Selasa, 15 Oktober 2013

WELCOME TO FIRDAUS GATE!(Haritsah Pemuda yang teguh dan istiqamah)


Rasulullah SAW sangat memperhatikan
penanaman makna istikamah ke jiwa para
pemuda. Suatu ketika, Rasulullah SAW menemui
sahabat bernama Hâritsah r.a., usianya masih 17
tahun. Dengan kata lain, kalau dalam ukuran kita,
ia baru beranjak dewasa. Pemuda dalam usia
seperti Hâritsah biasanya masih dihinggapi oleh
emosi dan pikiran semata. Dimungkinkan untuk
berperilaku menyimpang. Suka mengonsumsi
Narkoba atau suka berbohong. Tidak terkecuali, di
kalangan remaja putri pun tidak bisa lepas dari
perilaku seperti ini.
Namun, Hâritsah yang berusia 17 tahun ini
merupakan contoh seorang yang istikamah sejak
dini. Ia meyakinkan bahwa setiap orang yang
seusia dengannya bisa bersikap istikamah.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW menemuinya.
Terjadilah perbincangan yang alami antara
keduanya. Beliau bertanya, “Bagaimana kabarmu
pagi ini, wahai Hâritsah?” Jawaban umum atas
pertanyaan semacam ini adalah, “Alhamdulillâh,
baik-baik saja,” atau “kondisi ekonomi lagi lesu,”
atau “saya punya banyak masalah.” Demikianlah
biasanya jawaban kita.
Namun, sang pemuda yang istikamah itu
menjawab dengan berkata, “Pagi ini seolah-olah
aku melihat arasy Tuhan dengan jelas. Seolah-olah
aku melihat penduduk surga sedang mereguk
kenikmatan di surga dan penduduk neraka sedang
berteriak meminta tolong. Karena itu, diriku
berpaling dari dunia. Di waktu malam aku bangun
beribadah dan di waktu siang aku berpuasa.”
Mahasuci Allah. Banyak sekali umat Islam atau
generasi muda Islam yang selama hidup hingga
menjelang kematiannya tak pernah membayangkan
dan berpikir tentang surga, atau paling tidak
berdoa, “Wahai Tuhan, masukkanlah aku ke dalam
surga dan selamatkan aku dari siksa api neraka.”
Renungkanlah apa yang dikatakan oleh Hâritsah. Ia
meletakkan dunia pada kedudukan yang
semestinya. Dunia hina di matanya. Di waktu
malam ia melakukan salat dan di waktu siang ia
berpuasa. Maka, Nabi saw. berkata padanya,
“Wahai Hâritsah, engkau telah mengetahui, maka
beristikamahlah!” Engkau telah mengetahui, maka
teguhkan hatimu. Jadilah orang yang istikamah.
Apakah Hâritsah termasuk orang yang
beristikamah? Atau ia hanya seorang remaja yang
mendengar satu dua kalimat dari orang yang
menasehatinya, masuk telinga kanan keluar telinga
kiri? Tentu saja tidak! Hâritsah tetap konsisten
(istikamah). Sikap istikamahnya terbukti setahun
sesudah kejadian tersebut, yakni saat terjadi
perang Badar. Ketika itu Kaum Muslimin keluar
untuk berperang. Hâritsah adalah orang termuda
yang ikut dalam barisan umat Islam. Sebelum
perang dimulai, panah nyasar yang berasal dari
kaum kafir melesat melewati tiga ratus orang
sahabat dan mengarah pada sang pemuda yang
istikamah itu. Panah itu bersarang di leher
Hâritsah. Seketika itu juga Hâritsah gugur sebagai
syahid.
Kemudian, Ibu Hâritsah datang kepada Nabi
seraya berkata, “Wahai Rasulullah, apakah
Hâritsah berada di surga sehingga aku bisa turut
bersuka cita untuknya? Atau ia berada di tempat
lain sehingga aku akan terus mendoakannya?”
Nabi SAW menjawab, “Wahai Ibunda Hâritsah,
sesungguhnya surga tidak hanya satu, tetapi, ada
banyak surga. Dan, sesungguhnya anakmu berada
di surga Firdaus, surga yang paling tinggi.”(HR
Bukhari)

Amru Khalid, Al-Kalam min Al-Qalb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar