Hakim al-Tirmidzi, seorang sufi dari Termez,
Uzbekistan, sebagai-mana dikutip oleh Abu
Nu'aim al-Ashfahani dalam kitab Hilyab al-Auliya\
menggambarkan hubungan zikir dengan
ketenteraman hati sebagai berikut:
Dengan mengingat Allah [yang diresapkan ke
dalam kalbu], hati seseorang akan menjadi lembut.
Sebaliknya, hati yang lupa kepada Allah dan
dipenuhi oleh rekaman tentang [berbagai dorongan
nafsu] dan kelezatan hidup semata, akan menjadi
keras dan kering. Kalbu seseorang tidak berbeda
dengan sebatang pohon. Pohon akan segar,
rimbun dan penuh dengan dedaunan yang
menyejukkan apabila ia menyerap air yang cukup.
Apabila sebatang pohon tumbuh di tempat yang
tidak berair, maka dahan dan ranting pohon itu
akan kering kerontang dan dedaun-annya pun
akan berguguran. Demikian pula hati kita. Zikir
merupakan mata air kehidupan. Hati yang kosong
dari zikir kepada Allah berarti kekurangan mata air
ke¬hidupan. Hati akan kering, gersang, keras, dan
penuh dengan bara hawa nafsu dan syahwat, dan
akhirnya men¬jadi enggan berbakti kepada Allah.
Jika terus dibiarkan, hati akan pecah berkeping-
keping; yang hanya pantas menjadi bara api
neraka. Sebenamya, kelembutan hati dan
ketenteramannya merupakan rahmat Allah. Allah-
lah yang memantulkan cahaya kedalam hati
seseorang karena dzikir kepada Allah dengan
kasih sayangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar