Selasa, 05 November 2013

Khasiat Sholawat Nariyah / Tafrijiyah



“ALLooHUMmA SHOLLI SHOLaaTANg KaaMILATaw WA SALLIM SALaaMAn TaaMAN ng‘ALaa SAYYIDINaa MUhAMmADINILLADZii TANhALU BIHIL ng‘UQODU WA TANgFARIJU BIHIL KUROBU WA TUQDLoo BIHIL hAWaaIJU WA TUNaaLU BIHIR ROGHooIBU WA hUSNUL KHOWaaTIMI WA YUSTASQOL GHOMaaMU BIWAJ-HIHIL KARiiMI WA ng‘ALaa aaLIHii WA SHOhBIHii Fii KULLI LAMhATIw WA NAFASIm BI-ng’ADADI KULLI MA’LuuMI LAK”

Kaifiah/Cara:
Diriwayatkan dari Imam Qurtubi, bahwa Sholawat Nariyah adalah kunci pembuka kekayaan dan keagungan Allah.

Barangsiapa membacanya dengan rutin setiap hari 41x, atau 100x, atau 444x, atau 4444x, maka Allah akan menghilangkan susahnya, melonggarkan kesempitannya, memudahkan urusannya, memberi cahaya rahasia hatinya, mengangkat derajatnya, memperbaiki kondisinya, melapangkan rezekinya, membuka untuknya beberapa pintu kebaikan, omongannya akan berpengaruh di lingkungan pemerintahan, aman dari musibah tahunan, aman dari kelaparan yang menghimpit, akan disegani dan senangi manusia, dan dia tidak meminta kepada Allah kecuali Allah akan mengabulkannya.

Ulama di tanah Maghribi (Maroko) punya tradisi mengamalkan Sholawat Nariyah di satu majelis sebanyak 4444 kali. Dan cara ini sangat ampuh untuk meraih keinginan besar yang sulit terlaksana, atau menghindar dari petaka yang besar.

Dan barangsiapa menjadikan sholawat Nariyah sebagai wiridan setelah sholat dengan membacanya 11 kali, maka rezekinya tidak akan terputus, akan memperoleh derajat yang tinggi dan kedudukan yang luhur.

Dan barangsiapa membacanya sejumlah para Rosul yaitu 313 kali, maka dia akan bisa menyingkap rahasia ketuhanan dan kenabian.

Dan barangsiapa membacanya 41 kali setelah sholat subuh, maka akan mendapatkan cita-cita yang diharapkan.

Dan barangsiapa membacanya 100 kali dalam sehari secara rutin dan istiqomah, maka Allah akan mengabulkan segala permintaannya diatas apa yang diharapkan.

Faidah dan harapan-harpan diatas bisa diperoleh hanya dengan satu syarat: ISTIQOMAH.

* Zuhri, HMA Saifudin. 2007. Kado dari Pesantren. Mojokerto: Penerbit Al-Maba.
(halaman 267)

Surat Insyiroh Memperlanjar Rezeki

Berkata Syaikh Ahmad Ad-Dairobi, “Barangsiapa membaca dengan rutin surat Al-Insyiroh (ALAM NASYROH…) setiap setelah sholat maktubah, maka Allah akan memberi rezeki dengan cara yang tidak pernah diduga dan memudahkan segala urusannya.”

Berkata sebagian ulama ahli hikmah, bahwa membaca surat Al-Insyiroh bisa memudahkan rezeki, bisa melapangkan dada/hati, dan menghilangkan kesulitan.

Surat Al-Insyiroh bila dibaca orang yang malas dalam ibadah dan bekerja, insyaallah akan hilang sifat malasnya.

* Zuhri, HMA Saifudin. 2007. Kado dari Pesantren. Mojokerto: Penerbit Al-Maba.

Kado dari Pesantren

(Pengantar Buku)
Oleh: Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya
(Rais ‘Am Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah)

Sebuah upaya untuk mencerdaskan hati (baca: kecerdasan qolbiyah) adalah dengan menghaluskan akal-budi, intuisi (wijdaniyah, zauqiyah, kasyf) agar apa yang dihajatkan oleh seorang hamba Allah Yang Maha Mendengar terhadap permintaan hamba-Nya. Tak peduli kata seorang sekular, ateis, bahwa kata mereka Tuhan itu tidak ada bahkan aliran rasionalistik murni menyatakan bahwa segala yang akan terjadi sangat ditentukan oleh akal manusia, manusialah penentu segalanya. Pemikiran akan lebih parah bila dilihat oleh sekelompok orang yang sombong yang selalu meyakini bahwa yang didapat dan dihasilkan adalah karena kecerdasannya (baca: Karun) sendiri.

Untuk menepis pendapat dan pemikiran yang liar dari pesan moralitas agama (Islam), maka bagi kaum muslimin harus berani menunjukkan dan mengapresiasikan ajaran doa dengan segala ragam dan manfaat (signifikansi)-nya; dengan Sholawat, hizib-hizib, dan dengan berbagai bentuk senandung doa yang sangat beragam. Keberagaman doa itu menunjukkan kekayaan khazanah agama Islam yang mengakomodasi berbagai kepentingan, termasuk tataaturan doa dengan segala kepentingan yang dipinta seorang anak manusia.

Doa yang disenandungkan seorang hamba itu bisa lebih didengar oleh Allah, harus juga didukung oleh sikap “tidak menabrak rambu-rambu aturan Allah”. Karena itu, setiap orang yang melampaui batas dan terus-menerus dalam mengerjakan dosa besar, baik ia sadar/tahu maupun tidak, maka ia termasuk yang melampaui batas. Sebagaimana diterangkan dalam firman Allah (Q-007, Al-A’raf:55):

Artinya:
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Doa sendiri merupakan perintah Allah sebagaimana firmannya:

Artinya:
Dan Tuhan kalian berkata, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

Karena pentingnya berdoa untuk menyurung rencana manusia agar dikabulkan dengan diberkati serta diridloi, maka tidaklah berlebihan kalau baginda Rasulullah Saw. menekankan melalui sabdanya, “Doa itu senjata orang yang beriman”. Maka apapun bentuk doa itu akan menambah kemantaban dalam beribadah termasuk beraktivitas, bekerja sesuai dengan sumber daya dan kesibukan seorang anak manusia, karena manusia hanya bisa merancang, merencanakan, dan melaksanakan perencanaan tersebut, sebab Allah dengan segala Kamahaan-Nya, juga punya rancangan dan tujuan menciptakan makhluk-Nya bernama manusia (sebagai khalifatullah fi al-ardl).

Dari pemikiran diatas, dapat dipahami bahwa “manusia diberi kekuasaan yang tidak menguasai” oleh Allah. Artinya, usaha apapun kalau tidak disertai dengan pemahaman bahwa Allah juga mempunyai rencana mutlak dengan segala otoritasnya, maka bisa jadi manusia akan semakin takabbur, congkak, dan bahkan tidak mengakui keberadaan Allah. Naudzubillah min dzalik!

Oleh sebab itu, berdoa juga merupakan kegiatan ibadah, karena merupakan perintah Allah dan sunnah Rosul serta kebiasaan mulia Ulama Salafus Sholih. Buktinya, sudah sekian banyak para ulama yang memberikan sedekah ilmiah berupa kitab-kitab tentang doa.

Dalam tradisi sunni, doa bisa berfungsi menolak qodlo’ dan mengantisipasi taqdir (baca: taqdir muallaq dan bukan taqdir mubrom), dan berdoa adalah bentuk pelestarian terhadap ajaran Islam yang mulia (al-Muhafadzah ala al-Qadim al-Salih) dan memodifikasi tatacara berdoa adalah bentuk al-akhdzu bi al-jadid al-aslah. Tetapi ruh doa harus tidak terdistorsi maknanya. Tentu dengan tatacara yang tidak menyimpang dari tataajaran Islam.

Persoalannya adalah bagaimana menjadikan doa itu berbobot, aromanya semerbak mewangi? Jawabannya adalah tergantung yang berdoa dalam memahami dan menghayati isi dan maksud doanya. Dibawah ini akan dikemukakan beberapa syarat doa itu menjadi terkabul antara lain:

Pertama, orang yang berdoa harus menyadari bahwa hanya Allah yang mengatur dan menentukan nasibnya, dan itu harus didukung dengan menghadirkan hati, sebab Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang hatinya lupa.

Kedua, menjauhkan diri dari makanan yang haram, dan tidak boleh merasa bosan dalam berdoa.

Ketiga, isi doanya tidak ada unsur dosa dan memutuskan persaudaraan, apalagi memutuskan hubungan suami istri. Jadi siapapun yang berfatwa dan berupaya untuk memutuskan tali hubungan suami istri yang sah adalah berdosa besar, dan neraka tempatnya, karena ia adalah kawan dekatnya setan.

Selain itu, berdoa harus juga mengindahkan lorong waktu yang mustajab (meskipun kapan pun boleh berdoa), dan diantara lorong waktu yang bagus untuk berdoa adalah:
- waktu sahur,
- saat berbuka,
- waktu antara adzan dan iqomah,
- waktu yang membentang antara dhuhur dan ashar pada hari Rabu,
- waktu-waktu sedang susah, gontai dan goncang jiwanya,
- pada saat bepergian dan sedang sakit (kalau ada yang sakit, ia kita minta berdoa - dan kemudian kita mengamininya,
- ketika turun hujan,
- ketika berada pada barisan sabilillah,
- waktu pemisah antara dua khutbah jumat, dan
- pas ketika sujud sholat.

Buat penulis buku Kado dari Pesantren (HMA Saifudin Zuhri, yang akrab disapa Gus Zuhri), semoga buku ini – selain sedekah ilmiah – menjadi pencerahan kalbu dan menguatkan seorang hamba yang terus berdoa, bahwa dalam segala gerak dan diam kita, ada campur tangan kekuasaan Allah sebagai Yang Maha Menghidupkan serta Mematikan seluruh Makhluk-Nya sesuai dengan qodlo dan qodar-Nya.

Risalah Kado dari Pesantren yang beisi doa-doa ini sengaja dirakit oleh kalangan pesantren yang menjadikan doa sebagai salah satu motivasi untuk terus survive dan mempunyai ketahanan hidup dalam menghadapi gelombang perubahaan yang datang secara tiba-tiba. Terkadang kejadian dan peristiwa itu, menyentak dan membuat gontai seorang anak manusia yang tidak mempunyai ketahanan psikologis. Karena itu berdoa menjadi pilihan yang niscaya bagi kaum muslimin untuk menjadikan hidup dan kehidupannya semakin bermakna dan anggun.

Kepada penulis buku ini, semoga di hari-hari mendatang masih tergerak mengusung perubahan sikap, perilaku, dan berfikir dengan terus mengaitkan ajaran Islam sebagai pijakannya.

Artinya, masih banyak yang harus ditulis oleh penulis buku ini. Secara pribadi saya mengapresiasi dan respek terhadap usaha ini.

“Tiada gading yang tak retak, al-insanu mahalull khoto’ wan nisyan.” Semoga Allah Robbul Alamin, senantiasa mendengar dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Amin

{Perincian Buku}
Judul Buku: Kado dari Pesantren
Penulis: HMA Saifudin Zuhri
Tebal: xx + 280 halaman (Hard Cover)
Tahun Terbit: 2007
Diterbitkan oleh: Penerbit Al-Maba, bekerjasama sama dengan RMI dan Aswaja Centre Nahdlatul Ulama Kabupaten Mojokerto.
Telp: 0321 – 7210625 / 081331295867

{Catatan Saya}
Takdir Muallaq masih bisa ditolak, takdir Mubrom tak bisa dirombak!

Hauqolah Pendatang Rezeki

Diriwayatkan oleh Imam Thobroni dari Abu Huroiroh, Rosulullah Saw bersabda, “Barangsiapa diberi Allah kenikmatan, maka perbanyaklah membaca alhamdulillah, dan barangsiapa banyak dosa, maka perbanyaklah membaca istighfar, dan barangsiapa rezekinya lambat (seret), maka perbanyaklah membaca hauqolah (Laa hAULA WALaa QUWWATA ILLaa BILLaaHI ng'ALIYYIL ng‘ADH-iiM)”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dan Asad bin Wadaah, Rosulullah Saw bersabda, “Barangsiapa membaca hauqolah seratus kali dalam sehari, maka orang tersebut tidak akan terkena faqir sepanjang masa.”

Doa Agar Jodoh Datang Sendiri
(Ijazah dari KH Mahrus Ali, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri)

Bacalah kalimat tauhid (LAa ILAaHA ILLALLAaH) sebanyak 4.444 kali, disertai dengan puasa hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

* Zuhri, HMA Saifudin. 2007. Kado dari Pesantren. Mojokerto: Penerbit Al-Maba.
(halaman 225)

Doa Ketika Melamar Gadis

Ketika Anda sudah dalam usia nikah, dan mau melamar gadis, maka bacalah kata puji kepada Allah, sholawat salam kepada Rasulullah Saw, serta berdoalah seperti doa di bawah ini, insyaallah lamaran Anda diterima dan tidak ada halangan apapun.

{Maaf saya tulis latin…}

ASYHADU ALLaa ILaaHA ILLALLooH WAhDAHU Laa SYARiiKA LAHuu, WA ASYHADU ANnA MUhAMmADAN ng‘ABDUHuu WA ROSuuLUH.

* Zuhri, HMA Saifudin. 2007. Kado dari Pesantren. Mojokerto: Penerbit Al-Maba.
(halaman 113)

Doa Ketika Sehabis Mengubur Mayit

Ketika mayit selesai dikubur, ambillah tanah bekas galian kubur dan menaruhnya diatas pusara sebanyak tiga kali.

Lemparan pertama:

MINHaa KHOLAQNaa KUM

Lemparan kedua:

WA FiiHaa NUng’iiDU KUM

Lemparan ketiga:

WA MINHaa NUng’iDU KUM TaaROTAN UKHRoo

* Zuhri, HMA Saifudin. 2007. Kado dari Pesantren. Mojokerto: Penerbit Al-Maba.
(halaman 206)

Syiir Udi Susilo


Oleh: Kyai Bisri Mustofa
Rembang

SHOLATULLOHI MA LAHAT KAWAKIB
NGALAHMAD KHOIRI MAR ROKIBAN NAJAIB
iki syiir kanggo bocah lanang wadon
nebihake tingkah laku ingkang awon
***

sarto nerangake budi kang prayogo
kanggo dalan podo mlebu ing suwargo
bocah iku wiwit ngumur pitung tahun
kudu ajar toto keben ora getun
***

kudu tresno ring ibune kang ngrumati
kawit cilik marang bapak kang gemati
ibu bapak rewangono lamun repot
ojo koyo wong gemagus ingkang wangkot
***

lamun ibu bapak printah inggal tandang
ojo bantah ojo sengol ojo mampang
andhap asor ing wong tuwo najan liyo
tetepono ojo koyo rojo koyo
***

gunem alus alon lirih ingkang terang
ojo kasar ojo misuh koyo bujang
yen wong tuwo lenggah ngisor siro ojo
pisan lingguh nduwur koyo jaman jogjo
***

yen wong tuwo sare ojo geger guyon
lamun siro nuju moco kudu alon
lamun siro liwat ono ing ngarepe
kudu nuwun amit sarto ndepe-ndepe
***

lamun ibu bapak duko becik meneng
ojo melu padon ugo ojo greneng

(BAB AMBAGI WEKTU)
dadi bocah kudu ajar bagi zaman
ojo pijer dolan nganti lali mangan
***

yen wayahe sholat ojo tunggu printah
inggal tandang cekat-ceket ojo wegah
wayah ngaji wayah sekolah sinahu
kabeh mau gateake klawan tuhu
***

kenthong subuh inggal tangi nuli adus
wudlu nuli sholat khusuk ingkang bagus
rampung sholat tandang gawe opo bahe
kang prayogo koyo nyaponi omahe
***

lamun ora iyo moco-moco quran
najan namung sithik dadiyo wiridan
budal ngaji awan bengi sekabehe
toto kromo lan adabe podo bahe
***

(ING PAMULANGAN)
lamun arep budal menyang pamulangan
toto toto ingkang rajin kang resikan
nuli pamit ibu bapak kanthi salam
jawab ibu bapak ngalaikumus salam
***

disangoni akeh sithik kudu trimo
supoyo ing tembe dadi wong utomo
ono pamulangan kudu tansah gati
nompo piwulangan ngilmu kang wigati
***

ono kelas ojo ngantuk ojo guyon
wayah ngaso keno ojo nemen guyon
karo konco ojo bengis ojo judas
mundak diwadani konco ora waras
***

(MULIH SAKING PAMULANGAN)
bubar saking pamulangan inggal mulih
ojo mampir-mampir dolan selak ngelih
tekan omah nuli salin sandangane
kudu pernah rajin rapi aturane
***

(ONO ING OMAH)
karo dulur konco ingkang rukun bagus
ojo koyo kucing belang rebut tikus
dadi tuwo kudu weruh ing sepuhe
dadi anom kudu rumongso bocahe
***

lamun bapak ngalim pangkat sugih joyo
siro ojo kumalungkung ring wong liyo
pangkat gampang minggat sugih keno mulih
ngalim iku gampang owah molah-malih
***

arikolo siro madep ring wong liyo
kudu ajer ojo mrengut koyo boyo

(KARO GURU)
marang guru kudu tuhu lan ngabekti
sekabehe printah bagus dituruti
***

piwulange ngertenono kanthi ngudi
nasihate tetepono ingkang merdi
larangane tebihono kanthi yekti
supoyo ing tembe siro dadi mukti
***

(ONO TAMU)
tatkalane ibu romo nompo tamu
ojo biyayaan tingkah polahanmu
ojo nyuwun duwit wedang lan panganan
rewel beko koyo ora tau mangan
***

lamun banget butuh kudu sabar disik
nganti tamu mundur dadi siro becik
arikolo podo bubaran tamune
ojo nuli rerebutan turahane
***

koyo keting rerebutan najis tibo
gawe malu lamun dideleng wong njobo
kejobo yen bapak dawuh he anakku
iku turahe wong ngalim kyaiku
***

bagi roto sak dulurmu keben kabeh
katularan ngalim sugih bondo akeh
niat iro nuprih berkahe wong mulyo
ora niat rebut turahe wong liyo
***

(SIKAP LAN LAKU)
anak islam iki mongso kudu awas
ojo nganti leno mengko mundak tiwas
luru ngilmu iku perlu nanging budi
adab islam kudu tansah dipersudi
***

akeh bocah pinter nanging ora bagus
budi pekertine sebab dho gemagus
ring wong tuwo gak ngergani gak ngajeni
sajak pinter dewe longko kang madhani
***

jare iku caranipun sak puniko
ora ngono dudu intelek merdeko
ngagem blangkon serban sarung dadi gujeng
jare ora kebangsaan ingkang majeng
***

sawang iku pangeran diponegoro
imam bonjol tengku umar kang kuncoro
kabeh podho belo bongso lan negoro
podo ngagem destar pantes yen perwiro
***

gujeng serban sasat gujeng imam bonjol
sak kancane he anakku ojo tolol
timbang gundul opo ora luwih bagus
ngagem tutup sirah koyo raden bagus
***

kolo-kolo pamer rambut sak karepmu
nanging kudu eling papan serawungmu
kumpul mudho bedo karo pul yaine
nuju sholat gak podho melancong nujune
***

ora nuli melancong gundul sholat gundul
sowan morotuwo gundul nguyuh gundul

(CITA-CITA LUHUR)
anak islam kudu cita-cita luhur
keben dunyo akhirote biso makmur
***

cukup ngilmu ngumume lan agamane
cukup dunyo kanthi bekti pengerane
biso mimpin sak dulure lan bangsane
tumuju ring raharjo lan kemulyane
***

iku kabeh ora gampang leksanane
lamun ora kawit cilik to citane
cita-cita kudu dikanthi gumergut
ngudi ngilmu sarto pekerti kang patut
***

kito iki bakal tininggal wong tuwo
ora keno ora kito mesthi muwo
lamun kito podho katekan sejane
ora liwat siro kabeh pemimpine
***

negaramu butuh mentri butuh mufti
butuh qodli patih seten lan bupati
butuh dokter butuh mister ingkang pinter
ngilmu agomo kang nuntun laku bener
***

butuh guru lan kyai kang linangkung
melu ngatur negorone ora ketung
iku kabeh sopo maneh kang ngayahi
lamun ora anak kito kang nyaguhi
***

kejobo yen siro kabeh ridlo mbuntut
selawase angon wedhus nyekel pecut
siro ridlo goncek cikar selamine
kafir iro mentul-mentul lungguhane
***

ora nyelo angon wedhus numpak cikar
asal cita-cita ngilmu biso nenggar
nabi kito kolo timur pangon mendo
ing tembene pangon jalmo kang sembodo
***

abu bakar shidiq iku bakul masar
nanging noto masyarakat ora sasar
ali abu tholib bakul kayu bakar
nanging tangkes yen dadi panglima besar
***

wahid hasyim santri pondok gak sekolah
dadi mentri karo liyan ora kalah
kabeh mau gumantung ing sejo luhur
kanthi ngudi ilmu sarto laku jujur
***

tekan kene pungkasane syiir iki
larikane wolu limo kurang siji
mugo-mugo sejo kito sinembadan
dening alloh ingkang nurunake udan
***

pinaringan taufiq sarto hidayah
dunyo akhirote sehat wal ngafiah
AMIN AMIN AMIN AMIN AMIN AMIN
FAL HAMDULIL ILAHI ROBBIL NGALAMIN
***

TAMMAT

KH Bisri Mustofa
Rembang, Jumadil Akhir 1373H

***

{Lihat Bacaan}
Mustofa, Bisri. 1373 H. Syiir Udi Susilo. Kudus: Penerbit Menara Kudus.

{Perincian Kitab}
Judul Kitab : Syi’ir Udi Susilo
Pengarang : Kyai Bisri Mustofa Rembang
Bahasa : Jawa
Tulisan : Pegon
Penerbit : Menara Kudus (Kudus & Yogyakarta)
Tahun : 1373 H
Jumlah Halaman: 16

Nasihat Hasan Al-Bashry


Oleh: A. Mustofa Bisri

Begitu Umar Ibn Abdul Aziz – yang disebut-sebut sebagai mujaddid penghujung abad I dari kalangan umaraa – diangkat sebagai khalifah, beliau mengirim surat kepada imam Hasan al-Bashary– yang juga disebut-sebut sebagai salah satu mujaddid penghujung abad I dari kalangan 'ulamaa. Dalam suratnya itu, khalifah Umar meminta imam Hasan agar memerikan kriteria al-imaamul 'aadil, penguasa atau pemimpin yang adil.

Imam Hasan pun menjawab dengan kalimat-kalimat yang indah, "Ketahuilah, wahai Amiral mukminin, bahwa Allah menjadikan al-imaamul 'aadil sebagai penegak setiap yang doyong; pembasmi setiap kelaliman; pembaik setiap kerusakan; penguat setiap yang lemah; pembela setiap yang dilalimi; tempat berlindung setiap yang memerlukan pertolongan."

"Al-imaamul 'aadil, wahai Amiral mukminin, bagaikan gembala yang bersikap lembut kepada gembalaannya yang membawanya kepada tempat gembalaan yang paling baik dan menjaganya jangan sampai merumput di tempat yang berbahaya; menjaganya dari binatang buas dan melindunginya dari panas dan dingin."

"Al-imaamul 'aadil, wahai Amiral mukminin, bagaikan seorang ayah yang menyintai anaknya yang merawatnya ketika kecil dan mengajarnya hingga besar; bekerja untuknya sepanjang hidupnya dan menabung bagi kepentingannya setelah ia tiada. Al-imaamul 'aadil bagaikan seorang ibu yang belas kasih terhadap anaknya; rela menanggung beban mengandung dan melahirkannya; mendidiknya penuh kesabaran; menjaganya siang-malam; gembira bila anaknya sehat dan sedih bila ada keluhan sakit darinya."

"Al-imaamul 'aadil, wahai Amiral mukminin, adalah pengampu anak-anak yatim; gudangnya orang-orang miskin yang merawat bocah-bocah mereka dan meransum orang-orang tua mereka"

"Al-imaamul 'aadil, wahai Amiral mukminin, ibarat kalbu diantara bagian-bagian tubuh; bagian-bagian itu akan baik selama ia baik dan akan rusak apabila ia rusak.

"Al-imaamul 'aadil, wahai Amiral mukminin, adalah orang yang berdiri antara Allah dan hamba-hamba-Nya; mendengarkan firman Allah dan memperdengarkannya kepada mereka, memandang kepada Allah dan memperlihatkan kepada mereka, tunduk kepada Allah dan memimpin mereka.'

"Maka, wahai Amiral mukminin, dalam kekuasaan yang diberikan Allah kepada Anda, janganlah Anda seperti seorang budak yang diberi kepercayaan tuannya untuk menjaga harta dan keluarganya lalu mengangkangi harta dan bertindak sewenang-wenang terhadap keluarga tuannya itu, sehingga keluarganya menjadi miskin dan hartanya terhambur-hamburkan."

"……………………….."

Sebenarnya surat itu masih panjang, namun yang dikemukakan disini kiranya sudah cukup sebagai cermin bagi para pemimpin atau penguasa atau calon-calon pemimpin atau penguasa.

Umar Ibn Abdul Aziz bukanlah presiden modern dari negara demokratis. Ia adalah khalifah, penguasa negara yang menganut sistem kerajaan. Ia tidak dipilih rakyat dari antara mereka, tapi dicomot dari lingkungan ningrat istana. Karenanya, ia tentu saja sudah terbiasa dengan kemewahan hidup. Kalau ketika 'hanya' menjadi keluarga istana saja, dia sudah bergelimang kemewahan; maka saat menjadi khalifah – seandainya ia mau – kesempatan untuk lebih bermewah-mewah lagi jelas sangat terbuka. Dia penguasa tunggal dan kekuasaannya tidak terbatasi. Presiden negara demokratis yang kekuasaannya tidak tak terbatas saja, kemewahannya kadang luar biasa.

Begitu diangkat menjadi khalifah, yang pertama dilakukan Umar Ibn Abdul Aziz, bukan berkonsultasi kepada yang lain, tetapi kepada Hasan al-Bashary. Seorang tokoh ulama yang mumpuni yang dijuluki Syeikhul Islam dan Sayyidut Taabi'ien yang ketika wafat tahun 110 H tak ada seorang pun penduduk Bashrah yang tak keluar melayatnya. Rahimahullah.

Al-Bashary, meski diminta oleh dan memberi nasihat kepada khalifah, ia bukanlah semacam tokoh disini sekarang yang sering disebut pers sebagai penasihat spiritual. Umumnya yang disebut penasihat spritual penguasa sejak zaman Soekarno, tak lebih dari dukun atau paranormal yang sama sekali tak mudheng tentang kehendak Allah dan persoalan negara. Karenanya nasihat-nasihatnya belum pernah membawa kemaslahatan, bahkan sering kali malah menambah kacau negeri ini saja.

Lihatlah penggalan nasihat Hasan al-Bashary diatas. Itulah nasihat spiritual. Itulah nasihat ulama yang arif. Mana kini ada nasihat kepada pemimpin atau penguasa seperti itu? Atau mana sekarang ada pemimpin atau penguasa mau meminta nasihat kepada orang waras seperti itu? Kalaupun ada, mana ada pemimpin atau penguasa yang mau mendengarkannya? Kalaupun ada mana ada yang mau menjadikannya sebagai pedoman? Pemimpin atau penguasa sekarang – satu dan lain hal karena terlampau sadar akan kelebihannya – rata-rata terlalu angkuh untuk menerima hidayah.

Umar Ibn Abdul Aziz yang raja, yang kekuasaannya tak terbatas itu, bukan saja meminta dan mendengarkan nasihat Hasan al-Bashary, tapi benar-benar menjadikannya sebagai pedoman. Baik sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin dan kepala negara. Kesederhanaan dan tawadluknya, kalau diceritakan sekarang, pasti kedengaran seperti dongeng. Sejak menjadi khalifah hingga wafat, misalnya, dia tidak pernah sujud menggunakan alas sajadah sebagaimana kita yang – untuk merendah bersujud kepada Allah pun – masih repot memikirkan kemuliaan dan kebersihan kening kita sendiri. Meski sebagai khalifah, Umar Ibn Abdul Aziz tidak pernah kehilangan kesadarannya sebagai hamba Allah.

Meskipun tidak ada undang-undang dasar negaranya yang menyatakan – seperti pasal 34 UUD kita – 'Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara negara', khalifah Umar tak membiarkan ada warga negaranya yang terlantar dan fakir miskin yang tak tersantuni. Umar Ibn Aziz begitu adil hingga dijuluki Umar Kedua dan begitu arif hingga dijuluki Khalifah Rasyidin Kelima. Maka negerinya pun barakah dan ia dicintai rakyatnya sebagaimana ia mencintai mereka. Pemimpin atau penguasa yang baik adalah mereka yang ditaati karena dicintai, bukan karena ditakuti atau diincar manfaatnya seperti kebanyakan pemimpin dan penguasa kita.

Kita sangat merindukan pemimpin dari kalangan umara yang memiliki sedikit saja kesederhanaan, ketawadlukan, dan keadilan Umar Ibn Abdul Aziz. Kita merindukan pemimpin dari kalangan ulama yang memiliki sedikit saja keluasan pandangan, keberanian, dan kearifan Hasan al-Bashary. {}

KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah

Suwuk Munthoh


[Ijazah dari Syaikhona Kholil Rembang]

Suwukipun lare munthoh, ingkang menawi dalu nangis mawon. Kulo aturi ngadepi lan dipun ceblek-ceblek alon-alon.

[Suwuk/mantranya bocah munthoh, yaitu kalau malam selalu menangis terus. Hadapi saja, terus ditepuk-tepuk dengan pelan-pelan]

Suwukipun mekaten:
[Suwuknya begini]:

BISMILLaaHIR ROhMaaNIR ROhiiM
TIRI-TIRI SI JABANG BAYI KEDADIYAN SANGKING BANYUNE PELI, CEP MENENG, CEP MENENG, CEP MENENG.
Laa ILaaHA ILLALLooH MUhAMmADUR ROSuuLULLooH

(Ijazah sangking Syaikhona Kholil Rembang)

{Spesifikasi Kitab}
- Judul Kitab: Perimbon Imamuddin
- Penulis: KH Bisri Musthofa, Rembang
- Penerbit: Menara Kudus, Kudus
- Bahasa: Jawa
- Tulisan: Pegon
- Ukuran: 15,5 x 11 cm
- Jumlah Halaman: 96
- Kertas Isi: CD

{Lihat Bacaan}
* Jw^KDS_Perimbon Imamuddin_KH Bisri Musthofa Rembang, halaman 61.

Syarat Berdoa


(Menurut Kitab BUGHYAH MUSTARSYIDIN Halaman 33)

Syarat-syarat doa ada sepuluh yang telah di-nadhom-kan (disyairkan) oleh sebagian ulama:

Ulama berkata, syarat-syarat doa mustajabah menurut kami
Ada sepuluh. Dengan sepuluh hal itu orang yang berdoa diberi kabar gembira akan keberuntungan.

Suci, baiknya hati, dan disertai perasaan sesal.
Waktu mustajabah, khusyu’, dan baik sangka, wahai orang yang berdoa.
Halalnya makanan, tidak meminta suatu kemaksiatan.
Dengan menggunakan asma Allah yang sesuai (dengan apa yang diminta), dan meminta dengan terus mendesak (serius).

* Mahdum Khalid A. 2009. Titian Hikmah. Jombang: Darul Hikmah
* Kitab BUGHYAH MUSTARSYIDIN Halaman 33.

Waktu Ijabah Doa
(Menurut Kitab BUGHYAH MUSTARSYIDIN halaman 33)

Al-Baihaqi meriwayatkan, sesungguhnya doa akan diijabahi (dikabulkan) dalam empat tempat:
ketika bertemunya barisan perang,
ketika turun hujan,
ketika iqomah sholat, dan
ketika melihat Ka’bah.

Ciri dari doa yang diijabahi ialah:
adanya perasaan khosyah (takut) kepada Allah, menangis, mengerutnya kulit, bahkan terkadang sampai bergetar dan pingsan, setelah berdoa hati terasa tenang dan dingin, perasaan batin yang bersemangat, dan ringannya anggota lahir seolah-olah beban berat yang dipikulkan padanya telah diturunkan.

* Mahdum Khalid A. 2009. Titian Hikmah. Jombang: Darul Hikmah
* Kitab BUGHYAH MUSTARSYIDIN halaman 33.

Doa Agar Betah Melek (Kuat Tidak Tidur)



Seorang penuntut ilmu sebaiknya menyedikitkan tidur. Pencari ilmu mestinya mau berguru kepada malam: Tidak tidur malam. Karena ilmu itu hanya turun di waktu muda dan di waktu malam. 

Berikut (maaf ditulis latin) doa agar betah melek (kuat tidak tidur): 

QUL MAy YAKLAUKUMm BILLAILI WAn NAHaaRI MINAR ROhMaaNI BAL HUM ng'ANg DZIKRI ROBBIHIMm MU'RIDuuN

Kaifiah/Cara:
Menawi bade nejo melek sedalu, ayat puniko dipun wahos 21x (ping selikur). Menawi nambah melek sedalu lan sedinten, anggenipun mahos ayat wahu ugi tambah, lajeng 42x (kawandoso kalih). Menawi tambah sedalu malih, wahosanipun ayat ugi tambah: 42+21= 63 (kawandoso kalih lan selikur). Mekaten sak terusipun. Insyaallah dipun paringi kiyat melek.

Jika ingin melek semalam, ayat tersebut dibaca 21x (duapuluh satu kali).
Jika ingin melek semalam dan sehari, membaca ayat tersebut ditambah sehingga 42x (empat puluh dua kali).
Jika ingin tambah semalam lagi, bacaan ayat tersebut juga ditambah: 42+21=63x (enam puluh tiga kali). Begitu seterusnya.
Insyaallah dianugerahi betah melek.

Doa-doa Ampuh/Al-Khoshois-ul Kafiyah (Juz 6:237). KH Musyafa' Ali, Sumolangu, Kebumen, Jawa Tengah.