Penjelasan tentang adanya rindu kepada Allah sebenarnya telah cukup ketika menjelaskan adanya cinta.
Kejelasan yang sempurna bisa dicapai dengan langsung (musyahadah) dan
tampaknya objek (tajalli) dengan sempurna. Hal itu hanya bisa terjadi di
akhirat. Dengan sendirinya hal itu menimbulkan suatu kerinduan. Hal itu
pula yang merupakan puncak kecintaan bagi orang-orang arif. Hal ini
juga merupakan bentuk pertama dari dua macam bentuk rindu, yaitu upaya menyempurnakan kejelasan dari suatu objek yang sudah jelas.
Sedangkan bentuk kedua dari rindu diuraikan sebagai berikut.
Hal-hal ilahiah tidak ada batasnya. Hanya sebagian yang bisa tersingkap
oleh seorang hamba, sehingga masih tersisa banyak hal ilahiah yang
masih tersembunyi. Seorang arif mengetahui keberadaan hal-hal ilahiah
itu. Ia menyadari bahwa hal-hal itu hanya diketahui sepenuhnya oleh
Allah. Seorang arif juga menyadari bahwa apa yang tidak ia ketahui jauh
lebih banyak dari yang telah ia ketahui. Dengan demikian, ia pun rindu
untuk mengetahui hal-hal yang selama ini belum ia ketahui sama sekali.
Memang, tidak ada makrifat yang betul-betul jelas, dan tidak ada
makrifat yang betul-betul tidak jelas.
Bentuk rindu pertama
berakhir di akhirat dengan apa yang dinamakan melihat, bertemu, dan
menyaksikan langsung. Hal ini tidak mungkin terjadi di dunia. Dalam
kaitan ini, Ibrahim bin Adham termasuk orang-orang yang dilanda rindu
Ilahi. Ia berkata,”Suatu hari, aku berdoa : ‘Ya, Tuhan, jika Kau hendak
memberikan kepada salah seorang di antara orang-orang yang mencintai-Mu
sesuatu yang bisa menentramkan hati sebelum bertemu dengan-Mu, maka
berikanlah ia padaku. Sungguh, kegelisahan ini telah membuatku
menderita.’” Lantas, Ibrahim bin Adham meneruskan ceritanya,”Aku pun
bermimpi, Dia menghentikanku tepat di hadapan-Nya seraya berfirman,’Hai,
Ibrahim, apakah kau tidak malu pada-Ku dengan meminta-Ku agar memberimu
sesuatu yang bisa menenteramkan hatimu padahal kau belum bertemu
dengan-Ku? Apakah orang yang dilanda rindu bisa tenteram sebelum bertemu
Kekasihnya?’ Aku lalu menjawab,’Aku sedang kalut dalam cinta-Mu,
sehingga aku pun tidak menyadari apa yang kukatakan. Ampunilah aku dan
ajarilah aku apa yang mestinya kukatakan.’ Maka, Tuhan
Menyahut,‘Katakanlah : ‘Ya, Allah, berikanlah aku kerelaan untuk
menerima keputusan-Mu, kesabaran untuk menghadapi cobaan-Mu, dan sikap
syukur terhadap karunia-Mu.’”
Bentuk rindu yang kedua adalah
diungkapkan berikut ini. Bentuk kerinduan ini tidak berakhir di dunia
maupun di akhirat. Sebab, akhir kerinduan ini adalah tersingkapnya bagi
seorang hamba di akhirat kelak segala yang diketahui tentang Allah, baik
keagungan, sifat, kebijaksanaan, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.
Padahal hal itu mustahil, karena ia tidak ada akhirnya. Seorang arif
tentu menyadari bahwa selalu masih ada sesuatu dari keindahan dan
keagungan Allah yang belum jelas baginya. Dengan demikian, kerinduannya
pun tidak akan terobati sama sekali. Apalagi jika di atas tingkatan
orang yang mampu melihat Allah itu masih terdapat banyak tingkatan lain
yang belum ia capai.
Hanya saja, dalam kaitan ini, seseorang
bisa merindukan kesempurnaan hubungan dengan Allah ketika ia telah
mencapai suatu dasar untuk menjalin hubungan dengan Allah. Dengan
demikian, ia bisa merasakan kenikmatan rindu tanpa tersiksa. Ia pun
terus menerus tanpa henti merasakan dekat dengan kelembutan-kelembutan
kasyf dan pandangan pada Allah. Kenikmatan dan kelezatan itu selalu
bertambah selama-lamanya. Adanya kelezatan itu senantiasa memperbarui
diri, merupakan suatu penghalang untuk merasakan kerinduan sehingga
seseorang tidak berhasil mencapai puncak kerinduan. Namun, hal ini
dengan catatan bahwa berhasilnya kasyf tersebut adalah pada sesuatu yang
sama sekali tidak berhasil tersingkap di dunia. Jika tidak demikian,
kenikmatannya hanya berhenti pada suatu batas tertentu serta tidak
bertambah, tetapi ia terus menerus ada selamanya.
Allah
berfirman, Cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan
mereka, seraya mereka berkata,”Ya, Tuhan kami, sempurnakanlah cahaya
kami.”(QS. Al-Tahrim : .
Ayat ini mengandung makna bahwa Allah memberikan kenikmatan kepadanya
dengan menyempurnakan cahayanya jika ketika di dunia ia sudah berbekal
cahaya.
Pada ayat lain disebutkan pula : Tunggulah kami, agar
kami dapat memperoleh sebagian cahaya kalian. Dikatakan kepada
mereka,”Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk
kalian.”(QS. Al-Hadid : 13). Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang harus
berbekal dasar cahaya ketika di dunia, baru kemudian cahaya itu bisa
bertambah terang ketika di akhirat. Sedangkan cahaya yang senantiasa
memperbarui diri tidak akan bisa bertambah terang. Adalah berbahaya
menghukumi hal ini dengan berbagai praduga. Kita tidak bisa menyingkap
apa yang dialami seseorang setelah ia memperoleh cahaya tersebut. Kita
hanya bisa memohon kepada Allah, semoga Dia menambah ilmu dan petunjuk
kita, serta memperlihatkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran
sesungguhnya. Inilah tolok ukur dari cahaya-cahaya mata batin yang
menyingkap hakikat-hakikat kerinduan serta makna-maknanya.
Tak
terhitung banyaknya kesaksian oleh berbagai hadis dan riwayat. Salah
satunya adalah doa Rasulullah Saw yang masyhur berikut ini : “Ya, Allah,
anugerahkanlah aku kerelaan menerima keputusan-Mu, kedamaian hidup
setelah kematianku, kenikmatan menatap wajah-Mu yang mulia, dan
kerinduan untuk bertemu dengan-Mu. (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
Abu Darda pernah berkata kepada Ka’ab Al-Ahbar,”Beritahukanlah aku ayat
yang paling istimewa dalam Taurat.” Ka’ab menjawab, Allah berfirman,
‘Begitu lama kerinduan orang-orang shalih untuk bertemu dengan-Ku. Namun
jauh lebih lama kerinduan-Ku untuk bertemu dengan mereka.’” Lalu, Ka’ab
berkata lagi, “Di samping itu, tertulis pula dalam Taurat : ‘Siapa yang
mencari-Ku, ia akan mendapatkan-Ku. Dan siapa yang mencari selain-Ku,
ia tidak akan mendapatkan-Ku.’” Kemudian Abu Darda berkomentar, “Aku
menjadi saksi bahwa sungguh aku pernah mendengar Rasulullah mengatakan
hal itu.”
Dalam berita-berita tentang nabi Daud, disebutkan
bahwa Allah berfirman, ”Hai, Daud, sampaikanlah kepada penduduk bumi
bahwa sungguh Aku adalah Kekasih bagi orang yang mencintai-Ku, teman
duduk bagi orang yang duduk bersama-Ku, teman akrab bagi orang yang
akrab dengan mengingat-Ku, sahabat bagi orang yang bersahabat dengan-Ku,
pilihan bagi orang yang memilih-Ku, dan patuh kepada orang yang
mematuhi-Ku. Jika seorang hamba mencintai-Ku dan Kuketahui cinta itu
telah menjadi keyakinan dalam hatinya, niscaya Aku akan menerimanya
dalam Diriku, dan mencintainya dengan cinta yang belum pernah dialami
oleh satu pun dari makhluk-Ku.
“Siapa yang mencari-Ku dengan
kebenaran, ia akan mendapatkan-Ku. Siapa yang mencari selain-Ku, ia
tidak akan mendapatkan-Ku. Wahai penduduk bumi, enyahkanlah tipuan yang
ada pada diri kalian. Marilah menuju kemuliaan-Ku, persahabatan
dengan-Ku, dan kebersamaan dengan-Ku. Berakrab-akrablah dengan-Ku,
niscaya Aku akan akrab dan segera mencintai kalian. Sungguh, Aku
menciptakan watak para kekasih-Ku dari watak Ibrahim kekasih-Ku, Musa
rahasia-Ku, dan Muhammad sahabat pilihan-Ku. Aku menciptakan hati
orang-orang yang merindukan-Ku dari cahaya-Ku. Aku anugerahkan nikmatnya
keagungan-Ku dalam sanubari mereka.”
Pada berita-berita
tentang nabi Daud, juga diungkapkan bahwa Allah menurunkan wahyu
kepadanya : “Hai, Daud, kau sudah berkali-kali menyebut surga dan tidak
memohon kerinduan kepada-Ku!” Nabi Daud menyahut, “Ya, Tuhanku, siapa
orang-orang yang rindu kepada-Mu itu?” Tuhan pun menjawab, “Orang-orang
yang rindu kepada-Ku adalah orang-orang yang telah Ku-sucikan diri
mereka dari setiap noda. Ku-peringatkan mereka untuk mawas diri, dan
Ku-koyak hati mereka sedemikian rupa sehingga mereka memandang-Ku. Ku-
bawa hati mereka dengan kedua tangan-Ku lalu kuletakkan di atas
langit-Ku. Lantas, kupanggil malaikat-malaikat-Ku yang cerdik. Ketika
mereka telah datang berkumpul, mereka pun bersujud kepada-Ku. Aku pun
berkata kepada para malaikat itu, ‘Aku tidak memanggil kalian untuk
bersujud kepada-Ku, tapi Aku memanggil kalian untuk menunjukkan hati
orang-orang yang rindu kepada-Ku. Aku membanggakan orang-orang yang
rindu kepada-Ku di hadapan kalian. Di langit-Ku, hati mereka menyinari
para malaikat-Ku sebagaimana matahari menyinari penghuni bumi. Hai,
Daud, Ku-ciptakan hati orang-orang yang merindukan-Ku dari surga-Ku.
Ku-curahkan nikmat-Ku di dalamnya dengan cahaya wajah-Ku. Aku angkat
mereka sebagai teman bicara-Ku. Ku-jadikan tubuh mereka sebagai alat
penglihatan-Ku di bumi. Aku ciptakan dalam relung kalbu mereka suatu
cara tertentu agar mereka bisa memandang-Ku sehingga setiap hari mereka
semakin bertambah rindu kepada-Ku.”
Diantara riwayat-riwayat
dari Nabi Daud, diungkapkan pula bahwa sesungguhnya Allah menurunkan
wahyu kepada Nabi Daud : “Kau mengaku bahwa kau mencintai-Ku. Maka, jika
kau betul-betul mencintai-Ku, maka keluarkanlah cinta dunia dari relung
hatimu. Sungguh, cinta kepada-Ku dengan cinta pada dunia tidak akan
bisa berkumpul dalam satu hati. Hai, Daud, sucikanlah cinta kalian
pada-Ku dengan sesuci-sucinya.
“Hai, Daud, cintailah Aku dengan
memusuhi hawa nafsumu. Lindungilah dirimu dari berbagai keinginan
duniawi, maka Aku pun memandangmu dan tersingkaplah tabir antara Diri-Ku
dan dirimu.
“Aku memperbolehkan hawa nafsu hanya bagi
makhluk-makhluk lemah. Bagaimana mungkin orang-orang kuat tunduk kepada
hawa nafsu? Hawa nafsu hanya akan mengurangi kenikmatan munajat
dengan-Ku. Sungguh, Aku tidak merelakan dunia untuk para kekasih-Ku.
Maka, Aku pun menyucikan mereka dari godaan dunia.
“Andai
orang-orang yang menjauhi-Ku mengetahui bagaimana penantian-Ku kepada
mereka, kasih sayang-Ku kepada mereka, dan kerinduan-Ku agar mereka
meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat, niscaya mereka mati karena
rindu kepada-Ku dan anggota-anggota badan mereka bercerai-berai karena
karena cinta kepada-Ku. Hai, Daud, inilah kehendak-Ku terhadap
orang-orang yang menjauhi-Ku. Maka, bagaimanakah kehendak-Ku terhadap
orang-orang yang menghadap mendekati-Ku? hai, Daud, hamba-Ku sangat
membutuhkan-Ku ketika ia benar-benar kehilangan-Ku. Aku sangat mengasihi
hamba-Ku ketika ia telah berpaling dari sisi-Ku. Dan perbuatan yang
paling mulia dari hamba-Ku adalah ketika ia kembali ke pangkuan-Ku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar