Ungkapan Ahli Tasawuf dan Ahli fiqih °°
Pernahkah kita mendengar peryataan ahli Tasawuf
dan Ahli fiqih tentang suatu hal?.
Coba kita lihat ungkapan berikut ini!.
Ahli Tasawuf berkata :
“Lebih baik orang yang zina tapi taubat, dari pada
orang sembahyang yang melamun tapi merasa
bangga”.
Disisi lain seorang ahli fiqih berkata:
“Lebih baik orang yang sembayang melamun
daripada orang yang zina”.
Apa yang terdapat dipikiran anda tentang
peryataan tersebut?.
Memang, tidak ada yang salah dari setiap
pendapat,
tapi kalau saya boleh berpendapat ungkapan
tersebut seolah antara ahli fiqih dan ahli taswuf
saling meyatakan bahwa pendapat mereka yang
paling BENAR.
Kalau dilihat dari sudut pandang tasawuf tidak
akan berarti apa-apa kita melakukan ibadah shalat
kalau qalbu kita lalai dari mengingat Allah
(dzikrullah),
tapi dari sudut pandang fiqih kalau kita sudah
melakukan ibadah sahalat kalau sudah benar
syarat dan rukun maka itu juga sudah benar
menurut ilmu fiqih,
dan memang fiqih adalah ilmu yang mengatur
tatanan lahiriah (zhohir)
sementara tasawuf ilmu yang mengatur tingkah
laku bathin,
(karena memang antara keduanya tidak dapat
dipisahkan).
Karena itu dalam beribadah gerak gerik lahiriah
kita harus mengikuti ketentuan syariah (ilmu fiqih) .
sementara batiniah harus mengikuti ketentuan
tasawuf (ihsan) tentang Ihsan.
Rasul menjelaskan: Ihsan adalah bahwa
dalam ibadahmu engkau seakan-akan melihat
Allah, dan kalaupun engkau tidak melihat Allah
engkau merasa sedang dilihat oleh Allah swt ,
hal ini sesuai dengan sebuah ungkapan : “Barang
siapa berfiqih dan tidak bertasawuf maka ia fasik,
dan barang siapa bertasawuf tanpa fiqih maka ia
zindik, dan barang siapa mempelajari keduanya
maka ia
sudah mendapatkan hakekatnya agama”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar