Sabtu, 20 Februari 2016

Tentang Tawadlu

Cerita Enam Makhluk Allah yang Tawadhu'.

Diceritakan dari Ka'ab al-Akhbar, ia berkata:

"Allah memberi wahyu kepada Nabi Musa a.s.: "Wahai Musa! Apakah kamu mengerti, kenapa Aku memilihmu sebagai 'kalim' (orang yang diajak bicara) dengan tanpa perantara?"

Nabi Musa menjawab: "Engkau lebih mengerti tentang hal itu, wahai Tuhanku."

Allah berfirman: "Aku melihat hati para hamba-Ku dan Aku tidak melihat hati yang lebih tawadlu' daripada hatimu. Oleh karena inilah Aku mengajakmu bicara."

Dan dikatakan, sungguh ada enam sesuatu yang tawadlu' kepada Allah, kemudian Allah mengangkat derajatnya di antara sesamanya.

Yang pertama: Allah memberi wahyu kepada gunung-gunung: "Aku akan mendamparkan perahu Nabi Nuh a.s. dan orang-orang mu'min yang bersamanya diatas salah satu dari kalian." Gunung-gunung pun menunjukkan kebesaran dan ketinggiannya kecuali gunung al-Judy yang merasa tawadlu'.

Ia berkata: "Dari manakah aku mempunyai kekuatan hingga Allah mendamparkan perahu Nabi Nuh kepadaku."

Kemudian Allah mengangkat derajatnya diatas gunung-gunung yang lain dan mendamparkan perahu Nabi Nuh di atasnya sebab tawadlu'nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud.

Al-Judy adalah sebuah gunung yang terletak di daerah dekat kota Mushil.

Gunung-gunung yang lain bertanya: "Wahai Tuhanku, kenapa Engkau menutamakan gunung al-Judy diatas kami, padahal ia adalah gunung yang kecil?"

Allah menjawab: "Ia bertawadlu' kepada-Ku, sedangkan kalian takabbur. Dan wajib bagi-Ku atas orang-orang yang tawadlu' kepada-Ku untuk Aku angkat derajatnya, dan orang-orang yang takabbur kepada-Ku untuk Aku hinakan derajatnya."

Yang kedua: Allah memberi wahyu kepada semua gunung: "Sungguh Aku adalah Dzat yang mengajak bicara hamba-Ku diatas salah satu dari kalian semua." Gunung-gunung pun menyombongkan diri kecuali gunung Thurisaina'. Ia tawadlu' kepada Allah dan berkata: "Siapakah aku, hingga Allah mengajak bicara hamba-Nya diatasku." Oleh karena itu, perbincangan di antara Allah dan Nabi Musa a.s. berada diatas gunung Tsur.

Yang ketiga: Allah memberi wahyu kepada ikan-ikan: "Sungguh Aku adalah Dzat yang memasukkan Nabi Yunus dalam perut salah satu dari kalian." Ikan-ikan pun menyombongkan diri kecuali satu ikan, ia berkata: "Siapakah aku, hingga Allah mengangkat derajat dan memuliakannya sebab tawadlu'nya.

Yang keempat: Allah memberi wahyu kepada semua hewan yang bisa terbang: "Sungguh Aku adalah Dzat yang menaruh minuman dalam tubuh salah satu dari kalian semua sebagai obat bagi manusia." Semua hewan takabbur kecuali lebah, ia berkata: "Siapakah aku, hingga Allah mengangkat derajatnya karena tawadlu'nya."

Yang kelima: Allah memberi wahyu kepada Nabi Ibrahim a.s.: "Siapa kamu?"

"Aku adalah kekasih-Mu," jawab Nabi Ibrahim.

Allah bertanya kepada Nabi Musa a.s.: "Siapa kamu?"

"Aku adalah orang yang Engkau ajak bicara," jawab Nabi Musa.

Allah bertanya kepada Nabi Isa a.s.: "Siapa kamu?"

"Aku adalah ar-Ruh," jawab Nabi Isa.

Allah bertanya kepada Nabi Muhammad saw: "Siapa kamu?"

"Aku adalah anak yatim," jawab Nabi Muhammad.

Kemudian Allah mengangkat derajat Nabi Muhammad diatas derajat para nabi yang lain.

Yang keenam ialah: orang mu'min yang tawadlu' kepada Allah dengan sujud serta mengEsakan-Nya akan di muliakan Allah dengan di lapangkan dadanya untuk Islam. Hal tersebut melalui cahaya dari Tuhannya.

Diceritakan dalam suatu hadits: "Ketika Rasulullah saw keluar dari Makkah hijrah ke Madinah. Setelah beliau memasuki pintu kota Madinah, orang-orang yang memegang kendali (tali unta) agar mau berhenti di rumah mereka. Kemudian Rasulullah berkata: 'Lepaskan tali unta itu karena dia mendapatkan perintah.' Mereka akhirnya melepaskan tali itu. Setelah melewati rumah seorang laki-laki yang miskin lagi susah, dimana ia telah berkata: 'Seandainya aku mempunyai kekuasaan, niscaya Nabi Muhammad saw akan menjadi tamuku.' Maka unta itu berhenti di depan rumahnya. Dia adalah Abu Ayyub al-Anshari. Orang-orang kaya menarik-narik kendali unta itu agar mau berdiri dan mau menuju rumah mereka, namun unta itu tetap tidak mau berdiri. Kemudian turunlah Malaikat Jibril dan berkata: 'Turunlah engkau disini, wahai Rasulullah! Karena Abu Ayyub adalah orang yang tawadlu' kepada Allah ketika engkau berada di pintu Madinah, dan mereka (orang-orang kaya) menghiasi rumahnya dan berkata: 'Nanti Rasulullah akan turun di rumah kami.' sedangkan Abu Ayyub al-Anshari berkata dalam hatinya: 'Aku adalah laki-laki yang fakir, mana mungkin aku punya derajat di sisi Allah sehingga Nabi Muhammad saw mau bertempat di rumahku.' karena tawadlu'nya itulah Allah menempatkan nabi-Nya di rumah Abu Ayyub."

(Ini adalah contoh bahwa siapapun yang bertawadlu' akan di angkat derajatnya oleh Allah swt, dan siapa yang takabbur akan di rendahkan derajatnya oleh Allah swt)

Tawadhu' merupakan sifat yang harus dimiliki bagi setiap orang muslim, dengan bertawadhu' derajat kita akan diangkat oleh Allah swt. Cukup sekian cerita islami dari saya dan semoga dapat memberi motivasi serta bermanfaat bagi Anda semua. Sekian dan terima kasih. :)

Rasulullah dan gunung

Dialog Rasulullah Dengan Gunung

Tidak hanya mampu berdialog dengan binatang saja mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah SAW, namun juga mampu berdialog dengan gunung, yang merupakan ciptaan Allah yang tidak bernyawa.
Ketika membutuhkan air, Beliau perintahkan gunung itu menuruti perintah Rasulullah SAW.
Kali ini Kisah Islamiah blog akan menceritakannya.

Berikut ini Kisahnya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu dekat dengan umatnya, terbukti dengan seringnya Beliau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu desa ke desa lainnya agar lebih mengenal umatnya.
Dalam perjalanan yang dilakukan kali ini, Rasulullah SAW mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Uqa'il bin Abi Thalib untuk menemani.

Di perjalanan, ada seorang nenek yang tergeletak lemah di jalanan, wajahnya yang tua renta semakin terlihat menyedihkan akibat pucat dan lemas kondisi tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan engkau Wahai Ibu?" tanya Rasulullah SAW.

Nenek yang kondisinya lemah itu pun menjawab,
"Ak...akkkuuuu laaa...paar.."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah yang pada saat itu membawa bekal secukupnya, langsung memberikan bekalnya, hingga habislah bekal Rasulullah SAW kala itu.

Meskipun tanpa bekal sedikit pun, Rasulullah SAW dan Uqa'il tetap melanjutkan perjalanan. Setelah perjalanan panjang ditempuh dengan melewati gurun yang panas dan kering, kondisi Rasulullah SAW dan Uqa'il menjadi melemah karena banyak sekali tenaga yang terkuras untuk melewati hamparan pasir dan panasnya yang membuat dahaga semakin hebat.

KEHAUSAN.
Sesampainya di daerah pegunungan, Rasulullah SAW merasa sangat haus dikarenakan jauhnya perjalanan melewati gurun. Lalu Beliau menyuruh Uqa'il untuk mencari minuman dan buah untuk megisi perut.
Uqa'il pun menuruti perintah Nabi, ditelusurinya gunung untuk mencari sumber air dan pepohonan untuk diambil buahnya, namun Uqa'il tidak mendapati sumber air dan hanya buah-buahan saja yang ia dapat.

"Ya Rasul, aku tidak mendapati air di gunung ini, padahal aku sudah mengelilinginya, namun belum aku temukan juga," ujar Uqa'il.

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasululullah SAW bersabda,
"Hai Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan 'Jika padamu ada air, berilah aku minum'," tutur Rasulullah.

Mendengar jawaban Rasulullah yang tidak masuk akal itu, membuat Uqa'il kebingungan dan tidak mengerti.
namun Uqa'il tetap pergi melaksanakan perintah sembari bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah Rasul bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apa yang harus aku lakukan, menyampaikan salamnya ataukah hanya diam dan balik ke Beliau lagi," ujar Uqa'il dalam hati.

Walaupun pikirannya penuh dengan keheranan, Uqa'il tetap mendaki gunung. Di tengah pendakian, Uqail mendengar suara asing, dan berkata,
"Uqa'il, pergilah mendaki gunung, patuhilah perintah Beliau," perintah suara yang asing itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril.
Uqa'il akhirnya sampai pada puncak gunung lalu menyampaikan salam Rasulullah SAW kepada gunung perihal air yang dibutuhkan dia dan Rasulullah.
Setelah menyampaikan salam, Uqa'il pun kembali menuju tempat Rasulullah SAW.

RASUL MEMERINTAH GUNUNG.
Sesampainya di dekat Rasulullah SAW, betapa kagetnya Uqa'il ketuka melihat Rasulullah berbicaradengan gunung.
"Wahai tauladanku Muhammad, maafkan aku dikarenakan menghambat perjalanan engkau dengan tidak menyediakan air ketika engkau datang.
Aku takut engkau tidak memaafkanku, jika itu terjadi pasti aku merasakan panasnya api neraka," ungkap gunung itu.

Mendengar suara yang berasal dari gunung, membuat Uqa'il semakin bingung dan sekaligus takjub kepada Rasulullah, dikarenakan salah satu ciptaan Allah yang tidak bernyawa itu dapat berbicara dengan Beliau.
"Aku akan memaafkan kamu, tapi bolehkah aku minta sedikit air untuk membasahi tenggorokanku," tutur Rasulullah.

"Dakilah gunung ini hingga sampai puncaknya, setelah sampai, berjalanlah berbelok menuju tempat yang dipenuhi dengan bebatuan besar yang melingkar, di tengahnya terdapat sumber air dan buah-buahan untuk bekal engkau, Wahai Rasulullah," jelas gunung itu kepada Rasul.

Uqa'il berserta Rasulullah SAW akhirnya mendaki gunung itu kembali dan Beliau berjalan sesuai dengan perintah gunung. Sesampainya di tempat yang dijelaskan gunung tersebut, Uqa'il sangat terkejut karena ketika mengelilingi gunung itu tadi, Uqa'il tidak mendapati tempat seindah itu yang terdapat sumber air sangat jernih dan banyaknya pohon yang berbuah segar dan nikmat.

Nabi dan kijang

Dialog Rasulullah dengan Kijang

Kisahnya.
Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab Al-Hilyah, bahwa seorang laki-laki tengah lewat di sisi Nabi Muhammad SAW dengan membawa seekor kijang hasil tangkapannya. Lalu Allah SWT yang berkuasa atas semua makhluk-Nya, telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi Muhammad SAW.

"Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan anak-anakku kelaparan," kata kijang itu meminta belas kasihan.

Kijang Mengadu.
Rasulullah SAW yang mampu mengerti bahasa kijang itu lantas berdialog dengan si kijang.
"Apakah yang engkau harapkan dariku?" tanya Rasulullah SAW.
"Tolong perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku dan sesudah itu aku akan kembali kemari," janji kijang itu dengan sangat memohon.

"Bagaimana kalau engkau tidak kembali lagi ke sini?" tutur Rasululah SAW.
"Kalau aku tidak kembali kemari, nanti Allah SWT akan melaknatku sebagaimana ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau di sisinya," janji kijang itu.

Lalu Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepada orang itu untuk melepaskan kijang itu buat sementara waktu.
"Wahai pemuda, lepaskanlah kijang ini, dan aku akan menjadi penjaminnya," kata Rasululah SAW.
Atas perintah Rasulullah SAW, pemuda itu pun akhirnya melepaskan kijang itu. Kijang itu langsung berlari menuju anak-anaknya untuk meberikan susu. Setelah semua anak-anaknya kenyang, sang induk kembali lagi menemui Rasululah SAW dan pemuda itu menangkapnya kembali.

Pesan Malaikat Jibril.
Maka turunlah malaikat Jibril dan mengucap pesan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Muhammad, Allah SWT mengucapkan salam kepada engkau dan Allah SWT berfirman,
Demi kemulianKu dan kehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasih umat Muhammad dari kijang itu kasih anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau."

Umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat.
Hal ini terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan oleh para sahabat mengenai berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Dan tak lupa, blog kisah islamiah ini hanya bagi mereka yang beriman, karena isi blog terdapat bermacam mukjizat yang tidak bisa dinalar oleh pikiran manusia. Untuk menambah dan makin tambah keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan sumber cerita ada di postingan awal.

Dalam hadits yang diriwaytkan oleh Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada seorang pun di antara para nabi kecuali mereka diberi sejumlah mukjizat yang diantaranya agar manusia beriman kepadanya dan mukjizat yang aku terima adalah wahyu. Allah mewahyukannya kepadaku. Maka aku berharap kiranya menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."

Rabu, 17 Februari 2016

Memperkuat dzakar

Anda ejakulasi dini? Anda tidak tahan lama? Mungkin ini bisa jadi solusi. Ibnul Munkadir pernah berdoa:

اَللَّهُمَّ قَوِّ ذَكَرِي فَإِنَّهُ مَنْفَعَةٌ لِأَهْلِي..

"Ya Allah, kuatkan dzakarku karena sesungguhnya hal itu bermanfaat buat isteriku."

Doa itu dipanjatkan agar Allah menguatkan dzakar Ibnul Munkadir semata-mata untuk memenuhi kewajibannya sebagai suami yang menjadi hak isterinya, bukan untuk mengumbar syahwatnya. Sebab, birahi perempuan itu ada pada laki-laki. Apabila dibiarkan, dikhawatirkan perempuan akan terjerumus ke dalam perzinahan.

(Faidhul Qadir lil Imam Aburrauf al-Munawi, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, cet. ke-1, 1415 H/1994 M, juz, IV, h. 145 via NU-Online).

Selasa, 16 Februari 2016

Rahasia seruling identik dengan musik para sufi

Nada-nada yang dihasilkan oleh seruling selalu melankolis, sendu menyayat hati dan sulit hilang dari ingatan. Mengapa?
Seruling dibuat dengan cara memotong sebuah batang bambu lepas dari induknya, sang rumpun tanaman bambu. Sejak dipotong paksa dari induknya, potongan ukiran batang bambu yang menderita itu, yang kini disebut seruling, meratap dan menangis, menghasilkan suara sedih yang menggambarkan kerinduannya yang kuat untuk kembali ke tempat asalnya, untuk dipersatukan kembali dengan batang-batang rumpun bambu dari mana ia berasal.

Jiwa-Jiwa kita diciptakan di Surga, dan selama bertahun-tahun yang tidak bisa dibayangkan jumlahnya, Jiwa-jiwa kita ini hidup di Surga dalam kepatuhan total dan kebahagiaan mutlak di Alam Surgawi. Karena dibawa ke bumi di luar kehendak kita, dan di tempatkan dalam sebuah sangkar berupa jasmani yang egoistis dan hasrat-hasrat penuh dosa, Jiwa kita menangis dalam kesedihan yang teramat sangat karena perpisahan yang tak disangka-sangka, Jiwa kita mencari jalan kembali ke kampung halamannya, yaitu Surga.

Saat Maulana mendengarkan senandung seruling itu, Beliau teringat akan desahan kesedihan dari Jiwa-Jiwa, yang masing-masing mencari jalan pulang ke rumah. “Dengarkan apa yang tengah dituturkan bambu itu pada Anda,” Beliau berucap, “dengarkan keluhannya! Bambu itu tengah mengadukan perihal perpisahan dari rumpun tanaman induknya.”
Maulana mengakhiri dengan memuji sang penampil bahwa pertunjukan yang ditampilkannya ‘hidup’, sebuah penampilan yang bukan berasal dari pikiran, namun berasal dari hati! “Ia bermain seperti seorang master (ahli) sejati,” puji Maulana, “Saya merasa puas dan rileks mendengarkan permainannya. Dan Tuan Guru saya, GrandSyekh Abdullah, telah menegaskan hal ini.”

 1) Perpisahan dan Penyatuan Kembali


Sebagaimana bayi menangis saat dipisahkan dari kenyamanan rahim ibunya, perpisahan sebuah seruling bambu dari rumpun tanaman induknya adalah pengalaman yang menyakitkan dan menghancurkan hati. Serupa dengan hal itu, Kematian, yakni perpisahan Jiwa dari jasad ragawi, telah digambarkan sebagai suatu pengalaman yang luar biasa dahsyat menyakitkan, saat Jiwa mengucapkan selamat tinggal kepada jasad, sel demi sel.

Allah memperlihatkan melalui kehidupan keduniawian kita, perpisahan selalu teramat sangat menyakitkan, dan pertemuan kembali adalah ramuan obat yang paling manis.

Setiap kematian diratapi oleh orang-orang tercinta yang berkabung, sebagian orang bahkan tidak pernah mampu menerima perpisahan tersebut. Namun, dalam setiap perpisahan, terdapat harapan akan berjumpa kembali dan manisnya perjumpaan kembali itu kelak. Maulana berkata, bahkan sekedar ‘berpisah’ dari makanan saat berpuasa selama beberapa jam saja, membuat remah-remah makanan yang kita makan saat berbuka puasa terasa begitu lezat, begitu memuaskan.

Karena itu, ada perkataan Rasulullah Muhammad (saw), “Mencintai kampung halaman seseorang adalah tanda keimanan.”

Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak diciptakan di dunia ini. Kalian tidak diciptakan untuk dunia ini. Kalian tidak pernah merupakan bagian dari dunia ini. Dan kalian tidak akan pernah membawa bagian dari dunia ini pulang kembali bersama kalian. Dengarkan panggilan kerinduan dari dalam Jiwa kalian! Kalian datang dari sebuah tempat yang kekal, dan pasti akan kembali ke tempat yang kekal tersebut. Bagi mereka yang mencari, mereka pasti akan dipersatukan kembali dengan Tuhan Penguasa mereka, tidak akan pernah berpisah lagi, selamanya.

Keabadian, ucap Maulana, adalah kata yang paling indah, yang memberikan harapan yang sedemikian tinggi di tengah-tengah keputusasaan akan kehidupan yang fana (sementara) ini, yang memberikan kegembiraan yang sebegitu besar di tengah-tengah kesedihan dan penderitaan hidup ini, memberikan kesenangan yang sedemikian mendalam di tengah rasa sakit dan racun dunia ini. Keabadian.

Tanyalah sesiapapun yang pernah kehilangan orang tercinta yang amat dikasihinya, apa yang bersedia diberikannya untuk dapat bersama lagi meski hanya selama lima menit dengan orang yang telah meninggal tersebut – untuk memegang, membahagiakan, memeluk dan mencium orang terkasih tersebut, hanya sekali lagi saja, untuk berkasih sayang dengan seseorang yang sangat dirindukannya itu. Bagaimana jika ia ditawari untuk berkumpul kembali dengan orang tercinta yang telah mendahuluinya tersebut, selama satu tahun? Duhai, pastilah hatinya akan bernyanyi penuh sukacita, pastilah nada-nada yang muncul dari hatinya akan penuh kebahagiaan dan kegembiraan.

Namun wahai orang-orang yang beriman, tidakkah kita menyadari bahwa kita telah ditawari untuk berkumpul kembali bersama dengan Allah, Tuhan kita Yang Tercinta, bukan hanya sekedar selama lima menit, atau hanya selama satu tahun, melainkan selama-lamanya! Untuk selama-lamanya, Dia akan mencurahkan Kasih dan Sayang-Nya kepada kita tanpa pernah berakhir, Jiwa-Jiwa kita tidak akan pernah lagi mengalami penderitaan perpisahan dari-Nya, tidak akan pernah lagi. Karena mengetahui hal inilah, Jiwa-Jiwa kita sekarang sedang memohon kepada kita, agar kita berusaha keras untuk menyambut reuni abadi tersebut, dan untuk mengambil harapan dan kekuatan dari kerinduan tersebut!

Namun, kita justru menutup dan menulikan telinga kita dari permohonan suara hati Jiwa-Jiwa kita yang tengah berduka ini, dan, mengabaikan keabadian yang menjelang dan sudah pasti kedatangannya tersebut, kita malah memilih perpisahan dari Dia – kita memilih dunia. Dan karena kita lebih memilih perpisahan, saat kita kembali kelak ke akhirat, di sana, kita akan merindukan dan mendambakan dunia ini, dan karena kita tidak akan pernah lagi kembali ke sini, maka kelak tibalah giliran kita untuk menangis, karena kita saat itu telah berpisah untuk selama-lamanya dari dunia yang kita cintai 

2) Pembimbing Sejati adalah Para Pemilik Hati


Di akhir video tersebut, Maulana berkomentar bahwa sang penampil memiliki tanda sebagai seorang Master (ahli), karena ia memainkan alat musik tersebut dari hatinya, dan bukan dari pikirannya, dan dalam hal itu, nada-nada musiknya ‘menembus’ hati Maulana, membawa relaksasi dan kepuasan. Maulana mengajarkan kepada kita bahwa para pembimbing keagamaan pada masa kini terdiri dari dua macam.

Jenis pertama adalah para pembimbing dari kalangan akademisi, yakni mereka yang berbicara dari pikiran, dari catatan-catatan yang dihafalkan dan diskusi-diskusi intelektual. Mereka sibuk mengumpulkan penghormatan dan gelar-gelar keduniawian, dan mereka adalah para pembicara yang cakap berbicara, yang seringkali mengutip dari penelitian-penelitian dan tesis mereka. Karena kata-kata mereka datang dari pikiran mereka, maka kata-kata tersebut hanya menjangkau pikiran para pendengar mereka, namun kosong dari cahaya, justru menjadi beban pikiran. Seorang murid akan mendapati dirinya dipenuhi informasi tersebut, namun tidak mampu memerangi setan yang menggoda dalam dirinya.

Maulana berkata bahwa jenis Guru semacam ini percaya bahwa agar dapat mengajarkan sebuah topik/pokok bahasan, orang harus membaca buku mengenai topik atau pokok bahasan tersebut terlebih dahulu. Mereka menyamakan menghafal atau membaca banyak buku sebagai pengertian dari seorang aliim (orang yang berilmu atau ulama). Kata-kata yang masuk dalam pikiran seorang murid tidak dapat membawa kepuasan, karena hanya saat pengetahuan masuk ke hati seorang murid barulah ia dapat memperoleh kepuasan.

Jenis Guru yang ke-dua berbicara dari dari hati yang telah tercerahkan dan bercahaya, dari butir-butir mutiara hikmah kebijaksanaan dan dari intan permata kepemahaman sejati. Pengetahuan mereka adalah pengetahuan citarasa, karena tidak seorang pun akan dapat menjumpai mutiara ataupun permata tanpa menapaki perjalananan yang sulit untuk mendapatkannya. Guru yang terberkati semacam itu berbicara kepada hati Anda, dan pendengarnya merasa bebannya terringankan dan jiwanya tersegarkan setelah duduk dalam lingkaran mereka.

Anda selalu bisa membedakan keduanya! Maulana berkata, perbedaannya seperti perbedaan antara langit dengan bumi! Sudah barang tentu kita dapat membedakan buah yang terbuat dari plastik dari buah yang asli. Yang satu adalah jenis penuturan (dengan ego) yang ditujukan kepada pikiran Anda, yang menggelapkan dan memancarkan kegelapan dan membebani Anda, sedangkan yang satunya lagi adalah jenis penuturan (dari cahaya hati) yang ditujukan kepada hati Anda, mengangkat beban dan membuat Anda rileks, yang menuju pada kepuasan Jiwa. Maka carilah Master (Guru) sejati, seseorang yang berbicara dari hatinya kepada hati Anda, karena, dari hati ke hati, terdapat hubungan.

Maulana memperingatkan para murid agar berhati-hati, karena tidak seperti halnya memuntahkan makanan yang tercemar jika Anda tidak sengaja memakannya, kita tidak dapat melepaskan diri dari ajaran-ajaran yang sudah tercemar (dari para Ulama jenis pertama) dengan begitu mudah. Ajaran tersebut dapat terus tertinggal dalam diri Anda, dan meracuni Anda, hingga ke akhir hayat Anda. GrandSyekh berkata, oleh karena alasan tersebut, kita harus berhati-hati agar tidak duduk bersama dengan orang-orang yang menyangkal Toriqoh dan para Mursyid, karena bila kita melakukannya, kita harus bersiap membawa beban berat kegelapan dan hidup bersama hati yang terluka selama satu tahun!

 


Ringkasan ini dipersembahkan untuk mengenang Saudari Maryam Fatima yang kita sayangi, puteri Syekh Muhammad Baba Isytiyaque (perwakilan Maulana untuk wilayah Uni Emirat Arab), yang wafat beberapa jam sebelum Ringkasan ini diposting. Almarhumah adalah inspirasi di balik Ringkasan ini, karena sementara Almarhumah kini merasakan manisnya berkumpul kembali, kita yang ditinggalkan merasakan sedihnya perpisahan. Semoga Allah merahmati Jiwanya selama-lamanya, dan semoga orang-orang yang dicintainya dikaruniai ketenangan abadi aatas dukacita yang telah mereka tanggungkan dengan penuh kesabaran. Amiin. Al Fatihah.


 


Suhbah sepanjang 10 menit dalam bahasa Inggris ini dapat dilihat di www.Saltanat.org, Sila tekan di sini untuk menonton Suhbah ini. Saltanat TV adalah Situs Resmi Maulana SyekhNazim yang ditetapkan dan disetujui oleh Beliau secara langsung.

Mimpi Bertemu Rasulullah bersama guru sekumpul

ini aku translet ke b.indo ..
..
..

Kisah ini nyata saya alami dan saya saksikan sendiri di bulan Rajab pada tahun 1993 dan ini adalah tentang sebagian kecil dari karomah ABAH GURU SEKUMPUL dan kisah ini dapat saya pertanggung jawabkan dihadapan ALLAH dari dunia sampai ke akhirot kelak…  saya tinggal bersama 3 orang teman dalam 1 kamar asrama dikawasan antasan senor ilir…Malam itu tepat malam jum’at di bulan Rajab pada tahun 1993…Selesai rapi melaksanakan aktifitas di asrama dan aktifitas yg lainnya…Kamipun bersiap-siap untuk tidur…Dikamar hanya ada saya dan kawan saya yg brasal kapuas…Kebetulan kawan saya yg asal rantau malam itu ikut kawannya kebanjarmasin karna jum’at siangnya libur… Sebelum tidur udah jadi kebiasan kami untuk sholat sunnah dulu 2 raka’at…Sehabis sholat sunnah dan sedikit wiridan ada hal aneh yang tidak pernah terjadi seperti malam sebelumnya…  Kawan saya yg asal kapuas itu tiba-tiba saja berkata kaya ini : ( iya guru…saya sudah siap…Minta ridho piyan dari dunia sampai ke akhirot )  Posisi kawan saya masih duduk di atas sajadah berbicara seperti itu…Sambil rebahan mau tidur… saya bertanya sama dia : ( Kanapa kamu kok ngomong sendirian… ente Sudah kasyaf) kata saya sambil bercanda…  Kawan saya tadi menjawab begini : ( Mudah-mudahan malam ini menjadi malam yang berkah untuk kita lahir bathin dunia akhirat )  Memang saya rasakan malam itu aneh dari malam-malam sebelumnya…Hawa sejuk dan hati sangat tenang seolah-olah takada beban apapun dalam hidup didunia ini…Ringkas cerita kamipun tidur…Malam itu saya mimpi melihat cahaya putih yang sangat silau dan saya sama sekali tidak bisa malihat kiri kanannya…Tiba-tiba saja saya dibangunkan oleh kawan saya tadi…saya liat jam, gak taunya sudah subuh sekitar jam 4 lewat…saya kaget sekali karna saya tidak sholat malam…  saya tegur kawan saya : ( Kanapa kamu gak bangunin aku sholat malam ) Kawan saya menjawab : ( kamu sudah ane bangunin tapi kamu gak mau bangun dan ente tidur kya org mati ) Ada lagi sesuatu yang lebih aneh dan membingungkan bagi saya…saya mancium bau harum disana sini dan bahkan saya belum prnah mencium bau harum itu sebelumnya dimanapun… saya bertanya sama kawan : ( Bau harum apaan ini…Harumnya enak sekali ) kawan saya menjawab : ( Aku habis mimpi ketemuan dgn RASULULLAH ) Langsung secara spontan saya peluk dia…Pakaiannya penuh bau harum sampai kebadan dan kerambutnya…Subhanallah Walhamdulillah Wa Laailaahaillallah Wallahu Akbar…Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammad Wa ‘Ala Aaali Sayyidina Muhammad…saya langsung menangis sujud di atas sajadah bekas dia sholat malam…  Jadi kisahnya malam sehabis sholat sunnah mau tidur itu…dia malihat ABAH GURU SEKUMPUL duduk dihadapannya… ABAH GURU SEKUMPUL katanya bertanya dgn dia : ( Sudah siapkah kamu ketemuan dgn RASULULLAH )  Dan di jawab oleh kawan saya dengan jawaban yang di atas saya critakan tadi… kata kawan saya jam 1 Malam itu dia bangun seperti biasa untuk sholat malam…Tapi saya di bangunin dia dan gak bangun-bangun…Selesai sholat dan baca wiridan dia langsung baca al-Qur’an…Disaat dia membaca al-Qur’an matanya berat dan ngantuk seketika serta dia langsung tertidur…Antara Sadar gak sadar dan antara tidur dan tidak tidur…Disaat itulah dia mimpi bertemu dgn ( RASULULLAH ) dan di ajak sholat untuk menjadi ma’mum dibelakang Beliau…  Siangnya saya dan kawan saya tadi datang kerumah salah seorang guru kami dan menceritakan tentang semuanya…Dan guru kami itu menjabarkan semua tentang kejadian mimpi kawan saya itu…. Dan dilain hari pada suatu malam saya berangkat ke sakumpul dengan kawan saya tadi…kebetulan kami malam itu duduk jauh dari palataran rumah ABAH GURU SEKUMPUL…Tapi masih di pelataran rumah yg masih kawasan Regol…  Pas pembacaan tiba-tiba ABAH GURU SEKUMPUL berbicara sprti ini : ( Indahnya Angin Ma’rifat, seprti apa ……………….) Titik-titik disitu ABAH GURU SEKUMPUL mengatakan nama kawan saya itu…  Allahu Akbar…Semakin bertambah kuatlah keyakinan hati ini kalau ABAH GURU SEKUMPUL benar-benar memiliki karomah yang sangatlah luar biasa…sampai-sampai kawan saya hendak mimpi RASULULLAH saja bliau udah tahu duluan…  Inilah sebagian kecil kisah nyata yg saya alami sendiri tentang karomah ABAH GURU SEKUMPUL…Semoga ada hikmah buat kita semua dari kisah saya ini…Mudah-mudahan kita semua mendapatkan Syafa’at Baginda RASULULLAH dan Barokah Karomah dari ABAH GURU SEKUMPUL serta di ampuni segala bentuk dosa dan kesalahan ke dua orang tua kita,diri kita,istri kita,anak-anak kita,saudara-saudara kita,guru-guru kita,muslimin muslimat,mu’minin mu’minat dan semoga kita dipenuhi dengan Rahmat kasih sayang serta Ridho ALLAH dan dikumpulkan di akhirat nanti bersama orang-orang yang beriman di dalam sorganya ALLAH…Aaamin Allahumma Aaamin Yaa Allah Yaa Robbal ‘Aaalamin…  Maaf kalau nama kawan saya itu dirahasiakan…Karna saya gak minta izin …Kawan saya itu asal kapuas dan masih zuriyat Datuk Kalampayan… Sekarang kawan saya itu masih ada dan dia masih mambujang belum beristri…Sampai sekarang dia masih sering ziarah ke kubur para Auliya Allah dan datang kerumah para habaib dan ulama serta masih sering datang kesekumpul…Cuma tetap dengan ciri khasnya yaitu biasa-biasa saja karna dia gak jadi ustadz ataupun kyai,tapi mencari rezeki dengan usaha lain…Hal-hal yang sangat bagus di teladani dari kawan saya ini sangatlah banyak,diantaranya adalah :  Orangnya pendiam,jarang ngomong ,kecuali hal-hal yang sangat perlu… Orangnya rajin puasa,khususnya senin kamis dan dibulan-bulan penting lainnya… Orangnya rutin membaca al-Qur’an dan selalu setiap saat membaca shalawat… Orangnya sewaktu ayah wan ibunya masih hidup,handak berangkat kemana-mana selalu mancium tangan bahkan kebetis-betis orang tuanya…  Orangnya selalu tak lapas wudhu,rajin ziarah kemaqam auliya,kerumah habaib dan ulama,rajin bershadaqah walaupun keadaan pas-pasan sewaktu dipesantren dulu… Itulah sebagian kecilnya prilaku kawan saya yg bagus manurut saya untuk diteladani…  Dan banyak juga hal-hal yang aneh terjadi didiri kawan saya ini,diantaranya adalah :  Pernah saya mambaca kitab gundul didalam hati sambil mahafal,kemudian ada yg salah ,tiba-tiba aja dia tegur,padahal saya mambaca jelas-jelas dalam hati gak ada yang tahu…  Pernah sewaktu kawan bekas sama-sama dipondokan dahulu melaksanakan kawinan,kawan saya yang asal kapuas itu di undang,pas hari kawinan dia datang kakawinan itu, saya kaget kawan yg kawinan itu bercerita dia datang,padahal saya jelas-jelas tahu betul kalau dia lagi ada dimekkah berangkat umroh…  Pernah saya datang kerumah ABAH GURU SEKUMPUL bersama kawan saya ini karna ada sesuatu hal,dan maaf saya tidak bisa kisahkan dipublik ini,pas dikamar ABAH GURU SEKUMPUL,Beliau basuara kaya ini : ( seperti itu lah bila menjadi wali ) beliau basuara sambil senyum mengelus kepala kawan saya itu…Dalam hati saya bicara : ( Bararti kawan saya ini wali )…langsung ABAH GURU SEKUMPUL basuara dgn saya seperti ini : ( apa yg di bisikkan di hati kamu itu Benar,Tidak salah )…Langsung saya kaget,ABAH GURU SEKUMPUL mambaca isi hati saya… Mudah-mudahan ada mamfaat dari balik kisah saya yang ringkas ini…Di lain waktu mudah-mudahan saya bisa bercerita tentang Karomah lainnya Tentang ABAH GURU SEKUMPUL yang saya alami sendiri…Aaamin  Kisah ini di ambil dari pengalaman Habib Ahmad Alaydarus dengan akun FB Putra Kalimantan dan sekaligus mengenang kepergian beliau untuk selamanya,Habib Ahmad Alaydrus meninggal dunia pada Hari minggu malam senin pukul 08.40 waktu madinah. Usia 40thn karena sakit kanker liver akut dan dimakamkan hari senin waktu madinah Mohon do’anya semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT & Mohon dimaafkan jika ada segala kesalahan Beliau.

Ilmu Nafas

NAFAS I

Adapun Nafas yang keluar dan masuk itu dinamakan Muhammad.
Maka Nafas itu dinamakan Nabi kepada kita.(…tapi kita bukan nabi?)
Kemudian yang dinamakan Muhammad itu adalah Pujian,
Maksud dari Pujian disini berkaitan dengan Nafas..

Maka Nafas itu dinamakan… :
Ketika ke luar = Ilmu Ghaibul Ghuyub.
Ketika ke dalam = Ilmu Sirrul Asrar.
Dari Nafas itulah timbunya Ibadah Muhammad.
Dan dari Jasad kita itulah timbulnya Ibadah Adam,

Maka ibadah Muhammad itu :
Sholatul Da’im = Sholat terus-menerus.
“Wahdah Fil Kasrah = pandanglah satu kepada yang banyak”

Yang dinamakan Nafas itu = yang keluar masuk dari mulut.
Yang dinamakan Nufus itu = yang keluar masuk dari hidung
Yang dinamakan Tanapas itu = yang keluar masuk dari telinga.
Yang dinamakan Ampas itu = yang keluar masuk dari mata.

Maka Nafas itulah yang menuju kepada “ARASHTUL MAJID”
karena itu hendaklah kita ketahui Ilmu tentang Nafas ini..,
yaitu Ilmu Ghaibul Ghuyub,
karena itu adalah salah satu daripada ibadah Muhammad.

Ingat..!!
Ilmu Nafas harus disertai dengan praktek langsung..,
tidak boleh hanya diambil teori-nya saja…

Kita lanjutkan…

Nafas yang keluar dari lubang hidung kiri itu dinamakan Jibril, ucapannya “ALLAH”.
Nafas yang masuk melalui lubang hidung kanan itu dinamakan Izrail, ucapannya “HU”.

Maka Zikirullah yang dua itu dinamakan NUR.

Maka jadilah dua Nur, yaitu kalimah “ALLAH” satu Nur dan kalimah “HU” satu Nur.
Dua Nur ini bertemu di atas bibir dan tidak masuk ke dalam tubuh.

Amalan ini harus sampai ke derajatnya yang dinamakan Nurul Hadi.
ke arah itulah yang harus dicapai.

Nafas yang naik di dalam tubuh ke ubun-ubun dinamakan AHMAD, lalu.. turun dari ubun-ubun sampai-lah ke Jantung Nurani dinamakan Izraill, ucapanya “ALLAH”.
Kemudian Nafas yang dari jantung naik lagi ke ubun-ubun, dinamakan Jibrill, ucapannya ialah “HU”.
Amalan inilah yang dinamakan :
“Syuhudul Wahdah Fil Kasrah dan Syuhudul Kasrah Fil Wahdah”

Inilah Pintu Makrifat…,

NAFAS II

Yang dinamakan HATI NURANI (qalbu) itu adalah NUR yang dipancarkan dari bagian bawah jantung (bagian Muhammad) ke arah bagian atas jantung (bagian Allah).

Adapun zikir NAFAS ketika keluar = ALLAH- dinamakan ABU BAKAR,
ketika masuk adalah HU dinamakan UMAR, letaknya NAFAS adalah di mulut.

Adapun zikir ANFAS itu adalah ketika keluar adalah = ALLAH- dan ketika masuk adalah HU,letaknya AN

FAS pada hidung, dinamakan MIKAIL dan JIBRIL.

Adapun zikir TANAFAS itu adalah tetap diam dengan “ALLAH HU” letaknya di tengah-tengah antara dua telinga, dinamakan HAKEKAT ISRAFIL.

Adapun zikir NUFUS adalah ketika naik HU dan ketika turun adalah “ALLAH” letaknya di dalam jantung,diri nufus ini dikenal dengan USMAN dan perkerjaanya dikenal sebagai ALI…

Sabda Nabi S.A.W :
“Barang siapa keluar masuk nafas tanpa zikir Allah maka sia-sialah ia”.

Ber-awal Nafas itu atas dua langkah yaitu :
Satu Naik dan kedua Turun.

Maka takkala naiknya itu sampai ke langit tingkat 7
“Wan Nuzuulu Yajrii Ilal Ardhi Fa Qoola HUWALLOH”.

Dan takkala turun hingga 7 lapis bumi
Maka nafas itu bunyinya ALLAH.
Takkala masuk pujinya HUWA…
Takkala ia terhenti seketika antara keluar masuk Tanafas, pujinya AH.. AH..
Takkala ia tidur atau mati Nufus namanya Haqqu Da’im.

Ingatlah olehmu…
Dalam menjaga akan nafas ini, dengan menghadirkan makna ini senantiasa, di dalam berdiri.. dan duduk.. dan di atas segala aktifitas yang diperbuat.. hingga memberi manfaat kepada sekalian tubuh… dan .. segala cahaya Nurul ‘Alam itu atas seluruh anggota tubuh.

Maka tetaplah me-nilik kedalam hatimu, jadikanlah engkau hidup di dalam Dua Negeri yakni Dunia dn Akhirat dan semoga di-buka-kan Allah baginya pintu selamat.. sejahteralah di dalam Dunia dan Akhirat… Semoga dianugerahi Allah Ta’ala sampai kepada martabat segala Nabi dan segala Muslimin.. dan di-haramkan Allah Ta’ala tubuhnya dimakan api neraka dan badanya pun tiada dimakan tanah di dalam kubur.
Maka tetaplah dengan hatimu wahai saudaraku…
Jangan engkau menjadi orang yang lupa dan lalai,
mudah-mudahan dibahagiakan Allah Ta’ala dan diberikan rahmatNya atas mu..
dengan senantiasa “berhadapan” slalu… hingga sampai akhir ajalmu.

NAFAS III

Normalnya nafas kita keluar masuk sehari semalam 24 000 kali
pada siang hari12 000 kali..
dan pada malam hari 12 000 kali
inilah jumlah jam sehari semalam = 24 jam,
pada siang 12 jam
dan malam 12 jam,

Demikian hal-nya seperti huruf “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadur Rasulullah”,

masing-masing mempunyai 12 huruf berjumlah 24 huruf semuanya.
Barang siapa “mengucap” dengan sempurna yang 7 kalimah itu niscaya ditutupkan Allah Ta’ala Pintu Neraka yang 7. Juga barang siapa “mengucap” yang 24 huruf ini dengan sempurna niscaya diampuni Allah Ta’ala yang 24 jam.
Inilah bentuk persembahnya kita kepada Tuhan kita yang tiada henti yang dinamakan Sholatul Da’im (sekaligus melakukan puasa nafsu zahir dan batinnya).

Sabda Nabi S.A.W :
“Ana Min Nuurillah Wal ‘Aalami Nuurii”
artinya “Aku dari Cahaya Allah dan sekalian alam dari Cahaya-ku”

Sebab itulah dikatakan “Ahmadun Nuurul Arwah”
artinya “Muhammad itu bapak dari sekalian nyawa”

dan dikatakan “Adam Abu Basyar”
artinya “Adam bapak sekalian tubuh”.

Adapun Awal Muhammad Nurani
Adapun Akhir Muhammad Rohani.
Adapun Zahir Muhammad Insani
Adapun Batin Muhammad Robbani.

Adapun Awal Muhammad Nyawa kita
Adapun Akhir Muhammad Rupa kepada kita,
Adapun yang bernama Allah Sifatnya,
Adapun sebenar-benar Allah itu Zat Wajibal Wujud,
Adapun yang sebenar-benar Insan yaitu manusia yang tahu berkata-kata adanya.

Kita telah mendengar bahwa barang siapa yang tidak mengenal ilmu zikir nafas ,maka sudah tentu orang tersebut tidak dapat menyelami alam hakekat sholat da’im…

Dalam blog yang terdahulu.. telah diterangkan dengan jelas tentang sholat,
dimana pengertian sholat tersebut adalah berdiri menyaksikan diri sendiri yaitu penyaksian kita terhadap diri zahir dan diri batin kita yang menjadi rahasia Allah Taala.

Silahkan disimak kembali saudara-ku…

NAFAS IV

Mari kita bicarakan takrif dan cara-cara untuk mencapai martabat atau maqam sholat da’im..
.
Sholat Da’im boleh ditakrifkan sebagai sholat yang terus-menerus tanpa putus walaupun sesaat dalam masa hidupnya yaitu penyaksian diri sendiri (diri batin dan diri zahir) pada setiap saat seperti firman Allah yg artinya :
” YANG MEREKA ITU TETAP MENGERJAKAN SHOLAT” ( Al-Makrij-23).

Di dalam sholat tugas kita adalah menumpuhkan sepenuh perhatian dengan mata batin kita menilik diri batin kita dan telinga batin menumpuhkan sepenuh perhatian kepada setiap bacaan oleh angota zahir dan batin kita disepanjang mengerjakan sholat tanpa menolehkan perhatian kearah lain.(titik)

Sholat adalah merupakan latihan diperingkat awal untuk kita melatih diri kita supaya dapat menyaksikan diri batin kita yang menjadi rahasia Allah Taala… setelah sanggup membuat penyaksian diri diwaktu kita menunaikan sholat,maka hendaknya kita melatih diri kita supaya dapatlah kita menyaksikan diri batin kita pada setiap saat didalam masa hidup kita dalam waktu dua puluh empat jam disepanjang hayat kita,

Sebab itulah kita mengucapkan Syahadah:…………
Maka berarti kita berikrar dengan diri kita sendiri untuk menyaksikan diri rahasia Allah itu pada setiap saat di dalam waktu 24 jam sehari semalam.

Oleh karena itu untuk mempraktekkan penyaksian tersebut, maka kita haruslah mengamalkan sholat da’im dalam hidup kita seharian seperti yang pernah dibuat dan diamalkan oleh Rasulullah s.a.w, nabi-nabi dan wali wali yang agung.

Diantaranya syarat syarat untuk mendapatkan maqam sholat da’im adalah sebagai berikut :

1- Hendaklah memahami dan berpegang teguh dengan hakekat melakukan zikir nafas,

2- haruslah terlebih dahulu berhasil mendapat NUR QALBU yaitu hati nurani.

3- Telah mengalami proses pemecahan wajah KHAWAS FI AL KHAWAS,

4- Juga memahami dan dapat berpegang dengan penyaksian sebenarnya SYUHUD AL-HAQ,

Untuk mengamalkan dan mendapatkan maqam sholat da’im maka seseorang itu haruslah memahami pada peringkat awalnya tentang hakekat melakukan zikir nafas yaitu tentang gerak-geriknya : zikirnya.. lafaz zikirnya… letaknya.. dan sebagainya..,

Hal ini telah dibahas dalam blog..,, oleh karena itu amalkanlah zikir nafas itu dengan sungguh sungguh supaya kita mendapat QALBU yaitu pancaran Nur di dalam jantung kita yang menjadi kuasa pemancar kepada makrifat untuk me-makrifat-kan diri kita dengan Allah Taala.

Sesungguhnya hanya dengan zikir nafas sajalah gumpalan darah hitam yang menjadi istana iblis di dalam jantung kita akan hancur setelah itu baru terpancarlah NUR-QALBU dan kemudian terpancarlah pula makrifah hingga sesorang itu memakrifatkan dirinya dengan Allah Taala dan dapatlah diri rahasia Allah yang menjadi diri batin kita membuat hubungan dengan diri ZATUL HAQ Tuhan Semesta Alam.

Latihan untuk menyaksikan diri ini hendaklah dibuat berperingkat, diperingkat awal melalui sholat sebagaimana yang diterangkan di dalam bahasan yang lalu.. dalam masa proses penyaksian diri seseorang itu akan mengalami satu proses membebaskan diri batin (KHAWAS FI KHAWAS) dari jasad dan dengan itu maka sesorang itu akan dapat melihat wajah kesatu sampai dengan wajah kesembilan yaitu martabat yang paling tinggi… dengan mendapat pemecahan wajah ini maka akan dapatlah kita membuat suatu penyaksian yang sebenarnya pada setiap saat dimasa hidupnya… pada masa beribadah (acara sholat), ataupun keadaan biasa.

Pada peringkat ini dinamakan juga peringkat martabat BAQA BILLAH yaitu suatu keadaan yang kekal pada setiap pendengaran.., penglihatan.., perasaan… dan sebagainya,dan pada tahapan ini mereka adalah seperti orang awam dan sulit untuk kita mengetahui derajat dirinya dengan Allah Taala..

Umumnya mereka yang mencapai maqam sholat da’im dapatlah kembali kehadrat Allah Taala dengan diri batin dan diri zahir tanpa terpisahkan diantara satu sama lain, mereka dapat memilih apakah hendak mati (meninggal) atau hendak ghaib….

NAFAS V

” Alhamdulillahirabbilalamin…. “

“Matikan dirimu sebelum engkau mati”

“MATI YANG PERTAMA” = seolah-olah bercerai Roh dari Jasad..,
tiada daya upaya walau sedikitpun jua, hanya Allah jua yang berkuasa,
kemudian.. dimusyahadahkan didalam hati dengan menyaksikan kebesaranNya yaitu sifat Jalal dan JamalNya dan kesucianNya.
Maka mati diri sebelum mati itu adalah dengan memulangkan sega

la amanah Allah yaitu Tubuh Jasad ini kepada yang menanggung amanah yaitu Rohaniah jua.
Tarik-lah ‘NAFAS’ itu dengan hakekat memulangkan dzat, sifat, afaal kita kepada Dzat, Sifat, Afaal Allah yang berarti memulangkan segala wujud kita yang zahir kepada wujud kita yang bathin (Roh). Dan pulangkan wujud Roh pada hakekatnya kepada Wujud Yang Qadim.

Maka..
Setelah sempurna “Mematikan diri yang pertama” …

“MATI YANG KEDUA” = melakukan “Mi’raj” yang dinamakan mati maknawi, yaitu hilang segala sesuatu didalam hatimu malainkan hanya berhadap pada Allah jua.
Dengan meletakkan nafas kita melalui alam ‘AMFAS’ yaitu antara dua kening (Kaf Kawthar) merasa penuh limpahan dalam alam kudus kita yaitu dalam kepala kita hingga hilang segala ingatan pada yang lain melainkan hanya hatimu berhadap pada Allah jua.

“MATI PADA PERINGKAT KETIGA” = adalah mati segala usaha ikhtiar dan daya upaya diri karena diri kita ini tidak dapat melakukan sesuatu dengan kekuatan sendiri. sebab manusia itu sebenarnya memiliki sifat ‘Fakir, dan Dhaif (lemah) ’.
Dinaikkan ‘TANAFAS’ hingga ditempatkannya dengan sempurna di ‘NUFUS’ dengan melihat pada mata hati itu dari Allah, dengan Allah dan untuk Allah.

Dari Allah mengerakkan Rohaniah,
Dari Rohaniah menggerakkan Al-Hayat
Dari Al-hayat mengerakkan Nafas,
Dari Nafas mengerakkan Jasad
dan pada hakekatnya.. Allah jualah yang mengerakkan sekalian yang ada.

firmanNya…,

“Dan tiadalah yang melontar oleh engkau ya Muhammad ketika engkau melontar tetapi Allah yang melontar

NAFAS VI

Umumnya orang tua kita dahulu banyak memiliki ilmu yang tersembunyi.
Di antaranya adalah Ilmu Nafas.

Dengan cara memperhatikan pergerakan keluar masuk nafas melalui hidung kemudian digabungkan dengan ilmu pengetahuan yang pernah dialami (amalan), sebagian orang tua kita mampu mengetahui apa yang akan terjadi.
…………………….

Di depan pintu sebelum hendak keluar meninggalkan rumah untuk berk

erja atau merantau.., petuah dalam ilmu nafas selalu digunakan oleh orang-orang tua kita.
Periksa Nafas kiri yang kencang atau nafas kanan…
………………………

Di atas tempat tidur sebelum hendak berangkat tidur ilmu nafas selalu mereka gunakan…
Periksa Nafas kiri yang kencang atau nafas kanan…
………………………..

Ada juga orang-orang tua kita yang melakukan zikir-zikir tertentu ketika masuk atau keluarnya nafas mereka…
………………………..

Tapi sayang….
Ilmu ini semakin hilang…
Dulu waktu mereka ada jarang di-turun-kan..

Kini…
Ilmu ini menjadi sangat rahasia..
Jika kita hendak mempelajarinya..,
Carilah guru yang benar-benar tahu tentang ilmu ini…
Ilmu ini sangat dalam sekali… butuh ketekunan.. kesabaran..
Bagaimana kaitannya mulai dari Nafas ke Amfas sehinggaTanafas dan menjadi Nufus?
………………………….

Bahkan dengan ilmu ini, si pengamalnya akan dapat mengetahui kapan saat saat kematiannya!

Salam

Zulkarnain Bandjar