Senin, 08 Februari 2016

Shalawat Jauharatul Kamal

Sholawat yang indah
Bagi-bagi solawaat yuuk.

Shalawat Jawharat al-Kamal
Shalawat Jawharat al-Kamal

Jika kalian membaca shalawat ini 7 kali sehari atau lebih, yuhibbahu mahabbatan khaasah wa laa yamuutu illa waliyyan, Nabi (s) akan mencintai kalian dengan cinta yang khusus, yang istimewa dan kalian tidak akan meninggalkan dunia tanpa menjadi seorang wali.  Barang siapa yang membaca shalawat ini berarti menyebutkan nama-nama tertinggi dari Nabi (s), dan Allah (swt) akan membukakan baginya sebagaimana yang Dia bukakan bagi para Awliya-Nya!

********

SENIN, 04 MARET 2013

Salawat Jauharatul Kamal & Keutamaannya

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْر ِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِا الْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَة ًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ.

Allâhumma shalli wa sallim `alâ `Aynir rahmatir rabbâniyah, wal yaqûtati ’l-Mutahaqqiqah, al-hâithati bi markazi ‘l-fuhumi wal ma`ânî, wa nûri ‘l-akwâni ‘l-mutakawwinati al-Adamiyy, shahibi ‘l-haqqi ‘r-rabbânī, al-barqi ‘l-astha`i bi muzûni ‘l-arbâhi ‘l-mâliati likulli muta`arridhin mina ‘l-buhuri wa ‘l-awânî, wa nûrika ‘l-lami`i ‘l-ladzî malata bihi kawnaka ‘l-hâitha bi amkinati ‘l-makânī.

Allâhumma shalli wa sallim `alâ `Ayni ’l-Haqq, al-latî tatajalla minha `Urûsyu ‘l-Haqâiqi `Ayni ‘l-ma`ârifi, al-aqwam shirâthikat tâmmi ‘l-asqam.

Allâhumma shalli wa sallim `alâ thal`ati ‘l-haqqi bil-haqq, al-kanzi ‘l-A`zham, ifâdhatika minka Ilayka, Ihâthati ‘n-Nûri ‘l-Muthalsam, shallallâhu `alayhi wa `alâ âlihi shalatan tu-`arrifuna bihâ iyyâh

Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Sumber Rahmat Rabbaniyyah, dan permata sejati yang mencakup seluruh hakikat, yang menjadi pusat segala pemahaman dan makna.  Dan Cahaya Ciptaan bagi penciptaan anak cucu Adam, Pemilik Kebenaran Rabbani.  Cahaya kilat yang paling terang di awan hujan yang bermanfaat yang mengalir memenuhi semua saluran air yang menghadapnya, sehingga memenuhi segala lautan ruang dan masa.  Dan Cahaya Terang yang dengannya Engkau telah mengisi alam semesta dan yang memenuhi segenap tempat. 

Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Sumber Kebenaran, yang darinya terpancar manifestasi Kearifan, Sumber Ilmu, yang paling kokoh, yang paling sempurna dan paling lurus.

Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan bagi munculnya Kebenaran dengan Kebenaran; yang merupakan harta yang agung.  Tempat datangnya limpahan cahaya yang berasal dari-Mu kepada-Mu; suatu lingkaran Cahaya yang tersembunyi.  Semoga rahmat dan keselamatan dilimpahkan kepada Nabi (s) dan keluarganya, dengan shalawat yang dapat membawa kami pada pengetahuan tentang beliau.

#Maulana Syaikh Nazim Adil Alqurbusi Alhaqqani qsa

Kamis, 04 Februari 2016

Tentang tareqat Tijaniyah

Ajaran dan Dzikir Tarekat Tijaniyah
Sepengetahuan kami syekh Ahmad at-Tijani ra tidak meninggalkan karya tulis yang beliau ajarkan dalam tarekatnya. Ajaran tarekat ini dapat dipelajari dari kitab karya murid-muridnya, seperti Jawahirul-Ma’ani wa Bulugul-Amani fii-Faidhis-Syeikhit-Tijani, Kasyful-Hijab Amman Talaqqa Ma’at-Tijani minal-Ahzab, dan As-Sirrul-Abhar fi-Aurad Ahmad at-Tijani. Kitab kitab ini dipakai oleh para muqoddam sebagai panduan dalam menyebar luaskan ajaran Tarekat Tijaniyah sejak abad ke-19. Tarekat Tijaniyah mempunyai wiridan yang sangat sederhana dan mudah. Wiridannya hanya terdiri dari Istighfar, Shalawat dan Tahlil yang masing-masing dibaca sebanyak 100 kali. Diamalkan sehari dua kali, setelah shalat Shubuh dan Ashar. Wadhifahnya terdiri dari Istighfar (astaghfirullah al-adzim alladzi laa ilaha illa hua al hayyu al-qayyum) sebanyak 30 kali, Shalawat Fatih 50 kali, Tahlil (La ilaaha illallah) 100 kali, dan ditutup dengan doa Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali. Wirid wadhifah ini juga boleh diamalkan sehari dua kali, yaitu sore dan pagi hari, tetapi lebih afdhol jika dilakukannya pada malam hari secara berjama’ah. Selain itu, setiap hari Jum’at sore pengikut tarekat ini berkumpul untuk melaksanakan dzikir Hayhalah, yaitu membaca dzikir tahlil setelah shalat Ashar sampai matahari terbenam. Dalam pelaksanaan dzikir Wadzifah dan Haylalah, syekh Ahmad ra menganjurkan untuk dilaksanakannya secara berjamaah, berwudhu, bersih badan, pakaian dan tempat, menutup aurat, tidak boleh berbicara, pasang niat untuk berdzikir, serta menghadap kiblat. Seperti halnya ajaran tarekat lain, tarekat Tijani juga menganjurkan kepada para pengikutnya untuk menggambarkan wajah syekh Ahmad ra saat mereka sedang berdzikir, agar tertanam rasa cinta yang kuat kepada syekhnya dimanapun mereka berada. Satu hal yang perlu untuk diketahui dari dzikir Tarekat Tijaniyah ( yang membedakannya dengan tarekat-tarekat lain ), bahwa tujuan dzikir dalam tarekat ini, lebih menitik beratkan pada kesatuan jiwa dengan Rasulullah SAW, bukan kemanunggalan jiwa dengan Tuhan, sebagaimana tarekat lain. Oleh karena itu, tarekat ini disebut juga dengan nama Thoriqoh Muhammadiyyah atau Thoriqoh Ahmadiyyah, yang temanya merujuk langsung kepada nama Rasulullah SAW. Akibatnya terlihat jelas, tarekat ini lebih menekankan pada aktivitas-aktivitas praktis, dan tidak terlalu menekankan pada mujahadah yang ketat, bahkan menolak ajaran esoterik, terutama ekstatik dan metafisis kaum shufi. Coba perhatikan petikan dari kitab As-sirrul-Abhar Ahmad at-Tijani yang membahas tentang tata tertib, berdzikir dalam tarekat ini : “Untuk dapat mengamalkan wirid tarekat ini, anda haruslah sebagai seorang muslim dewasa ( akil balig ), dan anda-pun harus meminta izin / restu dari orang tua, sebab orang tua adalah salah satu sarana ( wasilah ) untuk sampai kepada Allah. Setelah itu anda harus mencari seorang syekh yang telah memiliki izin yang sah untuk mentalqin, supaya anda dapat berhubungan dengan Allah secara benar melalui bimbingan seorang guru. Sebaiknya anda menghindar dari wiridan yang diterima dari syekh yang lain, sebab Allah tidak menciptakan dua hati di dalam diri anda. Jangan sekali-kali mengunjungi seorang wali-pun, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, sebab tidak seorang pun yang dapat melayani dua mursyid sekaligus. Selain itu anda harus istiqomah melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah dan disiplin menjalankan ketentuan hukum syari’at, sebab tidak ada syariat yang lebih baik selain syariat yang dibawa oleh makhluk terbaik ( yaitu Rosulullah SAW ). Anda harus mencintai syekh Ahmad ra dan seluruh khalifahnya seumur hidup, sebab mencintai mereka merupakan sarana untuk menyatukan jiwa dengan Rosulullah SAW. dan jangan terfikir untuk meninggalkan majlis para muqoddam ( guru ) yang membimbing anda, sebab ini adalah salah satu ciri dari kegagalan. Anda dilarang keras untuk menfitnah atau bermusuhan dengan syekh, sebab hal itu akan membawa kepada kehancuran. Istiqomah-lah dalam berdzikir, sebab di dalam berdzikir, anda akan dapat menemukan rahasia-rahasia ilahiyah. Anda dilarang keras mengkritik segala sesuatu yang tampak janggal dalam thariqah ini, mungkin itu disebab kan karena kedangkalan ilmu anda dalam memahaminya. Berkumpullah bersama dalam melaksanakan wirid wazhifah dan haylalah Jum’at, agar anda terpelihara dari tipu muslihat syetan. Anda dilarang membaca Jauharatul-Kamal kecuali dalam keadaan suci dari hadats, sebab Rosulullah SAW hadir dalam pembacaan ketujuh”.

Selasa, 02 Februari 2016

Sultan Murad dan Wali mastur

"WALI ALLAH YG TERSEMBUNYI"
(Hikmah)

.

Cerita ini diambil dari buku harian Sultan Murad IV. Di dalam buku hariannya itu diceritakan bahwa suatu malam sang Sultan Murad merasa sangat gelisah dan galau, ia ingin tahu apa penyebabnya.

Maka ia pun memanggil kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi keluar dari istana dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan.

Sultan murad berkata: "Mari kita keluar, kita blusukan melihat keadaan rakyatku".

Mereka ia pun pergi, udara saat itu sangat panas. Tiba-tiba, mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak di atas tanah.

Maka Disentuh lelaki itu dan dibangunkan oleh Sultan murad, ternyata lelaki itu telah wafat.

Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak ada yang peduli dengan Keadaan mayat lelaki tersebut.

Maka Sultan murad yang saat itu menyamar sebagai rakyat biasa, Memanggil mereka yang saat itu lewat.

kemudian mereka bertanya kepada sultan: "Ada apa? Apa yang kau inginkan?".

Sultan menjawab: "Mengapa orang ini wafat tapi tidak ada satu pun diantara kalian yang ngurus dan membawa kerumahnya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?"

Mereka berkata: "Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu minum khamar (mabuk mabukan) dan selalu berzina dengan pelacur".

Sultan menjawab: "Tapi . . bukankah ia juga Umat Rasulullah Muhammad SAW? Ayo angkat dia, kita bawa ke rumahnya".

Maka Mereka mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Ketika sampai di rumahnya, saat istri lelaki tersebut mengetahui suaminya telah wafat, ia pun sedih dan menangis. Tapi orang-orang langsung pada pergi semua, hanya sang Sultan dan kepala pengawalnya yang masih tinggal dirumah lelaki itu.

Kemudian Sang Sultan bertanya kepada istri laki-laki itu: "Aku mendengar dari orang-orang disini, mereka berkata bahwa suamimu itu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka tidak peduli akan kematiannya, benarkah kabar itu".?

Maka Sang istri menjawab: "Awalnya aku menduga seperti itu tuan. Suamiku setiap malam keluar rumah pergi ke toko minuman keras (khamar), kemudian membeli sesuai kemampuannya. Ia bawa khamar itu ke rumah, kemudian membuangnya ke dalam toilet, sambil berkata: "Alhamdulillah Aku telah meringankan dosa kaum muslimin".

Suamiku juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi mereka uang dan berkata kepada Sipelacur: "Malam ini merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai pagi, jangan kau terima tamu lain!".

Kemudian ia pulang ke rumah, dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda Islam".

Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira bahwa ia selalu minum minuman keras (khamar) dan melakukan perzinahan. Dan berita ini pun menyebar di masyarakat.

Sampai akhirnya suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku: "Kalau nanti kamu mati, maka tidak akan ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, Dan tidak ada yang akan mensholatimu, tidak ada pula yang akan menguburkanmu".

Ia hanya tertawa, dan menjawab: "Janganlah takut wahai istriku, jika aku mati, aku akan disholati oleh Sultannya kaum muslimin, oleh para Ulama dan para Auliya Allah".

Maka, Sultan Murad pun menangis, dan berkata: "Benar apa yang dikatakannya, Demi Allah, akulah Sultan Murad Itu, dan besok pagi kita akan memandikan suamimu, mensholatinya dan menguburkannya bersama² masyarakat dan para ulama".

Akhirnya jenazah laki-laki itu besoknya dihadiri oleh Sultan Murad, dan para ulama, para syeikh dan juga seluruh warga masyarakat....!!

"Subhanallah"

Terkadang kita suka menilai orang dari apa yang kita lihat dan kita dengar dari omongan orang orang. Andai saja kita mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati seseorang, niscaya pasti kita akan menjaga lisan kita dari membicarakan orang lain...

*******
Sumber. buku harian Sultan Murad IV (Sultan Turki Utsmani, memerintah Sep 1623 - Feb 1640) yang berbahasa arab.

قصة من مذكرات السلطان مراد الرابع .. يقول أنه حصل له في هذه الليلة ضيق شديد ليعلم سببه فنادى لرئيس حرسه وأخبره وكان من عادته تفقد الرعية متخفيا. فقال لنخرج نتمشى قليلا بين الناس.فساروا حتى وصلوا حارة متطرفة فوجد رجلا مرميا على الأرض فحركه السلطان فإذا هو ميت والناس تمر من حوله لا أحد يهتم. فنادى عليهم تعالوا وهم يعرفونه . قالوا ماذا تريد؟ . قال : لماذا هذا الرجل ميت ولا أحد يحمله من هو؟ وأين أهله؟ قالوا هذا فلان الزنديق شارب الخمر وزاني . قال أليس هو من أمة محمد عليه الصلاة والسلام؟ . فاحملوه معي إلى بيته ففعلوا ..ولما رأته زوجته أخذت تبكي وذهب الناس وبقي السلطان ورئيس.الناس تقول عنه كذا وكذا حتى أنهم لم يكترثوا لموته ؟ قالت : كنت أتوقع هذا . . إن زوجي كان يذهب كل ليلة للخمارة يشتري ما استطاع من الخمر ثم يحضره للبيت ويصبه في المرحاض ويقول أخفف عن المسلمين.

وكان يذهب إلى من تفعل الفاحشة يعطيها المال ويقول هذه الليلة على حسابي اغلقي بابك حتى الصباح ويرجع يقول الحمد لله خففت عنها وعن شباب المسلمين الليلة. فكان الناس يشاهدونه يشتري الخمر ويدخل على المرأة فيتكلمون فيه. وقلت له مرة إنك لو مت لن تجد من يغسلك ويصلي عليك ويدفنك من المسلمين .. فضحك وقال لا تخافي سيصلي عليّ سلطان المسلمين والعلماء والأولياء.

فبكى السلطان مراد وقال : صدق والله أنا السلطان مراد وغدا نغسله ونصلي عليه وندفنه ..وكان كذالك فشهد جنازته مع السلطان العلماء والمشايخ والناس ..

سُبحان الله..

نحكم علي الناس بـما نراه ونسمعه من الآخرين ..
ولو كنا نعلم خفايا قلوبهم لحرسنا ألسنتنا

Sayyidina Mahdi Alaihissalam

Berita Gembira tentang Sayyidina Mahdi 'alayhissalam pada 10 Hari Terakhir Ramadhan 1428H

Mawlana Shaykh Muhammad Hisham Kabbani
Rabu, 3 Oktober 2007, setelah Sholat Subuh
Fenton, Michigan

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim

Bismillahirrahmanirrahiim

Nawaytul Arba'in, nawaytul i'tikaf, nawaytul khalwah, nawaytul 'uzlah, nawaytur riyadah, nawaytus suluuk lillaahi ta'aala l-'aazhim fii hadzal masjid

[Catatan pribadi, bukan transkripsi resmi; bila ada kesalahan adalah kesalahan penulis]

Kita kini berada di 10 hari terjahir di bulan Ramadhan. We spoke in the 1st 10 days of this Ramadan, about Sayyidina Mahdi 'alayhissalam, and also in the 2nd 10 days.

Pada 10 hari terakhir ini, ada persiapan-persiapan bagi Sayyidina Mahdi 'alayhissalam untuk menerima rahasia-rahasia Qur'an Suci. Beliaulah kunci bagi setiap rahasia, setiap samudera, setiap Kitab Suci. Beliau mewarisinya dari sang Nabi, Sayyidina Muhammad sallallahu 'alayhi wa aalihi wasahbihi wasallam.

Segera ibadah beliau diterima, setiap orang yang ada dalam hadirat beliau, terutama mereka yang menunggu kehidupan damai dimasa Mahdi, dan pada masa Sayyidina 'Isa 'alayhissalam; mereka akan menerima satu cahaya [dari rahasia-rahasia itu] yang akan berfungsi sebagai kendaraan bagi kenaikan mereka masing-masing ke Hadirat sang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam.

Amrul Islam (The Matter of Islam religion) sedang berdatangan ke orang-orang dengan tingkat pemahaman terendah. Setiap Muslim kini sibuk dengan kehidupan mereka sehari-hari, lupa dan tidak mencari kehidupan relijius. Sehingga menuju ke titik terendah, kini itu akan naik dengan sangat cepat, tidak lagi menunggu dalam jangka hari, minggu, bulan atau pun tahun. Ini merupakan sebuah bagian dari persiapan dalam hati/qalbu mereka untuk menerima pengetahuan, bagi mereka yang akan hidup pada masa Sayyidina Mahdi dan Sayyidina 'Isa 'alayhimassalaam.

Sayyidina Mahdi alayhissalam mempunyai 7 orang Menteri, yaitu:

1. Syahaamatul Fardaani

2. Yuusuf as-Shiddiiq

3. 'Abdur-Rauf al-Yamaaniy

4. Imaamu 'l-'Aarifiin Amaanu 'l-Haqq

5. Lisaanu l'-Mutakallimiin 'Awnullaah as-Sakhaawii

6. 'Aarifu 't-Thayyaar al-Ma'ruf bi Mulhaan

7. Burhaanu l-Kuramaa' Sulthanul Awliya' Ghawth il-Anaam

Ketujuh Menteri ini sekarang sedang diberikan otoritas untuk melihat ke hati semua orang siapa yang akan berada pada masa Mahdi 'alayhissalam. Bukan tugas mereka untuk melihat ke mereka yang akan meninggal dunia, hal itu merupakan tanggung jawab yang lainnya untuk melaksanakan tugas itu. Ketujuh Menteri ini melihat ke hati mereka yang akan ada [hidup pada masa Mahdi dan/atau 'Isa], untuk download (ke hati/qalbu mereka) semua informasi dan pengetahuan ma'rifatullah ini ke hati/qalbu mereka. Ketujuh Menteri ini akan menyiapkan sebisa mungkin sehingga mereka yang akan hidup itu dapat menerima Rahasia-rahasia Qur'an Suci [1], yang akan diwahyukan kepada Nabi Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, kemudian dari beliau ke Sayyidina Mahdi 'alayhissalam, kemudian darinya ke 7 Menteri, kemudian dari 7 Menteri ini ke Awliya'ullah, kemudian dari Awliya'ullah ke para murid mereka.

Informasi ini akan diberikan berdasarkan ukuran dari kapasitas hati/qalbu. Ini seperti landasan terbang di bandara, setiap jurusan ada landasan terbangnya. Ketujuh Menteri ini akan menyiapkan landasan terbang bagi para murid, ke setiap jurusan, ada kendaraan yang mendarat dan membawa pengetahuan bagi setiap orang. Tiap orang akan mempunyai pengetahuan berbeda, pengetahuan pada tiap orang ini akan terefleksi ke orang-orang sekitar mereka, orang-orang yang mereka temui, atau bicara. Dan pengetahuan ini akan terefleksi bahkan tanpa perlu mereka bicara.

Persiapan-persiapan ini untuk menerima Rahasia-rahasia Qur'an Suci yang akan menyiapkan mereka untuk Ma'arij, kenaikan mereka ke maqam masing-masing. Di bulan ini, pada Perkumpulan Awliya'ullah ( Diwanu l'Awliya'), di Hadirat sang Nabi sallAllahu 'alayhi wasallam, Sayyidina Mahdi sudah diberikan otorisasi untuk memulai prosedur tersebut.

Sayyidina Mahdi mempunyai 40 khalifah, dan 59 deputi, sehingga total ada 99 Nama, sebagai manifestasi/perwujudan/tajalli dari 99 Nama Allah (Asmaul Husna)

Ke-99 Nama ini (deputi dan khalifah) disarikan oleh Grand-GrandShaykh Sharafuddin Daghestani [2], dari Qura'n Surah Al-An'aam. Beliau mendorong keluar nama mereka dari Surat tersebut selama 3 bulan. Hal itu sangatlah berat karena beliau mempunyai masalah hati (penyakit secara fisik .penj). Setelah itu, beliau memberikan daftar nama ini kepada pewarisnya, Grandshaykh 'Abdullah Faiz ad-Daghestani, dan kemudian diberikan kepada Mawlana Shaykh Nazim 'Adil Al-Haqqani.

[Penulisan terganggu]

Mawlana Shaykh Nazim berpidato didepan para Khalifah dan Deputi ini tentang rahasia Qur'an Suci. Mawlana Shaykh Nazim berbicara mengenai pentingnya membersihkan ego dan pentingnya ittiba' (mengikuti).

Dalam pertemuan ini, semua orang-orang spiritual, mereka hadir dan duduk dalam pertemuan ini supaya dilengkapi dan siap untuk bergaul dengan orang-orang untuk bersiap pada masa Mahdi alayhissalam.

Ramadhan ini, Mahdi 'alayhissalam, sudah diberitahukan perihal kemunculannya di dunia ini, dan tentang apa yang akan terjadi di masa mendatang, untuk membawa keadilan dan kedamaian ke seluruh dunia tanpa peperangan. Allah SWT telah menyiapkan beliau dengan kekuatan rahasia tersembunyi yang begitu besarnya, sebuah energi yang melampaui semua bentuk energi yang kita pahami. Energi ini bukanlah berasala dari energi duniawi namun energi Surgawi dari Jibril 'alayhissalam. Dan kami sudah pernah menjelaskannya dengan detil.

Energi itu diletekkan tasarruf beliau (kendali/kontrol), jadi setiap jengkal tangan dimuka bumi akan berada dibawah kendali dan perintah beliau, secara fisik. Mahdi memberikan otorisasi kepada Mawlana Shaykh Nazim untuk bekerja pada hati/qalbu manusia.

Hasilnya, ada sebuah perayaan sangat besar dan kebahagiaan dalam Surga, bahwa semua penderitaan dan pertumpahan darah akan hilang, sementara keadilan dan kedamaian akan muncul. Ada sebuah parade Kebahagiaan, ini dibukakan kepada Sayyidina Muhammad sallAllahu 'alayhi wasallam, dan kemudian dari beliau dibukakan kepada Sayyidina Mahdi 'alayhissalam, dan lalu ke Awliya'ullah. Mereka pergi ke parade ini yang membuat orang-orang merasa lebih baik. Because its happiness is reflected on earth.

Banyak perubahan akan terjadi. Negara-negara lama akan hilang dan negara-negara baru akan bermunculan dengan rakyatnya yang damai.

Allah mewahyukan kepada Sayyidina Mahdi alayhissalam bahwa beliau akan menghabiskan waktu selama 7 tahun berada di Bumi bersama 7 orang Menteri. Setiap tahun selama masa pemerintahan beliau, satu dari para Menteri akan meninggal dunia. Sayyidina Mahdi sudah mengetahui apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi.

Inilah secara singkat apa yang terjadi. Ada perayaan sangat besar di Surga, para malaikat melafalkan tasbih:

* Subhana Dzil 'Izzati wal Jabaruut

* Subhana Dzil Qudrati wal Malakuut

* Subbuuhun Quddusun Rabbuna wa Rabbul Malaaikati war Ruuh

Tasbih ini dilafalkan dalam musik bermelodi Surgawi. Ketujuh buah Surga turut merayakan. Kursi Surgawi dihiasi, dan Singgasana sudah dibuka bagi Sayyidina Mahdi alayhissalam. Jika Musik Surgawi itu didengar oleh orang-orang, mereka akan terbang tanpa sayap dari Bumi ke Surga; dan semua gelombang elektromagnetik ini berasal dari refleksi tasbih para malaikat. Yang para ilmuwan temukan mengenai getaran dan gelombang adalah berasal dari tasbih para malaikat. Ketika Mahdi 'alayhissalam muncul, semuai musik Surgawi akan didengar oleh semua orang ini, orang-orang yang akan berada dimasa tersebut; dan mereka akan melihat diri mereka duduk diatas kuda yang dapat terbang dan membawa mereka kemana pun; untuk membawa kebahagiaan dimuka bumi.

Inilah pembukaan bagi 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Bihurmatil Habib Bihurmatil Faatihah!

Footnotes:

[1] Rahasia-rahasia Qur'an Suci disebutkan oleh Mawlana Shaykh Hisham pada sohbet-sohbet lain sebagai Khaamisul Quran, Qur'an Suci kelima, didalamnya terdapat rahasia-rahasia Qur'an

[2] Grand-GrandShaykh Sharafuddin Dagestani adalah seorang 'Aalim yang besar dan Sufi pada masa kekuasaan Utsmani. Grandshaykh 'Abdullah Faiz Daghestani adalah murid utama beliau. Lalu Grandshaykh 'Abdullah Faiz Daghestani memberikan kepada penerusnya Mawlana Shaykh Nazim 'Adil Al-Haqqani, Mursyid Tariqah Naqsybandi 'Aliyyah yang masih hidup.

Senin, 01 Februari 2016

Amalan untuk berkumpul di majlis para Nabi dan Awliya

Bagi yang ingin Berkumpul di majlis  Para Nabi dan Awliya Allah silakan di amalkan

Sulthan Maulana Syaikh Naziem

Ucapkan salam  dengan cara yang sama setiap pagi. Sebelum tidur membaca 3x surat al Ikhlas, Qul Huwa Allahu(ila akhirihi). "Ya Tuhan ku ucapkan Salam " "ku hadiahkan 3 surat al ikhlas ini untuk semua awliya dan nabi yang beristirahat di kerajaan(wilayah)Mu dari Timur ke Barat, ku sambut semua dari mereka dan sekarang untuk mereka 3 surat al Ikhlas(ini). Semoga Engkau  menerangi hatiku dengan cahaya mereka, terangi/sinari hatiku dengan cahaya mereka ya Tuhan. "

(Lalu syaikh naziem melanjutkan)Jika bisa kalian mintalah juga (pada Allah): "Semoga Engkau  kirimkan kepadaku himmat/dukungan mereka, semoga Engkau meramaikan(mengumpulkan)aku(bersama mereka), ya Tuhan",

Jika kalian istiqamahkan ini selama 40 malam, kalian akan dipanggil di majelis para nabi '. Kalian dapat mengunjungi majelis awliya dalam mimpi kalian, setidaknya Berkah akan  turun dgan menyebut nama nama mereka.

Rahasia Tirakat,Riyadoh &Mujahadah,

"Siapa yang tirakat , pasti berhasil"
Bagi kaum sarungan / santri pondok pesantren , istilah tersebut adalah hal yang tidak asing,bahkan kesemua itu adalah tradisi bagi santri yang ingin sukses dalam mencari ilmu yang bermanfaat dan barokah setelah lulus dari pesantren

Orang orang dulu , orang tua kita terutama orang  jawa psti sering dengar istilah tirakat ..

Akan saya urai tentang pentingnya 3 hal di atas dalam mencari ridha Allah,baik bagi para pencari ilmu atau pengikut thariqat/ tassawuf...
 
Secara umum 3 hal di atas adalah cara atau metode untuk memerangi hawa nafsu yg buruk, ego pribadi , seperti sifat pemarah , dll..

Dasar melakukan tirakat,riyadoh bisa merujuk pada hadits ini..
من ترك شيئاً لله عوضه الله خيراً منه

Barang siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan mengganti baginya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang ia tinggalakan.

Kata "meninggalkan sesuatu karena Allah"  dalam hadits di atas bisa masuk dalam kategori bertirakat, contoh nya tirakat dg tidak tidur malam hari,tirakat dg tidak makan nasi, atau tidak mkan makanan yang bernyawa,
Ini meninggalkan sesuatu karena Allah,
Kemudian "Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik" maksudnya disini  yaitu berhasil apa yg di cita citakan, jika cita cita dan tujuannya untuk melawan hawa nafsu,maka insyaAllah berhasil, jika cita citanya agar bersih hatinya juga insyaAllah berhasil.

Lanjut...
Pada hakikatnya laku tirakat merupakan proses yang bertujuan untuk sebagai berikut...
1.Membersihkan hati dan batin agar lebih tulus dan ikhlas.
2.Memahami hakikat hidup wira’i (sederhana)
3.Menjaga keintiman dengan yang Maha Kuasa
4.Mengurangi kekhawatiran kehilangan duniawi

Di antara laku tirakat untuk meningkatkan kemampuan batin, yaitu sebagai berikut:
1.Mutih
Mutih merupakan puasa menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga waktu magrib/tenggelamnya matahari (suruping srengenge). Pada saat menjalani puasa ini. Orang yang mengamalkannya harus berbuka dan sahur dengan makanan yang tawar. Dengan kata lain tidak boleh ada penyedap rasa. Jika makan nasi maka harus nasi saja. Tanpa lauk. Tidak boleh ditambahi garam, kecap, apalagi penyedap rasa. Begitu pula minumnya pun harus air putih/ air bening. Bukan air yang mempunyai rasa seperti teh atau susu.  Dengan melakukan puasa ini, tubuh Anda geteran energinya minimal akan sama dengan getaran energi jin.

2.Ngeruh/nyirih
Puasa ngeruh atau nyirih merupakan tirakat puasa yang harus menjaga pantangan tidak boleh makan atau minum sumber-sumber bernyawa. Sebab apapun yang bernyawa itu mengandung nafsu. Tujuan puasa nyirih atau ngeruh ini adalah mengendalikan nafsu.

3.Ngebleng
Ngebleng disebut juga sebagai penghentian kebiasaan duniawi, demi mencapai tingkat perenungan tertinggi pada diri manusia. Pantangan dalam tirakat ini yaitu makan, minum, tidur, keluar rumah, bersenggama, menyalakan api, dan berada di tempat terang. Ada baiknya orang yang melakukan amalan ini memperhatikan aspek fisik dan psikologisnya.

4.Jejeg
Jejeg berarti lurus. Atau tegak. Pada saat melakukan tirakat ini, orang yang mengamalkannya tidak boleh menekuk kakinya. Kecuali untuk tujuan shalat dan buang hajat.
Ini pernah di lakukan oleh seorang sufi besar dari timur tengah(saya lupa namanya. Hehe ) , yang tiap hari memandang ke atas langit hingga kornea matanya sangat merah

5.Lelana
Tirakat lelana biasa disebut juga tirakat mengembara. Pada saat melakukan tirakat ini tidak boleh menunggangi kendaraan apapun. Harus terus berjalan menuju ke tempat tujuannya (biasanya ke makam keramat).  Tidak boleh makan dari hasil meminta-minta. Pernah di lakukan oleh sulthanul aulia syaikh naziem dan Mbah As'ad syamsul arifin jawa timur

Secara khusus hujatul Islam, Imam Ghazali pernah menelitinya, menyangkut proses dari benih hingga menjadi nasi yang ternyata memerlukan campur tangan/bantuan banyak orang. Nah, dengan ngrowot berarti meniadakan, minimal mengurangi ketergantungan terhadap makhluk. Sekaligus memahamkan kepada kita bahwa bahan makan yang diberikan Tuhan itu banyak sekali, tidak hanya beras. Dengan begitu, orang yang telah selesai menjalankan laku ngrowot, akan bertambah tebal keimanan dan keyakinan terhadap kehendak dan kuasa Tuhan.

Mujahadah juga tidak jauh beda dg tirakat /riyadoh karena inti/tujuanya nya adalah sarana melawan,memerangi hawa nafsu,ego diri..Jenis nya juga hampir mirip dg tirakat, yaitu Uzlah,Diam,lapar,dan tidak tidur pada malam Hari..

Istilah dalam Tassawuf

Al-Luma
Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Kefakiran
Syekh Abu Nashr as-Sarraj — rahimahullah — berkata: Saya pernah mendengar jawaban Ibnu Salim ketika ditanya tentang dzikir, “Ada tiga macam bentuk dzikir: dzikir dengan

lisan yang memiliki sepuluh kebaikan, dzikir dengan hati yang memiliki tujuh ratus kebaikan dan dzikir yang pahalanya tidak dapat ditimbang dan dihitung,
yaitu puncak kecintaan kepada Allah serta perasaan malu karena kedekatan-Nya.”

Al- Junaid -rahimahullah- berkata, “Kefakiran adalah samudra cobaan (bala’), namun seluruh cobaannya adalah kemuliaan.” la ditanya tentang kapan orang fakir yang jujur ini mengharuskan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan tenggang waktu lima ratus tahun? Maka la menjawab, “Jika si fakir ini bermuamalah kepada Allah dengan hati nuraninya, setuju dengan Allah pada apa yang tidak diberikan-Nya, sehingga kefakirannya dianggap sebagai nikmat dari Allah yang diberikan kepadanya, dimana la merasa takut bila kefakirannya itu hilang sebagaimana ia merasa takut bila kekayaannya itu hilang. Ia selalu bersabar, berniat karena Allah dan bersenang hati dengan kefakiran yang telah dipilihkan Allah untuknya, dengan tetap menjaga agamanya, menyembunyikan kefakirannya, menampakkan kekecewaannya terhadap makhluk dan merasa cukup dengan Allah dalam kefakirannya, sebagaimana difirmankan Allah Swt., ‘(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orangkaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.’ (Q.S. al-Baqarah: 273).

Apabila si fakir memiliki sifat-sifat tersebut, maka la akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan tenggang waktu lima ratus tahun. Sementara hari Kiamat cukup baginya sebagai beban untuk menunggu dan diperhitungkan amalnya.”
Ibnu al Jalla’ -rahimahullah- berkata, “Barangsiapa tidak menyertai kefakirannya dengan sikap wara` (jaga diri dari syubhat), maka la akan terjerumus pada hal-hal yang diharamkan secara pasti, sementara la sendiri tidak menyadarinya.”
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya, “Siapakah orang yang paling mulia?” Lalu la menjawab, “Yaitu orang fakir yang ridha.”
Al-Muzayyin -rahimahullah- pernah mengatakan, “Batas kefakiran ialah bila orang yang fakir tidak bisa lepas dari kebutuhan.”
Ia juga mengatakan, `Apabila si fakir kembali kepada Allah Azza wa Jalla maka la akan bisa diterangkan bahwa la disertai ilmu pengetahuan, akhirnya la bingung dalam keberadaannya.”
Sementara al Junaid -rahimahullah- mengatakan, “Seseorang tidak bisa memastikan dengan benar akan kefakirannya sehingga la yakin bahwa di hari Kiamat nanti tidak ada orang yang lebih fakir daripada dirinya.”

Pendapat Mereka Tentang Ruh
Asy-Syibli -rahimahullah- mengatakan, "Hanya dengan Allah, ruh, jasad dan bersitan-bersitan hati bisa eksis, dan bukan karena eksistensi dzatnya masing-masing."
Ia juga pernah berkata, "Ruh itu penuh keramahan dan kelembutan, kemudian ia menggantung pada ujung hakikat. Ia tidak tahu siapa sebenarnya yang disembah dan berhak sebagai peribadatan, dimana la tidak mendekat kepada Dzat Yang Maha Menyaksikan (asy-Syahid) dengan tanpa melihat pada fenomena-fenomena alam yang menjadi saksi (Masyahid). la yakin, bahwa makhluk tidak akan bisa memahami Dzat Yang Maha Qadim dengan SifatNya yang bisa diberi alasan."
Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Saya pernah melihat pembahasan al Wasithi -rahimahullah- tentang ruh, dimana la mengatakan, "Ruh itu ada dua macam: ruh yang menghidupkan makhluk, dan ruh yang menjadi penerang hati. Dan ruh yang terakhir inilah yang difirmankan Allah Swt.:
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (nilai spiritual al-Qur'an) dengan perintah Kami.”
(Q.S. asy-Syura: 52).

la dinamakan ruh karena kelembutannya. Jika anggota tubuh berbuat kejelekan yang menyalahi adabnya, maka ruh akan terhalang dari sentuhan-sentuhan sebab yang menyakitkan."
Al Wasithi melanjutkan, "Ketika perhatian-perhatian itu terjadi pada ruh, maka ia akan menapak lebih tinggi pada hari-hari dan waktunya, la tahu segala yang mengajaknya berbicara dan memberi isyarat pada yang bisa dilihat."
Selanjutnya al Wasithi mengatakan, "Sesungguhnya itu adalah dua unsur: ruh dan akal. Maka ruh tidak dapat memberi kepada ruh sesuatu yang dicintainya. Demikian pula akal tidak siap untuk menolak dari akal sesuatu yang tidak disukainya."
Dikisahkan dari Abu Abdillah an-Nibaji yang mengatakan, “Apabila seorang arif telah bisa ‘sampai' (wushul), maka dalam dirinya terdapat dua ruh: ruh yang tidak mengalami perubahan dan perbedaan, dan ruh yang mengalami perubahan dan perbedaan."
Sebagian kaum Sufi mengatakan, "Ruh itu ada dua macam: ruh yang bersifat qadim dan ruh manusiawi (basyariyyah). Mereka berpendapat demikian atas dasar sabda Rasulullah Saw.:
"Kedua mataku tidur, namun hatiku tidak tidur." (H.r. Bukhari-Muslim dari Aisyah).

Maka secara lahiriah beliau tidur dengan ruh manusiawinya, sementara batinnya tidak tidur dan selalu terjaga tanpa mengalami perubahan.
Demikian halnya dengan sabda beliau:
"Sesungguhnya aku dijadikan lupa supaya aku bisa membuat sunnah. "
Sementara itu beliau juga pernah memberitahu, bahwa beliau tidak pernah dijadikan orang yang lupa. Maka apa yang diberitahukan ini adalah kondisi ruh qadim.
Demikian pula dengan sabda beliau:
“Aku tidaklah seperti kalian, sesungguhnya aku senantiasa berada dalam lindungan Tuhanku Yang memberiku makan dan minum."

Apa yang diberitahukan ini adalah sifat ruh qadim. Sebab beliau memberitahukan tentang sifat-sifat yang bukan sifat-sifat ruh. Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Pendapat tentang ruh yang dikemukakan tersebut adalah tidak benar. Sebab sifat keqadiman tidak akan bisa terpisah dari Dzat Yang Maha Qadim, sementara makhluk tidak sambung dengan Yang Maha Qadim - Semoga Allah senantiasa memberi taufik.
Saya pernah mendengar Ibnu Salim ditanya tentang pahala dan siksa, "Apakah pahala dan siksa diberikan pada ruh dan jasad atau hanya pada jasad?" Maka ia menjawab, "Taat dan maksiat tidak muncul dari jasad saja tanpa ruh atau dari ruh saja tanpa jasad, sehingga pahala dan siksa hanya diberikan pada jasad saja atau pada ruh saja. Maka orang yang berpendapat bahwa ruh itu mengalami reinkarnasi, perpindahan dan keqadiman, maka ia benar-benar tersesat dan sangat merugi."

Isyarat
Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Jika ada seseorang bertanya, "Apa makna isyarat?" Maka jawablah, "Pada firman Allah, ‘Maha Suci Dzat' (Q.s. al-Furqan:1).
Maka lafadz ‘alladzii’ dalam ayat tersebut adalah suatu kirzayah (metonimia). Sementara metonimia adalah seperti isyarat dalam kelembutan maknanya. Dan isyarat hanya bisa dipahami oleh para tokoh yang memiliki keilmuan yang tinggi."

Asy-Syibli -rahimahullah- berkata, "Setiap isyarat yang digunakan makhluk untuk memberi isyarat kepada al-Haq adalah dikembalikan kepada mereka, sehingga mereka memberi isyarat kepada al-Haq dengan al-Haq, yang mana mereka tidak menemukan jalan untuk menuju ke sana."
Abu Yazid al-Bisthami mengatakan, "Orang yang paling jauh dari Allah ialah orang yang paling banyak memberi isyarat kepadaNya." Kemudian la bercerita, ‘Ada seseorang datang kepada al-Junaid bertanya tentang suatu masalah. Kemudian al-Junaid memberi isyarat dengan kedua matanya melihat ke langit. Lalu orang tersebut berkata, ‘Wahai Abu al-Qasim, jangan memberi isyarat kepadaNya, sebab Dia lebih dekat dengan Anda daripada apa yang Anda isyaratkan.' Maka
al- Junaid berkata, ‘Anda benar.' Dan kemudian tertawa."

Dikisahkan dari Amr bin Utsman al-Makki -rahimahullah- yang mengatakan, "Hakikat para sahabat kami adalah Tauhid sementara isyarat mereka dianggap syirik."
Sebagian kaum Sufi berkata, "Masing-masing orang ingin memberi isyarat kepada-Nya, akan tetapi tidak seorang pun diberi jalan menuju ke sana."
Dikisahkan dari al Junaid -rahimahullah- yang pernah berkata kepada seseorang, "Dia itukah yang Anda beri isyarat wahai laki-laki? Berapa kali Anda memberi isyarat kepada-Nya? Tinggalkan, maka Dia akan memberi isyarat kepada Anda."
Abu Yazid -rahimahullah- berkata, "Barangsiapa memberi isyarat kepada-Nya dengan ilmu, maka la telah kufur, sebab isyarat dengan ilmu hanya terjadi pada sesuatu yang diketahui. Dan barangsiapa memberi isyarat kepada-Nya dengan ma'rifat maka ia telah kufur (mulhid) sebab isyarat dengan ma'rifat hanya terjadi pada hal-hal yang bisa dibatasi."

Saya mendengar ad-Duqqi bercerita: Az-Zaqqaq -rahimahullah- pernah ditanya tentang ‘murid', maka la menjawab, "Hakikat murid ialah dengan memberi isyarat kepada Allah Swt, sehingga ia bisa menemukan Allah bersamaan dengan isyarat itu sendiri." Kemudian la ditanya, "Lantas apa yang bisa memahami kondisi spiritualnya?" la menjawab, "Ialah menemukan Allah Swt. dengan menghilangkan isyarat?" Permasalahan ini dikenal dari al Junaid.
An-Nuri -rahimahullah- mengatakan, "Dekatnya kedekatan tentang apa yang kita beri isyarat adalah jauhnya kejauhan."
Yahya bin Mu'adz -rahimahullah- berkata, "Jika Anda melihat seseorang memberi isyarat kepada suatu perbuatan maka tarekat (cara) yang ia tempuh adalah tarekat wara’ (jaga diri dari syubhat). Jika Anda melihat seseorang memberi isyarat kepada ilmu maka tarekat yang la tempuh adalah tarekat ibadah. Jika Anda melihatnya memberi isyarat pada keamanan dalam rezeki maka tarekatnya adalah tarekat zuhud. Jika Anda melihatnya memberi isyarat pada ayat-ayat Tuhan, maka tarekatnya adalah tarekat al-Abdal (para pengganti). Jika Anda melihatnya memberi isyarat kepada nikmat-nikmat Allah maka tarekatnya adalah tarekat para arif."
Abu All ar-Rudzabari -rahimahullah- mengatakan, "Ilmu kami ini adalah isyarat. Jika telah menjadi ungkapan maka akan tidak jelas (samar)."
Seseorang menanyakan suatu masalah kepada Abu Ya'qub as-Susi -rahimahullah- dimana la hanya memberikan isyarat atas pertanyaannya itu. Maka as-Susi menjawab, "Wahai laki-laki yang bertanya, sebenarnya kami bisa menjawab pertanyaan Anda tanpa dengan isyarat yang Anda berikan." Tampaknya Abu Ya'qub tidak menyukai isyaratnya.

Kepandaian (azh-Zharf)
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna azh-zharf, maka ia menjawab, “Yaitu menghindari segala bentuk akhlak yang rendah, dan menggunakan segala akhlak yang mulia, Anda berbuat semata karena Allah kemudian Anda tidak melihat bahwa diri Anda merasa berbuat.”

Muru’ah
Ahmad bin Atha' -rahimahullah- ditanya tentang muru'ah, maka la menjawab, "Jangan menganggap banyak amalan yang Anda lakukan untuk Allah, dan ketika Anda melakukan suatu amal maka seakan-akan Anda tidak pernah melakukan sesuatu, sementara Anda menginginkan yang lebih banyak dari itu."

Nama Sufi
Mengapa kelompok ini disebut dengan sebutan Sufi? Maka Ibnu ‘Atha' -rahimahullah- memberikan jawaban, "Mereka disebut dengan nama itu, karena bersihnya kelompok tersebut dari kotoran makhluk dan keluar dari tingkat kejelekan."
An-Nuri -rahimahullah- mengatakan, “Mereka disebut dengan nama ini, sebab kelompok tersebut mencakup makhluk dengan lahiriah para ahli ibadah, sementara mereka mencurahkan segalanya hanya untuk Allah dengan tingkatan orang-orang yang cinta.”
Asy-Syibli -rahimahullah- berkata, “Mereka disebut dengan nama ini, karena masih ada sisa-sisa diri (nafsu) mereka yang tertinggal. Andaikan tidak ada sisa-sisa tersebut, tentu tidak akan ada nama yang bisa melekat pada mereka.”
Sebagian kaum Sufi mengatakan, “Mereka disebut demikian disebabkan mereka bernafas dengan ruh kecukupan (al-kifayah) dan berpenampilan dengan sifat inabah (kembali kepada Tuhan).”

Rezeki
Yahya bin Mu'adz -rahimahullah- mengatakan, "Dalam wujud (keberadaan) seorang hamba, rezeki tanpa harus dicari, dan itu membuktikan bahwa rezeki diperintah untuk mencari pemiliknya."
Sebagian kaum Sufi mengatakan, "Apabila saya mencari rezeki sebelum waktunya maka saya tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya setelah lewat waktunya saya juga tidak akan mendapatkannya dan apabila saya mencarinya tepat pada waktunya maka saya akan tercukupi."
Diceritakan dari Abu Ya'qub -rahimahullah- yang berkata: Orang-orang berbeda pendapat tentang sebab-sebab datangnya rezeki. Sebagian kaum mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah berusaha dan bekerja keras. Ini adalah pendapat orang-orang Qadariyah. Sementara itu sebagian kaum yang lain mengatakan, bahwa sebabnya rezeki adalah taqwa.
Mereka berpendapat demikian atas dasar lahiriah ayat al-Qur'an:
"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka."
(Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

Mereka telah keliru dalam pendapatnya. Sementara Ilmu yang ada di sisi Allah, bahwa sebabnya rezeki ialah karena penciptaan. Sebagaimana yang difirmankan Allah Swt.:
“Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberimu rezki, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan."
(Q.s. ar-Rum: 40).

Allah tidak mengkhususkan pemberian rezeki-Nya kepada orang mukmin saja, tetapi juga orang kafir.
Abu Yazid bercerita: Saya pernah memuji baik seorang murid di hadapan sebagian ulama. Kemudian orang alim (ulama) tersebut bertanya, "Dari mana penghidupannya?" Saya menjawab, "Saya tidak pernah meragukan Penciptanya sehingga saya harus bertanya siapa yang memberinya rezeki." Orang alim tersebut merasa malu lalu ia tidak melanjutkan.

Masalah 1
Al Junaid -rahimahullah- ditanya, "Bagaimana bila nama seorang hamba telah hilang dan yang tetap tinggal hanya hukum Allah?" Maka la menjawab, "Perlu Anda ketahui - semoga Allah memberi rahmat kepada Anda - bahwa jika ma'rifat kepada Allah (Ma'rifat Billah) telah menjadi agung dan tinggi, maka bekas-bekas hamba akan menghilang dan simbol-simbolnya akan terhapus. Pada saat itu tampaklah ilmu al-Haq dan yang tersisa adalah nama hukum Allah Swt."
Al Junaid -rahimahullah- pernah ditanya, "Kapan seorang hamba menganggap sama antara orang yang memuji dengan orang yang mencacinya?" la menjawab, "Ketika la menyadari bahwa ia hanyalah seorang makhluk dan bahan fitnahan."

Ibnu Atha' -rahimahullah- ditanya, "Kapan la mendapatkan kedamaian hati? atau Dengan apa la bisa meraih kedamaian hati?" la menjawab, "Yaitu dengan memahami haqul-yaqin, yaitu al-Qur'an, kemudian la diberi ilmul-yaqin dan setelah itu la melihat ainul-yaqin. Pada saat itu hatinya akan merasa tenteram. Sedangkan ciri-cirinya adalah ridha atas takdir yang telah ditentukan-Nya dengan perasaan penuh wibawa dan cinta serta menganggap-Nya sebagai Pelindung dan Dzat Yang diserahi tanpa ada perasaan curiga yang mengganjal."

Abu Utsman -rahimahullah- ditanya tentang perasaan sedih yang sering dialami manusia pada umumnya, sementara la tidak tahu dari mana la datang. Maka Abu Utsman menjawab, "Sesungguhnya ruh selalu mawas diri dari perbuatan dosa dan kejahatan yang senantiasa mengintai jiwa (nafsu), sementara jiwa akan melupakannya. Dan apabila ruh menemukan jiwa telah sadar, maka kejahatannya akan ditunjukkan, akhirnya ia diselimuti rasa kegelisahan dan sedih. Inilah perasaan sedih yang sering ditemukan seseorang, sementara ia tidak mengerti dari mana la masuk ke dalam dirinya."

Firasat
Yusuf bin al-Husain -rahimahullah- pernah ditanya tentang Hadis Nabi Saw, "Hati-hatilah terhadap firasat orang mukmin karena ia melihat dengan Cahaya Allah." Maka la mengatakan, "Ini benar dari Rasulullah dan terutama orang-orang yang beriman (mukmin). Dan ini adalah kelebihan dan karamah (kemuliaan ) bagi orang yang hatinya diberi cahaya oleh Allah dan dilapangkan dadanya. Sementara itu seseorang tidak berhak memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan firasat tersebut, sekalipun banyak benarnya dan sedikit sekali terjadi kesalahan. Orang yang tidak bisa memberikan keputusan hukum untuk dirinya dengan hakikat keimanan, kewalian dan kebahagiaan, lalu bagaimana ia bisa memberi keputusan hukum untuk dirinya dengan kelebihan karamah? Sebenarnya itu hanyalah kelebihan bagi orang-orang beriman tanpa harus memberi isyarat apa pun kepada seseorang."

Fantasi (waham)
Ibrahim al-Khawwash -rahimahullah- pernah ditanya tentang waham, maka ia mengatakan, "Waham adalah pemisah yang berdiri sendiri antara akal dan pemahaman, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada akal sehingga menjadi bagian dari sifat-sifat akal dan tidak pula dinisbatkan pada pemahaman sehingga ia menjadi bagian dari sifat-sifat pemahaman. Namun la berdiri sendiri yang mirip dengan sinar antara matahari dengan air, dimana ia tidak bisa dinisbatkan pada matahari dan tidak pula pada air. Atau mirip dengan rasa kantuk antara tidur dan bangun terjaga, maka ia tidak bisa disebut orang yang sedang tidur dan tidak pula orang yang sedang bangun terjaga. Maka ini adalah kesadarannya, yakni kelangsungan akal pada pemahaman atau pemahaman pada akal, sehingga di antara keduanya tidak ada pemisah yang berdiri sendiri. Sedangkan pemahaman adalah intisari yang jernih dari akal, sebagaimana intisari segala sesuatu adalah isinya."

Masalah 2
Abu Yazid -rahimahullah- pernah ditanya tentang makna firman Allah Swt.:
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah.".
(Q.s. Fathir: 32).

Maka Abu Yazid mengatakan, "Orang yang terlebih dahulu berbuat kebaikan (as-sabiq) adalah orang yang dicambuk dengan cambuk cinta (mahabbah), dipenggal dengan pedang kerinduan dan berbaring di depan ‘pintu' kewibawaan. Sementara orang yang tengah-tengah (al-muqtashid) adalah dicambuk dengan cambuk kesedihan, dipenggal dengan pedang penyesalan lalu berbaring di depan ‘pintu' kemuliaan. Sedangkan orang yang menganiaya dirinya sendiri (azh-zhalim) adalah dicambuk dengan cambuk harapan dan cita-cita, dipenggal dengan pedang ketamakan lalu terkapar di ‘pintu' siksaan."
Sementara itu kaum Sufi yang lain mengatakan, "Orang yang menganiaya dirinya sendiri akan disiksa dengan hijab (penghalang), dan orang yang berada di tengah-tengah telah masuk ke bagian dalam, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan telah sujud di atas hamparan milik Sang Penguasa dan Maha Pemberi."
Sedangkan yang lainnya berkata, "Orang yang menganiaya dirinya sendiri disiksa dengan penyesalan atas kecerobohannya, sedangkan orang yang tengah-tengah diselimuti dengan perlindungan dan kehati-hatian. Sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan bersujud dengan hatinya kepada al-Haq di atas hamparan ‘permadani’. Orang yang menganiaya dirinya akan terhalang dari memperoleh penjagaan dan as-sabiq tampak melakukan sujud di atas permadani dengan hatinya kepada al-Haq. Sementara itu orang yang menganiaya dirinya sendiri akan terhalang untuk mendapatkan isyarat, orang yang tengah-tengah akan terjaga dengan isyarat yang jelas, sedangkan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan akan selalu dicinta dengan membenarkan isyarat."
Sementara itu ada kaum Sufi lain yang berpendapat, bahwa orang yang menganiaya diri sendiri adalah dal, orang yang tengah-tengah adalah ba', dan orang yang terdepan dalam melakukan kebaikan adalah mim.

Berandai (Tamanni)
Ruwaim bin Ahmad -rahimahullah- pernah ditanya, "Bolehkan seorang murid berandai-andai?" la menjawab, "Seorang murid tidak seyogyanya berandai-andai, la hanya boleh berharap. Sebab berandai-andai adalah melihat nafsu sedang berharap adalah melihat apa yang lebih dahulu ditentukan Allah.
Berandai-andai adalah termasuk sifat-sifat nafsu, sedangkan berharap adalah sifat hati. Dan hanya Allah Yang Maha Tahu."