Muhammad bin Abi Abbas
al-Khidr al-Husaini al-Maushuli meriwayatkan bahwa ia pernah mendengar
ayahnya berkata, “Tahun 551 H, dalam tidur aku bermimpi melihat para
syaikh besar berkumpul disuatu tempat yg luas di Madrasah Syaikh Abdul
Qodir. Diantara mereka ada yg hanya mengenakan serban dan ada pula yg
mengenakan serban dg selendang diatasnya, ada yg mengenakan dua
selendang di atasnya. Dan diatas lilitan serban Syaikh terdapat tiga
helai selendang. Dalam mimpi tersebut aku berpikir tentang makna tiga
helai selendang tsb. Ketika aku terbangun aku mendapatkan jawabnya.
Sehelai selendang merupakan penghormatan terhadap ilmu syariah, helai
lainnya merupakan penghormatan terhadap ilmu hakikat dan helai terakhir
merupakan penghormatan untuk beliau”.
Syaikh Abu Barakat Shakr bin Shakr bin Musafir menyatakan bahwa setiap wali pada zamannya disumpah untuk tidak menceritakan kondisinya baik zahir maupun batin kecuali dg izinnya (Syaikh Abdul Qodir Jailani). Beliau adalah orang yg dianugerahi izin untuk berbicara dihadapan ALLAH dg izin-NYA. Dan beliau adalah orang yg diberi otoritas untuk berinteraksi dg alam setelah meninggal dunia maupun sebelum beliau meninggal dunia”
Syaikh Abu Barakat Shakr bin Shakr bin Musafir menyatakan bahwa setiap wali pada zamannya disumpah untuk tidak menceritakan kondisinya baik zahir maupun batin kecuali dg izinnya (Syaikh Abdul Qodir Jailani). Beliau adalah orang yg dianugerahi izin untuk berbicara dihadapan ALLAH dg izin-NYA. Dan beliau adalah orang yg diberi otoritas untuk berinteraksi dg alam setelah meninggal dunia maupun sebelum beliau meninggal dunia”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar