memberinya kabar
gembila di dunia.
Sedangkan kita, mengapa jika kita bershalawat
atau bersedekah tidak melihat tanda-tanda
pengabulan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
MENGAPA?
Aku tidak melihat sebab lain, kecuali tebalnya
hijab, karena kita melakukan hal – hal yang tidak
pantas. Yaitu hal – hal yang menjauhkan kita
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Sumber Buku Kisah dan Hikmah Dalam Kalam
Habib Muhammad Bin Hadi Asseqaf

Rabu, 16 April 2014

SYAIR SAYYIDINA ALI UNTUK SAYYIDATUNA FATHIMAH

Syair Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk
Sayyidah Fatimah Az-Zahra (R.A)
Uhibbuki mitsla maa anti Aku mencintaimu
apapun dirimu
ﺍﺣﺒﻚ ﻛﻴﻔﻤﺎ ﻛﻨﺘﻲ
Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻬﻤﺎ ﺻﺎﺭ
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan selamanya
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku
ﺯﻭﺟﺘﻲ
Zaujatii
Duhai istriku
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku
ﺣﻼﻟﻲ ﺍﻧﺖ ﻻ ﺍﺧﺸﻰ ﻋﺰﻭﻻ ﻫﻤﻪ ﻣﻘﺘﻲ
ﻟﻘﺪ ﺍﺫﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻟﻨﺎ ﺑﻮﺻﻞ ﻏﻴﺮ ﻣﻨﺒﺘﻲ
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu
maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin
ghoiri
munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli
celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.
ﺳﻘﻴﺖ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻲ ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺴﻤﺖ
ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺴﻌﺪ ﺇﻥ ﻏﺒﺖ ﻭﻳﺼﻔﻮ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﺇﻥ ﺟﺌﺖ
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li
wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in
ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan
indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu
menghilang lenyap ,
Hidupku menjadi terang ketika kamu disana.
ﻧﻬﺎﺭﻱ ﻛﺎﺩﺡ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﻋﺪﺕ ﻟﻠﺒﻴﺖ
ﻟﻘﻴﺘﻚ ﻓﺎﻧﺠﻠﻰ ﻋﻨﻲ ﺿﻨﺎﻯ ﺍﺫﺍ ﻣﺎ ﺗﺒﺴﻤﺖ
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu
lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa
tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah
menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu
senyum.
ﺗﻀﻴﻖ ﺑﻰ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﺫﺍ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﺗﺒﺮﻣﺘﻲ
ﻓﺄﺳﻌﻰ ﺟﺎﻫﺪﺍ ﺣﺘﻰ ﺍﺣﻘﻖ ﻣﺎ ﺗﻤﻨﻴﺘﻲ
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman
tabarromti
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa
tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih,
maka aku akan berusaha keras sampai
benar mendapatkan apa yang engkau
inginkan.
ﻫﻨﺎﺋﻰ ﺍﻧﺖ ﻓﻠﺘﻬﻨﺌﻰ ﺑﺪﻑﺀ ﺍﻟﺤﺐ ﻣﺎ ﻋﺸﺘﻲ
ﻓﺮﻭﺣﺎﻧﺎ ﻗﺪ ﺍﺋﺘﻠﻔﺎ ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺍﻟﻨﺒﺖ
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidifil hubbi maa
'isyti
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi
wannabti
Engkau kebahagiaanku. Tanamkanlah
kebahagiaan
selamanya.
Jiwa2 kita telah bersatu bagaikan tanah dan
tumbuhan

Senin, 14 April 2014

Mempermudag Rizqi kita

Pertanyaan pada Habibana Munzir :
kami sudah berkeluarga selama 3 tahun tetapi
hingga kini suami belum mendapatkan pekerjaan,
kami sudah memiliki 1 orang anak. Habib adakah
hal yang membuat kami atau suami belum juga
mendapatkan pekerjaan? adakah solusi untuk
kami? Selain itu saya seorang istri yang sedang
membuang jauh2 perasaan sakit hati terhadap
Orang tua yang hingga kini saya merasa
keberadaan saya dalam keluarga diabaikan.sejauh
mata memandang oranglain cukup menghargai
keberadaan saya, tetapi mengapa orang tua
tidak? rasa lelah dan sakit sudah lama saya rasa
tetapi saya buang jauh2 rasa itu, Habib salahkah
rasa itu dan apa yang harus saya lakukan?
----------------------------------
Jawaban Habibana :
----------------------------------
mengenai pekerjaan, saya ajarkan tiga amalan yg
baiknya saudari dan suami amalkan.
1. doa : "Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min
khairin faqir" (Wahai Tuhan, sungguh aku sangat
faqir atas pemberian anugerah Mu), doa ini
adalah doa Nabi Musa as, kemudian Nabi Musa
as didatangi calon istrinya dan sekaligus
mendapat pekerjaan. doa ini tercantum pada QS
Al Qashash 24).
Guru Mulia kita mengajarkan doa ini untuk
mempermudah rizki/pekerjaan
2. perbanyaklah shalawat pada Nabi saw karena
shalawat membawa keberkahan dan ketenangan
dan kemudahan dhahir dan batin.
3. saya sarankan anda membaca dzikir
Subhanallahi wabihamdih,bacalah 100X setiap
pagi dalam keadaan suci, dzikir ini disarankan
oleh Nabi saw sebagaimana sabda beliau saew :
Barangsiapa membaca Subhanallahi wabihamdih
100X setiap harinya maka berjatuhan dosa
dosanya walau sebanyak buih dilautan (Shahih
Bukhari)
Mengenai sifat kurang baik dari mereka pada
saudari, itu biasa, jika suami saudari
berpenghasilan mencukupi mereka akan berubah
baik, saya senasib dengan saudari,saya dibenci,
dihina dan dikucilkan oleh saudara2 dulu, bahkan
ayah ibu saya sedih pada saya menganggap saya
adalah anak yg tidak sukses, sampai bunda saya
menangis dan berkata : kalau kata orang jika
banyak anak pasti salah satu ada yg tidak
sukses...", hancur hati saya, namun Allah swt
merubah keadaan, kini saya kebanggaan
keluarga, dan teman dan kerabat yg mencibir dan
menghina kini sangat ingin dekat dg saya dan
bercengkerama akrab, namun apa daya,
jangankan bercengkerama,. mau jumpa saya pun
tidak kebagian kesempatan karena kesibukan
saya, setahun sekalipun terkadang banyak yg tak
berhasil jumpa, cuma alhamdulillah ayahanda
saya wafat dalam keadaan ridho pada saya, dan
ibunda saya masih hidup dan sangat sering
menangis haru bangga pada saya dan sering
menginap dirumah.
saudariku, nasib ditangan Allah, amalkanlah 3
poin diatas, ia kunci keberhasilan dunia dan
akhirat
Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam
kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala
cita cita,
____________


I_______

Sabtu, 12 April 2014

Mbah Syafa' kali wungu

Sebelum dikenal sebagai Wali, Mbah Kiai
Musyafa’ dianggap orang Gila. Namun
kemudian banyak orang yang menemukan
Karomahnya. Karena itu, setelah dia
meninggal, makamnya kerap didatangi
peziarah.
Kota Kaliwungu, tepatnya di wilayah
Kecamatan Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah,
tampak sangat anggun bila dilihat dari bukit
yang terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah
timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu.
Masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota
terlihat sangat dominan dan lebih besar
dibanding bangunan lain yang ada di
sekitarnya. Menara dan kubah masjid tampak
sangat kukuh, seperti menegaskan betapa
Allah SWT Mahabesar.
Dari ketinggian bukit itu, tampak kecantikan
kota Kaliwungu yang mempesona. Disana
terdapat makam alim ulama dan para penyiar
agama Islam tempo dulu. Masyarakat
menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit),
sebuah kawasan perbukitan. Salah seorang
ulama besar yang dimakamkan disana adalah
Kiai Musyafa’ bin Haji Bahram.
Seperti halnya makam wali-wali yang lain,
makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa
disapa, inipun kerap dikunjungi para peziarah,
terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat
Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan
bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri
dari beberapa pesantren juga kerap
menjadikannya sebagai tempat untuk
melaksanakan riadah.
Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969),
Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang
zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam
berpakaian maupun dalam bertutur kata.
Kesederhanaannya dalam berpakaian,
membuat sebagian orang menganggap Mbah
Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin. Tidak
jarang orang juga mengatakan bahwa Mbah
Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang
kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu
berperilaku diluar kebiasaan manusia pada
umumnya.
Anggur Mekkah
Sangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah
orang gila sudah terdengar sebelum
masyarakat mengetahui karomah dan
kewaliannya. Pada suatu hari tetangga
disekitar rumah Mbah Syafa’ di bikin geger.
Pasalnya setelah musim haji, ada seorang haji
yang datang ke sana, ia mengaku di titipi
anggur oleh seseorang di Mekah untuk
diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru
saja menunaikan ibadah haji di Mekah.
Padahal tetangga Mbah Syafa’ menyaksikan
sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’
berada di rumahnya.
Sejak itu pandangan orang pada dirinya
berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya
disaksikan orang-orang disekitarnya. Suatu
saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang.
Masing-masing tamu menuang sendiri air
minum dari ceret yang sudah disediakan.
Anehnya air minum yang berasal dari satu
ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu
yang minum.
Dalam kisah yang lain, sekitar tahun 1060-an,
Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara.
Tentara itu bermaksud memohon restu, karena
sebagai pembela negara dia mendapat tugas
ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang
akan membebaskan Irian Jaya dari
pendudukan Belanda. Saat dia sampai di
tempat tinggal Mbah Syafa’, dan
mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak
menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya
mengambil sebuah wajan yang telah di bakar
hingga merah membara.
Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke
kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa
kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam
rumah dan keluar dengan membawa tiga buah
biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya
pada orang itu. Orang tersebut tidak mengerti
apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap
menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’.
Di belakang hari, isyarat tersebut bisa
diketahui setelah kapal yang ditumpangi
tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun
atas izin Allah orang tersebut selamat.
Dalam kisah yang lain diceritakan pada
1940an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali
tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya
merasa heran dengan apa yang dikerjakannya
itu. Sebagian mengira tempat itu akan
digunakan untuk memelihara ikan, sebagian
yang lain menyangka akan dibuat sumur.
Setelah beberapa saat, orang baru sadar
bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang
bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama
berselang, tentara Jepang menyerbu daerah
Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan
sebagai tempat persembunyian orang-orang
yang ada di sekitarnya.
Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk
setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969
(seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu
ketika saat sedang membersihkan Balai Desa
Krajan Kulon, Mbah Rasyid, tukang sapu kantor
tersebut, ditemui Mbah Syafa’ tanpa
berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya
uang seribu rupiah, padahal ia telah meninggal
dunia.
Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu
tetap utuh dan tetap ada di saku Mbah Rasyid
begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang
hingga tiga kali, membuat gundah Mbah
Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia
kembalikan ke kuburan Mbah Syafa’.

Habib Hud Al Atos

Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al -
Aththas
Suatu hari, beberapa tahun silam, sebuah
rumah di pemukiman padat Batu Ampar,
Condet, Jakarta timur terbakar hebat. Api
berkobar menghanguskan apa saja. Masyarakat
tidak bisa berbuat apa-apa, karena sumber air
jatuh, sementara petugas dinas pemadam
kebakaran tak kunjung datang. Tiba-tiba, di
antara kerumunan penduduk, menyeruaklah
seorang lelaki berserban dan memegang
tasbih. Dengan gagah berani ia maju kea rah
rumah yang terbakar itu sambil mengibas-
ngibaskan serbannya.
Ajaib! Dalam waktu sekejap, api yang berkobar
hebat itu padam. Setelah itu, ia pergi begitu
saja. Siapa dia?
Penduduk Batu Ampar mengenalnya sebagai
Habib Umar Al-Aththas. Ulama itu mula-mula
tinggal di Kwitang, Jakarta Pusat, kemudia
hijrah ke Batu Ampar.
Habib Umar bin Muhammad bin Hud Al-
Aththas lahir sekitar tahun 1890-an di
Huraidhoh, Hadramaut, Yaman. Sejak muda
beliau menimba ilmu agama di Hadramaut.
Sampai akhirnya beliau hijrah ke Jakarta pada
tahun 1940-an untuk menemui kedua orang
tuanya, Habib Muhammad bin Hasan bin Ali
bin Hud Al-Aththas yang telah terlebih dulu
menetap di Kwitang.
Dalam perjalanan ke Betawi, beliau singgah di
Kuala lumpur, Singapura dan Brunei untuk
menggelar dakwah yang dihadiri ratusan
jemaah. Baru pada awal 1950-an beliau tiba di
Jakarta, dan tinggal di Pasar minggu,
kemudian, ia pindah lagi dan selanjutnya
menetap di Batu Ampar. Di kediaman yang
baru ini, beliau berdakwah dengan pendekatan
persuasif, penduduk mengenalnya sebagai
ulama yang berpenampilan sejuk dengan
karomah luar biasa.
Karomah itu, misalnya, terjadi ketika beliau
diminta membantu orang yang gemar membeli
undian. Tapi anehnya dengan tenang dan baik,
Habib Umar melayaninya.
"Habib Umar, saya minta nomor undian." Kata
lelaki itu tanpa sungkan.
"Aku akan berikan engkau nomor undian,
dengan syarat jika engkau menang undian
segeralah bawa uang itu kepadaku." Jawab
Habib Umar.
Beberapa hari kemudian lelaki itu datang lagi.
"Habib, saya berhasil menang undian. Ini
uangnya." Katanya berseri-seri.
Dengan tenang Habib Umar minta muridnya
mengambil sebuah baskom, lalu katanya,
"Perhatikan apa yang aku perbuat." Lalu beliau
menggenggan uang segepok itu dan
memerahnya di atas baskom. Aneh! Dari
genggaman tangan Habib Umar mengucurkan
darah segar, mengalir memenuhi baskom.
"Lihatlah, apa yang telah engkau dapatkan dari
undian itu." Katanya.
Lelaki itu kaget, dan akhirnya bertobat.
Di saat lain, ketika Habib Umar tengah
menggelar taklim di masjid, masuklah seorang
lelaki berwajah putih bersih. "Wahai Habib
Umar, bisakah aku minta nasi kebuli?" tanya
lelaki itu.
Permintaan aneh itu tentu saja membuat
terkejut seluruh jamaah. Namun, dengan
tersenyum Habib Umar berkata arif, "Pergilah
ke belakang, dan bersantaplah." Maka lelaki
itu pun segera pergi ke dapur.
Tak lama kemudian taklim itu pun usai, dan
Habib Umar bersama para jemaah menyusul
ke dapur. Mereka melihat lelaki itu tenah
menyantap nasi kebuli dengan sangat lahap.
"Siapakah dia? "dia tamu kita, dia adalah Nabi
Khidlir." Jawab Habib Umar.
Tidak semua Ulama besar mendapat
kesempatan dikunjungi Nabi Khidlir. Dan
kunjungan Nabi Khidlir itu menunjukkan betapa
Habib Umar sangat alim dan shaleh.
Ada cerita lain mengenai karomahnya. Pada
suatu hari datanglah seorang lelaki membawa
air agar didoakan sebagai obat. Tapi baru saja
ia mengetuk pintu, Habib Umar sudah
menyuruhnya pulang. Tentu ia bersikeras dan
bertahan menunggu di depan pintu. Akhirnya
Habib Umar keluar. Katanya, "Pulanglah, air
yang engkau bawa itu sudah bisa
menyembuhkan."
"Tapi, Bib..."
"Pulanglah. Bukankah engkau sudah ditunggu
oleh keluargamu?"
Mendengar jawaban Habib Umar yang begitu
santun dan lembut, orang itu sungkan juga.
Akhirnya dengan keyakinan yang kuat ia pulang
membawa air dalam botol tersebut, dan
menuangkannya ke dalam gelas untuk diminum
oleh keluarganya yang sakit.
Ajaib! Tak lama kemudian keluarga yang sakit
tersebut sembuh. Setelah sembuh, mereka
bertamu ke rumah Habib Umar untuk
bersilaturrahmi. Menurut beberapa Habib yang
kenal dekat dengan Habib Umar, karamah yang
dimilikinya itu berkat keikhlasan dalam merawat
ibundanya. Selama 40 tahun, dengan tekun,
ikhlas dan sabar, beliau merawat sang ibu
hingga akhir hayatnya.
Habib Ismail bin Yahya, seorang pengurus
Naqabatul Ashraf, alah satu lembaga
penyensus para habib, juga menyatakan,
karamah tersebut berkat keikhlasan Habib
Umar merawat ibundanya. Bahkan karena lebih
mementingkan merawat sang ibu, suatu saat
Habib Umar tidak sempat menghadiri
pengajian-pengajian di luar rumah, termasuk
masjid Riyadh, Kwitang, yang digelar Habib Ali
Al-Habsyi.
Ulama besar yang dikenal sangat sederhana
dan tawaduk ini wafat pada tahun 1999 dalam
usia 108 tahun, meninggalkan tiga putra :
Habib Husein, Habib Muhammad dan Habib
Salim. Selama hidupnya, almarhum selalu
menekankan pentingnya mencintai dan
meneladani Rasulullah saw. Sebagai ulama
yang shaleh, seperti halnya habaib yang lain,
beliau juga suka menggelar maulid. Dalam
maulid enam tahun lalu, sebelum wafat Habib
Umar memotong 1600 ekor kambing untuk
menjamu puluhan ribu jamaah.
Habib Umar dimakamkan di kompleks
pemakaman Al-Hawi, Condet, Jakarta Timur.
Upacara pemakamannya kala itu dihadiri
puluhan ribu jemaah. Bahkan saking banyaknya
jamaah yang ingin menyalalatkan jenazahnya,
salat jenazah dilakukan sampai tiga kali dengan
tiga orang imam.