Salah satu maksiat badan adalah isbal atau
memanjangkan pakaian (sarung ataupun yang
lainnya) yakni menurunkannya hingga ke bawah
mata kaki dengan tujuan berbangga dan
menyombongkan diri (al fakhr). Hukum dari
perbuatan ini adalah dosa besar kalau memang
tujuannya adalah untuk menyombongkan diri, jika
tidak dengan tujuan tersebut maka hukumnya
adalah makruh. Jadi cara yang dianjurkan oleh
syara' adalah memendekkan sarung atau
semacamnya sampai di bagian tengah betis.
Hukum yang telah dijelaskan ini adalah hasil dari
pemaduan (Taufiq) dan penyatuan (Jam'i) dari
beberapa hadits tentang masalah ini. Pemaduan
ini diambil dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim
bahwa ketika Nabi mengatakan :
ﻣﻦ ﺟﺮ ﺛﻮﺑﻪ ﺧﻴﻼﺀ ﻟﻢ ﻳﻨﻈﺮ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻴﻪ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ
"Barang siapa menarik bajunya (ke bawah mata
kaki) karena sombong, Allah tidak akan
merahmatinya kelak di hari kiamat." (HR. Bukhari
Muslim)
Abu Bakr yang mendengar ini lalu bertanya
kepada Nabi : "Wahai Rasulullah, sarungku selalu
turun kecuali kalau aku mengangkatnya dari waktu
ke waktu ?" lalu Rasulullah saw bersabda :
ﺇﻧﻚ ﻟﺴﺖ ﻣﻤﻦ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﺧﻴﻼﺀ
"Sesungguhnya engkau bukan orang yang
melakukan itu karena sombong" (HR. Bukhari
Muslim)
Jadi, oleh karena Abu Bakr melakukan hal itu
bukan karena sombong maka Nabi tidak
mengingkarinya dan tidak menganggap
perbuatannya sebagai perbuatan munkar yang
diharamkan.
Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Minggu, 27 April 2014
Kemulyaan masjidil Aqsha'
Hal-hal yang Harus Diketahui Setiap Muslim
tentang Masjidil Aqsha"
oleh Syaikh Abu Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-
Maqdisi
Membicarakan tanah Palestina, tentu tidak bisa
dilepaskan dengan keberadaan Masjidil Aqsha
yang penuh berkah ini. Terdapat banyak nash
yang secara jelas menunjukkan keutamaan masjid
ini.
MASJID MANAKAH YANG DIBANGUN PERTAMA
KALI DI MUKA BUMI?
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata
“Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Masjid
manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau
menjawab, ‘Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi :
Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab,
“Kemudian Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi :
“Berapa jarak antara keduanya?” Beliau
menjawab, “Empat puluh tahun. Kemudian
dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka
shalatlah, karena keutamaan ada padanya”. Dan
dalam riwayat lainnya : “Dimanapun shalat
menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah
masjid” [HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Dzar]
KEUTAMAAN SHALAT DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda.
“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Daud
membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara. (Yaitu),
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
(diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang
menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan
kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ;
serta memohon kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala bila selesai membangun masjid, agar tidak
ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu,
kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya,
seperti hari kelahirannya.” (Dalam riwayat lain
berbunyi : Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata : “Adapun yang dua, maka telah
diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun
dikabulkan).” [Hadits ini diriwayatkan An-Nasa’i,
dan ini lafadz beliau, Ahmad dalam Musnad-nya
dengan lebih panjang lagi. Ibnu Majah, Ibnu
Hibban, Al-Haakim dalam kitab Mustadrak dan
Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, serta
selain mereka]
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang
lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi
kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba
masanya, seseorang memiliki tanah seukuran
kekang kudanya (dalam riwayat lain : seperti
busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis
lebih baik baginya dari dunia seisinya.” [HR
Ibrahim bin Thahman dalam kitab Masyikhah Ibnu
Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab Mu’jamul
Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak,
Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih
sanadnya, dan Al-Bukhari dan Muslim tidak
mengeluarkannya. Adz-Dzahabi dan Al-Albani
sepakat dengan beliau.]
Hadits ini adalah hadits yang paling shahih
tentang pahala shalat di Masjidil Aqsha. Hadits ini
menunjukkan, shalat di Masjid Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam seperti empat shalat di Masjid
Aqsha. Pahala shalat di Masjidil Aqsha setara
dengan 250 kali (di masjid lainnya).
Syaikh kami (Al-Albani) dalam kitab Silsilah
Shahihah (2902) mengatakan : “Hadits yang
paling shahih tentang keutamaan shalat di sana
(Masjidil Aqsha) adalah hadits Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Kami saling
bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama,
masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik….”
Hadits ini termasuk bukti kenabian Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Yaitu berita bahwa seseorang
berangan-angan memiliki tanah meskipun
sedemikian sempit, asalkan dapat melihat dari
dekat Baitul Maqdis dari tanahnya tersebut.
JANGAN BERSUSAH PAYAH BEPERGIAN,
KECUALI MENUJU TIGA MASJID
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata:
“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah
bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil
Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan
Muslim]
I’TIKAF DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abu Wa’il Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata kepada
Abdullah bin Mas’ud ; “I’tikaf antara rumahmu
dan rumah Abu Musa tidak masalah [3], padahal
aku mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak ada
i’tikaf kecuali di tiga masjid’, Abdullah bin Mas’ud
menjawab, “Mungkin engkau lupa sementara
mereka hafal. Engkau salah dan mereka
benar” [HR Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-
Kubra dan Ath-Thahawi dalam kitab Al-Musykil,
serta Al-Ismail dalam kitab Al-Mu’jam. Hadits ini
terdapat di dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah no.
2786 dan beliau berkata, ‘Shahih atas syarat
Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim)].
Syaikh kami (Al-Albani) berkata : Pernyataan Ibnu
Mas’ud bukanlah untuk menyalahkan Hudzaifah
dalam periwayatan lafadz hadits ini. Namun
tampaknya beliau menyalahkan Hudzaifah dalam
pengambilan hukum (istidlal) i’tikaf yang diingkari
Hudzaifah, karena ada kemungkinan pengertian
hadits menurut Ibnu Mas’ud adalah tidak ada
i’tikaf yang sempurna, seperti sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits6
“Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang
tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama yang
sempurna bagi orang yang tidak menepati
janjinya”
KEMAKMURAN BAITUL MAQDIS
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
Hadits7
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Pembangunan menyeluruh [4] Baitul
Maqdis adalah waktu kerusakan [5] Madinah, dan
kerusakan Madinah adalah waktu keluarnya
Malhamah (perang), dan keluarnya Malhamah
adalah waktu penaklukan Konstantinopel, dan
penaklukan Konstantinopel adalah waktu (dekat)
keluarnya Dajjal”, kemudian beliau memukul paha
atau bahu orang yang diajak bicara dengan
tangannya, seraya bersabda, “Ini sungguh sebuah
kebenaran sebagaimana benarnya kamu disini,
atau sebagaimana kamu duduk, yaitu Muadz bin
Jabal.” [HR Ahmad, Abu Dawud, Ali bin Al-Ja’d,
Abu Bakar bin Abu Syaibah dan lainnya]
MASJIDIL AQSHA TIDAK DIMASUKI DAJJAL
Dari Mujahid, beliau berkata :
Hadits8
“Kami dipimpin Junadah bin Abi Umayyah selama
6 tahun; beliau bangkit dan berkhutbah, lalu
berkata:
Kami pernah mendatangi seorang sahabat
Rasulullah dari Anshar. Kami menemuinya dan
berkata: “Sampaikanlah kepada kami apa yang
pernah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan jangan sampaikan apa yang
engkau dengar dari orang-orang,” lalu kami
memaksanya untuk itu. (Dalam riwayat lainnya:
dan jangan sampaikan kepada kami dari selain
beliau, walaupun benar)
Maka ia pun berkata: “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata :’Aku
peringatkan kalian dari Al-Masih (Dalam riwayat
lain: “Aku peringatkan kalian dari Dajjal”,
sebanyak tiga kali), karena tidak ada seorang
nabipun sebelumku, kecuali memperingatkan
umatnya dari Dajjal, dan Dajjal itu muncul pada
kalian, wahai umatku. Dia itu berambut keriting,
matanya buta sebelah (Dalam riwayat lain: buta
sebelah kirinya).
Ia berkata : ‘Saya yakin beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata sebelah kiri. Berjalan
bersamanya bukit roti dan sungai air (Dalam
riwayat lain: Bersamanya syurga dan neraka.
Neraka dia adalah syurga, dan syurga dia adalah
neraka. Ia dapat menurunkan hujan dan tidak bisa
menumbuhkan pohon. Dia diberi kekuasaan atas
satu jiwa, lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya).
Tanda-tandanya : Dia tinggal di bumi ini selama
40 hari, kekuasaannya mencapai semua tempat,
namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid,
Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Masjid Al-Aqsha dan Masjid
Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah,
sesungguhnya Allah tidak buta sebelah’.
Ibnu ‘Aun berkata : Saya yakin beliau telah
berkata : “Dan ia (Dajjal) diberi kekuasaan atas
satu jiwa lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya’.” [HR Ahmad dalam Musnad-nya,
5/364 dan sanadnya shahih atas syarat Syaikhan
(al Bukhari dan Muslim)]
Pelajaran Hadits:
Hadits ini tidak kontradiktif, dan tidak ada
masalah dengan hadits yang shahih dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan Dajjal telah menginjakkan kakinya di
seluruh muka bumi dan menguasainya, kecuali
Makkah dan Madinah. Tidaklah ia memasukinya
dari salah satu pintunya, kecuali bertemu dengan
para malaikat yang menghunus pedang-
pedangnya… (Al-Hadits).
Dalam hadits ini terdapat tambahan keterangan,
pengkhususan masjid-masjid yang tidak dimasuki
Dajjal. Dajjal –semoga Allah melindungi kita dari
fitnahnya- walaupun memasuki daerah bukit
Thursina dan Baitul Maqdis, namun ia tidak bisa
memasuki kedua masjidnya. Dajjal juga tidak bisa
masuk ke Makkah dan Madinah, maka lebih lagi
masjidnya. Wallahu a’lam.
YA’JUJ WA MA’JUJ DAN BUKIT BAITUL MAQDIS
Dari Nawas bin Sam’an, beliau berkata :
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan tentang Dajjal. Beliau
menganggap remeh dan (juga) menganggap
perkara besar, sehingga kami merasa yakin ia
(Dajjal) berada di sisi sekumpulan pohon kurma.
Ketika kami pergi kesana, maka beliau tahu ada
sesuatu pada kami. Beliau bertanya, “Ada apa
kalian?”
Kami menjawab, “Wahai, Rasulullah. Tadi pagi
engkau telah menjelaskan tentang. Engkau telah
menganggap remeh dan menganggap besar
perkaranya, hingga kami merasa yakin ia (Dajjal)
berada di sisi sekumpulan pohon kurma.”
Maka beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang
membuatku takut atas kalian. Apabila ia keluar
(muncul) dan aku ada bersama kalian, maka
akulah yang akan membantahnya tanpa bantuan
kalian. Dan bila ia keluar, sedangkan aku tidak
ada bersama kalian, maka setiap orang
membantah (melawan) sendiri-sendiri; sedangkan
Allah menjadi pelindung setiap Muslim. Sungguh
Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting
dan buta sebelah. Seakan-akan aku
menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin
Qathan. Barangsiapa di antara kalian
mendapatkannya, maka bacakan kepadanya
awal-awal surat Al-Kahfi. Dia keluar di jalan
antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di
sekitarnya. Wahai hamba Allah, istiqamahlah!”
Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa
lama tinggalnya di muka bumi ini?”
Beliau menjawab,”Empatpuluh hari. Satu hari
seperti satu tahun. Satu hari seperti satu bulan.
Satu hari seperti satu pekan, dan sisa harinya,
seperti hari-hari kalian ini.”
Kami bertanya lagi: “Wahai, Rasulullah. Hari yang
seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami
shalat sehari?”
Beliau menjawab: “Tidak! Perkirakan ukurannya!”
Kami bertanya lagi: “Berapa kecepatannya di
bumi ini?”
Beliau menjawab: “Seperti hujan ditiup angin, lalu
(ia) mendatangi satu kaum dan mengajak mereka,
lalu mereka mempercayainya dan menerima
ajakannya. Kemudian Dajjal menyuruh langit, dan
langitpun menurunkan hujan. Dan menyuruh bumi,
lalu bumi menumbuhkan tanaman. Lalu hewan
gembalaan mereka berangkat di sepanjang
puncak gunung, sangat banyak susunya dan
makan sangat kenyang. Kemudian (ia) mendatangi
kaum lainnya, lalu mendakwahi mereka, namun
mereka membantah perkataannya, lalu ia (pun)
pergi meninggalkan mereka. Lalu pagi harinya,
mereka tertimpa kelaparan dan kekeringan.
Mereka tidak memiliki harta sedikitpun. Dajjal
melewati tempat yang rusak tersebut dan berkata
kepadanya,’Keluarkan simpananmu!’ Lalu
keluarlah harta simpanan (tanah tersebut) seperti
ratu-ratu lebah. Kemudian Dajjal memanggil
seorang yang gemuk dan masih muda, lalu ia
sembelih dengan pedang dan memotongnya
menjadi dua seukuran tombak, kemudian ia
memanggilnya, lalu pemuda itu datang dan
wajahnya bersinar-sinar.
Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah
mengutus Al-Masih Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa), lalu
turun di dekat menara putih (Manarul Baidha’) di
sebelah timur Damaskus, mengenakan sepasang
baju yang dicelup dengan za’faran dan
meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-
sayap dua malaikat. Apabila ia menggoyangkan
kepalanya, maka meneteskan air; dan bila
mengangkat kepalanya, maka keluarlah dari air itu
seperti batu permata. Sehingga, tidaklah seorang
kafir mencium wangi napasnya, kecuali mati; dan
napasnya itu sepanjang pandangannya. Lalu
beliau mengejar Dajjal sampai mendapatinya di
daerah Bab Ludd [6], kemudian membunuhnya.
Kemudian datang kepada Isa Ibnu Maryam suatu
kaum yang Allah selamatkan dari Dajjal, lalu
beliau mengusap wajah-wajah mereka, dan beliau
sampaikan derajat mereka di surga. Ketika hal itu
terjadi, tiba-tiba Allah mewahyukan kepada Isa
yang berisi: ‘Aku telah mengeluarkan hambaKu,
yang tidak ada seorangpun mampu memerangi
mereka. Maka, bawalah hamba-hambaKu
berlindung ke bukit Thur’. Allah mengutus Ya’juj
dan Ma’juj, dan mereka bergerak cepat (datang)
dari segala arah, sehingga rombongan pertama
mereka melewati Danau Thabariyah lantas
meminum isinya. Kemudian rombongan terakhir
mereka mengatakan : ‘Sungguh dulu di tempat ini
ada airnya’.
(Dalam riwayat lain : dan ada tambahan setelah
perkataan : ‘Sungguh dulu di tempat ini ada
airnya. Kemudian mereka berjalan sampai
mencapai bukit al Khamar, yaitu bukit Baitul
Maqdis. Lalu mereka berkata : ‘Sungguh kita telah
membunuh orang yang ada di muka bumi ini. Ayo
kita bunuh yang di atas langit,’ lalu mereka
melemparkan anak-anak panahnya ke langit,
lantas Allah kembalikan kepada mereka anak-
anak panah tersebut dalam keadaan berlumuran
darah – dalam riwayat IbnuHujur- Sungguh Aku
telah menurunkan hamba-hambaKu, yang tidak
ada seorangpun mampu memeranginya). Dan
mengepung Nabi ‘Isa dan sahabat-sahabatnya,
hingga kepala sapi banteng bagi salah seorang
dari mereka lebih baik dari seratus dinar bagi
salah seorang di antara kalian sekarang.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim kepada mereka
(Ya’juj dan Ma’juj) ulat di leher-leher mereka,
sehingga mereka semuanya terbunuh seperti
kematian satu jiwa. Kemudian Nabi ‘Isa dan para
sahabatnya turun ke dataran bumi dan tidak
mendapatkan sejengkal tanahpun, kecuali
dipenuhi oleh bau busuk dan bangkai mereka.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim burung seperti onta
berleher panjang, lalu mengangkut mereka dan
melemparkan mereka di tempat yang Allah
kehendaki.
Kemudian Allah menurunkan hujan, yang tidak
ada satupun rumah dari kulit domba dapat
menahannya, dan tidak juga rumah batu yang
kokoh, hingga mencuci bumi sampai
meninggalkannya seperti cermin.
Kemudian dikatakan kepada bumi : “Tumbuhkan
buah-buahan dan kembalikan barakahmu.”
Pada hari tersebut, sejumlah orang memakan
buah delima dan bernaung di bawah kulit-
kulitnya, dan diberi barakah pada susu, hingga
seekor onta yang baru melahirkan mencukupi
sejumlah orang, sapi yang baru melahirkan
(susunya) mencukupi satu kabilah, dan seekor
kambing yang baru melahirkan mencukupi
sekeluarga besar.
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba
Allah mengirim angin yang harum, lantas angin
tersebut menarik mereka dari bawah-bawah
ketiak mereka, lalu setiap Mu’min dan Muslim
wafat, dan tersisa orang-orang yang jelek, yang
berzina terang-terangan (di khalayak ramai)
seperti kelakuan keledai. Maka pada merekalah
terjadi kiamat.” [HR Muslim]
Mudah-mudahan bermanfaat.*
* Judul ini diubah dari judul asli “Kemuliaan
Masjidil Aqsha” yang dipetik dari
www.Almanhaj.or.id yang menyalin dari Majalah
As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun
X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi
Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp.
0271-5891016]. Majalah As-Sunnah juga memetik
dari artikel yang ditulis oleh Syaikh Abu
Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-Maqdisi, yang
termuat dalam Majalah Al-Ashalah, Edisi 30/
Tahun ke 5/15 Syawwal 1421H.
________
Footnotes
Nomor [1] dan [2] sengaja dihapus karena tulisan
utamanya sudah diedit.
[3]. Maksudnya sama saja, tidak sah.
[4]. Disebabkan banyaknya orang, bangunan dan
harta.
[5]. Berkaitan dengan penyebab kerusakan kota
Madinah, Al-Qari berkata: “Sesungguhnya yang
dimaksud adalah pembangunan yang sempurna
dalam bangunan yaitu pembangunan baitul
maqdis sempurna melampaui batas adalah waktu
kerusakan kota madinah karena baitul Maqdis
tidak rusak.
[6]. Daerah yang sangat dikenal, dekat dengan
Baitul Maqdis.
tentang Masjidil Aqsha"
oleh Syaikh Abu Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-
Maqdisi
Membicarakan tanah Palestina, tentu tidak bisa
dilepaskan dengan keberadaan Masjidil Aqsha
yang penuh berkah ini. Terdapat banyak nash
yang secara jelas menunjukkan keutamaan masjid
ini.
MASJID MANAKAH YANG DIBANGUN PERTAMA
KALI DI MUKA BUMI?
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata
“Aku bertanya, “Wahai, Rasulullah. Masjid
manakah yang pertama kali dibangun?” Beliau
menjawab, ‘Masjidil Haram”. Aku bertanya lagi :
Kemudian (masjid) mana?” Beliau menjawab,
“Kemudian Masjidil Aqsha”. Aku bertanya lagi :
“Berapa jarak antara keduanya?” Beliau
menjawab, “Empat puluh tahun. Kemudian
dimanapun shalat menjumpaimu setelah itu, maka
shalatlah, karena keutamaan ada padanya”. Dan
dalam riwayat lainnya : “Dimanapun shalat
menjumpaimu, maka shalatlah, karena ia adalah
masjid” [HR Al-Bukhari dan Muslim, dari Abu
Dzar]
KEUTAMAAN SHALAT DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda.
“Sesungguhnya , ketika Sulaiman bin Daud
membangun Baitul Maqdis, (ia) meminta kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara. (Yaitu),
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
(diberi taufiq) dalam memutuskan hukum yang
menepati hukumNya, lalu dikabulkan ; dan
meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan
kepada seseorang setelahnya, lalu dikabulkan ;
serta memohon kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala bila selesai membangun masjid, agar tidak
ada seorangpun yang berkeinginan shalat disitu,
kecuali agar dikeluarkan dari kesalahannya,
seperti hari kelahirannya.” (Dalam riwayat lain
berbunyi : Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
berkata : “Adapun yang dua, maka telah
diberikan. Dan saya berharap, yang ketigapun
dikabulkan).” [Hadits ini diriwayatkan An-Nasa’i,
dan ini lafadz beliau, Ahmad dalam Musnad-nya
dengan lebih panjang lagi. Ibnu Majah, Ibnu
Hibban, Al-Haakim dalam kitab Mustadrak dan
Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, serta
selain mereka]
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata.
“Kami saling bertukar pikiran tentang, mana yang
lebih utama, masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi
kami ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik. Dan hampir-hampir tiba
masanya, seseorang memiliki tanah seukuran
kekang kudanya (dalam riwayat lain : seperti
busurnya) dari tempat itu terlihat Baitul Maqdis
lebih baik baginya dari dunia seisinya.” [HR
Ibrahim bin Thahman dalam kitab Masyikhah Ibnu
Thahman, Ath-Thabrani dalam kitab Mu’jamul
Ausath, dan Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak,
Al-Hakim berkata, “Ini adalah hadits yang shahih
sanadnya, dan Al-Bukhari dan Muslim tidak
mengeluarkannya. Adz-Dzahabi dan Al-Albani
sepakat dengan beliau.]
Hadits ini adalah hadits yang paling shahih
tentang pahala shalat di Masjidil Aqsha. Hadits ini
menunjukkan, shalat di Masjid Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam seperti empat shalat di Masjid
Aqsha. Pahala shalat di Masjidil Aqsha setara
dengan 250 kali (di masjid lainnya).
Syaikh kami (Al-Albani) dalam kitab Silsilah
Shahihah (2902) mengatakan : “Hadits yang
paling shahih tentang keutamaan shalat di sana
(Masjidil Aqsha) adalah hadits Abu Dzar
Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Kami saling
bertukar pikiran tentang, mana yang lebih utama,
masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
atau Baitul Maqdis, sedangkan di sisi kami ada
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda : “Satu shalat di masjidku lebih utama
dari empat shalat padanya, dan ia adalah tempat
shalat yang baik….”
Hadits ini termasuk bukti kenabian Shallallahu
‘alaihi wa sallam. Yaitu berita bahwa seseorang
berangan-angan memiliki tanah meskipun
sedemikian sempit, asalkan dapat melihat dari
dekat Baitul Maqdis dari tanahnya tersebut.
JANGAN BERSUSAH PAYAH BEPERGIAN,
KECUALI MENUJU TIGA MASJID
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata:
“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda : “Tidak boleh bersusah-payah
bepergian, kecuali ke tiga masjid, (yaitu) Masjidil
Haram, Masjid Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, dan Masjidil Aqsha” [HR Al-Bukhari dan
Muslim]
I’TIKAF DI MASJIDIL AQSHA
Dari Abu Wa’il Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
“Hudzaifah bin Al-Yaman berkata kepada
Abdullah bin Mas’ud ; “I’tikaf antara rumahmu
dan rumah Abu Musa tidak masalah [3], padahal
aku mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Tidak ada
i’tikaf kecuali di tiga masjid’, Abdullah bin Mas’ud
menjawab, “Mungkin engkau lupa sementara
mereka hafal. Engkau salah dan mereka
benar” [HR Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-
Kubra dan Ath-Thahawi dalam kitab Al-Musykil,
serta Al-Ismail dalam kitab Al-Mu’jam. Hadits ini
terdapat di dalam kitab Silsilah Ash-Shahihah no.
2786 dan beliau berkata, ‘Shahih atas syarat
Syaikhan (Al-Bukhari dan Muslim)].
Syaikh kami (Al-Albani) berkata : Pernyataan Ibnu
Mas’ud bukanlah untuk menyalahkan Hudzaifah
dalam periwayatan lafadz hadits ini. Namun
tampaknya beliau menyalahkan Hudzaifah dalam
pengambilan hukum (istidlal) i’tikaf yang diingkari
Hudzaifah, karena ada kemungkinan pengertian
hadits menurut Ibnu Mas’ud adalah tidak ada
i’tikaf yang sempurna, seperti sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits6
“Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang
tidak memiliki amanah, dan tidak ada agama yang
sempurna bagi orang yang tidak menepati
janjinya”
KEMAKMURAN BAITUL MAQDIS
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata.
Hadits7
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Pembangunan menyeluruh [4] Baitul
Maqdis adalah waktu kerusakan [5] Madinah, dan
kerusakan Madinah adalah waktu keluarnya
Malhamah (perang), dan keluarnya Malhamah
adalah waktu penaklukan Konstantinopel, dan
penaklukan Konstantinopel adalah waktu (dekat)
keluarnya Dajjal”, kemudian beliau memukul paha
atau bahu orang yang diajak bicara dengan
tangannya, seraya bersabda, “Ini sungguh sebuah
kebenaran sebagaimana benarnya kamu disini,
atau sebagaimana kamu duduk, yaitu Muadz bin
Jabal.” [HR Ahmad, Abu Dawud, Ali bin Al-Ja’d,
Abu Bakar bin Abu Syaibah dan lainnya]
MASJIDIL AQSHA TIDAK DIMASUKI DAJJAL
Dari Mujahid, beliau berkata :
Hadits8
“Kami dipimpin Junadah bin Abi Umayyah selama
6 tahun; beliau bangkit dan berkhutbah, lalu
berkata:
Kami pernah mendatangi seorang sahabat
Rasulullah dari Anshar. Kami menemuinya dan
berkata: “Sampaikanlah kepada kami apa yang
pernah engkau dengar dari Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan jangan sampaikan apa yang
engkau dengar dari orang-orang,” lalu kami
memaksanya untuk itu. (Dalam riwayat lainnya:
dan jangan sampaikan kepada kami dari selain
beliau, walaupun benar)
Maka ia pun berkata: “Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata :’Aku
peringatkan kalian dari Al-Masih (Dalam riwayat
lain: “Aku peringatkan kalian dari Dajjal”,
sebanyak tiga kali), karena tidak ada seorang
nabipun sebelumku, kecuali memperingatkan
umatnya dari Dajjal, dan Dajjal itu muncul pada
kalian, wahai umatku. Dia itu berambut keriting,
matanya buta sebelah (Dalam riwayat lain: buta
sebelah kirinya).
Ia berkata : ‘Saya yakin beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam berkata sebelah kiri. Berjalan
bersamanya bukit roti dan sungai air (Dalam
riwayat lain: Bersamanya syurga dan neraka.
Neraka dia adalah syurga, dan syurga dia adalah
neraka. Ia dapat menurunkan hujan dan tidak bisa
menumbuhkan pohon. Dia diberi kekuasaan atas
satu jiwa, lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya).
Tanda-tandanya : Dia tinggal di bumi ini selama
40 hari, kekuasaannya mencapai semua tempat,
namun ia tidak dapat mendatangi empat masjid,
Masjid Ka’bah, Masjid Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Masjid Al-Aqsha dan Masjid
Ath-Thur. Walaupun demikian, namun ketahuilah,
sesungguhnya Allah tidak buta sebelah’.
Ibnu ‘Aun berkata : Saya yakin beliau telah
berkata : “Dan ia (Dajjal) diberi kekuasaan atas
satu jiwa lalu membunuhnya dan
menghidupkannya, dan tidak diberi kekuasaan
pada selainnya’.” [HR Ahmad dalam Musnad-nya,
5/364 dan sanadnya shahih atas syarat Syaikhan
(al Bukhari dan Muslim)]
Pelajaran Hadits:
Hadits ini tidak kontradiktif, dan tidak ada
masalah dengan hadits yang shahih dari
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
menjelaskan Dajjal telah menginjakkan kakinya di
seluruh muka bumi dan menguasainya, kecuali
Makkah dan Madinah. Tidaklah ia memasukinya
dari salah satu pintunya, kecuali bertemu dengan
para malaikat yang menghunus pedang-
pedangnya… (Al-Hadits).
Dalam hadits ini terdapat tambahan keterangan,
pengkhususan masjid-masjid yang tidak dimasuki
Dajjal. Dajjal –semoga Allah melindungi kita dari
fitnahnya- walaupun memasuki daerah bukit
Thursina dan Baitul Maqdis, namun ia tidak bisa
memasuki kedua masjidnya. Dajjal juga tidak bisa
masuk ke Makkah dan Madinah, maka lebih lagi
masjidnya. Wallahu a’lam.
YA’JUJ WA MA’JUJ DAN BUKIT BAITUL MAQDIS
Dari Nawas bin Sam’an, beliau berkata :
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjelaskan tentang Dajjal. Beliau
menganggap remeh dan (juga) menganggap
perkara besar, sehingga kami merasa yakin ia
(Dajjal) berada di sisi sekumpulan pohon kurma.
Ketika kami pergi kesana, maka beliau tahu ada
sesuatu pada kami. Beliau bertanya, “Ada apa
kalian?”
Kami menjawab, “Wahai, Rasulullah. Tadi pagi
engkau telah menjelaskan tentang. Engkau telah
menganggap remeh dan menganggap besar
perkaranya, hingga kami merasa yakin ia (Dajjal)
berada di sisi sekumpulan pohon kurma.”
Maka beliau bersabda: “Bukan Dajjal yang
membuatku takut atas kalian. Apabila ia keluar
(muncul) dan aku ada bersama kalian, maka
akulah yang akan membantahnya tanpa bantuan
kalian. Dan bila ia keluar, sedangkan aku tidak
ada bersama kalian, maka setiap orang
membantah (melawan) sendiri-sendiri; sedangkan
Allah menjadi pelindung setiap Muslim. Sungguh
Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting
dan buta sebelah. Seakan-akan aku
menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin
Qathan. Barangsiapa di antara kalian
mendapatkannya, maka bacakan kepadanya
awal-awal surat Al-Kahfi. Dia keluar di jalan
antara Syam dan Iraq lalu membuat kerusakan di
sekitarnya. Wahai hamba Allah, istiqamahlah!”
Maka kami berkata: “Wahai Rasulullah, berapa
lama tinggalnya di muka bumi ini?”
Beliau menjawab,”Empatpuluh hari. Satu hari
seperti satu tahun. Satu hari seperti satu bulan.
Satu hari seperti satu pekan, dan sisa harinya,
seperti hari-hari kalian ini.”
Kami bertanya lagi: “Wahai, Rasulullah. Hari yang
seperti satu tahun itu, apakah cukup bagi kami
shalat sehari?”
Beliau menjawab: “Tidak! Perkirakan ukurannya!”
Kami bertanya lagi: “Berapa kecepatannya di
bumi ini?”
Beliau menjawab: “Seperti hujan ditiup angin, lalu
(ia) mendatangi satu kaum dan mengajak mereka,
lalu mereka mempercayainya dan menerima
ajakannya. Kemudian Dajjal menyuruh langit, dan
langitpun menurunkan hujan. Dan menyuruh bumi,
lalu bumi menumbuhkan tanaman. Lalu hewan
gembalaan mereka berangkat di sepanjang
puncak gunung, sangat banyak susunya dan
makan sangat kenyang. Kemudian (ia) mendatangi
kaum lainnya, lalu mendakwahi mereka, namun
mereka membantah perkataannya, lalu ia (pun)
pergi meninggalkan mereka. Lalu pagi harinya,
mereka tertimpa kelaparan dan kekeringan.
Mereka tidak memiliki harta sedikitpun. Dajjal
melewati tempat yang rusak tersebut dan berkata
kepadanya,’Keluarkan simpananmu!’ Lalu
keluarlah harta simpanan (tanah tersebut) seperti
ratu-ratu lebah. Kemudian Dajjal memanggil
seorang yang gemuk dan masih muda, lalu ia
sembelih dengan pedang dan memotongnya
menjadi dua seukuran tombak, kemudian ia
memanggilnya, lalu pemuda itu datang dan
wajahnya bersinar-sinar.
Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah
mengutus Al-Masih Ibnu Maryam (Nabi ‘Isa), lalu
turun di dekat menara putih (Manarul Baidha’) di
sebelah timur Damaskus, mengenakan sepasang
baju yang dicelup dengan za’faran dan
meletakkan kedua telapak tangannya pada sayap-
sayap dua malaikat. Apabila ia menggoyangkan
kepalanya, maka meneteskan air; dan bila
mengangkat kepalanya, maka keluarlah dari air itu
seperti batu permata. Sehingga, tidaklah seorang
kafir mencium wangi napasnya, kecuali mati; dan
napasnya itu sepanjang pandangannya. Lalu
beliau mengejar Dajjal sampai mendapatinya di
daerah Bab Ludd [6], kemudian membunuhnya.
Kemudian datang kepada Isa Ibnu Maryam suatu
kaum yang Allah selamatkan dari Dajjal, lalu
beliau mengusap wajah-wajah mereka, dan beliau
sampaikan derajat mereka di surga. Ketika hal itu
terjadi, tiba-tiba Allah mewahyukan kepada Isa
yang berisi: ‘Aku telah mengeluarkan hambaKu,
yang tidak ada seorangpun mampu memerangi
mereka. Maka, bawalah hamba-hambaKu
berlindung ke bukit Thur’. Allah mengutus Ya’juj
dan Ma’juj, dan mereka bergerak cepat (datang)
dari segala arah, sehingga rombongan pertama
mereka melewati Danau Thabariyah lantas
meminum isinya. Kemudian rombongan terakhir
mereka mengatakan : ‘Sungguh dulu di tempat ini
ada airnya’.
(Dalam riwayat lain : dan ada tambahan setelah
perkataan : ‘Sungguh dulu di tempat ini ada
airnya. Kemudian mereka berjalan sampai
mencapai bukit al Khamar, yaitu bukit Baitul
Maqdis. Lalu mereka berkata : ‘Sungguh kita telah
membunuh orang yang ada di muka bumi ini. Ayo
kita bunuh yang di atas langit,’ lalu mereka
melemparkan anak-anak panahnya ke langit,
lantas Allah kembalikan kepada mereka anak-
anak panah tersebut dalam keadaan berlumuran
darah – dalam riwayat IbnuHujur- Sungguh Aku
telah menurunkan hamba-hambaKu, yang tidak
ada seorangpun mampu memeranginya). Dan
mengepung Nabi ‘Isa dan sahabat-sahabatnya,
hingga kepala sapi banteng bagi salah seorang
dari mereka lebih baik dari seratus dinar bagi
salah seorang di antara kalian sekarang.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim kepada mereka
(Ya’juj dan Ma’juj) ulat di leher-leher mereka,
sehingga mereka semuanya terbunuh seperti
kematian satu jiwa. Kemudian Nabi ‘Isa dan para
sahabatnya turun ke dataran bumi dan tidak
mendapatkan sejengkal tanahpun, kecuali
dipenuhi oleh bau busuk dan bangkai mereka.
Nabi ‘Isa dan para sahabatnya berdoa kepada
Allah, lantas Allah mengirim burung seperti onta
berleher panjang, lalu mengangkut mereka dan
melemparkan mereka di tempat yang Allah
kehendaki.
Kemudian Allah menurunkan hujan, yang tidak
ada satupun rumah dari kulit domba dapat
menahannya, dan tidak juga rumah batu yang
kokoh, hingga mencuci bumi sampai
meninggalkannya seperti cermin.
Kemudian dikatakan kepada bumi : “Tumbuhkan
buah-buahan dan kembalikan barakahmu.”
Pada hari tersebut, sejumlah orang memakan
buah delima dan bernaung di bawah kulit-
kulitnya, dan diberi barakah pada susu, hingga
seekor onta yang baru melahirkan mencukupi
sejumlah orang, sapi yang baru melahirkan
(susunya) mencukupi satu kabilah, dan seekor
kambing yang baru melahirkan mencukupi
sekeluarga besar.
Ketika mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba
Allah mengirim angin yang harum, lantas angin
tersebut menarik mereka dari bawah-bawah
ketiak mereka, lalu setiap Mu’min dan Muslim
wafat, dan tersisa orang-orang yang jelek, yang
berzina terang-terangan (di khalayak ramai)
seperti kelakuan keledai. Maka pada merekalah
terjadi kiamat.” [HR Muslim]
Mudah-mudahan bermanfaat.*
* Judul ini diubah dari judul asli “Kemuliaan
Masjidil Aqsha” yang dipetik dari
www.Almanhaj.or.id yang menyalin dari Majalah
As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun
X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Alamat Jl. Solo – Purwodadi
Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp.
0271-5891016]. Majalah As-Sunnah juga memetik
dari artikel yang ditulis oleh Syaikh Abu
Abdirrahman Hisyam Al-Arif Al-Maqdisi, yang
termuat dalam Majalah Al-Ashalah, Edisi 30/
Tahun ke 5/15 Syawwal 1421H.
________
Footnotes
Nomor [1] dan [2] sengaja dihapus karena tulisan
utamanya sudah diedit.
[3]. Maksudnya sama saja, tidak sah.
[4]. Disebabkan banyaknya orang, bangunan dan
harta.
[5]. Berkaitan dengan penyebab kerusakan kota
Madinah, Al-Qari berkata: “Sesungguhnya yang
dimaksud adalah pembangunan yang sempurna
dalam bangunan yaitu pembangunan baitul
maqdis sempurna melampaui batas adalah waktu
kerusakan kota madinah karena baitul Maqdis
tidak rusak.
[6]. Daerah yang sangat dikenal, dekat dengan
Baitul Maqdis.
Kamis, 17 April 2014
ADAB DALAM MAJELIS
(Kalam Al Habib Abdul Bari bin Syeikh
Alaydrus)
Dalam suatu rauhah yang dihadiri oleh Al-
Habib Abdul Bari’ bin Syeikh Alaydrus,
seorang munsyid membacakan sebuah
qosidah Al-Habib Abdulloh bin Alwi
Alhaddad. Setelah qosidah itu selesai
dilantunkan, berkata Al-Habib Abdul Bari’ bin
Syeikh Alaydrus: Jika ada seseorang yang
asyik berbicara pada saat dilantunkan suatu
qosidah yang digubah oleh Salaf, maka hal
itu akan berarti dia merasa yakin bahwa dia
punya omongan lebih baik dari kalam Salaf.
Atau bisa berarti dia menolak kalam tersebut.
Begitu juga jika seseorang asyik berbicara
pada saat yang lain lagi membacakan Fatihah
atau berdoa, maka hal itu menunjukkan
sesungguhnya dia tidak mau mendapatkan
pahala dari Fatihah atau doa yang dibacakan
itu.
Didalam hadits dikatakan : Jika ada
seseorang asyik berbicara ketika yang lainnya
sedang membaca Al-Qur’an, maka Alloh
menyuruh seorang Malaikat dan Malaikat
tersebut akan berkata kepada yang lagi asyik
berbicara, “Diamlah wahai musuh Alloh”,
sampai ia tidak bicara lagi. Jika ia masih tetap
berbicara, Malaikat tadi akan berkata
kepadanya, “Diamlah wahai orang yang
sungguh dibenci oleh Alloh”, sampai ia
berhenti berbicara. Jika ia masih juga tetap
berbicara, Malaikat itu akan berkata
kepadanya, “Diamlah wahai orang yang
sungguh dilaknat oleh Alloh”. Kalam
Rasululloh SAW bersesuaian dengan Al-
Qur’an. Begitu juga dengan kalam Salaf
bersesuaian mengikuti kalam Rasululloh SAW.
Karena mereka tidaklah berbicara kecuali
dengan ijin robbani. Begitulah ilmu tidak akan
bisa didapatkan kecuali dengan adab maka
beradablah kalian…beradablah…
[diambil dari kitab Bahjatun Nufus fi kalam Al-
Habib Abdul Bari' bin Syeikh Alaydrus,
disusun oleh Al-Habib Muhammad bin Saggaf
bin Zain Al-Hadi, hal. 84-85]
Adab Berjima'
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad, insyaAllah sebentar lagi saya
menikah. Ada dua hal yang ingin saya
tanyakan berkenaan dengan malam
pertama (maaf jika pertanyaannya terlalu
vulgar)
Apakah doa “Allahumma jannibnas
syaithoona, dan seterusnya” itu dibaca
menjelang jima’ atau sebelum menyentuh
(mencium) istri?
Jika pada saat ijab qabul istri sedang
haid, bagaimana dengan sholat sunnah
berjama’ahnya? Apakah harus dilakukan
setelah istri suci? atau langsung
mendoakannya dengan memegang
ubun-ubun istri?
Terimakasih sebelumnya.
Waalaikumussalam Wr Wb
Doa Ingin Berjima’
Dari Ibnu Abbas berkata.”Rasulullah saw
bersabda,’Seandainya seorang dari
kalian ingin mendatangi keluarganya
(hendaklah dia ) berdoa : Allahumma
Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy
Syaithon Maa Rozaqtanaa (Wahai Allah
jauhilah kami dari setan dan jauhilah
setan dari kami terhadap rezeki yang
Engkau berikan kepada kami).
Sesungguhnya jika dikehendaki diantara
mereka berdua seorang anak saat itu
maka setan tidaklah dapat
mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq
Alaihi)
Ash Shan’aniy mengatakan bahwa ini
merupakan lafazh dari Imam Muslim.
Hadits ini merupakan dalil agar berdoa
sebelum berhubungan dengan istri ketika
muncul keinginan untuk itu. Riwayat ini
menafsirkan riwayat ,”Seandainya
seorang dari kalian berdoa saat
mendatangi istrinya—dikeluarkan oleh
Bukhori—bahwasanya maksud dari saat
adalah ingin. Kata ganti dari jannibna
adalah untuk laki-laki (suami) dan
perempuan (istri). (Subul as Salam juz III
hal 273)
Jadi doa tersebut dibaca seseorang
ketika hendak menggauli istrinya
sebelum berbagai muqoddimah
(permainan) jima’ dilakukan.
Mendoakan Istri dan Shalat Dua Rakaat
Setelah Ijab Kabul
DIanjurkan bagi seorang suami setelah
melangsungkan akad nikahnya untuk
meletakkan tangannya di kening istrinya
sambil berdoa,” Allahumma Innii Asaluka
Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha
Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa
Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah
sesungguhnya aku memohon kepada-
Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa
yang Engkau berikan kepadanya serta
Aku berlindung kepada-Mu daripada
keburukannya dan keburukan yang
Engkau berikan kepadanya..”
Selain itu dianjurkan bagi mereka berdua
untuk melaksanakan shalat dua rakaat
dan berdoa kepada Allah agar diberikan
kebaikan dan dihindarkan dari
keburukan. Diriwayatkan Ibnu Syaibah
dari Ibnu Masud, dia mengatakan
kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia
untuk shalat dua rakaat dibelakang
(suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik
Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii.
Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi
Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta
bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku
didalam keluargaku dan berkahilah
mereka didalam diriku. Wahai Allah
satukanlah kami dengan kebaikan dan
pisahkanlah kami jika Engkau
menghendaki (kami) berpisah dengan
kebaikan pula.”
Dari Syaqiq berkata,”Datang seorang
laki-laki yang dipanggil dengan Abu
Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu
Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi
seorang budak perempuan perawan.
Sesungguhnya aku takut dia akan
membenciku.’ Lalu Abdullah (bin
Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya
rasa cinta berasal dari Allah dan
kebencian dari setan yang ingin
menjadikan kebencian kepada kalian
terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah.
maka jika dia mendatangimu maka
shalatlah dua rakaat
dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu
Abi Syaibah)
Jika seorang wanita yang baru
melangsungkan akad nikah sedang
dalam keadaan haidh maka cukuplah
dirinya dan suaminya berdoa kepada
Allah swt meminta kebaikan dari-Nya
bagi mereka berdua dan keluarganya.
Wallahu A’lam
Ustad, insyaAllah sebentar lagi saya
menikah. Ada dua hal yang ingin saya
tanyakan berkenaan dengan malam
pertama (maaf jika pertanyaannya terlalu
vulgar)
Apakah doa “Allahumma jannibnas
syaithoona, dan seterusnya” itu dibaca
menjelang jima’ atau sebelum menyentuh
(mencium) istri?
Jika pada saat ijab qabul istri sedang
haid, bagaimana dengan sholat sunnah
berjama’ahnya? Apakah harus dilakukan
setelah istri suci? atau langsung
mendoakannya dengan memegang
ubun-ubun istri?
Terimakasih sebelumnya.
Waalaikumussalam Wr Wb
Doa Ingin Berjima’
Dari Ibnu Abbas berkata.”Rasulullah saw
bersabda,’Seandainya seorang dari
kalian ingin mendatangi keluarganya
(hendaklah dia ) berdoa : Allahumma
Jannibnasy Syaithon wa Jannibisy
Syaithon Maa Rozaqtanaa (Wahai Allah
jauhilah kami dari setan dan jauhilah
setan dari kami terhadap rezeki yang
Engkau berikan kepada kami).
Sesungguhnya jika dikehendaki diantara
mereka berdua seorang anak saat itu
maka setan tidaklah dapat
mencelakakannya selamanya.” (Muttafaq
Alaihi)
Ash Shan’aniy mengatakan bahwa ini
merupakan lafazh dari Imam Muslim.
Hadits ini merupakan dalil agar berdoa
sebelum berhubungan dengan istri ketika
muncul keinginan untuk itu. Riwayat ini
menafsirkan riwayat ,”Seandainya
seorang dari kalian berdoa saat
mendatangi istrinya—dikeluarkan oleh
Bukhori—bahwasanya maksud dari saat
adalah ingin. Kata ganti dari jannibna
adalah untuk laki-laki (suami) dan
perempuan (istri). (Subul as Salam juz III
hal 273)
Jadi doa tersebut dibaca seseorang
ketika hendak menggauli istrinya
sebelum berbagai muqoddimah
(permainan) jima’ dilakukan.
Mendoakan Istri dan Shalat Dua Rakaat
Setelah Ijab Kabul
DIanjurkan bagi seorang suami setelah
melangsungkan akad nikahnya untuk
meletakkan tangannya di kening istrinya
sambil berdoa,” Allahumma Innii Asaluka
Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha
Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa
Syarri Ma Jabaltaha Alaih—Wahai Allah
sesungguhnya aku memohon kepada-
Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa
yang Engkau berikan kepadanya serta
Aku berlindung kepada-Mu daripada
keburukannya dan keburukan yang
Engkau berikan kepadanya..”
Selain itu dianjurkan bagi mereka berdua
untuk melaksanakan shalat dua rakaat
dan berdoa kepada Allah agar diberikan
kebaikan dan dihindarkan dari
keburukan. Diriwayatkan Ibnu Syaibah
dari Ibnu Masud, dia mengatakan
kepada Abi Huraiz,”Perintahkan dia
untuk shalat dua rakaat dibelakang
(suaminya) dan berdoa,”Allahumma Barik
Lii fii Ahlii dan Barik Lahum fii.
Allahummajma’ Bainanaa Ma Jama’ta bi
Khoirin wa Farriq Bainana idza Farroqta
bi Khoirin—Wahai Allah berkahilah aku
didalam keluargaku dan berkahilah
mereka didalam diriku. Wahai Allah
satukanlah kami dengan kebaikan dan
pisahkanlah kami jika Engkau
menghendaki (kami) berpisah dengan
kebaikan pula.”
Dari Syaqiq berkata,”Datang seorang
laki-laki yang dipanggil dengan Abu
Huraiz lalu dia berkata kepada Ibnu
Mas’ud,’Sesungguhnya aku menikahi
seorang budak perempuan perawan.
Sesungguhnya aku takut dia akan
membenciku.’ Lalu Abdullah (bin
Mas’ud) mengatakan, ’Seungguhnya
rasa cinta berasal dari Allah dan
kebencian dari setan yang ingin
menjadikan kebencian kepada kalian
terhadap apa-apa yang dihalalkan Allah.
maka jika dia mendatangimu maka
shalatlah dua rakaat
dibelakangmu.” (Dikeluarkan oleh Ibnu
Abi Syaibah)
Jika seorang wanita yang baru
melangsungkan akad nikah sedang
dalam keadaan haidh maka cukuplah
dirinya dan suaminya berdoa kepada
Allah swt meminta kebaikan dari-Nya
bagi mereka berdua dan keluarganya.
Wallahu A’lam
Keajaiban shalawat
TAUBATNYA PENJAHAT Berkah Bacaan
Shalawat
Seorang yang sangat zuhud bernama Syeikh
Abdul Wahid bin Zaid berkisah sebagai berikut :
Seorang tetangga
kami, bekerja sebagai pegawai negeri dan
sangat jahat ketika hidupnya di dunia, dan
melakukan maksiat dan suka menakut-nakuti
orang.
Pada suatu malam, saya melihat di dalam tidur
bahwa tangan tetangga saya tersebut
memegang tangan Rosululloh SAW. Saya
bertanya kpd Rosululloh SAW :
“Wahai Rosululloh, seseungguhnya org ini
sangat terkenal sebagai penjahat di muka Bumi,
bagaimana ceritanya engkau sangat menaruh
tanganmu memegang tangannya ? “ Rosululloh
SAW bersabda :
“ Saya mengetahui apa yang engkau katakan
tersebut. Oleh karena itu, saya datang untuk
memberikan SYAFAATku kepadanya. ”
Kemudian saya bertanya kepada Rosululloh
SAW :
“ Wahai Rosul, apakah kelebihan tetangga kami
itu, sehingga engkau memberikan syafaatnya ? ”
Rosululloh SAW menjawab :
“ Tetanggamu itu banyak membaca SHOLAWAT
kepadaku. Pada tiap malam ketika dia hendak
tidur, dia selalu membaca sholawat 1000 kali
( seribu kali ), sehingga aku mohon kepada Alloh
SWT mudah-mudahan syafaatku ini diterima
disisi-Nya, agar tetanggamu ini bertaubat kpd-
Nya.”
Berkata Syeikh Abdul Wahid ( shohibul hikayat )
:
“ Di pagi hari saya mengajar di Masjid
sebagaimana biasanya, tiba-tiba datang
tetangga itu, disaat saya sedang menceritakan
apa yang saya lihat di dalam tidur ( mimpi ), dia
masuk dan mengucapkan salam sambil
menangis, lalu dia berkata :
“ Wahai Syeikh Abdul wahid, izinkanlah aku
menjabat tanganmu, karena Rosululloh SAW
mengutusku kepadamu, agar aku bertaubat di
hadapanmu, dan disaksikan oleh murid-
muridmu di Masjid ini. ”
Syekh Abdul
Wahid telah berjabat tangan dengan
tetangganya yang telah menyesali segala
perbuatannya selama hidupnya tersebut. Ia
berjanji tidak akan mengulanginya kembali
perbuatan jahatnya tersebut.”
Subhanalloh…… Setelah itu, Syeikh Abdul
Wahid bertanya kpd tetangganya tsb : “ Apakah
yang menyebabkan engkau bertaubat, wahai
saudaraku…?” Tetangganya
menjawab :
“ Rosululloh SAW telah
datang kepadaku di dalam tidurku, dan beliau
meneceritakan kepadaku tentang Tanya jawab
yang antara engkau dengan beliau, kemudian
Rosululloh memegang tanganku dan bersabda:
“ Aku datang kepadamu untuk memberikan
syafaat Alloh atas segala dosamu, adalah
semata-mata karena engkau banyak membaca
Sholawat atasku. ” “ Setelah itu beliau bertitah
kepadaku, agar di pagi hari aku datang
kepadamu, Wahai Syaikh….Untuk
mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa
aku telah bertaubat yang sebenar-benarnya…..”
Demikianlah keberkahan membaca Sholawat
atas Rosululloh SAW, ternyata tdk sia-sia bagi
setiap lisan yang selalu di basahi dengan
sholawat.
Kisah diatas sebagai bukti nyata Syafaat
Rosululloh SAW, bahwa pembacaan sholawat
dapat mengugurkan dosa-dosa yang pernah
terlanjur dikerjakan oleh seseorang.
Sebagaimana diterangkan dalam Hadits :
“ Diriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq :
belaiu berkata, bahwa sholawat kepada Nabi
SAW lebih cepat menghapus dosa dari pada air
dingin memdamkan api dan lebih utama dari
pada memerdekakan hamba sahaya ”
( dari Kitab Bustanul Wa Idzin )
SHOLAWAT YANG DITERIMA
Di kisahkan bahwa Amir Madinah bershalawat
Kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam
sebanyak 4000 kali tiap hari tanpa
sepengetahuan siapapun, kecuali Allah.
Suatu malam ada seorang wanita miskin
melahirkan anak. Ia begitu miskin hingga tak
mampu membeli lampu maupun minyak bayi.
Hal ini membuat suaminya sangat sedih. Dalam
kesedihannya itu, ia tertidur dan bermimpi
bertemu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
“Pergi dan temuilah Amir Madinah. Katakan
bahwa Nabi memerintahkannya untuk
menanggung biaya sebesar 100 dinar. Tanda
kebenaran berita ini adalah bacaan shalawatnya
di depan jendela kuburku sebanyak 4000 kali
tiap hari,” perintah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dalam mimpi.
Lelaki itu lalu menemui seorang Syeikh dan
menceritakan mimpinya. Mereka lalu sepakat
untuk pergi ke rumah Sang Amir Madinah.
Setelah keduanya duduk di hadapan Amir
Madinah, Sang Syeikh berkata, “Lelaki ini
bermimpi tentangmu, dengarkanlah ceritanya.”
“Ceritakanlah mimpimu,” kata Amir Madinah.
Lelaki miskin itu kemudian menceritakan
mimpinya.
“Mimpi mu benar. Aku bersedia menanggung
biaya yang di tetapkan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam,” kata Amir Madinah.
Ia lalu bangkit mengambil 100 dinar, “Ini biaya
yang harus ku tanggung.”
Ia kemudian memberikan 100 dinar lagi, “Ini
Hadiah untuk kabar gembira yang kau bawa,
yaitu di terimanya shalawatku oleh Nabi
Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”
Ia menyerahkan 100 dinar lagi. “Ambillah ini,
belanjakanlah untuk keperluan keluargamu dan
bayi yang baru lahir,” kata sang Amir.
Perhatikanlah keikhlasan Amir Madinah dalam
beribadah. Ia bershalawat kepada Nabi Shallahu
‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam merasa senang dan memberinya kabar
gembila di dunia.
Sedangkan kita, mengapa jika kita bershalawat
atau bersedekah tidak melihat tanda-tanda
pengabulan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
MENGAPA?
Aku tidak melihat sebab lain, kecuali tebalnya
hijab, karena kita melakukan hal – hal yang tidak
pantas. Yaitu hal – hal yang menjauhkan kita
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Sumber Buku Kisah dan Hikmah Dalam Kalam
Habib Muhammad Bin Hadi Asseqaf
Shalawat
Seorang yang sangat zuhud bernama Syeikh
Abdul Wahid bin Zaid berkisah sebagai berikut :
Seorang tetangga
kami, bekerja sebagai pegawai negeri dan
sangat jahat ketika hidupnya di dunia, dan
melakukan maksiat dan suka menakut-nakuti
orang.
Pada suatu malam, saya melihat di dalam tidur
bahwa tangan tetangga saya tersebut
memegang tangan Rosululloh SAW. Saya
bertanya kpd Rosululloh SAW :
“Wahai Rosululloh, seseungguhnya org ini
sangat terkenal sebagai penjahat di muka Bumi,
bagaimana ceritanya engkau sangat menaruh
tanganmu memegang tangannya ? “ Rosululloh
SAW bersabda :
“ Saya mengetahui apa yang engkau katakan
tersebut. Oleh karena itu, saya datang untuk
memberikan SYAFAATku kepadanya. ”
Kemudian saya bertanya kepada Rosululloh
SAW :
“ Wahai Rosul, apakah kelebihan tetangga kami
itu, sehingga engkau memberikan syafaatnya ? ”
Rosululloh SAW menjawab :
“ Tetanggamu itu banyak membaca SHOLAWAT
kepadaku. Pada tiap malam ketika dia hendak
tidur, dia selalu membaca sholawat 1000 kali
( seribu kali ), sehingga aku mohon kepada Alloh
SWT mudah-mudahan syafaatku ini diterima
disisi-Nya, agar tetanggamu ini bertaubat kpd-
Nya.”
Berkata Syeikh Abdul Wahid ( shohibul hikayat )
:
“ Di pagi hari saya mengajar di Masjid
sebagaimana biasanya, tiba-tiba datang
tetangga itu, disaat saya sedang menceritakan
apa yang saya lihat di dalam tidur ( mimpi ), dia
masuk dan mengucapkan salam sambil
menangis, lalu dia berkata :
“ Wahai Syeikh Abdul wahid, izinkanlah aku
menjabat tanganmu, karena Rosululloh SAW
mengutusku kepadamu, agar aku bertaubat di
hadapanmu, dan disaksikan oleh murid-
muridmu di Masjid ini. ”
Syekh Abdul
Wahid telah berjabat tangan dengan
tetangganya yang telah menyesali segala
perbuatannya selama hidupnya tersebut. Ia
berjanji tidak akan mengulanginya kembali
perbuatan jahatnya tersebut.”
Subhanalloh…… Setelah itu, Syeikh Abdul
Wahid bertanya kpd tetangganya tsb : “ Apakah
yang menyebabkan engkau bertaubat, wahai
saudaraku…?” Tetangganya
menjawab :
“ Rosululloh SAW telah
datang kepadaku di dalam tidurku, dan beliau
meneceritakan kepadaku tentang Tanya jawab
yang antara engkau dengan beliau, kemudian
Rosululloh memegang tanganku dan bersabda:
“ Aku datang kepadamu untuk memberikan
syafaat Alloh atas segala dosamu, adalah
semata-mata karena engkau banyak membaca
Sholawat atasku. ” “ Setelah itu beliau bertitah
kepadaku, agar di pagi hari aku datang
kepadamu, Wahai Syaikh….Untuk
mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa
aku telah bertaubat yang sebenar-benarnya…..”
Demikianlah keberkahan membaca Sholawat
atas Rosululloh SAW, ternyata tdk sia-sia bagi
setiap lisan yang selalu di basahi dengan
sholawat.
Kisah diatas sebagai bukti nyata Syafaat
Rosululloh SAW, bahwa pembacaan sholawat
dapat mengugurkan dosa-dosa yang pernah
terlanjur dikerjakan oleh seseorang.
Sebagaimana diterangkan dalam Hadits :
“ Diriwayatkan dari Abu Bakar As Shiddiq :
belaiu berkata, bahwa sholawat kepada Nabi
SAW lebih cepat menghapus dosa dari pada air
dingin memdamkan api dan lebih utama dari
pada memerdekakan hamba sahaya ”
( dari Kitab Bustanul Wa Idzin )
SHOLAWAT YANG DITERIMA
Di kisahkan bahwa Amir Madinah bershalawat
Kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam
sebanyak 4000 kali tiap hari tanpa
sepengetahuan siapapun, kecuali Allah.
Suatu malam ada seorang wanita miskin
melahirkan anak. Ia begitu miskin hingga tak
mampu membeli lampu maupun minyak bayi.
Hal ini membuat suaminya sangat sedih. Dalam
kesedihannya itu, ia tertidur dan bermimpi
bertemu Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.
“Pergi dan temuilah Amir Madinah. Katakan
bahwa Nabi memerintahkannya untuk
menanggung biaya sebesar 100 dinar. Tanda
kebenaran berita ini adalah bacaan shalawatnya
di depan jendela kuburku sebanyak 4000 kali
tiap hari,” perintah Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam dalam mimpi.
Lelaki itu lalu menemui seorang Syeikh dan
menceritakan mimpinya. Mereka lalu sepakat
untuk pergi ke rumah Sang Amir Madinah.
Setelah keduanya duduk di hadapan Amir
Madinah, Sang Syeikh berkata, “Lelaki ini
bermimpi tentangmu, dengarkanlah ceritanya.”
“Ceritakanlah mimpimu,” kata Amir Madinah.
Lelaki miskin itu kemudian menceritakan
mimpinya.
“Mimpi mu benar. Aku bersedia menanggung
biaya yang di tetapkan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam,” kata Amir Madinah.
Ia lalu bangkit mengambil 100 dinar, “Ini biaya
yang harus ku tanggung.”
Ia kemudian memberikan 100 dinar lagi, “Ini
Hadiah untuk kabar gembira yang kau bawa,
yaitu di terimanya shalawatku oleh Nabi
Shallahu ‘Alaihi Wa Sallam.”
Ia menyerahkan 100 dinar lagi. “Ambillah ini,
belanjakanlah untuk keperluan keluargamu dan
bayi yang baru lahir,” kata sang Amir.
Perhatikanlah keikhlasan Amir Madinah dalam
beribadah. Ia bershalawat kepada Nabi Shallahu
‘Alaihi Wa Sallam, Nabi Shallahu ‘Alaihi Wa
Sallam merasa senang dan memberinya kabar
gembila di dunia.
Sedangkan kita, mengapa jika kita bershalawat
atau bersedekah tidak melihat tanda-tanda
pengabulan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
MENGAPA?
Aku tidak melihat sebab lain, kecuali tebalnya
hijab, karena kita melakukan hal – hal yang tidak
pantas. Yaitu hal – hal yang menjauhkan kita
dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala…
Sumber Buku Kisah dan Hikmah Dalam Kalam
Habib Muhammad Bin Hadi Asseqaf
Rabu, 16 April 2014
SYAIR SAYYIDINA ALI UNTUK SAYYIDATUNA FATHIMAH
Syair Sayyidina Ali bin Abi Thalib untuk
Sayyidah Fatimah Az-Zahra (R.A)
Uhibbuki mitsla maa anti Aku mencintaimu
apapun dirimu
ﺍﺣﺒﻚ ﻛﻴﻔﻤﺎ ﻛﻨﺘﻲ
Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻬﻤﺎ ﺻﺎﺭ
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan selamanya
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku
ﺯﻭﺟﺘﻲ
Zaujatii
Duhai istriku
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku
ﺣﻼﻟﻲ ﺍﻧﺖ ﻻ ﺍﺧﺸﻰ ﻋﺰﻭﻻ ﻫﻤﻪ ﻣﻘﺘﻲ
ﻟﻘﺪ ﺍﺫﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻟﻨﺎ ﺑﻮﺻﻞ ﻏﻴﺮ ﻣﻨﺒﺘﻲ
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu
maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin
ghoiri
munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli
celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.
ﺳﻘﻴﺖ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻲ ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺴﻤﺖ
ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺴﻌﺪ ﺇﻥ ﻏﺒﺖ ﻭﻳﺼﻔﻮ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﺇﻥ ﺟﺌﺖ
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li
wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in
ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan
indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu
menghilang lenyap ,
Hidupku menjadi terang ketika kamu disana.
ﻧﻬﺎﺭﻱ ﻛﺎﺩﺡ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﻋﺪﺕ ﻟﻠﺒﻴﺖ
ﻟﻘﻴﺘﻚ ﻓﺎﻧﺠﻠﻰ ﻋﻨﻲ ﺿﻨﺎﻯ ﺍﺫﺍ ﻣﺎ ﺗﺒﺴﻤﺖ
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu
lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa
tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah
menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu
senyum.
ﺗﻀﻴﻖ ﺑﻰ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﺫﺍ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﺗﺒﺮﻣﺘﻲ
ﻓﺄﺳﻌﻰ ﺟﺎﻫﺪﺍ ﺣﺘﻰ ﺍﺣﻘﻖ ﻣﺎ ﺗﻤﻨﻴﺘﻲ
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman
tabarromti
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa
tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih,
maka aku akan berusaha keras sampai
benar mendapatkan apa yang engkau
inginkan.
ﻫﻨﺎﺋﻰ ﺍﻧﺖ ﻓﻠﺘﻬﻨﺌﻰ ﺑﺪﻑﺀ ﺍﻟﺤﺐ ﻣﺎ ﻋﺸﺘﻲ
ﻓﺮﻭﺣﺎﻧﺎ ﻗﺪ ﺍﺋﺘﻠﻔﺎ ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺍﻟﻨﺒﺖ
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidifil hubbi maa
'isyti
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi
wannabti
Engkau kebahagiaanku. Tanamkanlah
kebahagiaan
selamanya.
Jiwa2 kita telah bersatu bagaikan tanah dan
tumbuhan
Sayyidah Fatimah Az-Zahra (R.A)
Uhibbuki mitsla maa anti Aku mencintaimu
apapun dirimu
ﺍﺣﺒﻚ ﻛﻴﻔﻤﺎ ﻛﻨﺘﻲ
Uhibbuki kaifa maa Kunti
Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu
ﻭﻣﻬﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﻬﻤﺎ ﺻﺎﺭ
Wa mahmaa kaana mahmaa shooro
Apapun yang terjadi dan selamanya
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah cintaku
ﺯﻭﺟﺘﻲ
Zaujatii
Duhai istriku
ﺍﻧﺘﻲ ﺣﺒﻴﺒﺘﻰ ﺍﻧﺘﻲ
Antii habiibatii anti
Engkaulah kekasihku
ﺣﻼﻟﻲ ﺍﻧﺖ ﻻ ﺍﺧﺸﻰ ﻋﺰﻭﻻ ﻫﻤﻪ ﻣﻘﺘﻲ
ﻟﻘﺪ ﺍﺫﻥ ﺍﻟﺰﻣﺎﻥ ﻟﻨﺎ ﺑﻮﺻﻞ ﻏﻴﺮ ﻣﻨﺒﺘﻲ
Halaalii anti laa akhsyaa 'azuulan himmuhuu
maqti
Laqod adzinaz zamaanu lanaa biwushlin
ghoiri
munbatti
Engkau istriku yang halal, aku tidak peduli
celaan orang.
Kita satu tujuan untuk selamanya.
ﺳﻘﻴﺖ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻲ ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻟﻔﻌﻞ ﻭﺍﻟﺴﻤﺖ
ﻳﻐﻴﺐ ﺍﻟﺴﻌﺪ ﺇﻥ ﻏﺒﺖ ﻭﻳﺼﻔﻮ ﺍﻟﻌﻴﺶ ﺇﻥ ﺟﺌﺖ
Saqoitil hubba fii qolbii bihusnil fi'li
wassamti
yaghiibus sa'du in ghibti wa yashful 'aisyu in
ji'ti
Engkau sirami cinta dalam hatiku dengan
indahnya perangaimu.
Kebahagiaanku lenyap ketika kamu
menghilang lenyap ,
Hidupku menjadi terang ketika kamu disana.
ﻧﻬﺎﺭﻱ ﻛﺎﺩﺡ ﺣﺘﻰ ﺇﺫﺍ ﻣﺎ ﻋﺪﺕ ﻟﻠﺒﻴﺖ
ﻟﻘﻴﺘﻚ ﻓﺎﻧﺠﻠﻰ ﻋﻨﻲ ﺿﻨﺎﻯ ﺍﺫﺍ ﻣﺎ ﺗﺒﺴﻤﺖ
Nahaarii kaadihun hattaa idzaa maa 'udtu
lilbaiti
Laqiituki fanjalaa 'annii dhonaaya idzaa maa
tabassamti
Hari2ku berat sampai aku kembali ke rumah
menjumpaimu.
Maka lenyaplah keletihan ketika kamu
senyum.
ﺗﻀﻴﻖ ﺑﻰ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﺍﺫﺍ ﺑﻬﺎ ﻳﻮﻣﺎ ﺗﺒﺮﻣﺘﻲ
ﻓﺄﺳﻌﻰ ﺟﺎﻫﺪﺍ ﺣﺘﻰ ﺍﺣﻘﻖ ﻣﺎ ﺗﻤﻨﻴﺘﻲ
Tadhiiqu biyal hayaatu idzaa bihaa yauman
tabarromti
Fa as'aa jaahidan hattaa uhaqqiqo maa
tamannaiti
Jika suatu saat hidupmu menjadi sedih,
maka aku akan berusaha keras sampai
benar mendapatkan apa yang engkau
inginkan.
ﻫﻨﺎﺋﻰ ﺍﻧﺖ ﻓﻠﺘﻬﻨﺌﻰ ﺑﺪﻑﺀ ﺍﻟﺤﺐ ﻣﺎ ﻋﺸﺘﻲ
ﻓﺮﻭﺣﺎﻧﺎ ﻗﺪ ﺍﺋﺘﻠﻔﺎ ﻛﻤﺜﻞ ﺍﻻﺭﺽ ﻭﺍﻟﻨﺒﺖ
Hanaa'ii anti faltahna'ii bidifil hubbi maa
'isyti
Faruuhanaa qodi'talafaa kamitslil ardhi
wannabti
Engkau kebahagiaanku. Tanamkanlah
kebahagiaan
selamanya.
Jiwa2 kita telah bersatu bagaikan tanah dan
tumbuhan
Senin, 14 April 2014
Mempermudag Rizqi kita
Pertanyaan pada Habibana Munzir :
kami sudah berkeluarga selama 3 tahun tetapi
hingga kini suami belum mendapatkan pekerjaan,
kami sudah memiliki 1 orang anak. Habib adakah
hal yang membuat kami atau suami belum juga
mendapatkan pekerjaan? adakah solusi untuk
kami? Selain itu saya seorang istri yang sedang
membuang jauh2 perasaan sakit hati terhadap
Orang tua yang hingga kini saya merasa
keberadaan saya dalam keluarga diabaikan.sejauh
mata memandang oranglain cukup menghargai
keberadaan saya, tetapi mengapa orang tua
tidak? rasa lelah dan sakit sudah lama saya rasa
tetapi saya buang jauh2 rasa itu, Habib salahkah
rasa itu dan apa yang harus saya lakukan?
----------------------------------
Jawaban Habibana :
----------------------------------
mengenai pekerjaan, saya ajarkan tiga amalan yg
baiknya saudari dan suami amalkan.
1. doa : "Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min
khairin faqir" (Wahai Tuhan, sungguh aku sangat
faqir atas pemberian anugerah Mu), doa ini
adalah doa Nabi Musa as, kemudian Nabi Musa
as didatangi calon istrinya dan sekaligus
mendapat pekerjaan. doa ini tercantum pada QS
Al Qashash 24).
Guru Mulia kita mengajarkan doa ini untuk
mempermudah rizki/pekerjaan
2. perbanyaklah shalawat pada Nabi saw karena
shalawat membawa keberkahan dan ketenangan
dan kemudahan dhahir dan batin.
3. saya sarankan anda membaca dzikir
Subhanallahi wabihamdih,bacalah 100X setiap
pagi dalam keadaan suci, dzikir ini disarankan
oleh Nabi saw sebagaimana sabda beliau saew :
Barangsiapa membaca Subhanallahi wabihamdih
100X setiap harinya maka berjatuhan dosa
dosanya walau sebanyak buih dilautan (Shahih
Bukhari)
Mengenai sifat kurang baik dari mereka pada
saudari, itu biasa, jika suami saudari
berpenghasilan mencukupi mereka akan berubah
baik, saya senasib dengan saudari,saya dibenci,
dihina dan dikucilkan oleh saudara2 dulu, bahkan
ayah ibu saya sedih pada saya menganggap saya
adalah anak yg tidak sukses, sampai bunda saya
menangis dan berkata : kalau kata orang jika
banyak anak pasti salah satu ada yg tidak
sukses...", hancur hati saya, namun Allah swt
merubah keadaan, kini saya kebanggaan
keluarga, dan teman dan kerabat yg mencibir dan
menghina kini sangat ingin dekat dg saya dan
bercengkerama akrab, namun apa daya,
jangankan bercengkerama,. mau jumpa saya pun
tidak kebagian kesempatan karena kesibukan
saya, setahun sekalipun terkadang banyak yg tak
berhasil jumpa, cuma alhamdulillah ayahanda
saya wafat dalam keadaan ridho pada saya, dan
ibunda saya masih hidup dan sangat sering
menangis haru bangga pada saya dan sering
menginap dirumah.
saudariku, nasib ditangan Allah, amalkanlah 3
poin diatas, ia kunci keberhasilan dunia dan
akhirat
Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam
kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala
cita cita,
____________
I_______
kami sudah berkeluarga selama 3 tahun tetapi
hingga kini suami belum mendapatkan pekerjaan,
kami sudah memiliki 1 orang anak. Habib adakah
hal yang membuat kami atau suami belum juga
mendapatkan pekerjaan? adakah solusi untuk
kami? Selain itu saya seorang istri yang sedang
membuang jauh2 perasaan sakit hati terhadap
Orang tua yang hingga kini saya merasa
keberadaan saya dalam keluarga diabaikan.sejauh
mata memandang oranglain cukup menghargai
keberadaan saya, tetapi mengapa orang tua
tidak? rasa lelah dan sakit sudah lama saya rasa
tetapi saya buang jauh2 rasa itu, Habib salahkah
rasa itu dan apa yang harus saya lakukan?
----------------------------------
Jawaban Habibana :
----------------------------------
mengenai pekerjaan, saya ajarkan tiga amalan yg
baiknya saudari dan suami amalkan.
1. doa : "Rabbiy Inniy limaa anzalta ilayya min
khairin faqir" (Wahai Tuhan, sungguh aku sangat
faqir atas pemberian anugerah Mu), doa ini
adalah doa Nabi Musa as, kemudian Nabi Musa
as didatangi calon istrinya dan sekaligus
mendapat pekerjaan. doa ini tercantum pada QS
Al Qashash 24).
Guru Mulia kita mengajarkan doa ini untuk
mempermudah rizki/pekerjaan
2. perbanyaklah shalawat pada Nabi saw karena
shalawat membawa keberkahan dan ketenangan
dan kemudahan dhahir dan batin.
3. saya sarankan anda membaca dzikir
Subhanallahi wabihamdih,bacalah 100X setiap
pagi dalam keadaan suci, dzikir ini disarankan
oleh Nabi saw sebagaimana sabda beliau saew :
Barangsiapa membaca Subhanallahi wabihamdih
100X setiap harinya maka berjatuhan dosa
dosanya walau sebanyak buih dilautan (Shahih
Bukhari)
Mengenai sifat kurang baik dari mereka pada
saudari, itu biasa, jika suami saudari
berpenghasilan mencukupi mereka akan berubah
baik, saya senasib dengan saudari,saya dibenci,
dihina dan dikucilkan oleh saudara2 dulu, bahkan
ayah ibu saya sedih pada saya menganggap saya
adalah anak yg tidak sukses, sampai bunda saya
menangis dan berkata : kalau kata orang jika
banyak anak pasti salah satu ada yg tidak
sukses...", hancur hati saya, namun Allah swt
merubah keadaan, kini saya kebanggaan
keluarga, dan teman dan kerabat yg mencibir dan
menghina kini sangat ingin dekat dg saya dan
bercengkerama akrab, namun apa daya,
jangankan bercengkerama,. mau jumpa saya pun
tidak kebagian kesempatan karena kesibukan
saya, setahun sekalipun terkadang banyak yg tak
berhasil jumpa, cuma alhamdulillah ayahanda
saya wafat dalam keadaan ridho pada saya, dan
ibunda saya masih hidup dan sangat sering
menangis haru bangga pada saya dan sering
menginap dirumah.
saudariku, nasib ditangan Allah, amalkanlah 3
poin diatas, ia kunci keberhasilan dunia dan
akhirat
Demikian saudariku yg kumuliakan, semoga dalam
kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala
cita cita,
____________
I_______
Langganan:
Postingan (Atom)