Selasa, 08 Oktober 2013

AL HIKAM (APA BILA CAHAYA YAQIN TLAHBERSINAR)


Sebagaimana dimaklumi, bahwa bersahabat
dengan orang-orang baik dalam agama di mana
kita dapat menjadi orang baik pula, karena
persahabatan itu
berarti pada hakikatnya kita bersahabat dengan
Allah s.w.t. Demikian pula melihat Wali Allah,
pada hakikatnya kita melihat Allah, sebab Wali-
waliNya itu tidak ada sesuatu dalam hati mereka
terikat dan bergantung kepada selain Alah. Dengan
demikian, maka bercahayalah hati kita dengan
cahaya yakin terhadap ajaran agama, dan segala
tuntunan-tuntunannya .

 Dan bagaimanakah akibat
daripada cahaya yakin dalam hati apabila
telahbersinar cahaya tersebut?
Dalam hal ini, yang Mulia Al-Imam Ibnu Athaillah
Askandary telah menerangkan hal keadaan
tersebut dalam rumusan Kalam Hikmahnya
sebagai berikut:

"Jikalau cahaya yakin telah bersinar buat anda,
pastilah anda melihat akhirat lebih dekat kepada
anda dari anda berjalan kepada akhirat itu.
Dan Pastilah (pula) anda melihat kebaikan-kebaikan
dunia di mana sungguh telah kelihatan perubahan
kehancuran atas kebaikan-kebaikan tersebut."
Kalam Hikmah ini keterangannya sebagai berikut :
"Ilmu yang tidak didesak-desak oleh waham tidak
dicampuri oleh keraguan dan tidak disertai oleh
kehancuran. Jadi arti yakin ialah ilmu
(pengetahuan) yang telah mantap sedemikian rupa
sehingga kita tidak ragu-ragu lagi dan tiak pula
dicampuri oleh hal-hal yang tiak bersifat kepastian.

Ilmu yang tersebut itu ialah ilmu mengenai
ketuhanan Allah s.w.t. baik tentang DzatNya
maupun tentang sifat-sifatNya. Demikian juga ilmu
yang berupa wahyu yang telah disampaikanNya
kepada Rasul-rasulNya melalui Malaikat dan kitab-
kitab suciNya.

Ilmu itu apabila cahaya bathin telah
bersinar sedemikian rupa, maka ia akan membawa
efek-efek kebajikan lahiriah dan bathiniah.

Efek-efek kebajikan pada lahiriah, maksudnya
kelihatan berbekas cahaya itu atas tindak-tanduk
anggota-angota tubuhnya yang lain. Pada waktu itu
timbullah kegemarannya kepada akhirat dan telah
kurang perhatiannya kepada dunia yang sama
sekali tak ada hubungannya dengan kerohanian
dan keagamaan.
Terdoronglah hatinya kepada Allah dan rindullah
perasaanya untuk dapat melihat hakikat
jombangnya Allah, disamping hatinya pula tenang
dan tenteram dangan merendah di bawah
keagungan dan kebesarannya Allah s.w.t.
Bersegeralah dia menuntut keridhaanNya dan
mencapai segala sesuatu yang dicintaiNya.
Lidahnya bergerak menyebut Allah, hatinya penuh
dengan berfikir pada kebesaran dan
keagunganNya . Demikian juga rohnya haus untuk
mendekat dengan Allah, di samping mabuk karena
minum 'air cinta kasihNya'. Pada waktu itulah dia
tenggelam dalam melihat bagaimana dekatnya dia
dengan Allah s.w.t. Inilah tanda-tanda apabila
cahaya yakin dalam hati telah bersinar sedemikian
rupa, sehingga mengakibatkan negeri akhirat
dengan segala
ihwalnya lebih dekat kepada perasaanya, padahal
akhirat itu masih jauh sebab
dia dalam perjalanan. Inilah yang dimaksud
dengan firman Allah dengan kitab
suci Al-Quran:
"Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu
pasti datang. Dan kamu sekali-kali tidak sanggup
menolongnya." (Al_An'am:134)

Dan untuk pengertian itulah penyair ahli Tasawuf
telah bersyair sebagai berikut:
"Janganlah anda rela memberikan cinta kepada
selain Allah
Tetapi jadilah selamnya dimabuk rindu nestapa
Anda melihat sesuatu yang ghaib terang dan nyata
Anda beruntung sebab berhubung bertemu rasa"
Demikianlah apabila hati dan perasaan telah
dipenuhi dengan cahaya yakin, yang berarti itulah
cahaya iman.
kalaulah demikian maka kerinduan dan cinta itu
mengakibatkan segala sesuatu yang jauh dalam
kenyataan adalah dekat dalam perasaaan. Negeri
akhirat adalah jauh, sebab harus menempuh sisa
hidup, transisi kubur sebagai alam barzakh dan
berkumpulnya manusia di hari kiamat. Teatapi hati
para Wali
Allah menganggap semuanya itu adalah dekat dan
selalu terlihat dalam ruang
matanya.

Demikian juga dunia sebagai ciptaan Allah di
mana didalam dunia kita lihat secara lahir adanya
keindahan yang bersifat alami atau keindahan
yang dibuat oleh tangan manusia. Tetapi terhadap
para Auliya' Allah tiada melihat lahiriahnya tetapi
melihat hakikatnya.
Mereka melihat bahwa dunia
tidak akan kekal . Mereka melihat kegelapan dan
kekacauan penuh berleluasa di mana-mana.
Mereka melihat bahwa semuanya itu hanya
membosankan mereka. Itulah yang menyebabkan
ghairah hati dalam dada, mundur teratur melihat
kerendahan-kerendaha nnya.
Sabda Rasulullah s.a.w.: " Bahwasanya cahaya
iman apabila telah masuk ke dalam hati terbukalah
dada seseorang dan lapanglah dadanya itu.

Ditanyakan kepada Nabi, Wahai Rasulullah!
Adakah sebagian dari tanda-tandanya untuk itu
yang dapat dikenal? Nabi menjawab: Ada.
(Tandanya ialah); renggang hatinya dari dunia
sebagai kampung tempat tipuan, dan kembali
hatinya condong kepada negeri yang kekal dan
bersiap-siap untuk (bekalan) mati sebelum
datangnya."

Kesimpulan :
Yakin apabila telah mantap dalam hati, maka hati
akan melihat segala-galanya untuk kepentingan
agama dan akhirat, dan segala hijab antara
hatinya dan antara kepentingan agama dan akhirat
akan hancur berantakan. Pada waktu itu terang
benderanglah jalan yang dituju dan sampailah ia
kepada tujuan utama yang hakiki. Ke arah itulah
tujuan para Nabi dan para Rasul dan sekalian
hamba-hamba Allah yang shaleh.
Ya Allah! Engkau kurniakanlah kepada kami
hakikat yakin dan kemantapan makrifat kepadaMu.
Engkau sinarkanlah yakin itu dalam hati kami
sehingga tertunjuklah segala anggota badaniah
kami lahir dan bathin menuju kepadaMu, ya Allah!.
¤Perkongisan ilmu dengan Ustadz Beni Purnama¤.
Semoga bermanfaat dan baraka Allah Fiekum.
Yukk dzikiran, Subhanallah wabihamdihi
Subhanallahil adzhim, Allahumma shalli wa
sallim'alasayyidina Muhammad
wa'alaãlisayyid ina Muhammad.
(Dzikirnya Nabi Khidir As)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar