Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba Serbi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2016

Dalil Tawasul dan istighotsah

Suatu ketika Ibnu Umar ra kena penyakit mati rasa dikakinya. Seorang sahabat lain menyarankan, "Sebutkanlah nama orang yang paling engkau cintai" Ibnu Umar ketika itu mengucap, "Ya Muhammad". Penyakit tersebut sembuh seketika. (HR. Bukhari)

Riwayat ini menjadi salah satu dalil sunnahnya istighatsah dan tawassul kepada Nabi Saw maupun orang sholih.

Riwayat ini lebih lanjut dapat dilihat dalam al-Adab al-Mufrad lil Imam al-Bukhari, h. 346).

Menafsirkan Quran

SEBELUM ANDA INGIN MENAFSIRKAN AL QUR'AN,KUASAI DULU 15 BIDANG ILMU BERIKUT INI :

1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata al Quran. Mujahid rah.a. berkata, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka tidak layak baginya berkomentar tentang ayat-ayat al Quran tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit pengetahuan tentang lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Bisa jadi kata itu mempunyai arti dan maksud yang berbeda.
.
2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu Nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti perkataan itu. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu Nahwu.
.
3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata), Mengetahui Ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “Jika seseorang tidak mempunyai ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak hal.” Dalam Ujubatut Tafsir, Syaikh Zamakhsyari rah.a. menulis bahwa ada seseorang yang menerjemahkan ayat al Quran yang berbunyi:

“(Ingatlah) pada suatu hari (yang pada hari itu) kami panggil setiap umat dengan pemimpinya. “(Qs. Al Isra [17]:71)

Karena ketidaktahuannya tentang ilmu sharaf, ia menerjemahkan ayat itu seperti ini:“pada hari ketika manusia dipanggil dengan ibu-ibu mereka.” Ia mengira bahwa kata ‘imaam’ (pemimpin) yang merupakan bentuk mufrad (tunggal) adalah bentuk jamak dari kata ‘um’ (ibu). Jika ia memahami ilmu sharaf, tidak mungkin akan mengartikan ‘imaam’ sebagai ibu-ibu.
.
4. Imu Isytiqaq (akar kata, Mengetahui ilmu isytiqaq sangatlah penting. Dengan ilmu ini dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakkan tangan yang basah ke atas suatu benda, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran.
.
5. Ilmu Ma’ani, Ilmu ini sangat penting di ketahui, karena dengan ilmu ini susunan kalimat dapat di ketahui dengan melihat maknanya.
.

6. Ilmu Bayaan, Yaitu ilmu yang mempelajari makna kata yang zhahir dan yang tersembunyi, juga mempelajari kiasan serta permisalan kata.
.
7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga di sebut sebagai cabang ilmu balaghah yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al Quran adalah mukjizat yang agung, maka dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan al Quran dapat di ketahui.
.
8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat di antara makna-makna suatu kata.
.
9. Ilmu Aqa’id, Ilmu yang sangat penting di pelajari ini mempelajari dasar-dasar keimanan, kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukkan bagi Allah swt. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu, seperti ayat:

“Tangan Allah di atas tangan mereka.” (Qs. Al Faht 48]:10)
.
10. Ushu l Fiqih, Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting, karena dengan ilmu ini kita dapat mengambil dalil
dan menggali hukum dari suatu ayat.
.
11. Ilmu Asbabun-Nuzul, Yaitu ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat al Quran. Dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, maka maksud suatu ayat mudah di pahami. Karena kadangkala maksud suatu ayat itu bergantung pada asbabun nuzul-nya.
.
12. Ilmu Nasikh Mansukh, Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum uang sudah di hapus dan hokum yang masih tetap berlaku.
.
13. Ilmu Fiqih, Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hukum global.
.
14. Ilmu Hadist, Ilmu untuk mengetahui hadist-hadist yang menafsirkan ayat-ayat al Quran.
.
15. Ilmu Wahbi, Ilmu khusus yang di berikan Allah kepada hamba-nya yang istimewa, sebagaimana sabda Nabi Saw..,,

“Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui.”
.

Juga sebagaimana disebutkan dalam riwayat, bahwa Ali r.a. pernah ditanya oleh seseorang, “Apakah rasulullah telah memberimu suatu ilmu atau nasihat khusus yang tidak di berikan kepada orang lain?” Maka ia menjawab, “Demi Allah, demi Yang menciptakan Surga dan jiwa. Aku tidak memiliki sesuatu yang khusus kecuali pemahaman al Quran yang Allah berikan kepada hamba-Nya.” Ibnu Abi Dunya berkata, “Ilmu al Quran dan pengetahuan yang didapat darinya seperti lautan yang tak bertepi.
.
Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir al Quran. Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut lalu menfsirkan al Quran, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, yang larangannya telah di sebutkan dalam banyak hadist. Para sahabat telah memperoleh ilmu bahasa Arab secara turun temurun, dan ilmu lainnya mereka dapatkan melalui cahaya Nubuwwah.

.
Iman Suyuthi rah.a. berkata, “Mungkin kalian berpendapat bahwa ilmu Wahbi itu berada di luar kemampuan manusia. Padahal tidak demikian, karena Allah sendiri telah menunjukkan caranya, misalnya dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki dan tidak mencintai dunia.”
.
Tertulis dalam Kimia’us Sa’aadah bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan al Quran:
.
(1) Orang yang tidak memahami bahasa Arab.
.
(2) Orang yang berbuat dosa besar atau ahli bid’ah, karena perbuatan itu akan membuat hatinya menjadi gelap dan menutupi pemahamannya terhadap al Quran.
.
(3) Orang yang dalam aqidahnya hanya mengakui makna zhahir nash. Jika ia membaca ayat-ayat al Quran yang tidak sesuai dengan pikirannya (logikanya), maka ia akan gelisah. Orang seperti ini tidak akan mampu memahami al Quran dengan benar.
Wallohu a'lam

Rabu, 16 Maret 2016

Untuk bisa bertemu nabi dalam mimpi

Daruud Syifaa’ untuk Bertemu dengan Nabi (s) di dalam Mimpi
(Dibaca terus hingga Anda Tertidur)

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوحِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فِي الْأَرْوَاحِ وَعَلَى جَسَدِهِ فِي الْأَجْسَادِ وَعَلَى قَبْرِهِ فِي القُبُورِ وَعَلَى آلِهِِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Allâhumma shalli `ala rûhi Sayyidina Muhammadin fil-arwâhi wa `ala jasadihi fil-ajsâdi wa `ala qabrihi fil-qubûri wa `ala âlihi wa shahbihi wa sallim.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada ruh Nabi Muhammad (s) di antara semua ruh, kepada jasadnya di antara semua jasad, dan kepada kuburnya di antara semua kubur dan limpahkanlah pula rahmat dan keselamatan kepada keluarga dan sahabatnya. (Dalail al-Khayrat hari Rabu)

Imam Sya’arani (q) meriwayatkan bahwa Nabi (s) bersabda, “Barang siapa yang bershalawat dengan cara seperti ini akan bertemu denganku di dalam mimpi, dan barang siapa yang bertemu dengan di dalam mimpi, ia akan bertemu denganku di Yawmil Hisab, dan barang siapa yang bertemu denganku di Yawmil Hisab, aku akan memberi syafaat padanya, dan barang siapa yang mendapatkan syafaatku, ia akan minum dari telagaku, Hawdh al-Kawtsar di Surga, dan barang siapa yang meminum dari al-Kawtsar ia akan terlindung dari api neraka.

Imam Sya’arani (q) berkata, “Aku harus membacanya,” dan aku membacanya sebelum tidur dan terus membacanya sampai aku tertidur.  Aku melihat bulan dan melihat wajah Nabi (s) yang mulia, dan aku berbicara dengan beliau.  Kemudian ghaba fi’l-qamar, aku merasa beliau berada di bulan hingga beliau menghilang.  Aku berdoa kepada Allah (swt) demi shalawat ini, agar Dia memberikan seluruh nikmat yang Ia berikan, bukannya nikmat yang biasa, tetapi nikmat yang Ia berikan kepada Sang Kekasih-Nya, Sayyidina Muhammad (s), yang Ia janjikan kepada setiap mu’min, dan aku merasa bahwa aku telah mendapatkannya. (Afdhal ash-Shalawat, halaman 58).  
Untuk Shalawat Istimewa Lainnya, silakan kunjungi:
www.sufilive.com/salawat

Selasa, 08 Maret 2016

Rokok akar semua masalah

Merokok Akar Semua Masalah
Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani qs

Bismilahir Rohmanir Rohim.

Saya bertanya kepada teman-teman yang baru menjadi muslim bagaimana dia berusaha untuk sukses hidup sebagai muslim. Dan dia menjawab: “Saya baik-baik saja, saya sudah mulai sholat dan puasa sesuai perintah Allah dan telah meninggalkan banyak perilaku larangan utama. Hanya satu masalah yang tersisa sampai sekarang adalah ketidakmampuan saya untuk berhenti merokok.”

Lihat, merokok dari sisi umum dan kebanyakan orang, khususnya sisi kaum muslim, mereka menganggap merokok sebagai sesuatu yang tidak atau sedikit berpengaruh pada karakter seseorang. Karena mereka menganggap kecil atau tidak berpengaruh pada kehidupan agama mereka, maka kaum muslim merokok lebih banyak dari kaum yang lain, bahkan mereka merokok seperti cerobong asap.

Saat anda menerima Islam, anda mampu meninggalkan semua perilaku yang paling sangat diharamkan, dan itu sangat baik, tidak semua orang bisa melakukannya dengan mudah. Apalagi langsung berubah setelah anda menerima kepercayaan Islam. Hanya satu masalah besar, kata anda, yaitu kecanduan anda pada tembakau, hingga merokok menguasai hati kalian, sampai tingkat tertentu dimana meninggalkan merokok adalah suatu perjuangan yang tidak mungkin anda menjadi pemenangnya.

GrandSyaikh Abdullah Faiz Ad-Daghistani qs (semoga Allah meridhoi beliau) sering berkata bahwa merokok, meskipun tidak berarti menurut pandangan orang, sebenarnya pada kenyataan adalah salah satu kelemahan terbesar orang yang beriman, karena kebiasaan merokok membiarkan korbannya sama sekali kehilangan kekuatan untuk berkeinginan.

Rokok menjebak orang dan merusak kemauannya dengan suatu cara pasti, dimana kalau orang tidak bisa berhenti dari kebiasaan buruk merokok, maka suatu hari merokok akan memutusnya dari setiap kebaikan yang dilakukannya, bahkan dari ke Imanannya / kepercayaannya. Hal inilah yang menjadi alasan pokok untuk berhenti dari kebiasaan merokok diantara banyak alasan kuat lainnya.

Kalian harus meninggalkan kebiasaan merokok dengan segera dan selamanya sehingga kemauan akan tumbuh lagi, dan melindunginya untuk jatuh dalam control orang lain. Maksud saya dengan “lain”, adalah kemauan/keinginan rendah orang itu dan setan, yang berdiri dibelakang sebagai penasehat kejahatan bagi ego. Siapapun yang tidak mampu menguasai dirinya akan beralih ke tangan nafsu binatangnya dan nafsu Setan, yang siap menghancurkan sisi manusia dari ruhani anda.

Allah Yang Maha Kuasa bersabda dalam Kitab Al Qur’an: “Oh Umatku, kalian akan melihat sesuatu sebagai hal yang tidak berakibat besar bagi kalian, tetapi dihadapanKu hal itu sangat berbahaya dan berakibat besar.” Sekarang merokok bagi kaum Muslim tampaknya tidak masalah, tapi dihadapan Allah Yang Maha Kuasa hal itu adalah suatu kelemahan fatal untuk orang yang beriman.

Merokok bagi orang yang beriman adalalah bagaikan kalian membiarkan lubang kecil di pintu yang dapat dilewati maling. Sekarang anda sudah menutup semua pintu-pintu untuk melakukan dosa besar yang dilarang Allah, tapi apa artinya kalau lubang kecil itu tetap ada? Apa maksud keberadaan sebuah pintu seperti itu? Lebih baik dibiarkan saja terbuka lebar untuk semua kebaikan yang akan masuk. Mungkin anda akan berkata: “Pintu itu tebal dan saya sudah menutup dan menguncinya dengan kuat, apalah arti sebuah lubang kecil, itu tidak masalah.”

Apa yang tidak masalah? Kalian bilang tidak masalah, tetapi lihat, maling dapat membuka pintu dengan memasukkan kawat melalui lubang tadi dan dia lari dengan mengambil semua hartamu! Maka, kalau seseorang membiarkan lubang seperti itu untuk masuk dan berkuasanya setan, maka ia akan mempertaruhkan kepercayaannya dan keimanannya dalam bahaya besar.

Maka saya berkata pada teman saya: Kamu telah meninggalkan begitu banyak larangan yang tidak disenangi Tuhan. Kamu telah mengunci semua pintunya, sekarang kamu harus berpikir apa yang bisa dilakukan soal lubang kecil dipintumu yang disebabkan rokok tersebut.

"Merokok adalah salah satu dosa yang paling berbahaya, sangat berbahaya dalam menghancurkan diri, jiwa dan raga, juga membuat kita lebih egois lewat merokok”.

Siapapun yang terlindungi dari merokok, secara umum, adalah bukti kegembiraan Allah swt terhadap mereka

“Awliya Allah memiliki cahaya karena mereka tidak merokok, Syaikh siapapun yang merokok, maka mereka bukan Wali Allah, meski dia memiliki keajaiban ia bukanlah seorang Wali, karena setan bermain kotor dengannya”.

“Siapapun merokok, maka dia seperti sedang menghisap penis setan. Dia akan menghisap kekotoran dan perilaku buruk para iblis dan setan. Sehingga bukan saja sholatnya tidak diterima, tetapi seluruh amalnya di dunia ini tidak diterima”.

Wa min Allah at Tawfiq

Kamis, 03 Maret 2016

Agar istri jadi penurut

Istri atau suami atau anak  anda sulit diatur, keras kepala suka marah" dan tidak kerasan dirumah ?

Saya kasih cara mujarab tur manjur.

Sering-seringlah mengecup keningnya saat dia tidur, lebih lebih pada malam jum'at, sambil membaca sholawat pada nabi dan ayat ( kul inkuntum tuhibbunallah fat tabi'uni yuhbib kumullah ). 3x.

Mogi bermanfaat. Yang bersedia monggo ditompo

Selasa, 01 Maret 2016

Rahasia bismillah

THE SECRET POWER OF THE ‘Bismillah’

All power is from Allah Almighty, and we must always ask for His support, because we are in need, we are weak ones. Allah Almighty ordered His Beloved Prophet Muhammad ﷺ to inform his Ummah that anything that is not begun with His Holy Name : “Bismilla hir Rahman ir Rahim”, will never be supported by Allah; it means it will never give fruit, and it must fail. If you say Allah’s Holy Name, you will take benefit from that action, and any harm that may be in it will leave you. Whoever is feeling weak should say it, and power will come to his physical body and to his heart.

The Bismillah is the most important key for opening all treasures in the Heavens and on earth, and for opening all forms of knowledge. Allah Almighty has put three thousand of His Holy Names in it: 1000 Names that are known only to the Angels, 1000 Names known by the Prophets, 999 Names contained in the 4 Holy Books, and His Greatest Name. All of these Names are contained in the Bismillah.

Whoever is able to reach to the secret power of the Bismillah should be dressed in miraculous powers. We, as servants of Allah, should say it at least 100 times daily. If a person continues for 40 days, he should find some power, some changes in himself, especially if he says it one thousand times between Fajr and sunrise. From unseen worlds, from Malakut beautiful views will appear to him. According to the thickness of the veils of his heart, from 1x 40 days, up to 7x 40 days, there should be an opening. If not, it means that his heart is too occupied with Dunya, and he should try to put Dunya last, and then try again. It is a rule which can’t be wrong. Even in one day it may be opened, because it is so powerful.

Every time you say: “Bismilla hir Rahman ir Rahim”, it means that you are remembering the Lord: “Oh My Lord, I am remembering You!” And then Allah says: “Oh My servant, I am remembering you!” Don’t forget! If you forget, you will be forgotten.

– Sultan ul-Awliya Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil al Haqqani ar Rabbani (qaddasAllahu sirrahul’aziz)

Selasa, 23 Februari 2016

Sodaqah memanjangkan umur

Kisah Anak Muda Yang Tidak Dicabut Nyawanya
Oleh Malaikat...

Posted by: Imam Muda

Kisah Anak Muda Yang Tidak Dicabut Nyawanya.
Oleh Sebuah kisah yang akan membuka mata kita
tentang kebesaran Allah Taala yang tiada tolak
bandingnya.

Hayati kisah ini dan sama-sama kita
mengambil pengajaran dari cerita ini.

Kematian adalah hak Allah Swt, tanpa mampu kita
menolaknya secara haqiqi apapun jika Allah
berkehendak, dan juga maju mundurnya
kematian adalah hak Allah Swt.

Tetapi, ada satu perkara yang mampu membuat
kematian di tunda oleh-Nya. Lalu bagaimana
caranya dan mengapa itu boleh terjadi?

Berikut ini
sebuah contoh kisah yang benar – benar terjadi
pada masa kenabian Ibrahim as.

Suatu hari, Malaikal Maut mendatangi Nabi Allah
Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang
tadi mendatangimu wahai Ibrahim?”
“Yang anak muda tadi maksudnya?” tanya
Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”
“Ada apa dia datang menemuimu?”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan
melangsungkan pernikahannya besok pagi.”
“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak
akan sampai besok pagi.” Habis berkata seperti
itu, Malaikal Maut pergi meninggalkan Nabi Allah
Ibrahim.
Hampir saja Nabi Allah Ibrahim tergerak untuk
memberitahu anak muda tersebut, untuk
menyegerakan pernikahannya malam iti juga
dan memberitahu tentang kematian anak muda itu
besok.

Tapi langkahnya terhenti. Nabi Allah
Ibrahim memilih ‘kematian’ tetap menjadi rahasia
Allah.
Esok paginya, Nabiyallah Ibrahim ternyata melihat
dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap
bisa melangsungkan pernikahannya.

Hari berganti
hari, minggu berganti minggu, bulan berganti
bulan, dan tahun berganti tahun, Nabiyallah
Ibrahim malah melihat anak muda ini panjang
umurnya.

Hingga usia anak muda ini 70 tahun, Nabiyallah
Ibrahim bertanya kepada Malaikal Maut, apakah
Kau berbohong tempo hari sewaktu menyampaikan
bahwa anak muda itu umurnya tidak akan sampai
besok pagi?

Malaikal Maut menjawab bahwa dirinya memang
akan mencabut nyawa anak muda tersebut, tapi
Allah menahannya.

“Apa gerangan yang membuat Allah menahan
tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda
tersebut, dulu?”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang
pernikahannya, anak muda tersebut
menyedekahkan separuh dari kekayaannya. Dan
ini yang membuat Allah memutuskan untuk
memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga
engkau masih melihatnya hidup.”

Kematian memang di tangan Allah. justru itu,
memajukan dan memundurkan kematian adalah
hak Allah. Dan Allah memberitahu lewat kalam
Rasul-Nya, Muhammad Shallahu `Alaih bahwa
sedekah itu bisa memanjangkan umur.

Jadi, bila
disebut bahwa ada sesuatu yang bisa menunda
kematian, itu adalah…sedekah.

Maka, tengoklah kanan – kiri anda, lihat – lihatlah
sekeliling anda. Bila anda menemukan ada satu –
dua kesusahan di depan mata anda.
Maka
sesungguhnya andalah yang perlu menghulurkan
pertolongan. Karena siapa tahu kesusahan itu
ditampakkan oleh Allah untuk memanjangkan umur
anda.
Apakah anda bersedia menolongnya atau
tidak. Bila bersedia, maka kemungkinan besar
memang Allah akan memanjangkan umur anda.

Lihatlah betapa mulia hati si pengemis ini. Kita
pula bagaimana?
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bila
ajalnya akan tiba. Dan, tidak seseorangpun yang
mengetahui dalam keadaan apa ajalnya tiba.
Maka
mengeluarkan sedekah bukan saja akan
memperpanjang umur, melainkan juga
memungkinkan kita meninggal dalam keadaan
baik.

Bukankah sedekah akan mengundang cintanya
Allah? Sedangkan kalau seseorang sudah dicintai
oleh Allah, maka tidak ada masalahnya yang tidak
diselesaikan, tidak ada keinginannya yang tidak
dikabulkan, tidak ada dosanya yang tidak
diampunkan, dan tidak ada nyawa yang dicabut
dalam keadaan husnul khatimah.

Mudah – mudahan Allah berkenan memanjangkan
umur, sehingga kita semua berkesempatan untuk
mengejar ampunan Allah dan mengubah segala
kelakuan kita, sambil mempersiapkan kematian
yang pasti datang.

Wallahualam.

Jihadnya seorang wanita sejati

JIHADNYA KAUM IBU SEJATI

Oleh:Ust. UMAR BIN SHOLEH AL HAMID.

Asma' binti Yazid al-Anshoriyah datang kepada Nabi Saw, yang sedang dikelilingi para Sahabat.
Ia berkata, "Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu ya Rasulullah.
Aku adalah utusan kaum wanita kepadamu.

Kami kaum wanita terbatas dan terkurung, duduk di dalam rumah dan mengandung anak-anakku.

Kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan Shalat Jum'at dan jama'ah, mengantarkan jenazah, dan melakukan haji demi haji.Lebih utama dari itu adalah Jihad Fisabilillah.

Bila seseorang dari kaum lelaki pergi haji atau umrah dan berjihad, maka kami kaum wanita yang memelihara hartanya.
Serta kami didik anak-anaknya.Maka ; Apakah kami mendapat kebaikan dan pahala seperti kamu (kaum lelaki).?"

Mendengar rentetan pertanyaan Asma' itu, Nabi Saw, merasa kagum dan gembira.Nabi Saw, lalu menoleh kepada para Sahabatnya dan menanyai mereka,
"Apakah kalian pernah mendengar pertanyaan seorang wanita yang lebih baik daripada pertanyaan wanita tadi tentang urusan agamanya.?

"Para Sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, kami tidak menyangka ada wanita bertanya seperti itu.

Kemudian Rasulullah Saw, menoleh kepada Asma' dan menjawab pertanyaan yang mengesankan itu ;

Ketahuilah wahai wanita, dan beritahukan kepada kaum wanita yang lain, bahwa ;Perlakuan wanita yang baik terhadap suaminya, dan pencarian ridhanya serta kepatuhan kepada keinginannya, adalah menyamai semua itu(shalat jum'at,jama'ah,mngantarkan jenazah dll)

"(HR. SHAHIH MUSLIM)

Kira kira masih ada gak yaah wanita zaman ini yang mau praktik seperti Asma' binti Yazid seperti di atas ??? Wkwkwk... :-D
Peace...

Berbakti lah pada ibu wahai suami..

Oleh : ust. Umar Bin Sholeh AlHamid

Datang seorng Pemuda menemui Rasulullah &
berkata : "Ya Rasulallah, Aku sudah
berkeluarga & bekerja, sebagian
penghasilanku untuk anak istriku & sbagian
lagi untuk Ibuku.
Smoga Alloh memberkatimu wahai Pemuda"
Jawab Rasul.

Tetapi yaa Rasul, blm habis bulan Ibuku sudah
minta lagi.
Apakah kau berikan wahai Pemuda..??
Tanya Rasul sampai 3x sambil memegang
Janggut pemuda tsbt.
Pemuda itu menunduk & terdiam..

Rasul bersabda: "Wahai Pemuda, kau tinggal
9 bulan di perutnya, antara hidup & mati ia
melahirkanmu, kalaupun boleh pilih ia atau
kamu yg hidup, pasti ia biarkan dirinya mati
demi kehidupanmu, kau hisap dadanya untuk
darah dagingmu, bahkan setetes air susunya
lebih berharga dari hidupmu.
Ketahuilah wahai Pemuda, KAU & SELURUH
HARTAMU MILIK IBUMU..
Tiada syurga tanpa Ridho sang ibu..

Jd wahai para istri2 yg sholehah janganlah
pernah engkau merasa kurang senang &
apalagi smpai menghalang2i suamimu ketika
dia memberikan sesuatu kepada ibunya,,

KARENA SUAMIMU & HARTANYA MASIH
MILIK IBUNYA MESKIPUN SUDAH MENIKAH
DENGANMU...

#Jangan_Halangi_suami kalian_untuk_berbakti_pada_ibunya..
Titik segede  kubah masjid istiqlal..hehe

Rabu, 17 Februari 2016

Memperkuat dzakar

Anda ejakulasi dini? Anda tidak tahan lama? Mungkin ini bisa jadi solusi. Ibnul Munkadir pernah berdoa:

اَللَّهُمَّ قَوِّ ذَكَرِي فَإِنَّهُ مَنْفَعَةٌ لِأَهْلِي..

"Ya Allah, kuatkan dzakarku karena sesungguhnya hal itu bermanfaat buat isteriku."

Doa itu dipanjatkan agar Allah menguatkan dzakar Ibnul Munkadir semata-mata untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami yang menjadi hak isterinya, bukan untuk mengumbar syahwatnya. Sebab, birahi perempuan itu ada pada laki-laki. Apabila dibiarkan, dikhawatirkan perempuan akan terjerumus ke dalam perzinahan.

(Faidhul Qadir lil Imam Aburrauf al-Munawi, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cet. ke-1, 1415 H/1994 M, juz, IV, h. 145 via NU-Online).

Selasa, 16 Februari 2016

Rahasia seruling identik dengan musik para sufi

Nada-nada yang dihasilkan oleh seruling selalu melankolis, sendu menyayat hati dan sulit hilang dari ingatan. Mengapa?
Seruling dibuat dengan cara memotong sebuah batang bambu lepas dari induknya, sang rumpun tanaman bambu. Sejak dipotong paksa dari induknya, potongan ukiran batang bambu yang menderita itu, yang kini disebut seruling, meratap dan menangis, menghasilkan suara sedih yang menggambarkan kerinduannya yang kuat untuk kembali ke tempat asalnya, untuk dipersatukan kembali dengan batang-batang rumpun bambu dari mana ia berasal.

Jiwa-Jiwa kita diciptakan di Surga, dan selama bertahun-tahun yang tidak bisa dibayangkan jumlahnya, Jiwa-jiwa kita ini hidup di Surga dalam kepatuhan total dan kebahagiaan mutlak di Alam Surgawi. Karena dibawa ke bumi di luar kehendak kita, dan di tempatkan dalam sebuah sangkar berupa jasmani yang egoistis dan hasrat-hasrat penuh dosa, Jiwa kita menangis dalam kesedihan yang teramat sangat karena perpisahan yang tak disangka-sangka, Jiwa kita mencari jalan kembali ke kampung halamannya, yaitu Surga.

Saat Maulana mendengarkan senandung seruling itu, Beliau teringat akan desahan kesedihan dari Jiwa-Jiwa, yang masing-masing mencari jalan pulang ke rumah. “Dengarkan apa yang tengah dituturkan bambu itu pada Anda,” Beliau berucap, “dengarkan keluhannya! Bambu itu tengah mengadukan perihal perpisahan dari rumpun tanaman induknya.”
Maulana mengakhiri dengan memuji sang penampil bahwa pertunjukan yang ditampilkannya ‘hidup’, sebuah penampilan yang bukan berasal dari pikiran, namun berasal dari hati! “Ia bermain seperti seorang master (ahli) sejati,” puji Maulana, “Saya merasa puas dan rileks mendengarkan permainannya. Dan Tuan Guru saya, GrandSyekh Abdullah, telah menegaskan hal ini.”

 1) Perpisahan dan Penyatuan Kembali


Sebagaimana bayi menangis saat dipisahkan dari kenyamanan rahim ibunya, perpisahan sebuah seruling bambu dari rumpun tanaman induknya adalah pengalaman yang menyakitkan dan menghancurkan hati. Serupa dengan hal itu, Kematian, yakni perpisahan Jiwa dari jasad ragawi, telah digambarkan sebagai suatu pengalaman yang luar biasa dahsyat menyakitkan, saat Jiwa mengucapkan selamat tinggal kepada jasad, sel demi sel.

Allah memperlihatkan melalui kehidupan keduniawian kita, perpisahan selalu teramat sangat menyakitkan, dan pertemuan kembali adalah ramuan obat yang paling manis.

Setiap kematian diratapi oleh orang-orang tercinta yang berkabung, sebagian orang bahkan tidak pernah mampu menerima perpisahan tersebut. Namun, dalam setiap perpisahan, terdapat harapan akan berjumpa kembali dan manisnya perjumpaan kembali itu kelak. Maulana berkata, bahkan sekedar ‘berpisah’ dari makanan saat berpuasa selama beberapa jam saja, membuat remah-remah makanan yang kita makan saat berbuka puasa terasa begitu lezat, begitu memuaskan.

Karena itu, ada perkataan Rasulullah Muhammad (saw), “Mencintai kampung halaman seseorang adalah tanda keimanan.”

Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak diciptakan di dunia ini. Kalian tidak diciptakan untuk dunia ini. Kalian tidak pernah merupakan bagian dari dunia ini. Dan kalian tidak akan pernah membawa bagian dari dunia ini pulang kembali bersama kalian. Dengarkan panggilan kerinduan dari dalam Jiwa kalian! Kalian datang dari sebuah tempat yang kekal, dan pasti akan kembali ke tempat yang kekal tersebut. Bagi mereka yang mencari, mereka pasti akan dipersatukan kembali dengan Tuhan Penguasa mereka, tidak akan pernah berpisah lagi, selamanya.

Keabadian, ucap Maulana, adalah kata yang paling indah, yang memberikan harapan yang sedemikian tinggi di tengah-tengah keputusasaan akan kehidupan yang fana (sementara) ini, yang memberikan kegembiraan yang sebegitu besar di tengah-tengah kesedihan dan penderitaan hidup ini, memberikan kesenangan yang sedemikian mendalam di tengah rasa sakit dan racun dunia ini. Keabadian.

Tanyalah sesiapapun yang pernah kehilangan orang tercinta yang amat dikasihinya, apa yang bersedia diberikannya untuk dapat bersama lagi meski hanya selama lima menit dengan orang yang telah meninggal tersebut – untuk memegang, membahagiakan, memeluk dan mencium orang terkasih tersebut, hanya sekali lagi saja, untuk berkasih sayang dengan seseorang yang sangat dirindukannya itu. Bagaimana jika ia ditawari untuk berkumpul kembali dengan orang tercinta yang telah mendahuluinya tersebut, selama satu tahun? Duhai, pastilah hatinya akan bernyanyi penuh sukacita, pastilah nada-nada yang muncul dari hatinya akan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.

Namun wahai orang-orang yang beriman, tidakkah kita menyadari bahwa kita telah ditawari untuk berkumpul kembali bersama dengan Allah, Tuhan kita Yang Tercinta, bukan hanya sekedar selama lima menit, atau hanya selama satu tahun, melainkan selama-lamanya! Untuk selama-lamanya, Dia akan mencurahkan Kasih dan Sayang-Nya kepada kita tanpa pernah berakhir, Jiwa-Jiwa kita tidak akan pernah lagi mengalami penderitaan perpisahan dari-Nya, tidak akan pernah lagi. Karena mengetahui hal inilah, Jiwa-Jiwa kita sekarang sedang memohon kepada kita, agar kita berusaha keras untuk menyambut reuni abadi tersebut, dan untuk mengambil harapan dan kekuatan dari kerinduan tersebut!

Namun, kita justru menutup dan menulikan telinga kita dari permohonan suara hati Jiwa-Jiwa kita yang tengah berduka ini, dan, mengabaikan keabadian yang menjelang dan sudah pasti kedatangannya tersebut, kita malah memilih perpisahan dari Dia – kita memilih dunia. Dan karena kita lebih memilih perpisahan, saat kita kembali kelak ke akhirat, di sana, kita akan merindukan dan mendambakan dunia ini, dan karena kita tidak akan pernah lagi kembali ke sini, maka kelak tibalah giliran kita untuk menangis, karena kita saat itu telah berpisah untuk selama-lamanya dari dunia yang kita cintai 

2) Pembimbing Sejati adalah Para Pemilik Hati


Di akhir video tersebut, Maulana berkomentar bahwa sang penampil memiliki tanda sebagai seorang Master (ahli), karena ia memainkan alat musik tersebut dari hatinya, dan bukan dari pikirannya, dan dalam hal itu, nada-nada musiknya ‘menembus’ hati Maulana, membawa relaksasi dan kepuasan. Maulana mengajarkan kepada kita bahwa para pembimbing keagamaan pada masa kini terdiri dari dua macam.

Jenis pertama adalah para pembimbing dari kalangan akademisi, yakni mereka yang berbicara dari pikiran, dari catatan-catatan yang dihafalkan dan diskusi-diskusi intelektual. Mereka sibuk mengumpulkan penghormatan dan gelar-gelar keduniawian, dan mereka adalah para pembicara yang cakap berbicara, yang seringkali mengutip dari penelitian-penelitian dan tesis mereka. Karena kata-kata mereka datang dari pikiran mereka, maka kata-kata tersebut hanya menjangkau pikiran para pendengar mereka, namun kosong dari cahaya, justru menjadi beban pikiran. Seorang murid akan mendapati dirinya dipenuhi informasi tersebut, namun tidak mampu memerangi setan yang menggoda dalam dirinya.

Maulana berkata bahwa jenis Guru semacam ini percaya bahwa agar dapat mengajarkan sebuah topik/pokok bahasan, orang harus membaca buku mengenai topik atau pokok bahasan tersebut terlebih dahulu. Mereka menyamakan menghafal atau membaca banyak buku sebagai pengertian dari seorang aliim (orang yang berilmu atau ulama). Kata-kata yang masuk dalam pikiran seorang murid tidak dapat membawa kepuasan, karena hanya saat pengetahuan masuk ke hati seorang murid barulah ia dapat memperoleh kepuasan.

Jenis Guru yang ke-dua berbicara dari dari hati yang telah tercerahkan dan bercahaya, dari butir-butir mutiara hikmah kebijaksanaan dan dari intan permata kepemahaman sejati. Pengetahuan mereka adalah pengetahuan citarasa, karena tidak seorang pun akan dapat menjumpai mutiara ataupun permata tanpa menapaki perjalananan yang sulit untuk mendapatkannya. Guru yang terberkati semacam itu berbicara kepada hati Anda, dan pendengarnya merasa bebannya terringankan dan jiwanya tersegarkan setelah duduk dalam lingkaran mereka.

Anda selalu bisa membedakan keduanya! Maulana berkata, perbedaannya seperti perbedaan antara langit dengan bumi! Sudah barang tentu kita dapat membedakan buah yang terbuat dari plastik dari buah yang asli. Yang satu adalah jenis penuturan (dengan ego) yang ditujukan kepada pikiran Anda, yang menggelapkan dan memancarkan kegelapan dan membebani Anda, sedangkan yang satunya lagi adalah jenis penuturan (dari cahaya hati) yang ditujukan kepada hati Anda, mengangkat beban dan membuat Anda rileks, yang menuju pada kepuasan Jiwa. Maka carilah Master (Guru) sejati, seseorang yang berbicara dari hatinya kepada hati Anda, karena, dari hati ke hati, terdapat hubungan.

Maulana memperingatkan para murid agar berhati-hati, karena tidak seperti halnya memuntahkan makanan yang tercemar jika Anda tidak sengaja memakannya, kita tidak dapat melepaskan diri dari ajaran-ajaran yang sudah tercemar (dari para Ulama jenis pertama) dengan begitu mudah. Ajaran tersebut dapat terus tertinggal dalam diri Anda, dan meracuni Anda, hingga ke akhir hayat Anda. GrandSyekh berkata, oleh karena alasan tersebut, kita harus berhati-hati agar tidak duduk bersama dengan orang-orang yang menyangkal Toriqoh dan para Mursyid, karena bila kita melakukannya, kita harus bersiap membawa beban berat kegelapan dan hidup bersama hati yang terluka selama satu tahun!

 


Ringkasan ini dipersembahkan untuk mengenang Saudari Maryam Fatima yang kita sayangi, puteri Syekh Muhammad Baba Isytiyaque (perwakilan Maulana untuk wilayah Uni Emirat Arab), yang wafat beberapa jam sebelum Ringkasan ini diposting. Almarhumah adalah inspirasi di balik Ringkasan ini, karena sementara Almarhumah kini merasakan manisnya berkumpul kembali, kita yang ditinggalkan merasakan sedihnya perpisahan. Semoga Allah merahmati Jiwanya selama-lamanya, dan semoga orang-orang yang dicintainya dikaruniai ketenangan abadi aatas dukacita yang telah mereka tanggungkan dengan penuh kesabaran. Amiin. Al Fatihah.


 


Suhbah sepanjang 10 menit dalam bahasa Inggris ini dapat dilihat di www.Saltanat.org, Sila tekan di sini untuk menonton Suhbah ini. Saltanat TV adalah Situs Resmi Maulana SyekhNazim yang ditetapkan dan disetujui oleh Beliau secara langsung.

Senin, 01 Februari 2016

Amalan untuk berkumpul di majlis para Nabi dan Awliya

Bagi yang ingin Berkumpul di majlis  Para Nabi dan Awliya Allah silakan di amalkan

Sulthan Maulana Syaikh Naziem

Ucapkan salam  dengan cara yang sama setiap pagi. Sebelum tidur membaca 3x surat al Ikhlas, Qul Huwa Allahu(ila akhirihi). "Ya Tuhan ku ucapkan Salam " "ku hadiahkan 3 surat al ikhlas ini untuk semua awliya dan nabi yang beristirahat di kerajaan(wilayah)Mu dari Timur ke Barat, ku sambut semua dari mereka dan sekarang untuk mereka 3 surat al Ikhlas(ini). Semoga Engkau  menerangi hatiku dengan cahaya mereka, terangi/sinari hatiku dengan cahaya mereka ya Tuhan. "

(Lalu syaikh naziem melanjutkan)Jika bisa kalian mintalah juga (pada Allah): "Semoga Engkau  kirimkan kepadaku himmat/dukungan mereka, semoga Engkau meramaikan(mengumpulkan)aku(bersama mereka), ya Tuhan",

Jika kalian istiqamahkan ini selama 40 malam, kalian akan dipanggil di majelis para nabi '. Kalian dapat mengunjungi majelis awliya dalam mimpi kalian, setidaknya Berkah akan  turun dgan menyebut nama nama mereka.

Minggu, 31 Januari 2016

Bismillaah

Basmalah 5

Daftar Para Wali Kediri

DAFTAR NAMA PARA WALI KEDIRI

1.      Syaikh Abdul Qodir al-Khairi (Tambak Ngadi Kediri)
2.      Syaikh Abdullah Sholeh (Tambak Ngadi Kediri)
3.      Syaikh Muhammad Hirman (Tambak Ngadi Kediri)
4.      Syaikh Hamim Jazuli (Tambak Ngadi Kediri)
5.      Mbah Kyai Anis Ibrahim (Tambak ngadi Kediri)
6.      Mbah Kyai Ahmad Shiddiq (Tambak Ngadi Kediri)
7.      Syaikh Utsman (Temayan Kediri)
8.      Al-Habib Muhammad bin Thohir Ba’abud (Pelem Ploso Kediri)
9.      Mbah Kyai Jazuli Utsman (Ploso Kediri)
10.  Kyai Munif Jazuli (Ploso Kediri)
11.  Mbah Kyai Jamaludin (Bathokan Kediri)
12.  Mbah Kyai Fadhil (Bathokan Kediri)
13.  Mbah Kyai Jauhari (Bathokan Kediri)
14.  Mbah Kyai Anwar, (Pethuk Kediri)
15.  Mbah Kyai Abdul Karim (Lirboyo Kediri)
16.  Mbah Kyai Marzuki (Lirboyo Kediri)
17.  Mbah Kyai Makhrus ‘Ali (Lirboyo Kediri)
18.  Mbah Kyai Ma’ruf (Kedunglo Kediri)
19.  Mbah Kyai Jalil Salafiyah (Bandar Kidul Kediri)
20.  Mbah Kyai Thoha al-Ishlah (Bandar Kidul Kediri)
21.  Mbah Kyai Abdullah Mu’thi al-Hafidz al-Quran (Mojokudi Kediri)
22.  Mbah Kyai Hasan Mubarak (Mojokudi Kediri)
23.  Mbah Kyai Abu Khair (Mojokudi Kediri)
24.  Mbah Kyai Ridwan Isra'il (Gunting Kediri)
25.  Mbah Kyai Ma’ruf al-Hafidz al-Quran (Klodran Kediri)
26.  Mbah Kyai Ridwan Abdul Razaq al-Hafidz al-Quran (Klodran Kediri)
27.  Mbah Kyai Ihsan Bajuri (Mberan Kediri)
28.  Mbah Kyai Imam Yahya (Ngampel Kediri)
29.  Mbah Kyai Mubasyir Mundzir (Ma’unahsari Kediri)
30.  Syaikh Sholeh (Banjar Melati Kediri)
31.  Mbah Kyai Anbiya
32.  Mbah Kyai Ali Maklum
33.  Mbah Kyai Zainal Abidin
34.  Mbah Kyai Syafi’i
35.  Mbah Kyai Abror
36.  Mbah Kyai Muhammad
37.  Mbah Kyai Ya’qub
38.  Mbah Kyai Ibrohim
39.  Mbah Kyai Abdul Hayyi (Banjar Melati Kediri)
40.  Syaikh Hasan Besari (Kauman Kediri)
41.  Syaikh Syamsuddin Mbah Washil (Sentono Gedong Kediri)
42.  Syaikh Abdullah Mursyad (Sentono Landeyan Kediri)
43.  Syaikh Ihsan Jampes (Mutih Kediri)
44.  Mbah Kyai Dahlan (Mutih Kediri)
45.  Mbah Kyai Mishbah (Mojoroto Kediri)
46.  Mbah Kyai Hasan Munshorif (Adan adan Kediri)
47.  Kyai Kyai Zamroji (Kencong Kediri)
48.  Mbah Kyai Faqih (Sumbersari Kediri)
49.  Mbah Kyai Asmuni (Pethuk Kediri)
50.  Mbah Kyai Abubakar (Pethuk Kediri)
51.  Mbah Kyai Imam Nawawi (Pethuk Kediri)
52.  Mbah Kyai Nur Wahid (Plongko Pare Kediri)
53.  Syaikh Syaifullah (Menang Pagu Kediri)
54.  Mbah Kyai Abdullah (Pagu Wates kediri)
55.  Mbah Kiai M. Shadiq (Kapurejo Pagu Kediri)
56.  Mbah Kyai Said boponya Gus Lik Jamsaren (Jamsaren Kediri)
57.  Mbah Kyai Jamak Sari (Jamsaren Kediri)
58.  Mbah Kyai Ahmad Sa’i (Sagi Plosoklaten Kediri)
59.  Mbah Kyai Majid Mbadal Abdurrahim
60.  Mbah Kyai Abubakar
61.  Mbah Kyai Asy’ari
62.  Mbah Kyai Imam Nawawi (Ringinagung Kediri)
63.  Mbah Kyai Abu Hamid (Cangkring Kediri)
64.  Mbah Kyai Jufri Mursyid Thariqah (Jemekan Kediri)
65.  Mbah Kyai Basthomi Umar Sufyan Mursyid Thariqah (Pondok Baran Mojo Kediri)
66.  Mbah Syeikh Zainal Abidin (Ds. Toyoresmi Kediri)

Al Faatihah...

http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2013/07/daftar-nama-para-wali-kediri_5870.html?m=1

Sabtu, 30 Januari 2016

Kisah sejarah NU

INGAT PESAN GUS DUR....
KH.As’ad Syamsul Arifin adalah pelaku sejarah berdirinya NU, beliaulah yang menjadi media penghubung dari KH. Kholil Bangkalan yang memberi isyarat agar KH. Hasyim Asyari mendirikan Jam’iyah Ulama yang akhirnya bernama Nahdlatul Ulama. Pidato ini awalnya berbahasa Madura dan berikut adalah translit selengkapnya.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Yang akan saya sampaikan pada Anda tidak bersifat nasehat atau pengarahan, tapi saya mau bercerita kepada Anda semua. ANDA suka mendengarkan cerita? (Hadirin menjawab: Ya).

Kalau suka saya mau bercerita. Begini saudara-saudara. Tentunya yang hadir ini kebanyakan warga NU, ya? Ya? (Hadirin menjawab: Ya).

Kalau ada selain warga NU tidak apa-apa ikut mendengarkan. Cuma yang saya sampaikan ini tentang NU,Nahdlatul Ulama. Karena saya ini orang NU, tidak boleh berubah-ubah, sudah NU. Jadi saya mau bercerita kepada anda mengapa ada NU?

Tentunya muballigh-muballigh yang lain menceritakan isinya kitab. Kalau saya tidak. Sekarang saya ingin bercerita tentang kenapa ada NU di Indonesia, apa sebabnya? Tolong didengarkan ya, terutama para pengurus, Pengurus Cabang, MWC, Ranting, kenapa ada NU di Indonesia.

Begini, umat Islam di Indonesia ini mulai kira-kira 700 tahun dari sekarang, kurang lebih, para auliya', pelopor-pelopor Rasulullah Saw. ini yang masuk ke Indonesia membawa syariat Islam menurut aliran salah satu empat madzhab, yang empat. Jadi, ulama, para auliya', para pelopor Rasulullah Saw. masuk ke Indonesia pertama kali yang dibawa adalah Islam. Menurut orang sekarang Islam Ahlussunah wal Jama’ah, syariat Islam dari Rasulullah Saw. yang beraliran salah satu empat madzhab khususnya madzhab Syafi'i. Ini yang terbesar yang ada di Indonesia.

Madzhab-madzhab yang lain juga ada. Ini termasuk Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Termasuk yang dibawa Walisongo, yang dibawa Sunan Ampel, termasuk Raden Asmoro ayahanda Sunan Ampel, termasuk Sunan Kalijogo, termasuk Sunan Gunung Jati. Semua ini adalah ulama-ulama pelopor yang masuk ke Indonesia, yang membawa syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah.

Kira-kira tahun 1920, waktu saya ada di Bangkalan (Madura), di pondok Kyai Kholil. Kira-kira tahun 1920, Kyai Muntaha Jengkebuan menantu Kyai Kholil, mengundang tamu para ulama dari seluruh Indonesia. Secara bersamaan tidak dengan berjanji datang bersama, sejumlah sekitar 66 ulama dari seluruh Indonesia.

Masing-masing ulama melaporkan: “Bagaimana Kyai Muntaha, tolong sampaikan kepada Kyai Kholil, saya tidak berani menyampaikannya. ini semua sudah berniat untuk sowan kepada Hadhratus Syaikh. Ini tidak ada yang berani kalau bukan Anda yang menyampaikannya.”

Kyai Muntaha berkata: “Apa keperluannya?”

“Begini, sekarang ini mulai ada kelompok-kelompok yang sangat tidak senang dengan ulama Salaf, tidak senang dengan kitab-kitab ulama Salaf. Yang diikuti hanya al-Quran dan Hadits saja. Yang lain tidak perlu diikuti. Bagaimana pendapat pelopor-pelopor Walisongo karena ini yang sudah berjalan di Indonesia. Sebab rupanya kelompok ini melalui kekuasaan pemerintah Jajahan, Hindia Belanda. Tolong disampaikan pada Kyai Kholil.”

Sebelum para tamu sampai ke kediaman Kyai Kholil dan masih berada di Jengkuban, Kyai Kholil menyuruh Kyai Nasib: “Nasib, ke sini! Bilang kepada Muntaha, di al-Quran sudah ada, sudah cukup:

(يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ ﴿٣٢

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. at-Taubat ayat 32)

Jadi kalau sudah dikehendaki oleh Allah Ta'ala, maka kehendakNya yang akan terjadi, tidak akan gagal. Bilang ya kepada Muntaha.”

Jadi para tamu belum sowan sudah dijawab oleh Kyai (Kholil). Ini karomah saudara, belum datang sudah dijawab keperluannya. Jadi para ulama tidak menyampaikan apa-apa, Cuma bersalaman. “Saya puas sekarang” kata Kyai Muntaha. Jadi saya belum sowan, sudah dijawab hajat saya ini.

Tahun 1921-1922 ada musyawarah di Kawatan (Surabaya) di rumah Kyai Mas Alwi. Ulama-ulama berkumpul sebanyak 46, bukan 66. Tapi hanya seluruh Jawa, bermusyawarah termasuk Abah saya (KH. Syamsul Arifin), termasuk Kyai Sidogiri, termasuk Kyai Hasan almarhum, Genggong, membahas masalah ini.

Seperti apa, seperti apa? Dari Barat Kyai Asnawi Qudus, Ulama-ulama Jombang semua, Kyai Thohir. para Kyai berkata: “Tidak ada jadinya, tidak ada kesimpulan.” Sampai tahun 1923, kata Kyai satu: “Mendirikan Jamiyah (organisasi)”, kata yang lain: “Syarikat Islam ini saja diperkuat.” Kata yang lain: “Organisasi yang sudah ada saja.”

Belum ada NU. (Sementara) yang lain sudah merajalela. Tabarruk-tabarruk sudah tidak boleh. Orang minta berkah ke Ampel sudah tidak boleh. Minta syafaat ke nenek moyang sudah tidak boleh. Ini sudah tidak dikehendaki. Sudah ditolak semua oleh kelompok-kelompok tadi. Seperti apa bawaan ini.

Kemudian ada satu ulama yang matur (menghadap) sama Kyai: “Kyai, saya menemukan satu sejarah tulisan Sunan Ampel. Beliau menulis seperti ini (Kyai As'ad berkata: “Kalau tidak salah ini kertas tebal. Saya masih kanak-kanak. Belum dewasa hanya mendengarkan saja”): “Waktu saya (Sunan Ampel Raden Rahmatullah) mengaji ke paman saya di Madinah, saya pernah pernah bermimpi bertemu Rasulullah, seraya berkata kepada saya (Raden Rahmat): “Islam Ahlussunah wal Jama’ah ini bawa hijrah ke Indonesia. Karena di tempat kelahirannya ini sudah tidak mampu melaksanakan Syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Bawa ke Indonesia.”

Jadi di Arab sudah tidak mampu melaksanakan syariat Islam Ahlussunah wal Jama’ah. Pada zaman Maulana Ahmad, belum ada istilah Wahabi, belum ada istilah apa-apa. Ulama-ulama Indonesia ditugasi melakukan wasiat ini.

Kesimpulannya mari Istikharah. Jadi ulama berempat ini melakukannya. Ada yang ke Sunan Ampel. Ada yang ke Sunan Giri. Dan ke sunan-sunan yang lain. Paling tidak 40 hari. Ada 4 orang yang ditugasi ke Madinah.

Akhirnya, tahun 1923 semua berkumpul, sama-sama melaporkan. Hasil laporan ini tidak tahu siapa yang memegang. Apa Kyai Wahab, apa Kyai Bisri. Insya Allah ada laporan lengkapnya. Dulu saya pernah minta sama Gus Abdurrahman dan Gus Yusuf supaya dicari.

Sesudah tidak menemukan kesimpulan, tahun 1924, Kyai (Kholil) memanggil saya. Ya saya ini. Saya tidak bercerita orang lain. Saya sendiri. Saya dipanggil: “As'ad, ke sini kamu!”

Asalnya saya ini mengaji di pagi hari, dimarahi oleh kyai, karena saya tidak bisa mengucapkan huruf Ra'. Saya ini pelat (cadal). “Arrahman Arrahim…”

Kyai marah: “Bagaimana kamu membaca al-Quran kok seperti ini? Disengaja apa tidak?!”

“Saya tidak sengaja Kyai. Saya ini pelat.”

Kyai kemudian keluar (Kyai Kholil melakukan sesuatu). Kemudian esok harinya pelat saya ini hilang. Ini salah satu kekeramatan Kyai yang diberikan kepada saya.

Kedua, saya dipanggil lagi: “Mana yang cedal itu? Sudah sembuh cedalnya?”

“Sudah Kyai.”

“Ke sini. Besok kamu pergi ke Hasyim Asy’ari Jombang. Tahu rumahnya?”

“Tahu.”

“Kok tahu? Pernah mondok di sana?”

“Tidak. Pernah sowan.”

“Tongkat ini antarkan, berikan pada Hasyim. Ini tongkat kasihkan.”

“Ya, kyai.”

“Kamu punya uang?”

“Tidak punya, kyai.”

“Ini.”

Saya diberikan uang Ringgit, uang perak yang bulat. Saya letakkan di kantong. Tidak saya pakai. Sampai sekarang masih ada. Tidak beranak, tapi berbuah (berkah). Beranaknya tidak ada. Kalau buahnya banyak. Saya simpan. Ini berkah. Ini buahnya.

Setelah keesokan harinya saya mau berangkat, saya dipanggil lagi: “Ke sini kamu! Ada ongkosnya?”

“Ada kyai.”

“Tidak makan kamu? Tidak merokok kamu? Kamu kan suka merokok?”

Saya dikasih lagi 1 Ringgit bulat. Saya simpan lagi. Saya sudah punya 5 Rupiah. Uang ini tidak saya apa-apakan. Masih ada sampai sekarang. Kyai keluar: “Ini (tongkat) kasihkan ya, (Kyai Kholil membaca QS. Thaha ayat 17-21):

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

Karena saya ini namanya masih muda. Masih gagah. Sekarang saja sudah keriput. Gagah pakai tongkat dilihat terus sama orang-orang. Kata orang Arab Ampel: “Orang ini gila. Muda pegang tongkat.”

Ada yang lain bilang: “Ini wali.”

Wah macam-macam perkataan orang. Ada yang bilang gila, ada yang bilang wali. Saya tidak mau tahu, saya hanya disuruh Kyai. Wali atau tidak, gila atau tidak terserah kamu.

Saya terus berjalan. Saya terus diolok-olok, gila. Karena masih muda pakai tongkat. Jadi perkataan orang tidak bisa diikuti. Rusak semua, yang menghina terlalu parah. Yang memuji juga keterlaluan. Wali itu, kok tahu? Jadi ini ujian. Saya diuji oleh Kyai. Saya terus jalan.

Sampai di Tebuireng, (Kyai Hasyim bertanya): “Siapa ini?”

“Saya, Kyai.”

“Anak mana?”

“Dari Madura, Kyai.”

“Siapa namanya?”

“As'ad.”

“Anaknya siapa?”

“Anaknya Maimunah dan Syamsul Arifin.”

“Anaknya Maimunah kamu?”

“Ya, Kyai”

“Keponakanku kamu, Nak. Ada apa?”

“Begini Kyai, saya disuruh Kyai (Kholil) untuk mengantar tongkat.”

“Tongkat apa?”

“Ini, Kyai.”

“Sebentar, sebentar…”

Ini orang yang sadar. Kyai ini pintar. Sadar, hadziq (cerdas). “Bagaimana ceritanya?”

Tongkat ini tidak langsung diambil. Tapi ditanya dulu mengapa saya diberi tongkat. Saya menyampaikan ayat:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى ﴿١٧﴾ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى ﴿١٨﴾ قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى ﴿١٩﴾ فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى ﴿٢٠﴾ قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَى ﴿٢١

“Apakah itu yang di tangan kananmu hai Musa? Berkata Musa: “Ini adalah tongkatku, aku berpegangan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” Allah berfirman: “Lemparkanlah ia, hai Musa!” Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”

"Alhamdulillah, Nak. Saya ingin mendirikan Jam’iyah Ulama. Saya teruskan kalau begini. Tongkat ini tongkat Nabi Musa yang diberikan Kyai Kholil kepada saya.”

Inilah rencana mendirikan Jam’iyah Ulama. Belum adaNahdlatul Ulama. Apa katanya? Saya belum pernah mendengar kabar berdirinya Jam’iyah Ulama. Saya tidak mengerti.

Setelah itu saya mau pulang. “Mau pulang kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Cukup uang sakunya?”

“Cukup, Kyai.”

“Saya cukup didoakan saja, Kyai.”

“Ya, mari. Haturkan sama Kyai, bahwa rencana saya untuk mendirikan Jam’iyah Ulama akan diteruskan.”

Inilah asalnya Jam’iyatul Ulama.

Tahun 1924 akhir, saya dipanggil lagi oleh Kyai Kholil: “As'ad, ke sini! Kamu tidak lupa rumahnya Hasyim?”

“Tidak, Kyai.”

“Hasyim Asy'ari?”

“Ya, Kyai.”

“Di mana rumahnya.”

“Tebuireng.”

“Dari mana asalnya?”

“Dari Keras (Jombang). Putranya Kyai Asy’ari Keras.”

“Ya, benar. Di mana Keras?”

“Di baratnya Seblak.”

“Ya, kok tahu kamu?”

“Ya, Kyai.”

“Ini tasbih antarkan.”

“Ya, Kyai.”

Kemudian diberi uang 1 Ringgit dan rokok. Saya kumpulkan. Semuanya menjadi 3 Ringgit dengan yang dulu. Tidak ada yang saya pakai. Saya ingin tahu buahnya.

Terus, pagi hari Kyai keluar dari Langgar: “Ke sini, makan dulu!”

“Tidak, Kyai. Sudah minum wedang dan jajan,”

“Dari mana kamu dapat?”

“Saya beli di jalan, Kyai”

“Jangan membeli di jalan! Jangan makan di jalan! Santri kok makan di jalan?”

“Ya, Kyai.”

Saya makan di jalan dimarahami. Santri kok menjual harga dirinya? Akhirnya saya ditanya: “Cukup itu?”

“Cukup, Kyai.”

“Tidak!”

Diberi lagi oleh Kyai. Dikasih lagi 1 Ringgit. Saya simpan lagi. Kemudian tasbih itu dipegang ujungnya: “Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.” Jadi Ya Jabbar 1 kali putaran tasbih. Ya Qahhar 1 kali putaran tasbih. Saya disuruh dzikir.

“Ini.”

Disuruh ambil. Saya tengadahkan leher saya. “Kok leher?”

“Ya, Kyai. Tolong diletakkan di leher saya supaya tidak terjatuh.”

“Ya, kalau begitu.”

Jadi saya berkalung tasbih. Masih muda berkalung tasbih. Saya berjalan lagi, bertemu kembali dengan yang membicarakan saya dulu: “Ini orang yang megang tongkat itu? Wah.. Hadza majnun.” Ada yang bilang "wali", ya seperti tadi. Jadi saya tidak menjawab. Saya tidak bicara kalau belum bertemu Kyai. Saya berpuasa. Saya tidak bicara, tidak makan, tidak merokok, karena amanatnya Kyai. Saya tidak berani berbuat apa-apa. Sebagaimana kepada Rasulullah, ini kepada guru. Saya tidak berani. Saya berpuasa. Saya tidak makan, tidak minum tidak merokok. Tidak terpakai uang saya.

Ada yang narik: “Karcis! karcis!”

Saya tidak ditanya. Saya pikir ini karena tasbih dan tongkat. Saya pura-pura tidur karena tidak punya karcis. Jadi selama perjalanan 2 kali saya tidak pernah membeli karcis. Mungkin karena tidak melihat saya. Ini sudah jelas keramatnya Kyai. Jadi Auliya' itu punya karomah. Saya semakin yakin dengan karomah. Saya semakin yakin.

Saya lalu sampai di Tebuireng, Kyai (Hasyim) tanya: “Apa itu?”

“Saya mengantarkan tasbih.”

“Masya Allah, Masya Allah. Saya diperhatikan betul oleh guru saya. Mana tasbihnya?”

“Ini, Kyai.” (dengan menjulurkan leher).

“Lho?”

“Ini, Kyai. Tasbih ini dikalungkan oleh Kyai ke leher saya, sampai sekarang saya tidak memegangnya. Saya takut su'ul adab (tidak sopan) kepada guru. Sebab tasbih ini untuk Anda. Saya tidak akan berbuat apa-apa terhadap barang milik Anda.”

Kemudian diambil oleh Kyai: “Apa kata Kyai?”

“Ya Jabbar, Ya Jabbar, Ya Jabbar. Ya Qahhar, Ya Qahhar, Ya Qahhar.”

“Siapa yang berani pada NU akan hancur. Siapa yang berani pada ulama akan hancur.” Ini dawuhnya.

Pada tahun 1925, Kyai Kholil wafat tanggal 29 Ramadhan. Banyak orang berserakan. Akhirnya pada tahun 1926 bulan Rajab diresmikan Jam’iyatul Ulama. Ini sudah dibuat, organisasi sudah disusun. Termasuk yang menyusun adalah Kyai Dahlan dari Nganjuk, yang membuat anggaran dasar. Kemudian para ulama sidang lagi untuk mengutus kepada Gubernur Jenderal.

Senin, 25 Januari 2016

Meninggalkan rokok kata mbah Maimun Zubair

Dawuh guru Kami (KH. Maimoen Zubair): kowe mandek rokok luweh apik timbang sholat sunnah nanging sek rokok an..
"kamu berhenti merokok lebih baik daripada istiqomah sholat sunnah tapi masih merokok".
seperti maqolah seorang kiyai pekalongan:
لا خيرَ خيرٌ لا يدوم، ولا شرّ شرُّ لا يدوم. والشر لايدوم  خيرٌ من خير لايدوم.
"tak ada kebaikan dalam kebaikan yg tidak continue, dan tdak bisa dikatakan buruk dalam keburukan yg tidak continue. keburukan yg tdak continue, lebih baik drpd kebaikan yg tidak continue.

Suatu ketika KH. Abdul Hamid ingin sowan kepada Habib Jakfar bin Syaikhon As seggaf pasuruan yg menjadi guru beliau. tetapi mbah Hamid menunggu lama sekali dan tidak kunjung di temui. kemudian Habib Jakfar berkata kpd slah satu khodimnya" aku tdak mau menemui karena bau rokok". akhirnya mbah Hamid seketika menuju masjid dan ber iqrar dihadapan Alloh untuk meninggalkan rokok seketika itu. stlah itu beliau kmbali menuju ndalem sang Habib, tak sampai didepan pintu, mbah Hamid sudah di "papak" didepan pintu rumah Habib Jakfar. sjak itu mbah Hamid brhenti merokok. hingga beliau menjadi Waliyyulloh dan mendapat derajat yg tinggi di sisi Alloh SWT.

والله أعلم بالصواب.(انتهى بتصرف).

Selasa, 19 Januari 2016

Nama nama Benda Rasulullah

Menurut riwayat, Rasulullah
memberi nama pada benda-
benda dan hewan piaraannya.
kuda beliau diberi nama Luhaif
atau si Peringkik, mungkin
karena suka meringkik. Salah
satu keledainya diberi nama Ufair
atau si Cemerlang. Untanya diberi
nama Adhba atau si Lincah.
Demikian pula lima bilah pedang,
tujuh baju zirah, tikar, gelas,
tongkat dan beberapa barang
yang pernah beliau miliki, diberi
nama yang indah-indah.
Berikut ini beberapa nama dari
benda-benda koleksi Rasulullah :

1. Nama gelasnya adalah ar-
RayyanNama mangkoknya adalah
al-Gharra’
2. Nama tekonya adalah as-Shadir
3. Nama tikarnya adalah al-Kazz
4. Nama guntingnya adalah al-Jami‘
5. Nama cerminnya adalah al-
Mudillah
6. Nama tongkatnya adalah al-
Mamsyuq
7. Nama tongkatnya yang ujungnya
besi adalah an-Namir
8. Nama kudanya yang berwarna
hitam adalah as-Sakb
9. Nama kudanya yang berambut
pirang adalah al-Murtajiz
10. Nama kudanya yang lain adalah
al-Lahif, az-Zharb, dan al-Lizaz
11. Nama pelana-kudanya adalah
adalah ar-Rajj
12. Nama unta (betina)-nya adalah
al-Qashwa atau disebut pula al-
Adhba’
13. Nama baghal-nya adalah Duldul
14. Nama keledainya adalah Ya‘fur
15. Nama kambing yang sering
diminum susunya adalah
Ghaytsah
16. Nama kemahnya adalah al-Kinn
17. Nama bendera yang dipakai
untuk berperang adalah al-Uqab.
Kadangkala beliau menggunakan
bendera berwarna hitam,
kuning, atau putih yang di
dalamnya ada garis-garis hitam.
18. Nama pedang yang sering
dipakai berperang adalah Dzul
Fiqar. Gagangnya, alasnya, dan
anting-pedang Dzul Fiqar dihias
dengan perak. Selain Dzul Fiqar,
beliau juga punya pedang-
pedang lainnya.
19. Nama tabung panahnya adalah
al-Kafur atau Dzul Jum‘
20. Nama busur panahnya adalah
Dzus Sadad
21. Nama perisainya adalah al-Dzafn
22. Nama baju perangnya yang
dilapisi tembaga adalah Dzat al-
Fudhul
23. Nama tembok (benteng
pertahanan)-nya adalah an-
Nab’a’
24. Nama budak perempuannya
adalah Khadhirah.
Dari Sahl r.a. : Nabi s.a.w
mempunyai seekor kuda di
kebun kami, namanya Luhaif
Dari Anas r.a.: Nabi s.a.w
mempunyai seekor unta yang
bernama Adhba yang lincah
larinya
(sumber: - Wasa’il al-Wushul ila
Syama’il al-Rasul (Dar el-Minhaj,
Beirut, 2009), Kumpulan Hadist
Bukhari

* Sandal jepit yang saya pakai ke kamar mandi, saya kasih nama JONRU !

Jumat, 15 Januari 2016

Sunan Ampel, Pengarang Tulisan Pegon Dan Pemurni Aqidah Jawa.

Banyak yang tidak mengetahui bahwa yang pertama kali menciptakan huruf pegon atau tulisan arab berbunyi bahasa Jawa adalah Sunan Ampel.

Dengan huruf pegon ini beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap di pakai sebagai bahan pelajaran agama Islam dikalangan pesantren.

Sikap Sunan Ampel terhadap adat istiadat lama sangat hati-hati, hal ini didukung pleh Sunan Giri dan Sunan Drajad. Seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para wali di mesjid Agung Demak.

Pada waktu itu Sunan Kalijaga Mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa (ruh) keislaman.

Mendengar pendapat Sunan Kalijaga tersebut bertanyalah Sunan Ampel. “Apakah tidak mengkhawatirkan dikemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam, jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?”

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada ajaran Tauhid kita akan memberinya warna Islami.

Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekhawatiran kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa dibelakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah.

Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang jawa, dan hal ini terbukti, dikarekan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolerir Islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga membuat umat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih.

Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelamatkan aqidah umat agar tidak tergelincir kelembah kemusyrikan.
Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, beliau dimakamkan di sebelah Barat Mesjid Ampel.

Senin, 11 Januari 2016

Istimewanya Utusan Allah

Para nabi adalah orang yang diistimewakan Allah, bahkan dalam hal heroitas coitus (kekuatan berjimak).

1. Nabi kita Muhammad Saw. beristrikan 11 orang, dan beliau mampu menggilir mereka dalam satu waktu. “Apa kuat?” tanya seorang sahabat. Anas Ra. menjawab: “Bahkan bandingannya dengan lelaki perkasa adalah 1:30” Riwayat lain 1:40, 1:45, dan 1:70.

2. Nabi Sulaiman beristri 300 orang, dan istri selirnya 700 orang. Beliau dalam semalam mampu menggilir 90 sampai 100 istri. Bahkan riwayat Ibn Asakir mengatakan semalam Nabi Sulaiman mampu menggilir 1000 (semua) istrinya.

Sabda Nabi Saw.: “Aku dianugerahi cinta pada dunia dalam 3 hal; wanita, wewangian, dan teristimewa adalah shalat.” Riwayat lain dikatakan Nabi Saw. tidak pernah kenyang dalam mencintai 2 hal, shalat dan wanita.

Al-Auza’i menegaskan, tidak sama antara mencintai wanita dengan mencintai dunia (hubbuddunya). Maksudnya adalah mencintai istri bukan termasuk hubbuddunya yang tercela. Bahkan tak jarang cinta itu bernilai akherat. (Al-Wusyah hal. 44-47)

Meletakkan Tangan di Dada setelah Bersalaman


Pertanyaan:
Asalamalaikum WR WB,
Mohon nasihatnya, apakah alasan/manfaat meletakkan tangan ke dada ketika bersalaman dengan sesama Muslim? Terima kasih banyak, semoga Allah memanjangkan umur dan memberi kehidupan yang indah, khususnya kepada Mawlana Sheikh Nazim dan Mawlana Sheikh Hisyam dan keluarganya.
Jawaban Syekh Muhammad Hisyam Kabbani:
wa `alaykum salam,
Ketika Anda bersalaman dan meletakkan tangan Anda di dada (kalbu), itu adalah tanda hormat. Itu menunjukan hormat bahwa Anda bukan hanya bersalaman tetapi menghormatinya atau menghormati diri Anda sendiri dengan mencintai orang itu. Kepada Nabi (s), para Sahabat biasa menjabat tangannya dan mencium tangannya dan meletakkannya di dada mereka, seolah-olah berdoa, “Ya Sayyidii, penuhilah kalbu kami dengan Cinta dan Cahayamu”. Itulah sebabnya ketika kita mengucapkan Allahuma shalli `ala nur al-huda kita mengusap wajah kita dan kita menginginkan agar Nur itu masuk ke dalam tubuh kita. Itulah sebabnya ketika kita bersalaman dengan seseorang yang merupakan Mukmin sejati, kita ingin agar berkah darinya masuk ke dalam kalbu kita dan itulah sebabnya kita meletakkan tangan kita pada dada (kalbu) kita.
Tambahan Hajj Gibril Haddad :
Itu menandakan berkah dan cinta; yang pertama karena Nabi (s) bersabda bahwa semua dosa dari dua orang Muslim yang bersalaman diampuni (Sunan), sehingga salaman tersebut adalah tempat turunnya Rahmat Ilahi;Juga, melalui analogi dengan sunah ketika mencium tangan sendiri setelah seseorang memberi salam kepada Hajar Aswad dari jauh, atau perbuatan para Sahabat yang akan meletakkan tangannya pada mimbar Nabi (s) kemudian mengusap wajah mereka dengan tangan itu;
yang kedua, karena dalam isyarat bahasa Arab, meletakkan tangan seseorang di atas kepalanya, atau di keningnya, atau di bibirnya, atau pada hati/kalbunya di hadapan seseorang mempunyai arti: engkau adalah yang ku sayang dan sangat berarti bagi hatiku.