Laman
- Beranda
- al ilmu
- al kisah
- Allah dan Jalan menuju Allah
- Cahaya
- Do'a Doa
- Futuhat Al Makiyyah
- Hadits Qudsy
- Kalam Kalam Hikmah
- Kata Hati
- Kebenaran Hakiki
- Kitab Tauhid
- Mahkota Aulia Illaita'ala
- Mutiara Kalam Habaib
- My notes
- Qitab Sirr Al Asrar
- Shalawat
- Syaikh Abdul Qadir Al Jailani
- Syar'i
- Syarh Al Hikam
- Taddabur Ayat Ayat
- Tokoh dan Biografi
Selasa, 15 Oktober 2013
FANA AL QALB
Memperhatikan makna kalimat “Dia bersamamu di mana saja kamu berada”, sang penempuh jalan (salik) mengarahkan hatinya, dan merenung : “Anugerah mengalir ke hatiku dari Dzat Mahaabadi yang bersama kami, dan bersama segenap lathifah kami, dan bersama setiap utas bulu di tubuh kami, dan bersama setiap partikel di dunia ini serta meliputi segala sesuatu.”
Perasaan itu benar-benar menghunjam dalam pikirannya dan ia mulai merasakan ke-Mahabesar-an Allah setiap saat, serta keimanannya kepada Allah mencapai kesempurnaan, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah hadits : “Keimanan sempurna dicapai manakala engkau merasakan bahwa Allah bersamamu di mana saja engkau berada.”
Selama kurun waktu ini, sang salik mengamalkan dzikir nama “Allah” dan dzikir “La ilaha illallah”, seraya mencamkan dalam pikiran ke-Mahabersama-an Allah. Ketika sedang mengamalkan ini, perhatiannya mestilah diarahkan pada hatinya dan perhatian hatinya ditujukan pada Allah. Dalam tahap ini, “Kesatuan Wujud” pun terungkap. Sang salik merasakan kerinduan kuat pada Allah dan dirinya sendiri pun ternafikan. Hatinya luka oleh sembilu Cinta Ilahi. Dirinya tunduk bertekuk lutut dan mati. Kini Allah menjadi “Segalanya” bagi dirinya. Ia pun berseru : “Tiada maujud selain Allah (La mawjuda illallah)”.
Dalam keadaan “ke-fana-an hati” ini, sang salik tidak ada. Hanya Allah sajalah segala-galanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar